
"Al, bagaimana soal pernikahan kamu dan neng Rani? ibu sudah pulih sekarang," katanya menagih ucapan yang saat itu di janjikan Maharani dan yang di setujui Aldi putranya.
Aldi terperangah. Inilah pertanyaan yang Aldi takutkan dari tadi. Entah harus menjawab seperti apa atas pertanyaan ibunya. Yang jelas Aldi sangat bingung.
"Hei, Al! ibu serius nanya ini. Kenapa malah diam?" desak ibu saat mendapati putranya yang malah terdiam.
Aldi berpikir menentukan jawaban yang masuk di akal. "Ayo Aldi kamu berpikir!"
"Aldiansyah! dengar ibu tidak!?" pekik ibu dengan menyebutkan nama lengkap Aldi.
Aldi menatap wajah sang ibu dengan rasa bersalah, "Maaf bu! aku sebenarnya baru berpacaran sama Rani. Jadi, gak enak lah jika harus mengajak dia nikah," jawaban Aldi yang di tunggu sang ibu.
Ibu menggeleng-gelengkan kepala, "Baru bagaimana? sebulan? atau dua bulan?" tanya ibu yang ingin tahu jawaban Aldi yang menyebutkan baru berpacaran.
"Ya baru lah bu ... mungkin ada satu bulan," jawab Aldi. "Baru delapan hari pacaran," lanjut Aldi dalam hati.
"Ya gak apa-apa dong! kalau misalkan kamu serius dan mengajak nikah. Itu lebih baik Al! lama-lama pacaran malah numpukin dosa. Apalagi gaya pacaran jaman sekarang. Ibu merinding kalau membayangkan nya," tetap ibu Aldi memberikan penjelasan nya dengan membanding-bandingkan gaya pacaran zaman sekarang.
"Iya sih bu, ada benarnya juga kata ibu. Tapi, masalahnya di sini Aku belum tahu keluarga dia seperti apa, babat, bebet, bobotnya bu. Atau yang jelasnya, aku belum tahu sifat dia," gerutu Aldi di dalam hati. Ingin Aldi mengucapkan nya langsung. Namun, tentu Aldi tidak berani jika harus melihat wajah ibunya yang berubah muram.
"Aldi, kenapa sih nak kamu jadi banyak bengong begini?" Ibu Aldi kembali menegur putranya. Yang terlihat akhir-akhir ini banyak terdiam.
Aldi meraih tangan ibunya, kemudian mencium punggung tangan ibunya dengan penuh rasa sayang, "Bu. Maaf saat ini aku belum bisa membahas soal pernikahan. Aku harus banyak pertimbangan. Soalnya, pernikahan itu bukan hal sembarangan. Aku ingin menikah sekali seumur hidup bu. Bukan grasak-grusuk kaya abis di grebek," selorohnya.
"Tapi, Nak. Sampai kapan? ibu ingin melihat kamu cepat menikah, dan cepat menimang cucu. Neng Rani gadis cantik dan baik. Sepertinya juga sayang sama keluarga kamu. Kurang apa lagi?"
"Iya bu. Suatu saat Aku akan nikah. Tapi tidak dalam waktu sekarang. Aku mohon, ibu bisa bersabar ya!" dengan sekali lagi Aldi mengecup punggung tangan sang ibu berusaha menenangkan.
Ibu Aldi akhirnya hanya menghela nafas. Begitu susah membujuk putranya itu untuk segera menikah. Padahal sekarang sudah jelas calon nya ada. Entah apa yang ada dalam pemikiran putranya.
"Ibu mau ke kamar? biar Aku yang antar!" Aldi menawarkan untuk mengantar ibunya ke dalam kamar. Saat melihat ada pergerakan dari sang ibu.
"Gak usah. Ibu bisa sendiri kok!" sahut ibu dengan ketus. Ibu langsung cepat berdiri meninggalkan Aldi yang masih terduduk di sofa single.
Kini Aldi memijat pelipisnya dengan menghembuskan nafas berat. Lebih baik memperbaiki banyak mesin mobil dan motor bagi Aldi dari pada harus menghadapi pertanyaan sang ibu yang terus membahas hal pernikahan.
__ADS_1
Aldi sendiripun memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. Masih terlihat kondisinya sama saat terakhir ia tinggalkan. Hanya, seprai dan selimut yang terlihat berganti. Aldi pun menjatuhkan tubuhnya di tengah-tengah ranjang.
"Akhirnya bisa rebahan," ucapnya dengan senang. Sebab seminggu ini ia hanya bisa rebahan di sofa panjang ruang rawat inap ibunya selama di rumah sakit. Hingga tanpa terasa Aldi tertidur dengan pulas.
Sementara di kamar tamu. Gadis yang sedari tadi tertidur kini mengerjapkan kedua matanya. Perlahan kelopak matanya terbuka. Dan saat tersadar. Ia langsung terduduk dengan rasa bingung.
"Aku dimana?" gumamnya.
Maharani menatap sekelilingnya, dan meneliti tubuhnya yang berselimut. Sontak Maharani merasa lega dengan melihat pakaiannya yang masih lengkap.
"Syukurlah!" ucapnya. Maharani baru saja telah berpikiran negatif. Tentu, karena dirinya punya rasa trauma di beberapa tahun yang lalu.
Maharani menggelengkan kepala dengan pikiran nya yang sudah berlebihan. Kemudian ia bangun dan menatap ada tas selempangnya tergeletak di atas nakas.
"Apa aku sudah di rumah Aldi?" monolognya.
"Duuh aku malu banget, udah ketiduran lama lagi," umpatnya yang merasa tidak enak.
Maharani dengan cepat keluar. Dan meneliti ruangan. "Benar ini rumah Aldi," katanya di dalam hati yakin saat melihat ada beberapa photo terbingkai tertempel di dinding.
"Apa Aldi sudah tidak mempunyai ayah?" ucap Maharani di dalam hati bertanya.
Kemudian Maharani menatap ke arah jendela kaca. Terlihat pekarangan rumah yang lumayan masih luas, dan di tumbuhi tanaman-tanaman hias.
"Sejuknya," ujarnya yang merasa tidak sepanas seperti cuacanya di Kota J.
Ibu Aldi yang berniat ingin membangunkan Maharani, tersenyum saat melihat Maharani sudah terduduk di sebuah sofa dengan menatap ke arah jendela.
"Neng sudah bangun?" tanya Ibu dengan ikut duduk di samping Maharani.
"Eh ibu," Maharani kaget dengan suara ibu yang tiba-tiba muncul.
Ibu tersenyum, "Ibu membuatmu kaget nak?" tanya ibu memastikan.
Maharani balas tersenyum, "Sedikit bu," lalu menyengir.
__ADS_1
"Maaf ya!" kata ibu.
"Gak apa-apa kok bu. Kebetulan aku lagi ngelamun aja, jadi kaget bawaan nya," Memang Maharani sedang melamun. Merasakan sejuknya udara di tempat Aldi. Sehingga, saat ibu datang ia sampai tidak tahu.
"Sejuk ya bu?" lanjut Maharani.
Ibu mengangguk, "Benar Neng. Di sini memang sejuk. Mungkin karena dekat dengan perkebunan teh," sahutnya dengan menjelaskan.
"Di sini ada perkebunan teh?" tanya Maharani yang seakan berbinar wajahnya.
"Iya Neng dekat. Lumayan lah. 'Kan ibu saat kena musibah itu terpeleset saat di kebun teh, akibat jalanan yang becek dan licin di karenakan musim hujan," imbuh ibu.
"Apa aku bisa datang ke sana bu?" Maharani seperti ingin melihat perkebunan teh, sehingga ia bertanya.
"Bisa neng. Tapi harus di dampingi orang lokal. Besok pagi saja Neng bersama Aldi. Kalau malam, takut banyak hewan buas,"
Maharani mengangguk, "Lalu Aldi kemana bu?" tanya Maharani yang tidak melihat sosok Aldi.
"Di kamarnya. Mungkin tidur juga," sahut ibu.
"Oh iya bu. Em ... maaf aku gak sadar ketiduran," ucap Maharani dengan wajah memelas merasa malu serta bersalah.
"Gak apa-apa Neng Geulis. Ibu sengaja gak bangunin Neng. Dan menyuruh Aldi yang menggendong Neng. Dan menidurkan Neng di kamar," kata Ibu Aldi dengan tersenyum.
"A-Aldi menggendong?" Maharani bertanya memastikan.
"Iya Neng. Aldi menggendong Neng," jelas Ibu Aldi.
Maharani tersenyum dengan perasaan tidak bisa di jabarkan. Entah mungkin karena rasa cintanya kepada Aldi sangat besar dan tulus. Sehingga mendengar Aldi menggendong dirinya, membuat hatinya Maharani tersentuh.
"Neng, iya tadi kenapa tiba-tiba menangis saat di mobil sebelum neng tertidur?" Ibu Aldi yang penasaran akhirnya bertanya soal Maharani yang tiba-tiba menangis sampai ketiduran.
"I-tu. Aku terharu saja bu," sahut Maharani dengan menampilkan senyuman manisnya.
"Terharu? kenapa bisa?" tanya Ibu Aldi lagi.
__ADS_1
...***...