
"Tapi saat ini kamu telah di anggap meninggal oleh mereka Del. Begitu juga dengan Rima. Ia akan terus membuat mu pergi dari sisi Martin, bagaimana pun caranya, jika Rima mengetahui kamu masih hidup." Yuda dengan menggenggam tangan Adelia memberitahukan.
Adelia kini semakin terisak, Yuda langsung menyandarkan kepala Adelia ke dada nya yang bidang, dengan mengusap-usap lembut rambut Adelia. Serasa lebih tenang Adelia pun kembali duduk tegak di samping Yuda.
"Yuda. Apa kamu tahu Rima jahat seperti itu kepada ku, dari kapan?." Adelia menanyakan kejahatan Rima.
Yuda terdiam sejenak dengan menatap gadis yang di depan nya, sebelum bersuara.
"Aku tidak tahu pasti dari kapan Rima memulainya. Yang aku tahu Rencana jahat Rima saat kita berlibur di vila ini. Dia meminta bantuan ku, dan aku di bayar nya." Jujur Yuda.
Adelia sedikit mengerutkan dahinya akan ucapan terakhir Yuda.
"Apa maksud nya Yuda, aku tidak mengerti?." Adelia minta penjelasan.
Yuda sedikit gugup untuk menceritakan nya, namun ia harus memberitahukan kepada Adelia, sebelum Adelia tahu suatu saat nanti.
"Tapi Aku mohon kamu mempercayai ku, dan memaafkan ku. Dan aku mohon kamu jangan marah akan penjelasan ku." Pinta Yuda.
"Baiklah. Ayo katakan Yud. Apa yang sudah Rima lakukan kepada ku." Adelia dengan penasaran.
"Rima membuat beberapa rencana saat kita akan berlibur, pertama Rima membeli beberapa obat, kedua Ia menjebak Martin, dan Ketiga ia menjebak diri mu dan Rara." Yuda mengatakan beberapa rencana Rima.
"Jelaskan satu persatu Yud...." Pinta Adelia.
"Rima membeli obat tidur dan obat perangsang".
Adelia melotot mendengar nya.
"Obat Tidur ia taruh di minuman Rara, Agar Rara tidak mengetahui akan kejahatan Rima. Dan obat perangsang ia taruh di dalam minuman kamu...." Yuda sedikit takut untuk melanjutkan nya.
"Obat perangsang?." Adelia tercengang.
Yuda mengangguk.
"Lalu?." Adelia ingin kelanjutan nya.
"Kamu terangsang Del. Kamu tidak mengingat nya kan?." Yuda dengan hati-hati mengatakan nya.
Adelia memutar memori nya, akan ia yang sedang terangsang. Namun Adelia tidak dapat mengingat nya. Adelia pun menggelengkan kepalanya memberi jawaban bahwa ia tidak mengingat nya.
"Sebelum nya Rima meminta ku untuk meniduri mu, namun aku tolak. Tapi Rima berhasil membujuk ku, ia memberikan sejumlah uang kepada ku yang memang saat itu sedang membutuhkan nya untuk aku biayai ibu ku yang sedang di rawat." Yuda menghirup dalam nafasnya sebelum melanjutkan ucapan nya.
"Aku dan kamu sempat berciuman Del, saat kamu dalam pengaruh obat itu. Dan setiap yang kita lakukan Rima merekam nya. Setelah itu ia berhasil mengirim video tersebut kepada Martin. Hingga sempat Martin mencari keberadaan ku melalui Rima. Kemudian Rima memberitahukan aku, agar aku tidak datang ke rumah kediaman ku. Dan dari saat itulah aku tahu rencana Jahat Rima yang akan membakar rumah mu. Maafkan aku Del, aku terpaksa lakukan itu...." Yuda dengan menatap Adelia lekat, ingin tahu ekspresi Adelia setelah mendengarkan apa yang Yuda ucapkan.
Adelia terdiam dengan berwajah marah. Ia tak menyangka Rima merencanakan semua dengan begitu apik, tanpa terlihat curiga di mata Adelia. Adelia mulai menatap Yuda dengan sedikit tajam.
"Jujur Aku marah Yud. Aku telah melakukan itu sama kamu tanpa aku mengingatnya. Tapi karena kamu mengatakan terpaksa Aku maafkan." Adelia memaafkan Yuda.
__ADS_1
"Benarkah?. Benarkah kamu memaafkan ku Del?." Yuda memastikan.
Adelia mengangguk. "Aku terima alasan kamu melakukan nya."
Yuda tersenyum, " Terima kasih Del." Ucap Yuda berterima kasih.
"Boleh aku lihat video nya?." Adelia menanyakan video nya.
"Hah?. Apa kamu ingin melihat nya?." Tanya Yuda.
"Iya." Ucap Adelia.
Yuda pun merogoh ponsel nya yang berada dalam saku celana nya, lalu ia membuka layar ponselnya, di tekan fitur Video di ponselnya. Lalu ia serahkan kepada Adelia.
Adelia pun menerima ponsel yang Yuda serahkan. Ia duduk terlebih dahulu, dan mulai menekan play dalam video tersebut. Mata Adelia terbelalak melihat adegan-adegan yang dominan dirinya lah yang begitu sangat agresif, Adelia menelan ludahnya melihat dirinya yang begitu ***** kepada Yuda. Lalu dengan cepat ia menyerah kan ponsel itu ke Yuda sebelum Video itu selesai terputar.
"Kenapa?." Yuda dengan menerima ponsel dari tangan Adelia.
"Eng-enggak. Gak ada apa-apa." Adelia sedikit terbata.
Yuda tersenyum, kini ia ingin menggoda Adelia.
"Apa kamu mau lagi?." Goda Yuda.
"Hah... Enggak ih, kamu yaa dasar." Adelia sedikit marah dan mencubit perut Yuda.
"Ampun Del. Sakit tahu...." Yuda berpura-pura kesakitan.
"Rasain. Seharusnya lebih dari itu. Karena kamu telah berani mencium ku." Adelia dengan mencebikkan bibirnya.
"Haha.... Terus siapa di sana yang ingin membuka pakaian nya. Lalu membuka pakaian ku?. Kalau saja aku tidak menahan nya, keperjakaan ku telah habis kamu lahap." Yuda menggoda lagi, dengan mengatakan adegan-adegan Adelia di dalam video tersebut.
Adelia melotot mendengar godaan Yuda.
"Yudaaa... ih aku malu. Aku itu di kendalikan oleh obat. Itu tanpa kesadaran ku. Kamu vulgar banget yaaa...." Adelia dengan mengejar Yuda yang menghindar cubitan dari Adelia.
Seketika Rara keluar dari kamar dengan perasaan heran melihat Adelia yang sedang mengejar-ngejar Yuda.
Rara pun santai melangkah menuju sofa melihat mereka dari kedekatan.
"Ra...." Adelia menghentikan kejaran nya, dan menghampiri Rara yang duduk.
Yuda yang terengah-engah pun berhenti berlari, lalu menghampiri Adelia dan Rara.
"Ada apa dengan kalian, kejar-kejaran kaya kucing aja?." Tanya Rara Heran.
Seketika Adelia menoleh Yuda untuk menjawab pertanyaan Rara.
__ADS_1
Dan dengan cepat Yuda menjawab.
"Tadi aku kalah bermain game. Dan hukuman nya di cubit. Aku berusaha menghindar cubitan Adel, yang sangat menyakitkan." Bohong Yuda. Ia tidak mungkin mengatakan telah menggoda adegan-adegan Adelia dalam video tersebut.
"Oooh...." Rara pun paham.
"Del Lu gak sedih apa?." Tanya Rara.
"Sedih Tentu Ra. Tapi aku gak bisa berbuat apa-apa saat ini. Biarlah yang lain menganggap kita telah meninggal dunia. Agar kita punya waktu di belakang Rima tentu nya, untuk mengumpulkan bukti kejahatan nya." Ucap Adelia.
"Ya aku setuju Del." Yuda setuju akan ucapan Adelia.
"Ya Gue juga." Rara juga menyetujui nya.
...----------------...
Martin tersadar dari pingsan nya, ia tadi telah di bawa ke rumah sakit. Karena Tante Meli yang begitu cemas akan Martin yang belum sadarkan diri. Martin melihat sekelilingnya serba putih, ia sadar dirinya kini telah berada di rumah sakit.
Tiba-tiba air mata Martin keluar dari pelupuk matanya, mengingat gadis yang sangat di cintainya telah tiada. Martin mulai terisak, ia hatinya sangat teriris dengan apa yang kini menimpa nya. Ia telah kehilangan kekasihnya. Padahal beberapa hari lagi ia akan melangsungkan pernikahan nya atas rencana nya selama ini.
Tante Meli dan Rima masuk ke dalam ruangan yang terdapat Martin terbaring.
Tante Meli menghampiri Martin dengan berwajah sendu. Lalu Tante Meli mulai meraih tangan Martin untuk menguatkan.
"Ihklaskanlah.... Kamu jangan terlalu larut dalam kesedihan." Ucap Tante Meli, melihat Martin yang menangis.
Martin tidak bersuara, ia hanya terus menangis. Tanpa menghiraukan orang yang berada di ruangan nya.
Rima melihat Martin seperti itu, merasa kasihan. Ia mulai duduk di kursi yang dekat Martin terbaring.
"Sudahlah Martin. Mungkin ini sudah Takdir Tuhan kamu dan Adelia harus terpisah dengan cara seperti ini." Rima menenangkan Martin.
Tante Meli menatap Rima anaknya yang berucap menenang Martin. Ia bertanya-tanya dalam hatinya.
Apa Yuda berhasil menyelamatkan Adelia?.
Sayang nya aku tak punya nomor ponselnya , untuk menanyakan itu.
Jika Yuda lambat menolong, Rima benar-benar kejam. Ini sungguh keji.
Tante Rima berbicara dalam hatinya.
...Bersambung....
Kakak Readers Mohon di Vote, Like dan Comment nya ya....
Dan Mohon maaf jika ada kesalahan Typo.
__ADS_1