You Are My Mine

You Are My Mine
Extra Part 2


__ADS_3

Serly dan Kikan kini baru saja keluar dari kelas. Jam pelajaran pertama baru usai. Namun, di depannya kini sudah ada yang berdiri menghadang Serly. Dido Arlino pria terpopuler di Kampus itu sengaja datang ke kelas Serly. Membuat Teman siswi sekelas Serly berdecak iri.


"Kak," sapa Serly kepada Dido.


"Sesuai yang aku tadi katakan. Aku akan mengajak mu saat waktu istirahat," ucap Dido dengan menatap lekat wajah cantik Serly.


Kikan yang mengerti Dido akan mengajak Serly. Ia berbisik kepada Serly.


"Sudah pergi sana. Bukannya, kamu akan menyelesaikan urusanmu hari ini juga," bisik Kikan. Ia memberikan pengertian untuk Serly yang mengatakannya tadi ingin secepatnya urusannya itu berakhir dengan Dido.


"Ya sudah. Aku pergi dulu, ya" pamit Serly akhirnya kepada Kikan.


Kikan mengangguk seraya tersenyum. Lalu menatap kepergiannya Serly bersama Dido.


Seperginya Serly. Kikan di hadang banyak pertanyaan dari teman siswi sekelasnya yang sedari tadi memperhatikan ke arah Serly dan Dido.


"Sejak kapan, si anak manja itu jadian dengan Kak Dido?" tanya salah satu teman sekelas Kikan yang bernama Sindi.


"Kok bisa, si Serly pacaran dengan cowok keren seperti Kak Dido?" tanya Rindu kini yang merupakan teman sekelas Kikan dan Serly. Dan banyak lagi yang di tanyakan oleh teman lainnya kepada Kikan.


Kikan menggeleng-gelengkan kepala. Ia pusing mendengar banyak pertanyaan dari teman wanita sekelasnya itu.


"Kenapa kalian kepo banget sih? Itu semua urusan mereka. Mau jadian atau apapun. Yang penting dalam hal positif. Dan tidak merugikan kalian," jawab Kikan dengan nada sedikit tinggi. Karena merasa pusing mendengar pertanyaan yang seolah-olah Serly tidak pantas bersanding dengan Dido.


Sindi, dan Rindu hanya menatap sinis. Kikan tidak memperdulikan itu. Ia melenggang begitu saja dari hadapan teman-temannya yang kepo.


Sementara itu, Serly dan Dido kini sudah berada di dalam mobil. Dido akan mengajak Serly ke suatu tempat.


"Ayo turun!" ucap Dido setelah memberhentikan mobil milik Serly yang ia setiri. Mobil itu di parkirkan, di parkiran khusus. Serly bisa melihat ada penjaga parkirannya.


Serly menatap ke sekelilingnya sebelum turun. Sepi. Satu kata itu yang kini meliputi pikiran Serly.


Tapi akhirnya Serly turun juga. Dan mengikuti langkah kaki Dido yang berada di hadapannya.


Dido membawa Serly ke arah jalan setapak. Membuat Serly merasa aneh dan sedikit takut.


"Kak Dido, kita mau kemana?" tanya Serly dengan hati-hati.


Dido menjawab tanpa menoleh dengan terus melangkah. "Kita mau makan siang,"


Serly belum puas dengan jawaban Dido. Namun, ia tidak berani bertanya lebih.


Setelah hampir sepuluh menit berjalan kaki. Serly terperangah saat melihat ada sebuah danau yang terlihat jernih airnya. Dan danau itu di tengah-tengah kebun bunga yang indah.


Lalu tidak jauh dari danau tersebut ada sebuah warung makan lesehan yang tempat duduknya itu mengarah ke danau.


"Ayo," ajak Dido saat melihat Serly terdiam menatap takjub pada sebuah Danau di tatapan matanya.


Serly mengikuti Dido masuk ke dalam warung makan tersebut.


"Kamu mau makan apa?, biar aku ambilkan" kata Dido bertanya. Sebenarnya Dido ingin melihat Respon Serly yang di ajak ke warung makan sederhana bukan ke Restauran mewah.


"Sebentar aku baca-baca dulu menunya," sahut Serly dengan menatap meja di hadapannya yang kosong.


Dido terkekeh, "Di sini. Mau makan tinggal ambil. Yuk, ikuti aku!" Dido dengan menggenggam tangan Serly mengajak ke arah Meja yang tersedia berbagai macam menu masakan.

__ADS_1


Serly menatap bingung. Lalu melihat Dido mengisi piring yang baru Dido ambil. Kemudian mengisi nasi beserta lauk pauk dan sayurannya.


"Ayo, pilih" titah Dido. "Bebas kamu mau pilih yang mana!" lanjutnya saat melihat Serly seperti ragu-ragu.


Dan akhirnya Serly mengikuti yang Dido lakukan tadi. Serly memilih mengambil Ayam serundeng, beserta sayur capcay yang sudah di isi nasi terlebih dahulu. Sedangkan Dido tadi mengambil Ikan asin beserta sambel dan lalapan.


Dido dan Serly kembali duduk pada meja tadi. Lalu melahap makanan yang sudah mereka ambil.


"Bagaimana, rasanya?" Dido ingin memastikan kembali reaksi Serly.


"Enak. Dan tempatnya nyaman, Kak" sahut Serly terlihat biasa saja.


Dido tersenyum, gadis di depannya benar-benar berbeda. Di luaran sana banyak gadis yang pastinya akan menolak untuk makan di warung sederhana seperti ini. Namun, Serly malah mengungkapkan nyaman berada di sana.


"Kamu gak gengsi, makan di tempat seperti ini?" Dido kembali ingin memastikan.


"Kenapa harus gengsi?" Serly malah berbalik bertanya.


"Ya, kan. Biasanya gadis yang seperti kamu akan menolak jika makan di tempat seperti ini," ujar Dido menjelaskan.


Serly tersenyum, "Ralat. Aku tidak seperti itu. Mau dimana pun aku makan. Jika selera makan aku lagi bagus. Maka menjadi enak. Tidak tentu dari tempatnya," jelas Serly yang memang tidak mempermasalahkan tempat dimana ia makan.


Dido tersenyum. Kemudian keduanya menghabiskan makanan tersebut dengan lahap.


Setelah selesai. Dido menghampiri pelayan warung makan tersebut dan di ikuti oleh Serly di belakangnya.


"Mas, saya mau bayar," ucap Dido kepada pelayan yang duduk di sebuah meja. Sepertinya pelayan itu sebagai Kasier-nya.


"Mas, makan sama apa saja?" tanya pelayan itu.


"Semuanya, tigapuluh ribu Mas," kata Pelayan itu membuat Serly melongo karena harga makanan di warung itu begitu murah.


Dido pun membuka dompetnya dan mengeluarkan uang kertas yang berwarna biru. Kemudian pelayan itu mengambilnya dan memberikan uang kembalian kepada Dido.


"Terima kasih, Kak" ucap Serly kepada Dido yang sudah membayarkan makanannya.


Dido hanya tersenyum dengan mengangguk. Kemudian mengelus rambut panjang Serly yang tergerai.


Keduanya kini berjalan untuk keluar dari warung makan lesehan tersebut.


"Kamu mau ke tengah danau itu tidak?" tanya Dido kepada Serly dengan menunjuk sebuah rumah kecil yang berada di tengah danau tersebut.


"Bagaimana caranya?" Serly bingung mengingat caranya jika harus ke danau itu.


Dido terkekeh, "Itu lihat!" tunjuk Dido kembali. Namun, yang ia tunjuk pinggir danau tersebut. Terlihat ada perahu sampan. Lalu akhirnya Serly mengerti bagaimana caranya untuk ke tengah danau tersebut.


"Tapi, kak kenapa tempat ini sepi? gak ada pengunjung lain?" Serly mengutarakan apa yang ia lihat.


"Biasanya ramenya di setiap sore. Sekarang 'kan masih siang," ujar Dido. Dido mengatakan sebenarnya. Karena tempat itu memang tempat paforit dirinya.


Serly percaya. "Ya sudah. Bawa aku ke sana kak!" kata Serly tidak merasa canggung lagi.


Dido tersenyum, "Dengan senang hati," ucapnya. "Aku akan membuatmu nyaman terlebih dahulu. Setelah itu. Aku akan meraih hatimu," lanjut Dido di dalam hati seraya menatap Serly dengan lekat. Kemudian ia mengangguk menuruti apa yang di pinta Serly.


Dido naik ke perahu Sampan terlebih dahulu. Serly yang melihatnya sedikit cemas. Ia merasa takut saat melihat perahu itu bergoyang. Apalagi ketika Serly menaikinya.

__ADS_1


"Ayo," Dido dengan mengulurkan tangannya agar di raih Serly untuk naik ke perahu tersebut.


"Kak, aku takut" ucap Serly dengan suara manja.


Dido tersenyum, "Tidak usah takut. Aku akan menjagamu. Dan percayalah. Kamu setelah naik tidak akan merasa ketakutan," Dido menenangkan Serly dengan lembut.


Serly pun dengan ragu-ragu meraih tangan Dido yang sedari tadi terulur. Dengan hati-hati Serly menaiki perahu itu, lalu duduk berhadapan dengan Dido.


"Bagaimana, masih takut?" Dido memastikan. Ia mulai mendayung perahu tersebut.


"Tidak," sahut Serly dengan tersenyum tipis.


Dido tersenyum lalu ia fokus mendayung dengan menatap lekat wajah Serly yang menghadapnya. Serly tentu tidak akan ketinggalan untuk memotret moment dirinya saat di atas perahu sampan tersebut.


"Kak, mau photo bareng gak?" tanya Serly dengan ragu.


"Boleh," sahut Dido.


Serly pun dengan tersenyum senang ia mulai mengarahkan kamera ponselnya, yang kini posisi Dido mendekati wajah Serly lalu tersenyum saat menatap wajahnya yang berada di dalam kamera.


"Tampan sekali," batin Serly memuji wajah Dido yang berhasil ia potret.


Perahu yang Dido dayung kini sudah berada di bawah rumah kecil yang di tengah Danau.


Dido menyuruh Serly untuk naik terlebih dahulu, kemudian baru dirinya.


Serly menatap takjub ke sekelilingnya. Dari tengah danau tersebut ia bisa melihat bermacam-macam bunga. Seperti biasa Serly tidak mau ketinggalan. Ia memotret bunga-bunga itu.


Dido pun diam-diam memotret Serly yang fokus pada ponselnya. Tanpa sepengetahuan Serly.


"Cantik," gumam Dido saat menatap wajah Serly dari hasil bidikan kamera ponselnya.


Dan pada akhirnya Serly yang anteng. Kini teringat akan insiden hari kemarin.


"Kak, aku akan memberikan uang untuk biaya perbaikan motor kakak yang kemarin aku tabrak. Kalau boleh tahu, semua biayanya berapa? aku ingin cepat urusanku dengan kakak selesai," ujar Serly tanpa basa-basi.


Seketika Dido merasa kecewa. Serly ingin cepat sekali mengakhiri kebersamaannya dengan alasan ingin cepat menyelesaikan urusan insiden kemarin. Membuat Dido lagi-lagi merasa tertantang. Serly benar-benar berbeda.


"Kak," panggil Serly yang tidak dapat sahutan dari Dido. Dido malah terdiam dengan wajah melamun.


"Tidak perlu," jawab Dido pada akhirnya.


"Loh, aku wajib mempertanggung jawabkan kesalahan ku, Kak. Ayo, katakan semuanya. Aku tidak mau menjadi seseorang yang tidak bertanggung jawab,"


"Kamu ingin mempertanggung jawab?"


"Iya, Kak. Maaf. Seharusnya dari hari kemarin aku langsung mempertanggung jawabkan semuanya. Namun, kemarin kata Kakak pasti bengkelnya tutup karena kemarin sudah terlalu sore. Jadi, lebih baik katakan saja berapa semuanya. Walaupun aku tidak bisa ke bengkel bersama Kakak," tutur Serly dengan panjang.


"Kamu tidak perlu mengeluarkan biaya untuk perbaikan motor bututku itu. Cukup luangkan waktumu untuk bisa aku mengajakmu, makan, jalan-jalan, atau hangout" Dido dengan menatap serius wajah Serly.


Sementara Serly tertegun. Ia terdiam mencerna kembali apa yang sudah Dido katakan. Namun, Serly gagal paham.


"Maksudnya?" Serly ingin meminta kejelasan apa yang sudah Dido katakan.


"Lupakanlah!"

__ADS_1


...***...


__ADS_2