You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 220.


__ADS_3

Ariyanti yang tidak mendapatkan hasil akan rencananya. Kini sedang mengamuk. Membanting semua benda di dalam kamarnya. Dengan amarah yang menggebu-gebu, ia meneriaki nama pria yang membuat dirinya seakan hilang harga diri.


"Rasya bagaimana caranya agar aku meluluhkanmu?!" pekiknya dengan suara yang tertahan. Karena tidak mau orang-orang rumah bisa mendengarnya jika suara lantang ia keluarkan.


Padahal tadi Ariyanti ingin menjebak Rasya agar masuk kedalam kamarnya. Dengan berpura-pura ada seekor tikus. Dan berharap Rasya masuk dan mencarinya di dalam kamar. Lalu Ariyanti akan mengunci pintu kamarnya dan akan melakukan aksinya dengan cara yang tidak wajar.


"Arghhh ... aku harus cari cara lain agar kau bisa jatuh kepelukan ku,"


Ariyanti dengan nafas terengah-engah kini memikirkan cara yang lain agar Rasya bisa terjebak dalam rencananya.


Setelah merasa tenang akhirnya Ariyanti, merapihkan kembali kamarnya. Takut-takut Lia atau yang lainnya datang ke dalam kamarnya.


****


Sementara di kamar bawah. Sepasang kekasih yang selalu di mabuk cinta. Kini tengah berpeluh dengan nafas yang terengah-engah, dengan duduk bersandar di sandaran ranjang dengan menatap satu sama lain.


"Sayang ... terima kasih ya, kamu selalu melayani suamimu ini," ucap Rasya yang tersenyum dengan menggenggam satu tangan Adelia, kemudian ia cium dengan lama.


Adelia seketika bersemu merah wajahnya, dengan tersenyum menanggapi. Adelia Masih terbayang di benaknya saat-saat bergelut dengan suaminya tersebut.


Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan jam tujuh malam. Saat tibanya makan malam.


"Sayang mau mandi sekarang?" Rasya yang beranjak dari atas ranjang. Lalu memungut pakaian dirinya dengan milik istrinya yang berserakan di lantai.


"Nanti saja, Mas. Badanku masih lemas," jawab Adelia dengan memakai pakaian yang baru saja Rasya serahkan.


Rasya tersenyum, "Ya sudah gak apa-apa. Kalau gitu, aku mandi lagi," Rasya dengan menyengir masuk kedalam kamar mandi. Ingin melakukan mandi di sore itu yang kedua kalinya.


Adelia yang sudah memakai pakaiannya. Ia meraih air minum yang berada di atas meja lalu meminumnya. Tenaganya yang terkuras saat melayani pergulatan dengan suaminya, kini perut Adelia merasa lapar.


Hingga Adelia memilih keluar kamar dan melangkah menuju dapur. Terlihat di dapur ada Lia bersama Ariyanti yang sedang tertawa. Keduanya terlihat sedang menyajikan hasil masakan yang baru saja Lia masak. Jangan tanya Ariyanti bisa masak. Tentu tidak. Ia hanya mencari perhatian dengan sekedar membantu Lia merapihkan dan menyajikannya.


"Eh, Sayang. Sini!" saat Lia melihat Adelia datang dan berjalan ke arahnya.


Adelia pun menurut. Ia kini berdiri di dekat Lia.


"Lihat Mama, memasak soto daging kesukaan Rasya. Dan Mama di bantu Ariyanti," ucap Lia dengan memamerkan hasil masakannya.


Tiba-tiba Adelia merasa sakit di hatinya. Saat Mama mertuanya mengatakan ia memasak di bantu oleh Ariyanti. Membuat Adelia tersenyum tipis menanggapinya. Seakan Adelia tidak pernah memasak di rumah itu. Mungkin karena sedang hamil. Adelia berubah menjadi sensitif.


"Coba cicipi. Apa sama rasanya dengan hasil masakanmu!" titah Lia kini menyuruh Adelia untuk menyicipi hasil masakannya.


Adelia masih tersenyum dengan tipis, "Tidak perlu Ma. Adel tahu Masakan Mama pasti enak," sahutnya dengan memuji Mama mertuanya.


Lia tersenyum, "Kamu bisa saja Sayang," ujarnya.


Ariyanti yang sedari tadi memperhatikan keduanya. Tersenyum sinis. Tentu tersenyum palsu karena merasa iri kepada Adelia yang di sayangi Lia.

__ADS_1


"Ya sudah. Kalian siapkan semuanya. Mama mau ke atas dulu manggil Papa dan Rara," tutur Lia yang seraya langsung melenggang meninggalkan dapur.


Kini di dapur tinggal Adelia dan Ariyanti. Adelia tanpa mau menyapa Ariyanti memainkan perannya sebagai istri dari Rasya. Seolah menunjukan bahwa Rasya hanya miliknya. Adelia membuatkan teh hangat dan menaruhnya di meja yang biasanya Rasya duduki.


Adelia menuju kitchenset untuk membuat susu hamil untuk dirinya. Dan baru saja Adelia akan menuangkan susu tersebut Rasya datang dan mencegahnya.


"Sayang ... kamu duduk saja! biarkan aku yang membuatkan susu untukmu," Rasya dengan cepat mengambil alih semua dari tangan Adelia.


Adelia tersenyum senang, "Terima kasih sayang. Baiklah aku akan duduk," ucapnya dan mencium pipi Rasya terlebih dahulu sebelum menuju meja makan.


Rasya terdiam. Ia seperti mengerti apa yang di lakukan Adelia semata-mata hanya untuk memanasi Ariyanti. Rasya lalu tersenyum dengan menggeleng samar.


Sementara itu Ariyanti yang melihat adegan tersebut mengepalkan tangannya yang berada di bawah meja. Ia menunduk dan mengatupkan bibirnya rapat-rapat.


Rasya duduk dan menaruh segelas susu yang sudah ia buatkan di hadapan Adelia.


"Diminum ya. Biar baby kita kuat. Dan tenagamu juga kuat untuk melayani suamimu ini di ranjang," celetuknya membuat seketika wajah Adelia merah dan memanas karena malu. Tapi Adelia sadar bahwa suaminya kini berperan melayani aksinya untuk memanasi Ariyanti.


Adelia tersenyum dengan sangat sensual, "Ish ... Sayang. Aku malu jangan bahas-bahas itu. Aku jadi kebayang deh, kalau kamu selalu membuat aku melayang tinggi atas serangan-serangan mu itu," cicitnya membuat Ariyanti seakan panas terbakar telinga dan hatinya.


"Ah istriku. Ternyata jago juga berakting. Kalau aslinya begitu. Aku juga suka Sayang ... kamu agresif," Rasya tersenyum dengan berbicara di dalam hatinya.


"Ya sudah. Kita nanti lanjut lagi ya, yang tadi. Kita makan dulu agar aku bisa nerbangin kamu tinggi-tinggi," Rasya seraya mengedipkan sebelah matanya.


Adelia menjadi menelan ludahnya sendiri dengan kasar. Ia berpikir bagaimana kalau suaminya itu serius akan meminta lagi. Adelia diam tidak menanggapi.


"Oh Maaf. Saya kira hanya ada kita berdua di sini!" Rasya berpura-pura tidak melihat Ariyanti.


"Iya Mas aku juga gitu. Memalukan sekali, Mas" Adelia menimpali dengan berpura-pura merasa malu.


Seketika Ariyanti sangat geram. "Sialan. Aku di anggap tidak terlihat oleh mereka. Lihat saja! aku akan menghancurkan kebahagiaan itu," batin Ariyanti.


Kini datang Lia dan Hadi. Dan di susul Rara yang seperti baru saja terbangun dari tidurnya. Sedari sore tadi saat keluarga Albi melenggang pergi. Rara memilih mendekam di dalam kamar dengan terus memikirkan akan apa yang Hera katakan. Sehingga membuat dirinya tertidur dengan sendirinya, dan bangun saat Lia memanggilnya.


"Ayo, kita mulai makannya!" Lia dengan duduk dan mulai menuangkan nasi pada piring suaminya.


Begitupun Adelia ia dengan cepat melayani suaminya menyidukkan nasi dan soto yang di masak Lia.


"Terima kasih, Sayang ...," begitulah ucapan dari Rasya jika Adelia setelah memberikan makanan ke hadapannya.


"Iya sama-sama," sahut Adelia. Ia kini mulai mengisi piringnya sendiri.


Rara yang duduk di sebelah Adelia. Ia berbisik. "Del, bukannya malam ini kalian di undang makan malam di kediaman Albi?" bisiknya.


Adelia melotot. Ia sampai melupakan hal itu. Saking asyiknya bersama sang suami dan sempat terjadi percekcokan ringan. Membuat Adelia mengangguk menanggapi bisikan Rara.


"Terus, kamu gak datang?" Rara masih berbisik. Adelia menggeleng. Kemudian Adelia kini menoleh kepada suaminya yang sedang asyik melahap makanannya.

__ADS_1


"Mas," bisik Adelia.


"Hmm," sahut Rasya hanya dengan gumaman karena mulutnya penuh dengan makanan.


"Gak jadi, " kata Adelia berikutnya. Ia tidak bisa terus berbisik-bisik takut di tanyai Oleh kedua mertuanya.


Seketika Rasya langsung menghentikan kunyahannya. Ia langsung menanyakan perihal apa yang akan Adelia katakan.


"Sayang ada apa?" tanyanya dengan suara pelan.


"Mas kita lupa. Bukannya, malam ini kita di undang makan malam di rumah--"


"Iya-iya. Aku sampai lupa," Rasya dengan cepat memotong ucapan istrinya. Sengaja agar Adelia tidak menyebutkan nama Albian. Bukan karena rasa cemburu. Melainkan takut yang lainnya dengar dan bertanya apa hubungannya.


"Terus bagaimana?" masih dengan nada lirih Adelia berucap.


"Batalin saja," Rasya dengan tenang. Memang dirinya tidak sangat ingin untuk menghadiri undangan makan malam itu.


Membuat Adelia terdiam. Sungguh ia merasa tidak enak kepada keluarga Albian. Terutama kepada Alina. Karena tadi Adelia menanggapi dan menyetujui permintaan Alina tersebut.


"Kok gitu, Mas?" tanya Adelia seakan protes.


"Kenapa? lagian aku gak mau datang," ucapnya.


Kini Lia dan Hadi memperhatikan obrolan serius antara Adelia dan Rasya walupun dengan nada pelan seakan tengah saling berbisik. Tetapi gelagat mereka berdua mencuri perhatiannya.


"Del, Rasya ada apa?" Hadi kini bersuara. Ia merasa penasaran akan apa yang tengah di perdebatkan antara keduanya.


Rasya langsung menoleh kepada Hadi, "Ah gak ada apa-apa Pa ... istriku merengek ingin martabak saat ini. Tapi aku suruh menunggu dulu karena sekarang sedang makan," sahut Rasya berbohong.


"Ayo cepat belikan! tidak baik menunda-nunda kalau istrimu sedang meminta. Lagian istrimu sedang hamil. Makanya tidak tentu mau kapan ia menginginkan makanan yang tengah di idamkan-nya," Hadi langsung menghardik Rasya.


"Oh ya?" Rasya kini menatap sang istri. "Sayang apa kamu benar-benar menginginkannya sekarang?" tanya Rasya memastikan.


Adelia terdiam. "Tidak. Aku sudah tidak menginginkannya lagi," jawabnya.


"Tuh, 'kan? kamu kenapa sih , Sya menunda-nunda? istrimu jadi tidak berselera lagi jadinya," timpal Lia kini.


Rasya tersenyum tentu semuanya bohong untuk menghindari apa yang akan di tanyakan Hadi tadi. Untuk tidak mengatakan yang sebenarnya. Lebih baik Rasya berbohong dengan mengatakan bahwa Adelia tengah menginginkan Martabak.


"Tapi kalau kamu, ngajak ke ranjang. Aku tidak akan menundanya, Sayang ...," celetuk Rasya kepada istrinya sehingga membuat Lia dan Hadi menggeleng.


Lia dengan gemas ia melempari jeruk yang berada di depannya kepada Rasya. Membuat Rasya tergelak lalu menatap kepada Lia. Dan Lia menatap dengan tajam kepada Rasya.


"Ucapan mu, Syaa ...," Lia dengan melotot kepada Rasya.


...****...

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2