
Arman dan Dirga datang bersamaan setelah mencuci muka. Mereka menghampiri Albi temannya sekaligus atasan nya itu saat di Kantor. Albi terlihat sedang memijit pelipis matanya saat Arman dan Dirga dekati.
"Lu kenapa, pusing?" tanya Dirga saat sudah duduk di dekat Albi.
"Tentu pusinglah, dia kan belum tidur?" sahut Arman.
Albi menggeleng-gelengkan kepalanya, dan menatap kedua temannya itu.
"Kalian bisa bantu gue, gak?" tanya Albi kini serius.
"Bantu apa? memang kita kan, yang selalu bantu elu Bos Albi!" pekik Arman dan langsung dapat tatapan tajam dari Albi.
Arman hanya menyengir saja, ia tadi hanya bercanda kepada Albi.
"Kita siap bantuin Elu! tapi tentang apa dulu?" kata Dirga menanyakan Albi butuh bantuan tentang apa.
"Tadi Mama gue nelpon, nanya kapan gue pulang, dan membicarakan tentang soal biasa," tutur Albi dengan menunduk.
"Tentang soal calon istri?" tebak Dirga dan langsung dapat anggukan dari Albi.
"Dan Lu bilang apa sama beliau?"
"Gue repleks bilang akan secepatnya bawa kedepan Mama dan keluarga," pekik Albi seraya tangannya menyugarkan rambut tebalnya.
"Aneh Lu, kaya ada aja cewek nya! eh bentar gue ralat, maksud gue emang lu udah pilih ceweknya!?." Dan Albi menggeleng.
Kini Arman tersenyum, baru saja ia ingin membuka suara langsung dapat protes dari Albi.
"Lu mau nyaranin atau ngasih pendapat?, kalau cuma mau becanda doang mending diam!!" kata Albi.
"Gue mau ngasih saran kok, kali ini gak akan becanda" serius Arman.
"Ayo katakan saja!" perintah Dirga.
"Lu tadi bilang sama Tante Hera, Lu akan bawa cewek pilihan Lu secepatnya kedepan beliau, bukan?" tanya Arman dan Albi mengangguk.
"Terus Lu bingung kan, ceweknya yang mana?"
"Maksud Lu apa sih Arman? langsung aja napa ke inti saran Lu!!" kata Dirga tidak sabar.
"Ok ... gue langsung ke saran nya. Gimana kalau Lu bawa Arumi kedepan Tante Hera?" kata Arman dan langsung dapat jitakkan kepala dari Dirga.
"Lu ini gimana sih? Arumi kan, amnesia?. Saran Lu ada-ada saja!" cebik Dirga merasa aneh akan saran dari Arman.
__ADS_1
"Ya justru Arumi itu amnesia, menurut gue dia akan nurut apa yang Albi bilang. Dan Albi selama ini banyak bicara sama cewek itu cuma sama Arumi." kata Arman menjelaskan usulnya.
"Maksud Lu, si Arumi jadi pacar si Albi gitu?" tanya Dirga.
Sedangkan Albi terdiam sedari tadi mencerna, dan mendengarkan pembicaraan antara Arman dan Dirga.
"Iya, pura-pura aja. Dari pada si Albi di jodohkan," kata Arman.
"Gue setuju" sahut Albi tiba-tiba.
"Serius Lu mau ngelakuin saran dia?" pekik Dirga dengan serius.
"Iya. Hanya pura-pura saja, kan?." kata Albi.
"Tapi si Arumi lagi Amnesia, di tambah lagi hamil. Lu gimana sih?" ujar Dirga.
"Ya bilang saja Lu sudah nikah selama ini. Dan gue akan urus surat nikah palsu dan surat-surat kependudukan palsu Arumi," saran Arman yang selalu saja mendapat cara apa yang dikehendakinya.
"Gue setuju juga," sahut Albi kini tersenyum kepada Arman.
"Tapi ini gila, dan ekstream menurut gue," ucap Dirga masih belum setuju.
"Kenapa Lu banyak protes? Sekarang Lu suruh orang-orang bawahan Lu buat urus itu semua!" perintah Albi dan berlalu pergi dari dalam Mushola.
Dirga hanya bisa mendengus. Dan kini menatap Arman sang pemberi ide yang menurutnya gila serta ekstream itu.
"Kenapa?, si Albi aja setuju. Dari pada dia di jodohkan, pasti mana mau dia. Lagian ya, menurut gue si Albi itu tertarik sama si Arumi. Hingga dia dengan cepat setuju akan saran gue,"
Dirga pun memutar kembali ingatan saat tadi Albi langsung saja menyetujui saran gila dari Arman.
"Ya sudah, kita sekarang harus mengerjakan apa yang tadi Albi tugaskan," kata Dirga pasrah.
Sementara itu Albi masuk kedalam ruangan Adelia. Albi langsung tersenyum saat Adelia menatapnya dengan senyuman saat Albi memasuki ruangan nya.
"Arumi, apa ada sesuatu yang kamu inginkan?" tanya Albi, mengingat Arumi yang tengah hamil muda pasti akan menginginkan sesuatu.
"Boleh?" tanya Adelia balik.
Lucu dia malah kembali bertanya?. batin Albi merasa gemas kepada Adelia.
Albi tersenyum, "tentu boleh" sahut Albi.
"Saya ingin makan lontong di tambah sate," ucap Adelia dengan malu-malu.
__ADS_1
"Lontong, sate?" tanya Albi memastikan.
Adelia pun mengangguk dengan tersenyum.
"Ok, akan saya belikan," kata Albi seraya mengeluarkan ponsel pintarnya untuk mengirim pesan kepada Arman.
Tolong belikan Lontong sama sate sekarang juga! pesan chat Albi kepada Arman.
"Nanti ya tunggu, Arman yang akan membelikan nya untuk mu!" kata Albi setelah mengirimkan pesannya kepada Arman.
Adelia tersenyum dengan mengangguk.
***
Disisi lain setelah acara tahlilan selesai. Rasya masuk kembali ke dalam kamarnya. Ia seperti merencanakan sesuatu tanpa di ketahui kedua orangtuanya.
Rasya meraih Laptop miliknya . Ia mulai mengetik sesuatu di keyboard Laptop nya itu. Dengan gerakan cepat Rasya menyelesaikan semuanya. Setelah selesai dengan hasil ketikan nya, Rasya mulai menyambungkan ke printer. Ternyata Hasil ketikan nya itu ia cetak melalui Printer. Beberapa lembar hasil cetakan nya itu ia pegang, lalu Rasya masukkan kedalam tas ransel.
Rasya dengan masih memakai baju koko, dan kopiah hitam di kepalanya. Ia keluar dari kamar dengan menggendong tas Ransel. Lia, Hadi, Serly, beserta Rara menatap heran kepada Rasya yang menggendong tas Ransel.
"Kamu mau kemana, Nak?" tanya Lia.
"Aku mau menemui anak bengkel, Ma." kata Rasya dengan segera berlalu pergi ke luar rumah.
Rasya berjalan dengan tergesa-gesa untuk cepat bertemu anak buahnya itu. Rasya setelah sampai di dalam bengkel. Langsung menyuruh Ivan, Damar, dan Beni untuk berkumpul di ruangan kerjanya.
"Saya minta bantuan kalian, tolong tempelkan dan sebarkan kertas-kertas ini di tempat-tempat yang ramai!!" titah Rasya.
Ivan mulai meraih kertas yang Rasya pegang, dan mulai membacanya.
"Loh, Pak Bos. Ini kan isinya tentang pencarian bu Adel?" kata Ivan. Dan dapat anggukan dari Rasya.
"Bukan nya bu Adel sudah---"
"Istriku masih hidup, Saya yakin itu" potong Rasya dengan cepat.
"Saya tidak mau mendengar protes apapun dari kalian. Saya hanya ingin kalian membantu saya!" kata Rasya dengan mengiba.
"Baik Pak Rasya, saya akan menempelkan kertas-kertas ini di tempat yang ramai," sahut Beni.
"Ya Pak, saya juga akan berusaha mencari bu Adel, agar saya dapat imbalan nya," kata Damar dengan menyengir.
Jadi isi dari kertas itu adalah Pencarian tentang Adelia yang hilang. Rasya menuliskan ciri-ciri Adelia, baju yang Adelia kenakan ketika hilang, dan Rasya menuliskan hadiah uang bagi siapa yang sudah menemukan istrinya itu, sebanyak Lima puluh juta rupiah. Dan Rasya menuliskan nomor telepon yang bisa di hubungi, yaitu nomor ponsel dirinya sendiri. Hingga Damar antusias ingin ikut mencari juga dengan mengharapkan imbalan yang Rasya tuliskan.
__ADS_1
...Bersambung....
Hari senin jangan lupa vote!! 😊 😉