You Are My Mine

You Are My Mine
Extra Part 67.


__ADS_3

Setelah membeli banyak cemilan serta keperluan untuk mandi dari Mini Market. Aldi dan Maharani memutuskan untuk pulang kembali ke rumah sakit dimana Ibu Aldi di rawat. Sepanjang perjalanan pulang Maharani tertidur pulas. Sehingga membuat Aldi bisa menatap dengan leluasa.


"Nona Maharani, saya bingung dengan keputusan ini? apakah saya akan bisa membuka hati saya untuk anda? sementara ibu sudah sangat salah paham besar, menginginkan pernikahan antara saya dan anda. Dan di sisi lain, saya takut sekali jika saya tidak mampu membuka hati. Sehingga saya tak mau menyakiti perasaan anda yang sangat tulus mencintai saya," batin Aldi berbicara panjang setelah berhasil memarkirkan mobil miliknya.


Aldi menatap wajah Maharani yang tertidur pulas. Mau membangunkan, Aldi tidak berani, dan terlebih tidak tega jika tidur Maharani terganggu. Aldi memilih mengatur jok tempat duduk Maharani. Dan membuka seat belt yang Maharani kenakan. Kemudian, dirinya pun ikut memejamkan mata di jok samping Maharani.


Selang tiga puluh menit kemudian. Maharani menggeliat. Dan mengerjapkan kedua matanya. Pertama yang ia lihat saat membuka mata adalah langit-langit mobil.


"Hah, aku ketiduran?" ucapnya dengan langsung duduk tegak. Setelah itu melirik ke arah samping dimana ada Aldi yang juga tertidur.


"Oh ya Ampun, pangeran tampan ku so sweet banget sih," ujarnya dengan mengulas senyum bahagia. Maharani tentu senang melihat pemandangan dimana Aldi tertidur pulas seperti dirinya tadi. Mengingat jok yang ia duduki berubah. Tentu Maharani tahu, Aldi-lah yang mengaturnya, dan membuka seat belt miliknya.


Kini giliran Maharani yang menatap wajah Aldi. Dengan bibir tersenyum, ia bisa leluasa menatap pahatan sempurna yang Maha Pencipta Ciptakan.


"Bibirnya, hidungnya ... oh ya Tuhan kamu sangatlah sempurna Al," puji Maharani dengan pikirannya sudah traveling. Membayangkan bibir Aldi akan bersentuhan dengan bibirnya suatu saat nanti. Membuat Maharani senyum-senyum sendiri.


Hingga Aldi terbangun dengan sendirinya, sampai ia terperanjat saat melihat Maharani sudah terbangun.


"Sudah bangun ya?" tanya Aldi dengan mengatur kembali jok tempat duduknya. Pertanyaan nya tidak mendapat sahutan dari Maharani. Membuat Aldi menatap intens kepada Maharani.


"Apa yang terjadi? kenapa Nona Maharani senyum-senyum sendiri?" batin Aldi berbicara dengan merasa heran.


Aldi pun membiarkan nya. Kemudian ia membuka pintu mobil, dan melenggang keluar. Sontak suara pintu mobil yang baru saja Aldi tutup menimbulkan suara. Membuat Maharani terperanjat kaget.


Bugh!


"Astaga!" ucapnya. Kemudian tersadar bahwa Aldi sudah tidak berada di tempatnya.


Maharani cepat keluar. Dan menemukan Aldi di belakang mobil yang akan membuka pintu bagasi.


"Al, Sejak kapan kamu bangun?" tanya nya.


Aldi menoleh sejenak. Kemudian meneruskan niatnya menurunkan belanjaan milik Maharani.

__ADS_1


"Saat Nona senyum-senyum sendiri,"


Sontak membuat Maharani melotot kaget, "Apa? aku senyum-senyum sendiri?" tanya nya memastikan. "Dan kamu barusan masih panggil aku, nona?" lanjutnya.


Aldi menghela nafas sepenuh dada. Sepertinya Aldi harus mulai terbiasa menghadapi Maharani yang cerewet. Jangan sampai, ia mengucapkan kata-kata yang bisa saja membuat gadis itu terluka. Karena, Aldi pribadi sesungguhnya tidak menyukai wanita yang cerewet.


"Saya bingung harus memanggil dengan apa?" sahutnya datar.


Maharani tiba-tiba mengecup pipi Aldi. Sontak membuat Aldi kaget serta melotot.


"Hei, kenapa--"


Maharani dengan cepat memotong ucapan Aldi, "Jangan protes ya, Tuan Aldi. Itu adalah hukuman untuk mu yang masih terus memanggil aku dengan panggilan Nona. Jika kamu ingin terus aku cium, maka teruslah panggil aku dengan kata nona, dan aku akan memanggilmu dengan kata Tuan!."


Aldi tentu melotot, "Hei, kenapa begitu?"


"Ya gak apa-apa ... hak aku mencium kamu. Karena mulai sekarang aku adalah kekasih mu. Maka, pikirkanlah panggilan untuk kekasih mu ini!" ujarnya tidak mau mendengar protes dari Aldi. Bahkan Maharani menegaskan serta mengingatkan bahwa dirinya sekarang sudah menjadi kekasih Aldi.


"Sepertinya kamu ingin aku cium lagi ya?" Maharani dengan mengedipkan sebelah matanya menggoda. Dengan tubuh moleknya, ia mendekati Aldi. Membuat Aldi gugup serta menahan nafas. Bahkan Aldi tanpa sadar menutup kedua matanya.


Maharani terkekeh tanpa suara memperhatikan Aldi yang salah tingkah serta seperti pasrah saat Maharani mendekat. Maharani setelah dekat dan berhasil menghembuskan nafasnya di depan wajah Aldi, dengan cepat tangan Maharani meraih empat paper bag yang belum Aldi turunkan.


"Aku duluan ya, ke ruang rawat ibu. Pengen cepat mandi, sudah gerah soalnya," ucap Maharani dengan melenggang dari hadapan Aldi.


Tentu Aldi cepat membuka ke dua matanya saat mendengar ucapan Maharani barusan. Sungguh Aldi Merasa bodoh serta begitu malu apa yang baru saja ia lakukan.


"Ah gadis itu! awas saja kau!" umpatnya di dalam hati merasa geram telah di permainkan.


"Ish, apa sih?" gerutu Aldi saat tersadar seakan dirinya benar-benar mengharapkan mendapat ciuman kembali dari Maharani.


Maharani yang sudah sampai dan masuk ke dalam ruang rawat inap ibu Aldi. Langsung memberikan satu paper bag kepada Alma. Dan satu paper bag kepada Ibu. Sementara dua paper bag lagi milik dirinya dan juga untuk Aldi.


"Ya Ampun, teteh ini buat aku?" tanya Alma dengan wajah terkejut. Karena mendapat lima stel sekaligus pakaian dari Maharani.

__ADS_1


Maharani mengangguk, "Maaf. Aku bisa belinya yang begitu. Soalnya, kata Aldi kalau Mall dari sini jauh sekali,"


"Kenapa teteh minta maaf? Ini bagus-bagus, dan mahal-mahal loh harganya. Terima kasih ya teh," ujar Alma dengan wajah senang.


Ibu Aldi tersenyum senang. Menatap Alma yang bahagia atas pemberian pakaian yang Maharani berikan.


"Punya ibu, aku yang buka ya?" kata Alma langsung membuka paper bag milik ibunya.


Alma kembali terkejut. Saat mengeluarkn baju-baju gamis serta kerudung yang di belikan Maharani. Alma kembali terperangah saat melihat bandrol-bandrol harga mulai dari tiga ratus ribuan. Bagi Alma orang yang biasa, harga tersebut sudah di katakan mahal.


"Teteh, ini bagus-bagus ... lihat bu! ibu punya baju gamis baru dari calon mantu ibu," Alma menunjukkan baju-baju yang Maharani belikan ke hadapan ibu.


Sontak ibu tersenyum dengan wajah terharu. Akhirnya putra sulungnya mendapatkan calon istri yang benar-benar tulus mencintai putranya, serta keluarganya. Ibu Aldi memberikan anggukan untuk merespon yang Alma tunjukan.


"Loh, kok ibu nangis?" tanya Maharani kaget saat menatap wajah ibu Aldi sudah basah dengan air mata.


"Apa ibu tidak senang atau gak suka dengan apa yang aku pilihkan? kalau begitu, mohon maaf jika selera yang aku pilihkan tidak sesuai dengan selera ibu," tambah Maharani yang menyangka jika Ibu Aldi menangis karena tidak sesuai.


Ibu Aldi menggeleng. Kemudian tangan nya melambai mengisyaratkan untuk Maharani mendekat.


"Sini neng!" katanya.


Maharani menurut dengan wajah bersalah karena merasa telah membuat ibu Aldi menangis.


Ibu Aldi meraih tangan Maharani. Dengan bibir tersenyum.


"Terima kasih, neng sudah mau memilih Aldi sebagai calon suami. Dan terima kasih juga, neng sudah sangat tulus mencintai Aldi serta keluarganya. Ibu menangis terharu. Bukan karena apa-apa. Ibu merasa senang serta bahagia. Akhirnya, doa ibu terkabulkan. Putra ibu, Aldi membawa gadis calon istrinya yang sudah lama ibu nantikan," ungkap ibu Aldi.


Sementara di ambang pintu. Aldi menyaksikan serta mendengar semuanya. Membuat Aldi kembali dilema.


"Ibu ... maafkan aku. Awalnya aku menerima Nona Maharani karena terpaksa. Demi ibu aku lakukan ini. Semoga saja, kedepan nya aku bisa membuka hatiku. Sehingga apa yang ibu katakan barusan benar-benar terjadi," Aldi termenung di dalam hati setelah menyaksikan ketulusan Maharani, serta kebahagiaan adik dan Ibunya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2