You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 86


__ADS_3

Suara ayam berkokok terdengar di pagi ini beserta suara kicauan burung membangunkan gadis yang merasa enggan untuk bangun dari tempat tidurnya. Ia menarik selimut tebal itu ke tubuhnya karena sungguh merasa dingin yang Ia rasakan saat ini. Mungkin karena daerah yang kini ia tinggali adalah daerah yang masih asri dan masih banyak pepohonan sehingga hawa dingin yang sangat terasa.


Tapi ia buru-buru bangun duduk dan menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang yang standar itu. Ia tersadar telah menumpang di rumah Aldi pekerja Rasya. Adelia pun berdiri dan merapihkan tempat tidur terlebih dahulu. Lalu meraih handuk dan pakaian ganti yang ia akan pakai nanti setelah mandi.


Adelia keluar dari kamar, terlihat jam yang menempel di dinding menunjukkan pukul 5 pagi. Ia pun dengan cepat bergegas ke arah dapur yang dimana Kamar mandi terletak di sana. Dan keadaan rumah masih sepi sepertinya baru dirinya lah yang sudah bangun. Adelia pun lekas masuk ke dalam kamar mandi dan menyalakan kran air terlebih dahulu. Lalu menggantungkan Handuk beserta Baju ganti yang akan hendak ia pakai nanti setelah mandi.


Di Kamar lain Aldi terbangun lalu menatap ke arah samping yang dimana Bos nya tertidur. Terlihat Rasya masih terlelap dalam tidurnya.


Aldi dengan cepat keluar dari kamarnya dan bergegas menuju dapur. Terdengar suara orang yang sedang mandi dari balik kamar mandi. Tadinya Aldi ingin membuang air. Aldi pun duduk di Kursi meja makan dan meraih air minum lalu Aldi meneguknya.


"Al... Kamu udah bangun?." Tanya Ibu Aldi berdiri di dekat Aldi.


"Iya Bu. Em... Aldi kira yang di dalam kamar mandi ibu?." Kata Aldi yang mengira di dalam kamar mandi adalah ibunya.


Ibu Aldi memandang ke arah kamar mandi.


"Alma mungkin... Kan Hari ini dia sekolah pagi." Sahut Ibu Aldi.


Aldi pun mengangguk.


Selang beberapa lama terdengar Pintu Kamar mandi di buka.


Ceklek.... Adelia keluar dari kamar mandi dengan sudah memakai Dress bermotif bunga selutut, dan dengan kepalanya di balut handuk.


Tentu Aldi menoleh dan melihatnya karena Ia ingin cepat ke dalam kamar mandi, namun mata Aldi terpaku melihat gadis yang berkulit putih, berwajah cantik, dengan lesung pipi tersenyum ke arah Aldi dan Ibunya.


"Pagi Bu, Al..." Sapa Adelia dengan mendekat ke arahnya.


"Pagi Neng cantik..." Kata Ibu Aldi.


Aldi hanya menjawab dengan tersenyum lalu dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi sebelum Adelia tepat berdiri di dekatnya.


Adelia pun merasa aneh terhadap Aldi pikirnya Aldi seperti menghindar.


Ibu Aldi pun menyadari wajah Adelia yang keheranan terhadap Aldi.


"Aldi kebelet neng... Maklum Kamar mandinya hanya satu." Ibu Aldi dengan terkekeh menjelaskan.


Adelia pun tersenyum. "Apa tadi saya mandinya terlalu lama Bu?. Jadi Aldi menunggu lama?." Tanya Adelia.


"Aldi baru saja keluar dari kamar koq. Mungkin karena kebelet jadi dia tergesa-gesa. Oh ya tadi Ibu pikir Alma yang sedang mandi. Tahu nya Neng cantik."


Adelia hanya tersenyum. "Ibu, Adel ke kamar dulu ya mau merapihkan rambut Adel terlebih dahulu." Pamit Adelia.


"Iya Neng."


Tak lama Aldi keluar dengan memakai Handuk dari batas pinggang. Ternyata Aldi sudah mandi.


Adelia yang sudah di dalam kamar mulai menyisir rambutnya, dan memakai make-up tipis pada wajahnya serta memakai Liptin bibir. Setelah selesai Adelia pun keluar dari kamarnya dan hendak ingin keluar untuk menjemur Handuknya.


Di Luar terlihat Ada Rasya yang sedang duduk berjemur di bawah sinar matahari pagi yang menyorot tepat ke arah kursi yang sedang Ia duduki. Adelia melenggang berjalan menuju tempat penjemuran baju. Ia menjemur handuk bekasnya mandi.


"Ekhemm...." Rasya berdehem ke arah gadis nya yang berwajah cuek.


Adelia pura-pura tidak mendengar dan masuk kembali ke dalam rumah. Lalu bergegas ke arah dapur. Yang terlihat Ibu Aldi sedang memasak.


"Bu boleh Adel bantuin.." Adel ingin membantu Ibu Aldi.


"Tidak usah Neng. Nanti tangan Neng lecet." Tolak Ibu Aldi.


"Hus... Ibu ini. Saya sudah terbiasa koq memasak."


Ibu Aldi menatap tidak percaya.


"Benarkah?. Ibu pikir Neng anak kota tidak terbiasa berkutat di dapur."


Adelia tersenyum. "Enggak bu. Adel sudah terbiasa. Dan lumayan Adel bisa memasak juga."


"Ya sudah kalau Neng mau bantuin ibu. Ini Neng tolong potongin Sayuran ini ya..." Kata Ibu Aldi akhirnya membiarkan Adelia membantunya memasak.


Adelia meraih sayuran tersebut yaitu Kentang yang sudah Ibu Aldi kupas terlebih dahulu. Lalu Adelia memotong kentang tersebut memakai Pisau khusus, setelah selesai memotong kentang Adelia dengan cepat mengulek bumbu untuk kentang tersebut.

__ADS_1


Ibu Aldi yang sedang menggoreng ikan menoleh ke arah Adelia yang begitu cekatan mengulek bumbu balado untuk bumbu kentang nanti.


Rasya datang dengan menyampirkan handuk di pundak dan berdiri melihat gadisnya terlebih dahulu lalu ia meraih Sebuah karet. Dan mendekat ke arah gadisnya lalu tangan nya terulur untuk mengikatkan Rambut Adelia.


"Begini dong. Jadi wajah mu tidak tertutupi rambut." Kata Rasya dengan mengelus kepala Adelia.


Ibu Aldi tersenyum melihat sikap Rasa yang begitu manis kepada Adelia.


"Ibu jadi pengen cepet punya mantu. Kalau lihat Pak Rasya begitu romantis dengan Neng Adel. Terus Neng Adel mau bantuin Ibu masak membayangkan nanti mantu ibu juga seperti neng Adel." Celetuk Ibu Aldi.


"Kak Aldi punya pacar juga enggak bu. Mana mungkin ibu ingin cepat punya mantu." Celetuk Alma yang ternyata sedari tadi berdiri memperhatikan Rasya, Adelia, dan Ibunya di dapur.


"Benarkah Aldi tak punya pacar?." Adelia bertanya kepada Rasya.


"Iya. Sudah jangan kepo." Rasya menjawab dengan mencubit pipi Adelia dan bergegas ke dalam kamar mandi.


Adelia pun merasa jengkel.


"Neng coba kenalin temen neng kepada Aldi, siapa tahu Aldi suka." Kini Ibu Aldi menyuruh Adelia untuk memperkenalkan temannya kepada Aldi.


"Em... Memang benar Aldi belum punya pacar?," tanya Adelia memastikan.


"Iya Neng. Ibu juga bingung padahal anak ibu itu banyak gadis yang suka. Dan wajah Aldi menurut Ibu sangat tampan. Tapi anehnya Aldi seperti tidak suka terhadap wanita." Sahut Ibu Aldi dengan mengangkat Ikan yang sudah matang dari penggorengan.


Adelia pun mengangguk membenarkan kalau Aldi memang tampan.


Sedangkan Alma duduk di kursi dengan menuangkan air hangat untuk dirinya.


Tiba-tiba Aldi datang menghampiri.


Untung saja perbincangan tentang Aldi sudah terhenti, kalau belum bisa-bisa Aldi akan marah.


"Al kamu mau ngopi?." Tanya Ibunya.


"Biar Al saja yang buat bu." Sahut Aldi.


"Kamu duduk saja Al. Biar Saya yang buatkan. Sekalian buat Rasya juga." Kata Adelia dengan tersenyum.


"Iya Kakak duduk saja." Celetuk Alma.


Rasya keluar dari kamar mandi dengan handuk sebatas pinggang, dan cepat berlalu menuju kamar Adelia. Karena Rasya semalam menaruh bajunya di dalam koper Adelia.


Sementara yang berada di dapur.


Aldi menerima Kopi yang di buatkan Adelia.


Sedangkan Adelia mulai memasak kentang Balado.


"Kak Adel... Kakak sudah lama pacaran sama Pak Rasya?." Celetuk Alma yang langsung dapat pelototan dari mata Aldi.


"Kamu gak sopan tanya-tanya seperti itu."Kata Aldi dengan berbisik.


Adelia yang sedang memasak menoleh sebentar ke arah Alma.


"Baru saja." Jawab Adelia.


"Benarkah?. Tapi terlihat seperti yang sudah tidak canggung lagi." Kata Alma.


"Memang begitu. Karena Sebenarnya Kita sudah berteman lama." Sahut Adelia dengan menyicipi hasil masakan nya.


"Oh begitu." Lirih Alma.


Aldi menatap Adiknya seperti ada hal yang aneh. Tapi ia urungkan bertanya. Karena Ada Rasya yang kini duduk di kursi sebelahnya. Dengan menatap Adelia yang sedang berdiri memasak.


"Ibu mana?." Tanya Rasya kepada Aldi.


"Ibu Sepertinya sedang di kamar." Sahut Aldi.


"Oh iya Bos. Tukang Bangunan sudah saya temui tadi. Dia mau bekerja katanya asal bahan-bahan sudah tersedia." Kata Aldi lagi.


"Ya sudah nanti kamu temani saya ke toko Matrial bangunan untuk membeli bahan-bahan." Tutur Rasya.

__ADS_1


Aldi pun mengangguk.


Adelia datang menghidangkan hasil masakan nya di meja makan.


"Oh iya Ini kopi buat kamu Sya." Kata Adelia menyerahkan kopi hasil buatan nya itu.


"Terima kasih sayang" Kata Rasya tanpa canggung di hadapan Alma dan Aldi.


Lalu Ibu Aldi datang dengan sudah memakai Pakaian yang dimata Adelia sedikit aneh.


"Loh Ibu seperti mau pergi?." Tanya Adelia.


"Iya Neng. Ibu mau memetik daun teh. Setiap hari ibu bekerja sebagai pemetik daun teh." Ujar Ibu Aldi.


"Oh begitu bu. Ayo kita sarapan dulu sebelum ibu berangkat." Ajak Adelia.


"Sudah tadi Neng. Ibu membawa bekal untuk nanti siang. Ya sudah Ibu tinggal Ya... Ayo Alma sekalian bareng sama ibu" Ibu Aldi pamit dengan mengajak Alma bareng.


Alma pun menurut dan pergi bersama ibunya.


Kini tinggal Adelia, Rasya dan Aldi. Mereka mulai makan sarapan nya dengan keadaan hening.


...----------------...


Di tempat lain.


Martin sedang sarapan bersama Tante Meli dan Rima. Martin hari ini akan berniat mengikuti Rima ke tempat Butiq yang Rima maksud. Martin dan Rima akan melakukan Fiting Baju Pengantin.


Tapi di Hati Martin sebenernya sangat enggan. Namun demi untuk memperhatikan gerak-gerik Rima, Martin lakukan itu.


Martin ingin semua kejahatan Rima terbongkar sebelum Pernikahan terjadi. Martin tidak mau menyesal akhirnya jika sampai tahu suatu nanti wanita yang menjadi istrinya adalah penjahat.


Martin akan di Bantu Reyhan dan juga Dimas. Jadi Martin seakan bersemangat untuk menguak dalang kejahatan terhadap Adelia.


Del. Tunggu aku. Setelah Kejahatan Rima terbongkar aku akan datang dan menikahimu.


Martin berbicara dalam hatinya. Setelah menyudahi makan nya.


Terdengar suara ponsel Rima berdering. Rima menatap ponselnya dengan lama sebelum ia meminta ijin untuk mengangkatnya kepada Martin. Setelah Martin mengijinkan. Rima dengan cepat pergi kedalam kamarnya.


Aneh sampai harus di dalam kamar ia menjawab panggilan.


Martin bergumam dalam hati lalu menyusul Rima tanpa Rima ketahui.


Rima sudah berdiri di balkon kamarnya. Martin bisa masuk kedalam kamar Rima kebetulan karena Rima tidak mengunci pintu kamarnya. Martin pun berdiri di balik tiang besar balkon Tanpa Rima tahu.


"Halo Juana..." Rima mulai menjawab teleponnya.


"Halo Rima. Gua sudah menangkap Seseorang. Yang merupakan kunci untuk kita mengetahui dimana gadis itu berada." Kata Juana di seberang telepon.


"Siapa yang Lu tangkap Juana?." Teriak Rima.


Martin pun mendengarkan dengan seksama di balik persembunyian nya.


"Yuda dan Rara." Kata Juana.


"Yuda dan Rara?." Teriak Rima dengan mengulang apa yang di ucapkan Juana.


Martin melotot matanya setelah mendengar Rara dan Yuda di tangkap. Martin kini membenarkan dugaan nya. Rima lah di balik terbakar nya Ruko Adelia. Martin mengepalkan kedua tangan nya menahan amarah yang kini ia rasa.


"Terus Adelia kenapa Lu gak bisa tangkap?." Tanya Rima.


"Keberadaan nya tidak dapat ketahui. Mungkin dengan Menangkap Rara dan Yuda kita bisa memancing gadis itu datang." Ujar Juana.


"Ok Jangan sampai Lu lengah." Rima dengan cepat menutup sambungan telepon tersebut.


Kini Rima menyunggingkan seringaian licik di bibirnya.


"Selangkah lagi. Elu akan Mampus Adel. Gue gak akan membiarkan Elu hidup. Apalagi sampai Elu kembali dan menampakan diri dihadapan Martin." Rima bermonolog sendiri.


Dengan Jelas Martin mendengarnya. Martin benar-benar tidak menyangka Rima yang selalu di hadapan nya terlihat anggun dan lembut tapi di belakangnya seperti Hewan buas yang akan siap memangsa.

__ADS_1


Martin seakan bulu kuduknya berdiri mengingat Rima yang baru saja bermonolog.


...Bersambung....


__ADS_2