You Are My Mine

You Are My Mine
Extra Part 56.


__ADS_3

Serly baru saja selesai di rias wajahnya. Perias terlihat puas dengan hasil tangan nya sendiri, di tambah wajah Serly yang memang sangat cantik.


"Anda sangat cantik Nona," puji perias dengan decakan kagum.


Serly di rias dengan make up flawless. Membuat wajahnya yang memang cantik, bertambah berkali lipat.


Serly tersenyum mendengar pujian sang Perias. Serly pun sambil bercermin merasa asing dengan wajahnya yang terlihat berbeda. Memang kesehariannya, Serly hanya suka memakai makeup tipis dengan warna yang natural.


Lia sang Mama datang dan masuk ke dalam kamar Serly. Lia tersenyum saat mendapati putrinya yang benar-benar cantik.


"Sayang kamu cantik sekali," Lia memuji putrinya dengan merangkul bahunya.


Serly tersenyum, "Terima kasih Ma. Ini berkat Perias," jawabnya merendahkan.


"Nona memang wajahnya sudah cantik. Jadi saat di rias, cantiknya berkali lipat," sahut Perias yang tetap memuji kecantikan wajah Serly.


Lia tersenyum menyetujui. Dirinya bangga telah berhasil melahirkan putra yang tampan, dan putri yang cantik. Di tambah kehadiran cucu baby kembar di dalam keluarganya, membuat Lia bersyukur di dalam hati.


"Ayo sayang, kita berangkat!" ajak Lia menyampaikan tujuannya menghampiri Serly.


Serly mengangguk. Kemudian berdiri dari kursi meja rias. Di susul perias yang sudah merapihkan alat make up nya.


Serly, Lia dan Perias menuruni tangga beriringan. Langkah ketiganya langsung menuju teras depan di mana keluarga serta kerabatnya menunggu.


Semua mata tertuju menatap kagum kepada Serly.


"Ser, kamu ini baru mau tunangan udah cantik begini? bagaimana kalau kamu menikah," decak kagum dari Tante Serly adiknya Lia.


Serly hanya tersenyum dengan perasaan malu. Dari tadi dirinya sudah di puji-puji.


"Ya sudah kita berangkat sekarang. Ayo Nak!" Hadi mengintrupsi semua yang akan mengikuti acara. Lalu beralih menatap Serly dengan tersenyum bahagia.


Akhirnya keluarga Hadi Argadinata, berangkat. Sekitar Lima mobil yang kerabatnya akan datang. Di tambah Dua mobil Hadi dan Rasya. Jadi berjumlah tujuh mobil menuju Hotel Berbintang Milik Tuan Malik.


Di Ballroom Hotel, sudah nampak di penuhi kerabat dari keluarga Tuan Malik. Dekorasi dengan nuansa biru langit serta putih, mewarnai ruangan tersebut. Makanan Catering sudah tersusun rapih berjajar serta pegawainya. Panggung Musik pun sudah di penuhi dengan grup musik kota J setempat.


Dido, dan Tuan Malik sengaja menunggu kedatangan keluarga Serly di sebuah ruangan belakang panggung. Dido merasa deg-degan bercampur rasa bahagia. Tidak pernah terbesit dalam pikiran Dido saat dulu. Ia akan bertunangan secepat ini dalam usianya yang baru menginjak umur dua puluh tahun.

__ADS_1


Lalu Entah bagaimana jika peristiwa itu tidak terjadi. Belum tentu Dido akan bertunangan dengan Serly. Mengingat dirinya pernah di tolak, dan mendapati kenyataan Serly tengah menjalani hubungan bersama Aldi.


Dido tertegun sejenak, mengingat Aldi. Ada rasa kasihan, dan bersalah terhadap Aldi. Dirinya seakan tiba-tiba datang, lalu merebut serta merampas Serly begitu saja. Tanpa Aldi tahu alasannya.


'Ok. Nanti setelah aku sudah resmi bertunangan. Aku akan ajak Bang Aldi bicara,' gumam Dido di dalam hatinya.


Dido berencana ingin berbicara kepada Aldi dengan baik-baik. Lalu menyampaikan alasan yang sebenarnya saat nanti setelah resmi bertunangan bersama Serly.


Tuan Malik menepuk bahu Dido, hingga Dido merasa terkejut.


"Ayah ada apa?" Dido langsung bertanya.


Tuan Malik tersenyum, "Sepertinya kamu sudah gak Sabar Do?"


Dido mengernyit bingung, "Gak sabar apa maksudnya Yah?" tanya Dido balik.


"Kamu sudah banyak ngelamun dari tadi," cicit Tuan Malik seraya terkekeh.


Dido hanya tersenyum menanggapi Ayahnya yang memang suka rada jahil.


"Kemana Yah?" Dido tidak paham dengan ajakan ayahnya.


"Acaranya akan di mulai. Atau calon tunangan prianya, mau di ganti saja?" celetuk Tuan Malik membuat Dido mendelik.


"Enak saja! aku sampai di titik ini penuh perjuangannya, Yah" sahut Dido yang tidak mau kalah.


Tuan Malik terkekeh, "Berjuang bagaimana maksudnya? justru si Rindu itu yang sudah berjuang menyatukan kamu!"


Dido tergelak. Kini ingatannya teringat akan Rindu yang sudah berbuat tidak pantas terhadap Serly. Ada rasa geram. Dan juga bersyukur bagi Dido.


"Kamu beneran mau di ganti calon pria nya?" ledek Tuan Malik lagi.


"Ish ... ayah apaan sih, gak lucu tahu!" Dido dengan merasa kesal dengan ledekan Ayahnya.


"Ya sudah ayo ke depan! calon wanita sudah datang," kata Tuan Malik akhirnya memberitahu.


Dido membola matanya, "Bukannya, seharusnya ke ruangan ini dulu Yah?"

__ADS_1


Tuan Malik menggeleng, "Mereka sudah bersiap dari rumah. Sehingga tak perlu ke ruangan ini,"


Dido akhirnya berdiri. Merapihkan jas yang di kenakan nya. Terlihat begitu tampan dan gagah penampilan Dido dengan memakai jas seperti itu.


Dido melangkah bersamaan dengan Ayahnya menuju tempat acara akan di selenggarakan.


Dido tatapannya langsung tertuju pada gadis yang sedang duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya.


Dido terpana dengan kecantikan calon tunangannya. Rasanya ingin sekali mencium seluruh wajah Serly, dan memeluknya dengan erat. Namun, semua itu hanya ada di angga Dido saja.


"Do, dari tadi banyak bengong! kamu baik-baik saja 'kan?" Tuan Malik yang sedari tadi memperhatikan Putranya yang terus terdiam dengan pandangan melamun. Merasa khawatir, takut terjadi apa-apa dengan putranya.


Dido menggeleng, "Enggak yah."


Tuan Malik merasa lega jika Dido dalam keadaan baik-baik saja. Tuan Malik melangkah mendahului Dido. Pun dengan Dido melangkah di belakang ayahnya.


Tuan Malik menyapa Hadi dan Lia lebih dulu. Kemudian menyapa calon menantunya. Dan tangannya terulur untuk menyalami ketiganya.


"Pak Hadi dan Bu Lia apa kabar? terus calon mantu juga, bagaimana kabarnya?"


"Kami baik, Pak Malik" jawab Hadi dengan tersenyum.


Dido yang di samping Tuan Malik hanya terdiam. Dengan menatap wajah Serly yang kini sedang tersenyum ke arahnya.


Seorang Mc mulai membuka acara. Para undangan pun berdatangan satu persatu, dari mulai rekan bisnis Tuan Malik hingga rekan bisnis Hadi.


Dido menaiki panggung setelah Mc selesai membuka acara. Dido meraih microfon, dan tersenyum kepada para undangan.


"Selamat Sore semuanya. Saya berdiri di sini ingin menyanyikan sebuah lagu, sebelum acara di mulai. Lagu ini saya tujukan untuk gadis yang akan menjadi tunangan saya. Semoga semuanya terhibur,"


Dido berbisik kepada pemain musik di panggung itu. Lalu Dido menerima sebuah gitar akustik. Dido pun duduk di sebuah kursi menghadap pada microfon.


Dido mulai memetik gitar, suara gitar yang mendayu membuat semua orang terpana akan ke ahlian Dido.


Keluarga Hadi tersenyum menyaksikan Dido yang akan bernyanyi untuk Serly. Sementara Serly sungguh hatinya bagaikan meleleh. Merasa berbunga-bunga dengan ucapan Dido tadi.


...***...

__ADS_1


__ADS_2