You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 111.


__ADS_3

Happy Reading.


Ting tong... Ting tong...


Rasya dan Adelia berpandangan saat mendengar suara bell. Rasya dan Adelia kini sedang berada di dalam kamar, Rasya sedang di pijit punggung nya oleh Adelia, yang terus mengeluh merasakan mual.


"Mas, sepertinya ada tamu. Aku lihat dulu, ya...."


"Ya sudah lihat aja, paling anak bengkel," sahut Rasya.


Adelia mulai bangkit berdiri, dan menyelimuti tubuh suaminya, yang kini tengah tengkurap di atas kasur terlebih dahulu, dan setelah itu baru ke luar kamar bergegas menuju pintu utama untuk melihat siapa tamu yang datang. Adelia mulai memegang handle pintu, dan membuka pintunya.


Ceklek... saat sudah di buka pintu itu, Adelia terperanjat kaget melihat Hadi yaitu Papa Rasya yang tengah berdiri di ambang pintu.


"Om...." Sapa Adelia dan menyalami tangan Pria paruh baya tersebut.


Hadi pun tidak menolak, Ia menerima tangan Adelia yang hendak menyalami tangan nya. Setelah itu terdengar dari belakang Hadi, suara Lia, Serly, dan Juga Rara.


"Adel Sayang...."


"Kak Adel...."


"Adel...."


Mereka menyapa Adelia secara bersamaan, Adelia pun menoleh ke arah belakang Hadi yang ternyata Lia Mama Rasya, Adik Rasya, dan Rara teman nya tengah menyapanya dengan wajah tersenyum. Mereka pun berhambur untuk memeluk Adelia secara bersamaan, sungguh moment kedatangan mereka membuat tangis haru Adelia.


"Apa kabar Tante, Serly, Rara?," sapa Adelia kepada mereka yang kini sudah berdiri tegak menatap dirinya.


"Kabar Serly baik," jawab Serly.


"Kabar aku juga baik, Del...." Jawab Rara.


"Mama... Panggil Mama!." Lia menyuruh Adelia untuk memanggil mama kepada nya sebelum menjawab sapaan Adelia.


Adelia tersenyum dengan sisa linangan air matanya menatap Lia yang telah menyuruh dirinya untuk memanggil kata Mama.


Adelia mengangguk. "Iya Mama. Apa kabar Mama?," kata Adelia.


"Kabar Mama baik, Sayang...." ucap Lia dengan tersenyum.


"Eh, ayo masuk!" kata Adelia menyuruh keluarga suaminya untuk masuk.


Mereka pun menurut dengan tersenyum.


Setelah mereka duduk, Adelia membawa minuman terlebih dahulu ke dapur beserta cemilan lain nya, dan tak lupa Kue buatan nya yang sengaja Ia simpan di dalam lemari pendingin yang berada di dapur.


Kemudian Adelia membawa minuman itu ke ruang tamu, beserta cemilan nya yang kini keluarga Rasya sedang duduk di sofa sana.


"Silahkan diminum, Om... Mama... Serly, Rara."


"Kamu panggil Saya Om?, sedang istriku kamu Panggil Mama?, ini tidak Adil" kata Hadi berlaga cemberut.


Adelia tersenyum bingung lalu menoleh ke arah Lia mama mertuanya yang tengah tersenyum hangat kepadanya.


"Sayang... Panggil Om Hadi Papa." suruh Lia.


Adelia pun mengangguk dengan pelan.


"Kak Rasya nya mana, Kak?," tanya Serly.


"Oh iya, maaf Kakak sampai lupa untuk memanggilnya," sahut Adelia.


"Sebentar ya, Adel tinggal dulu," kata Adelia seraya berjalan menuju kamar untuk memanggil suaminya.


Setelah masuk ke dalam kamar, Adelia melihat Rasya baru saja keluar dari kamar mandi.


"Mas, muntah lagi?," tanya Adelia dengan wajah khawatir.


"Iya Sayang, tapi aneh hanya keluar cairan saja," jawab Rasya.

__ADS_1


"Em, siapa Sayang tamu nya, kok kamu lama sekali di depan?," tanya Rasya.


"Eh iya Mas, Ayo kita temui tamu nya."


Adelia seraya menggandeng lengan suaminya itu untuk melihat tamu yang Rasya belum tahu.


"Siapa emang?," tanya Rasya kembali dengan mulai berjalan menuju ruang tamu.


"Nanti Mas juga tahu," sahut Adelia.


Dan akhirnya langkah Adelia dan Rasya sampai di ruang tamu. Rasya berdiri mematung kala melihat Kedua orang tuanya beserta adiknya tengah duduk di Sofa ruang tamu nya.


"Ayo Mas!," ajak Adelia untuk lebih mendekat kepada orang tua suaminya.


"Sayang...." Lia langsung berhambur memeluk putranya itu dengan menangis.


Rasya masih dalam keadaan bingung dari mana Orang tuanya tahu tentang tempat keberadaan nya kini. Setelah sadar mengingat bahwa Papa nya yang bisa saja menemukan keberadaan nya, Rasya mulai membalas pelukan Lia Mamanya.


"Sayang, Mama senang melihat kamu bahagia," kata Lia saat sudah melepaskan pelukan nya.


Rasya hanya tersenyum dan mengangguk, lalu tangan nya terangkat untuk mengusap air mata yang tengah basah di pipi Mama nya.


"Rasya kamu tak mau memeluk ku?," tanya Hadi yang membuat Rasya menoleh kepadanya.


Rasya di buat bingung akan pertanyaan aneh Papa nya, yang biasanya suka bersikap acuh kini ingin di peluk dirinya, Rasya menoleh kepada Lia, dan dapat anggukan dari Lia agar anaknya memeluk Hadi Papa nya.


Rasya pun melangkah dan memeluk Hadi.


"Maafkan Papa," kata Hadi di sela pelukan putranya.


"Iya Pa. Rasya juga minta maaf, karena Rasya sudah tidak mau menuruti perintah Papa."


"Sudah, jangan mengungkit itu. Papa ke sini memberi restu Papa untuk pernikahan kalian, dan sekalian Papa ingin melihat kondisi mu di sini," kata Hadi saat sudah melepaskan pelukan nya.


Rasya tersenyum senang mendengar Hadi yang datang dengan membawa restu untuk pernikahan nya. Lalu kini melirik istrinya yang sedang memperhatikan dirinya sedari tadi.


"Sayang, kita dapat restu dari Papa," kata Rasya seraya memeluk sang istri.


Lalu Adelia dan Rasya duduk di sofa yang berhadapan dengan Sofa yang di duduki orang tuanya.


Rasya menoleh Serly, dan Rara.


"Bagaimana kabar mu Anak kecil?," tanya Rasya kepada Serly.


"Baik," kata Serly dengan mengerucutkan bibirnya karena kesal di bilang anak kecil.


"Kabar kamu bagaimana Ra,?" kini Rasya bertanya kepada Rara.


"Aku Baik, Syaa...." jawab Rara.


"Ayo, diminum dan di makan cemilan nya. Ma... Pa...." suruh Adelia.


"Iya Sayang," sahut Lia.


"Em, akhirnya Serly mencicipi kembali kue buatan kakak," ucap Serly dengan mengunyah kue yang sedang ia makan.


Adelia hanya tersenyum menanggapi ucapan adik iparnya itu.


"Kami boleh kan, menginap di sini?," tanya Hadi.


Rasya menganga, sungguh ini suatu kejutan Hadi menawarkan diri untuk bermalam di rumahnya.


"Tentu boleh Pa," sahut Adelia.


Adelia merasa tidak ada jawaban dari Rasya, jadi Adelia yang berusaha menjawab nya.


"Papa?," kini Rasya menoleh kepada istrinya dengan bingung, Adelia sudah memanggil kata Papa seperti dirinya kepada Hadi.


"Memang kenapa?, toh Adelia juga anak ku, istri dari anak ku, Papa yang sudah menyuruh nya untuk memanggil Papa," ujar Hadi kepada Rasya yang mempertanyakan kepada istrinya.

__ADS_1


"Syukurlah kalau Papa sudah dapat menerima Adelia sebagai menantu Papa," tutur Rasya dengan tersenyum.


"Tadi berangkat ke sini Papa yang nyetir?," tanya Rasya yang tidak melihat keberadaan supir pribadi Papanya yaitu Pak Sukri.


"Mana mau Papa nyetir sejauh ini," timpal Hadi.


"Lalu Pak Sukri nya mana?," tanya Rasya kembali.


"Itu duduk di depan bengkel kamu, Nak," jawab Lia.


"Terus Papa tahu dari mana tempat Rasya ini?," tanya Rasya lagi.


"Itu tidak penting kamu tahu. Bisa tidak kamu tidak banyak bertanya?, Papa rasa sedang berkunjung ke rumah putraku, bukan mendatangi tempat interview," ujar Hadi dengan tergelak.


Sontak Rasya ikut tergelak juga atas penuturan Hadi Papanya.


"Maaf Pa, Rasya saking senangnya di kunjungi kalian. Rasya hingga ingin tahu Papa tahu tempat ini dari mana?, ya sudah itu tidak penting," ucap Rasya dengan masih tergelak.


Lalu keadaan hening seketika, karena Mereka sedang menikmati kue buatan Adelia.


"Rujak.... Rujak...."


Rasya mendengar suara penjual rujak, kini menoleh ke istrinya.


"Apa Mas?," tanya Adelia.


"Di depan sepertinya ada tukang Rujak, Sayang...."


Adelia tersenyum teringat akan permintaan suaminya yang tadi, Rasya menginginkan Mangga muda.


"Ya sudah, aku ke depan dulu untuk membeli rujaknya ya...."


"Bukan Rujaknya Sayang, tapi Mangga muda saja. Cukup Mangga muda saja!" kata Rasya mengulang-ulang kata Mangga Muda yang memang tengah di inginkan nya.


"Iya-iya... Ma, Pa, Adel tinggal dulu ke depan ya...." Pamit Adelia kepada kedua mertuanya.


Dan dapat anggukan dari Lia dan Hadi.


Seperginya Adelia, kini Lia menatap Rasya dengan serius.


"Kamu ingin mangga muda, Nak?," tanya Lia.


"Iya Ma, dari tadi pagi aku menginginkan nya."


Lia kini tersenyum dan menatap kepada Hadi suaminya, namun yang di tatap acuh tidak mengerti arti dari senyuman istrinya itu.


"Apa kamu mual-mual, dan muntah-muntah?," tanya Lia kembali kepada Rasya.


Sedangkan Serly dan Rara hanya mendengar serta memperhatikan saja interaksi ibu dan anak di depan nya itu.


"Iya Ma, Rasya mual-mual... dan juga muntah-muntah. Dan belum sempat di periksa ke dokter," tutur Rasya.


Lia tersenyum semakin mengembang.


Dan di lihat oleh Rasya.


"Mama kok malah tersenyum, bukan mengkhawatirkan keadaan aku?," kata Rasya bingung.


"Kamu tidak apa-apa Nak, hanya Adelia yang harus di periksa oleh Dokter," ujar Lia.


"Loh, kok malah Adel yang harus di periksa? di sini Rasya yang sakit!, Mama ini bagaimana?," tanya Hadi yang merasa aneh juga terhadap istrinya.


"Iya Mama ini aneh, orang aku yang sakit tapi malah istriku yang akan mama periksa ke dokter," protes Rasya.


Lia hanya tersenyum saja menanggapi protes putranya.


Mudah-mudahan dugaan ku benar, bahwa Adelia sedang hamil. Dan yang merasakan mual serta ngidam nya adalah Rasya. Batin Lia dengan tersenyum membayangkan akan mendapatkan cucu dari anak menantunya tersebut.


...***...

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2