You Are My Mine

You Are My Mine
Extra Part 28.


__ADS_3

Sekitar jam sebelas malam. Gadis cantik yang tertidur begitu pulas, mengerjapkan ke dua matanya. Lalu terperanjat kaget saat menatap dinding ruangan yang jelas sangat asing bagi dirinya.


Lalu ia menoleh ke arah samping kanan, dimana ada seorang pemuda yang sedang terduduk di sofa dengan fokus tatapannya ke layar laptop di atas meja. Gadis tersebut kembali terkejut. Ia berusaha ingin bangun untuk duduk bersandar di sandaran ranjang. Namun, ia meringis merasa kesakitan di area pangkal pahanya.


"Auw ... perih," ringisnya. Membuat pemuda yang sedari tadi fokus mengerjakan tugas kuliahnya menoleh, lalu menghampirinya dengan wajah khawatir.


"Sudah bangun?" suara Dido membuat Serly menatap ke arahnya.


Serly merasa aneh dengan tubuhnya yang terasa lesu serta yang membuatnya meringis dimana di area pribadinya terasa perih.


"Kenapa aku bisa ada di sini, ini kamar siapa?" suara Serly terdengar lirih membuat Dido semakin khawatir serta bersalah.


Dido mulai duduk di pinggir ranjang di sebelah Serly, "Kamu tidak ingat saat siang tadi?" Dido mencoba ingin Serly mengingat sesuatu yang membuat dirinya berada di rumah Dido.


Serly terdiam. Ia mulai mengingat kejadian siang tadi saat di kampus. Teringat dimana dirinya setelah meminum minuman yang di beri Rindu, ia menjadi kepanasan dan merasakan gairah yang menggebu. Mengguyur tubuhnya di toilet, terus Dido datang dengan membawa dirinya menaiki motor pria tersebut. Lalu ingatan Serly terhenti saat dirinya masuk ke dalam rumah Dido, dan di tuntun masuk ke dalam kamar Dido oleh seorang Art.


"Gimana, sudah ingat?" Dido kembali bersuara setelah membiarkan Serly terdiam dengan pikirannya.


"Iya aku ingat," balas Serly. Ia melotot saat melihat baju yang membalut tubuhnya bukan milik dirinya. Di tambah Serly merasa tidak memakai dua benda penting di dalamnya.


"Kenapa aku memakai baju ini?" lirih Serly lalu menatap nanar ke arah Dido. Serly sudah berpikiran tidak nyaman saat menatap Dido yang terlihat guratan sendu di wajahnya.


"Maaf. Kakak telah mengganti pakaianmu dan--" Dido sengaja tidak meneruskan ucapannya. Ia takut Serly menjadi syok setelah mendengarnya kalau dirinya sudah merenggut kesucian gadis tersebut. Dido memilih menatap wajah Serly dengan dalam.


"Dan apa?" Serly menggeleng-gelengkan kepalanya. Menepis pikiran buruk yang menerpa ingatannya. Ia pernah membaca sebuah artikel, yang mengatakan dimana seorang wanita yang sudah kehilangan mahkotanya, akan merasakan perih di area pribadinya dan akan meninggalkan jejak darah di tempatnya.


Dengan menahan sesak serta perih. Serly mencoba mengangkat tangan untuk menyibakkan selimut, untuk melihat bukti bahwa ada noda darah di atas seprei tersebut. Namun, tangan kokoh menghentikan gerakan tangan Serly yang akan berusaha membuka selimut itu.


"Makan dulu, yuk!" ajak Dido dengan rasa was-was. Tanpa menjawab pertanyaan Serly. Dido takut Serly melihat noda darah yang sudah kering pastinya.


"Aku ingin melihat se--"


"Kamu makan dulu, kamu telah melewatkan makan siangmu, serta makan malam mu. Om Hadi juga sudah tahu kalau kamu berada di sini,"


Serly memang merasa lapar pada perutnya. Tapi ia ingin melihat dan memastikan sesuatu yang ingin di ketahuinya, untuk membuktikan akibat rasa perih di area pribadinya itu benar atau salah.


"Papa tahu aku di sini?" Serly melotot tak percaya. Hingga ia lupa tujuannya yang akan menyibakkan selimut.


"Iya. Tenang saja. Om Hadi tidak marah kok, malah menitipkan kamu. Maka sekarang, kamu makan dulu ya," Dido mulai beringsut untuk berdiri. Lalu, sedetik kemudian Dido langsung menggendong tubuh Serly untuk duduk di sofa.


"Kak, kenapa kamu menggendongku?" Serly yang merasa kaget di gendong ala bridestyle oleh pria yang sudah ia anggap teman tersebut.


"Tubuhmu pasti terasa lesu, 'kan? makanya kakak gendong kamu," jawab Dido. Kini Serly sudah terduduk di sofa dengan gerakan lembut oleh Dido.

__ADS_1


"Tunggu. Kakak akan menghangatkan dulu makanannya. Jangan kemana-mana, dan jangan bergerak!" Dido mengusap pipi Serly sebelum berlalu keluar kamar.


Serly menurut. Ia duduk mematung dengan matanya mengedari ruangan yang di tempatinya.


Tak lama. Dido datang dengan membawa nampan. Yang dimana di atasnya sudah ada sepiring makanan serta segelas air putih hangat juga dua botol air mineral.


"Makan dulu, ya" Dido dengan mengangkat piring dan memegang sendok.


"Biar aku makan sendiri kak," Serly menolak saat Dido mendekatkan sendok yang sudah terisi penuh makanan pada mulutnya.


Dido menggeleng, "No. Kakak ingin menyuapi kamu. Kamu tinggal mengunyah, serta melahapnya saja,"


Serly menurut. Lebih baik menerima saja, lagi pula perutnya begitu terasa sangat lapar. Serly pun melahap makanan yang Dido suapi. Hingga sepiring makanan tersebut habis tanpa sisa.


Dido tersenyum senang, menatap gadis yang di pujanya menghabiskan makanan yang di suapinya.


"Pintar!" puji Dido saat melihat Serly sudah menghabisi segelas air.


Serly hanya tersenyum, "Terima kasih kak," ucapnya.


Dido mengangguk.


"Kak, boleh aku tanya?" ucapan Serly yang seperti itu membuat Dido menegang.


"Mau tanya apa?" Dido akhirnya mencoba rileks.


Dido menghela nafas. Lalu memejamkan matanya sejenak. Setelah itu, meraih laptop. Membuka layarnya. Mencari folder rekaman cctv kamar miliknya yang terhubung pada laptopnya itu.


"Lihat saja!" Dido mengarahkan layar laptop tersebut tepat di hadapan Serly.


"Ada apa kak? kenapa aku harus lihat?" tanya Serly heran bercampur penasaran.


"Lihat saja! kakak tidak mau mengatakannya langsung. Lebih baik, kamu sendiri melihat yang sebenarnya. Takutnya, kamu gak percaya sama kakak," Dido seraya menghidupkan rekaman cctv beberapa jam lalu.


Kini penglihatan Serly terfokus menatap layar laptop yang berada di hadapannya. Serly mulai melihat dirinya yang mulai masuk ke dalam kamar tersebut dari rekaman cctv itu. Kemudian, selang beberapa lama. Dirinya masuk ke dalam kamar mandi. Dan cukup lama. Setelah itu. Terlihat Dido masuk lalu berdiri di depan pintu kamar mandi. Kemudian dirinya keluar dengan keadaan basah kuyup. Terlihat perbincangan antara dirinya dengan Dido. Lalu terlihat Dido menuju lemari. Sementara itu dirinya membuka seluruh pakaian selagi Dido sibuk di hadapan lemari.


Serly melotot menatap layar laptop. Menggeleng merasa tidak percaya dengan dirinya sendiri yang terlihat menggoda Dido dengan hanya memakai bra dan cd saja. Terlihat Dido bersikeras memberikan baju untuk ganti. Namun, sejurus kemudian dirinya memeluk tubuh Dido dan mencium bibir Dido.


"Tidak! Apa yang terjadi denganku?" lirih Serly dengan masih melihat dirinya yang terlihat memaksa Dido di layar laptop.


Lalu tangis Serly pecah. Saat melihat adegan kemudian dimana tubuhnya sudah tidak menggunakan penutup, lalu memaksa Dido. Bahkan dirinya begitu liar menyusuri dada bidang Dido menggunakan bibirnya.


"Tidak. Hu hu hu" tangis Serly terdengar pilu.

__ADS_1


Dido yang sengaja membelakangi Serly menoleh. Lalu memeluk Serly dengan usapan-usapan di punggung gadis tersebut.


"Maafkan kakak. Kakak telah goyah. Kakak telah menghancurkan masa depanmu. Ini semua karena pengaruh obat terkutuk itu. Kamu, telah hilang kendali. Maafkan, kakak!" Dido pun menitikkan air mata merasakan apa yang di rasakan gadis yang di peluknya.


Serly mendongak, "Obat?" dengan air mata membasahi kedua pipinya.


"Rindu. Sengaja menjebak mu ... membubuhi obat perangsang pada minuman yang di berikan kepada mu,"


Serly geram mendengar bahwa Rindu menjebaknya. Namun, rasa sedih yang kini menyelimuti mengalahkan rasa amarahnya.


"Maaf," Dido masih memeluk Serly berusaha untuk memberikan ketenangan.


"Aku kotor. Aku sudah tidak perawan. Aku gagal menjaga kesucianku, hu hu hu" isak Serly dengan racauan.


Dido merasa terenyuh mendengarnya. Merasakan suara Serly begitu menyayat hati. Beruntung, kamarnya tersebut memiliki peredam suara sehingga tidak akan menimbulkan suara tangis Serly atau suara apapun keluar.


"Tidak. Kamu tidak kotor sayang ... kamu tetap gadis suci. Kakak akan menanggung jawab semuanya. Menikahlah dengan kakak!"


Deg


Serly mendongak menatap Wajah Dido yang terlihat begitu serius.


"Menikahlah dengan kakak!" Dido kembali mempertegaskan ajakannya tersebut.


Serly masih terdiam. Tubuhnya merasa hangat mendapat pelukan dari Dido, walau dirinya tidak membalas pelukannya itu.


Mencerna ucapan Dido yang mengajak menikah. Sungguh Serly merasa bimbang. Bimbang dengan keadaan dirinya yang sudah terjalin hubungan dengan Aldi pria yang di cintainya, dan di sisi lain dirinya kini sudah tidak suci lagi.


"Ayolah! kakak yang telah merusakmu. Kakak ingin tanggung jawab semuanya. Maka menikahlah dengan kakak," lagi Dido bersuara menegaskan kembali ajakannya yang akan menikahi Serly.


"Kak--" Serly sungguh merasa sesak. Dihadapkan dengan masalah yang begitu rumit. Rasanya ingin mengakhiri hidupnya saja.


"Apa kamu memikirkan seseorang?" tebak Dido.


Serly masih terdiam.


"Kakak tahu, kalau kamu ada hubungan dengan Bang Aldi. Kamu bahkan menolak kakak, karena dia, 'kan?"


Serly terperangah. Serly merasa tidak ada seorang pun yang tahu. Ah iya. Ia lupa hanya Kevin yang sudah tahu hubungannya dengan Aldi. Lalu, Dido tahu dari mana? begitulah isi pikiran Serly saat ini.


"Kamu sendiri yang mengatakannya. Bahwa kamu mencintai pria itu. Di saat kamu tadi memeluk kakak. Dan kakak berpikir demikian, bahwa kamu menolak kakak karena mencintai pria lain. Ok Kakak terima. Tapi, apakah pria itu akan menerima mu yang sudah tidur dengan pria lain?" Dido seakan tahu yang di dalam pikiran Serly. Ia mengatakan semua yang ia tahu, serta memberikan pengertiannya agar ruang lingkup pikiran Serly terbuka.


"Beri aku waktu untuk menjawabnya," lirih Serly seraya melepaskan diri dari pelukan hangat Dido.

__ADS_1


"Pikirkan lagi. Selama kamu belum hamil," ucap Dido.


...***...


__ADS_2