You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 235.


__ADS_3

Rasya tersenyum menyeringai. Ia sudah mempunyai feel bahwa kedua orang tua Ariyanti. Tidak lama pergi ke Thailand nya. Bahkan Rasya berpikir bahwa ini sudah di rencanakan oleh mereka. "Baiklah. Aku akan memainkan peranku. Seolah aku yang masuk dalam jebakan kalian," Rasya di dalam hatinya menantang tentang permainan apa yang, akan di lakukan sekeluarga itu.


"Bagaimana kabarnya Tante sama Om?" Rasya berbasa basi menanyakan tentang kabar Alin dan Rony. Seraya tangannya mengeluarkan benda pipih yang berada di dalam saku jas-nya.


Alin yang kini sudah duduk berdampingan dengan Ariyanti, tersenyum senang karena Rasya mau menyapanya. "Kabar Tante sama Om baik, Nak. Bagaimana kabar Mama sama Papa mu baik?" Alin dengan balik bertanya.


"Baik, Tante. Oh ya, saya ke toilet dulu boleh?" Rasya seraya mulai menekan fitur rekaman suara pada ponselnya dengan tatapan ke arah Alin dan Ariyanti.


"Boleh, Nak. Silahkan!" sahut Alin. Sementara Ariyanti hanya tersenyum.


"Baiklah Tante, permisi!" ujar Rasya lalu melangkah dari hadapan Alin dan Ariyanti. Namun sebelum benar-benar pergi ke toilet. Rasya menaruh ponselnya terlebih dahulu di atas sebuah meja yang berada di belakang Alin dan Ariyanti. Dengan fitur rekaman suara yang sudah Rasya aktifkan. Setelah benar-benar tersimpan rapih, tanpa mengundang curiga Alin dan Ariyanti, Rasya baru melanjutkan niatnya yang akan ke toilet.


Rasya berpapasan dengan salah satu Art di rumah Alin. Lalu Rasya berbasa basi.


"Hei, bi apa kabar?" tanya Rasya. Membuat Art itu tersenyum.


"Baik Den. Den sudah lama tidak terlihat?" tanya Art itu yang belum mengetahui bahwa Ariyanti dan Rasya sudah bercerai.


"Banyak pekerjaan bi. Ini juga ke sini, karena mendapat telepon dari Ibu, yang baru pulang dari Thailand tadi subuh," Rasya berbicara seperti itu tentu untuk memancing keingintahuannya, bahwa Alin dan Rony sudah pulang dari Thailand, bukan waktu pagi tadi.


"Loh Ibu sama Bapak, ke Thailand cuma empat Hari Den," sahutnya dengan nampak wajah heran. Dan benar dugaan Rasya.


"Oh begitu. Aduh saya kira baru tadi pulang. Em ... maaf bi toiletnya kosong?" Rasya menuntaskan niatnya.


"Kosong Den,"


Rasya pun langsung melenggang masuk ke dalam toilet yang berada di dapur.


Di ruang tengah. Seperginya Rasya ke toilet. Ariyanti dan Alin kini berbicara serius.


"Sayang, kenapa kamu tidak ngabarin Mama kalau kamu mau datang ke sini?" Alin yang sedari tadi ingin melayangkan pertanyaannya saat kedatangan Rasya. Kini baru bisa ia layangkan.


"Ini mendadak Ma. Rasya bilang ingin menghabiskan waktu bersamaku, dan dia sampai bolos karena itu," membuat Alin menatap tidak percaya.


"Jadi, kamu berhasil sayang dekatin pria tampan pujaan mu itu?" dengan mata yang sedikit melotot.

__ADS_1


"Iya, Ma. Yang lebih tepatnya lagi dia yang kini mendekati aku. Aku senang sekali Ma, bahkan dia akan menikahi aku," Ariyanti dengan terus mengembangkan senyumannya.


"Benarkah? Mama senang sayang, mendengarnya. Tapi ingat tujuan kita!" Alin mulai menatap serius kepada Ariyanti.


"Tenang Ma. Aku akan mengambil berkas-berkas itu. Dan menyerahkannya, ke Mama dan Papa. Asal, Mama dan Papa jangan sampai lukai Rasya. Aku cinta Rasya, Ma ...," Ariyanti menatap penuh harap kepada Alin.


"Iya, Sayang. Mama harap. Rasya dengan cepat menikahi kamu, dan kalau bisa kamu singkirkan istrinya itu. Agar kamu menjadi pemilik Rasya seutuhnya," Alin memberikan penyemangat yang sebenarnya tidak patut di patuhi.


"Tenang, Ma. Pasti aku akan melakukannya," Ariyanti dengan tersenyum menyeringai.


"Eh, Sayang. Rasya jebak saja sama kamu dari sekarang. Mama punya caranya, agar Rasya cepat menikahi kamu," Alin dengan menaik turunkan alisnya. Sementara Ariyanti belum paham dengan apa yang Alin rencanakan.


"Dengan cara apa, Ma?"


"Sayang. Rasya belum kita suguhi minum. Nah, Mama akan memberikan serbuk perangsang ke dalam minumannya. Dengan itu Rasya akan menidurimu tanpa lama-lama," penuturan Alin membuat Ariyanti melotot.


"Emang Mama punya?" Ariyanti bertanya.


"Sayang ... ingat tidak perusahaan Om Wira yang menjadi milik Papa sekarang?, perusahaan itu bergerak dalam pembuatan obat-obatan kimia, sehingga Mama menaruhnya setiap Papa membawa sample setiap obat ke rumah ini," ujar Alin.


"Ada sayang ... macam-macam obat apapun. Hanya jangan di salah gunakan."


"Itu, Mama mau menyalahgunakan?"


"Ini. Demi kebaikan kamu agar cepat mendapatkan Rasya. Sudah Mama mau ambil dulu, dan memasukkannya ke dalam minuman. Sebelum Rasya datang," Lalu Alin melenggang pergi ke arah kamar.


Sementara itu Rasya baru saja keluar dari toilet. Rasya perutnya merasa sakit. Entah mungkin karena tadi ia belum sempat sarapan, hanya mencicipi bubur yang ia suapi untuk Adelia.


Rasya langsung melenggang ke arah ruang tengah. Dan tidak lupa mengambil ponselnya terlebih dahulu sebelum Ariyanti menyadarinya. Karena Ariyanti sedang fokus pada ponsel miliknya.


"Tante Mana?" tanya Rasya saat mendudukan tubuhnya di sofa. Ia tidak melihat keberadaan Alin di sana.


Ariyanti mendongak menatap Rasya, "Mama lagi ke arah belakang. Lama sekali di toiletnya, sayang?"


Rasya tersenyum tipis menanggapi kata 'Sayang' yang Ariyanti sematkan. Namun, bukannya Rasya merasa senang. Yang ada Rasya geli mendengarnya.

__ADS_1


"Mules," jawab Rasya.


Dan tak lama Alin datang dengan membawakan tiga buah jus yang berbeda di atas nampan. Alin langsung menyuguhkan jus jeruk ke hadapan Rasya. Satu jus mangga milik Ariyanti, dan satu jus Alpukat milik dirinya.


"Di minum, Sya!" titah Alin.


"Oh iya Tante," sahut Rasya namun tidak langsung meminumnya. Rasya penasaran dengan hasil rekaman yang sudah terekam pada ponsel miliknya. Rasya mulai mengambil headset bluetooth dari saku jas yang ia taruh di sofa. Kemudian memakainya.


"Sya, makan sianglah di sini!" pinta Alin. Sehingga tangan Rasya terhenti untuk menekan tombol play pada rekaman yang akan ia dengar.


"Oh tentu Tante. Malahan kalau makan sekarang juga, saya mau," ucapnya dengan menyengir. Membuat Ariyanti benar klepek-klepek, melihat deretan gigi putih Rasya yang berbaris rapih.


"Iya kamu tadi gak sarapan bareng. Ma ... apa ada makanan untuk Rasya makan sekarang?" Ariyanti mengkhawatirkan Rasya saat mengingat tadi pagi Rasya tidak ikut bergabung sarapan.


"Ada. Beneran mau makan sekarang?" Alin dengan antusias menawari makan pada Rasya.


"Aduh, jadi malu Tan," ucap Rasya jujur. Hingga ia melupakan untuk mendengar rekaman yang sedari tadi ia ingin dengar.


"Sayang. Kamu siapkan sana. Agar kamu terbiasa melayani Rasya nanti!" titah Alin kepada Ariyanti.


"Apa katanya? agar terbiasa melayaniku? oh tidak" batin Rasya. Seraya tangannya tidak sengaja menekan tombol play pada rekaman yang tadi ia rekam.


"Baik, Ma. Sayang aku tinggal dulu, ya!" Ariyanti pamit pada Rasya. Dengan anggukan kepala yang Rasya berikan. Seraya telinganya kini mulai mendengar isi rekaman tersebut.


"Em ... maaf tante. Saya lagi dengerin musik dulu," ucap Rasya dengan menunjuk headset bluetooth yang terpasang pada telinganya.


"Iya gak apa-apa, Nak. Kalau begitu, tante mau ke depan dulu sebentar," pamit Alin tanpa mencurigai apa yang Rasya dengar.


Alin melenggang pergi. Dan di saat Rasya sudah mendengar jelas pada headsetnya, yaitu percakapan antara Ariyanti dan Alin. Rasya melototkan mata. Mendengar dengan cara seksama apa yang ia dengar. Dan matanya kini tertuju pada Jus jeruk yang berada di depannya.


"Oh Tuhan. Untung saja aku belum meminumnya. Gila benar-benar licik. Dan pintar juga membuat jusnya dengan tiga varian, mungkin agar tidak tertukar dengan minuman yang sudah di bubuhi serbuk terkutuk itu!!" Rasya menggeram seraya berbicara di dalam hati.


Rasya beruntung saja belum meminum jus yang Alin buatkan. Dan Rasya merasa bersyukur, tidak masuk dalam rencana licik Alin saat ini. Namun, untuk langkah kedepannya Rasya akan berhati-hati agar tidak terjebak dalam perangkap yang di pasang oleh musuhnya itu.


...***...

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2