You Are My Mine

You Are My Mine
Pasar Malam 2.


__ADS_3

Adelia sedang memakan Sosis bakarnya dengan lahap sehingga Saus mayones nya sedikit belepotan di bibirnya. Rasya terkekeh melihat gadis nya yang sangat bersemangat makan sosis tersebut.


"Enak?." Tanya Rasya seraya tangan nya mengelap bibir Adelia yang sedikit belepotan.


Adelia pun mengangguk dengan mulutnya masih mengunyah.


Rasya pun meraih satu sosis lalu mencoba melahapnya. "Iya ternyata enak juga."


Tak lama Aldi datang bersama Ibu dan Adiknya Alma. Mereka mendekat melangkah ke arah Rasya dan Adelia yang sedang terduduk dengan memakan Sosis bakar.


Mata Adelia kini menatap gadis remaja yang sedang berjalan mendekat bersama Ibu Aldi dan Aldi.


Jadi Gadis tadi ini Adik Aldi kah?.


Tapi aku tidak suka melihat cara dia menatap Rasya seperti itu.


Adelia bergumam dengan memperhatikan Adik Aldi tersebut tengah menatap Rasya.


"Pak. Apakah sudah tidak ada yang bapak perlukan lagi?. Dan Ini Uang kembalian nya pak." Aldi bertanya kepada Rasya seraya ingin menyerahkan uang sisa dari Rasya.


"Sudah Kita pulang saja. Itu buat kamu saja Al." Rasya dengan berdiri dan di ikuti Adelia berdiri.


"Ayo Ibu. Kita pulang bersama." Ajak Adelia kepada Ibu Aldi.


"Baik Neng cantik." Kata Ibu Aldi.


Adik Aldi menatap Adelia dengan lama. Lalu mengikuti langkah Aldi, Rasya, dan Ibu nya yang tengah menggandeng lengan Adelia.


Apa-apan ibu ini. Aku ini anaknya tapi yang di gandeng anak orang.


Gerutu Alma di dalam hati.


Kini Mereka sudah masuk ke dalam Mobil. Rasya duduk di depan dekat Aldi, sedangkan Adelia di belakang bersama Ibu dan Adiknya Aldi.


"Alma kenalin ini Neng cantik, nama nya Neng Adelia..." Kata Ibu Aldi kepada Alma.


"Adelia...." Kata Adelia dengan tersenyum ramah kepada Alma.


"Alma..." ucap Alma dengan tersenyum juga.


"Pacarnya kak Aldi?." Celetuk Alma kepada Adelia.


Aldi dan Rasya yang duduk di depan pun bisa mendengar dengan jelas celetukan Alma kepada Adelia.


"Bukan...." Adelia dengan tersenyum.


"Neng Cantik ini, Calon istrinya Pak Rasya...." Sahut Ibu Aldi kepada Alma anaknya.


Alma tersenyum kecut kala tahu bahwa Wanita cantik yang duduk dekat Ibunya itu adalah Calon istri Bos kakaknya. Hati Alma bagai teriris mendengar itu semua. Alma ternyata selama ini menaruh perasaan kepada Bos Kakaknya itu. Alma mendadak menjadi murung. Karena hatinya sakit dan bagaikan patah berkeping-keping.


Setelah beberapa menit kemudian Mobil yang di lajukan Aldi berhenti di depan halaman rumah yang sederhana yaitu rumah Aldi dan keluarganya. Mereka pun turun dan khususnya kepada Rasya dan Adelia di persilahkan masuk oleh Ibu dan Aldi. Kalau Alma dengan cepat masuk ke dalam kamar.


Setelah masuk ke dalam Rumah Rasya, Adelia, Ibu dan juga Aldi kini duduk di sofa yang berada di ruang tengah rumah tersebut.


"Neng Cantik, semoga betah ya tinggal di sini." Kata Ibu Aldi kepada Adelia dengan tersenyum.


"Iya bu. Mohon Maaf ya Bu Saya telah merepotkan ibu." Sahut Adelia.


"Tidak Neng. Ibu tidak merasa di repotkan. Oh ya ayo di makan Martabak telornya Neng, Pak Rasya...." Ibu Aldi mempersilahkan Adel dan Rasya untuk makan martabaknya.


"Iya bu..." Jawab Adel dan Rasya bersamaan.


"Sayang mau kemana?." Tanya Rasya saat melihat Adelia berdiri.

__ADS_1


"Aku mau bawa baju di bagasi." Sahut Adelia.


"Kamu tunggu saja disini. Biar aku yang bawa." Kata Rasya.


Lalu Rasya berjalan ke luar membawa Koper kecil dari dalam bagasi mobil. Kemudian Rasya bawa ke dalam rumah dan di serahkan kepada Adelia.


Adelia menerima dengan bingung karena bajunya yang kemarin ia beli siang di dalam beberapa Paper bag, namun Rasya malah menyerahkan sebuah Koper kecil kepadanya.


"Heh koq malah bengong?. Sayang Bukan nya mau mandi?." Rasya membuyarkan lamunan Adelia.


"Ini. Em... apa baju-baju ku sudah ada di dalam nya?." Tanya Adelia memastikan.


"Iya... Ayo kalau mau mandi dari sekarang. Karena sudah jam 10 malam ni. Nanti terlalu malam kamu masuk angin." Perintah Rasya kepada gadisnya.


Semua itu tak luput dari perhatian Ibu dan Aldi yang sedang memakan Martabak telor.


"Duh... Pak Rasya sama Neng cantik ini sangat serasi ya. Yang satu cantik yang satu ganteng." Celoteh Ibu dengan mengunyah Martabaknya.


"Terima kasih Bu." Jawab Rasya.


Adelia hanya menjawab dengan tersenyum.


"Bu... Adel mau ikut mandi ya. Kamar mandinya di sebelah mana?." Ijin Adelia kepada Yang punya rumah.


"Ayo aku antar." Rasya dengan cepat menarik tangan Adelia tanpa mendengar Ibu Aldi yang akan menjawab.


Kini Rasya menunjukkan Sebuah kamar mandi yang terletak di dapur.


"Kamu harus bawa baju ganti ke dalam. Jangan sampai kamu berhanduk menuju kamar." Kata Rasya.


"Iya. iya..." Adelia pun membuka Koper nya yang tadi Ia bawa ke dapur.


Adelia tersenyum kala melihat Ada alat mandi dan juga Alat Make-up. Rasya ternyata sudah mempersiapkan semuanya di dalam Koper tersebut. Kemudian Pakaian dalam yang sempat tadi di beli pun sudah di masukan ke dalam Koper oleh Rasya.


Rasya masih berdiri mematung mendengar Adelia telah mengatakan kata sayang pada dirinya ini sungguh di luar dugaan Rasya.


"Eh Pak Rasya koq berdiri di sini?." Tanya Ibu Aldi yang menaruh piring kotor bekas martabaknya barusan.


"Iya Bu. Adel tadi yang minta saya tunggu di sini." Ucap Rasya bohong.


"Eh Bu, gak apa-apa kan malam ini saya ikut nginap juga di sini?."


"Gak apa-apa. Cuman mungkin tidur nya bareng Aldi. Ya Aldi nanti Pak Rasya tidur sama kamu." Kata Ibu, dan langsung menyampaikan nya kepada Aldi yang melangkah mendekat ke arah dapur.


"Iya Bu." Kata Aldi.


Dan Tak lama Pintu kamar mandi terbuka. Adelia memakai Baju Piyama Celana panjang dan berlengan panjang. Ia sengaja memilih yang tertutup karena merasa hawa nya dingin di rumah Aldi itu.


Mata Adelia menatap Aneh. Karena Rasya, Ibu Aldi, dan juga Aldi sedang berada di dapur tersebut.


"Neng kalau mau tidur. Kamarnya yang berada di ruang tengah tadi ya..." Kata Ibu Aldi.


"Baik bu. Adel pamit tidur ya bu, Aldi, Sya...." kata Adel seraya menyeret Koper di tangan nya.


Adelia pun kini tengah berdiri di depan kamar yang tadi di maksud ibu Aldi.


"Sayang jangan dulu masuk." Suara Rasya menghentikan langkah Adelia yang akan hendak masuk kedalam kamar.


"Ada apa?." Tanya Adelia.


"Ucapkan kata yang tadi." Perintah Rasya.


"Kata yang tadi apa?."

__ADS_1


"Kata yang kamu sebelum masuk ke kamar mandi." Rasya dengan serius menatap gadisnya.


Adelia tersenyum karena telah mengerti kata apa yang tadi ia ucapkan kepada Rasya.


"Sayang..." Kata Adelia dengan lembut.


"Lagi.!"


Adelia kini mendekatkan wajahnya kepada wajah Rasya. "Sayang, Aku mau bobo dulu yaa..." Bisik Adelia dengan suara seksi.


Sontak bisik suara Adelia tersebut membuat Rasya merinding di buatnya, hingga kejantanan nya kini tergugah.


"Kamu menggoda ku?." Rasya dengan cepat menarik pinggang Adelia.


"Ti-tidak. Eh ada ibu..." Ucap Adelia.


Sontak Rasya melepaskan tangan nya yang tengah menarik pinggang Adelia tersebut lalu menoleh ke arah belakang, namun tidak terlihat ada siapa-siapa. Dan kesempatan itu di pakai Adelia untuk masuk ke dalam kamar tanpa Rasya ketahui.


Rasya pun kembali menoleh ke arah sang gadis namun sang gadis sudah tidak ada di depan nya. Rasya tersenyum kala sang gadisnya berhasil menggoda dan berbohong.


Lihat besok aku akan membuat mu menyerah.


Gerutu Rasya di dalam hati dengan tersenyum menyeringai.


...****************...


Sementara itu Sosok pemuda tampan kini terduduk di atas Tepi kasur nya. Ia tengah merasa tengah gundah gulana. Di sisi lain dirinya sangat bahagia sekaligus senang mendengar sang gadis pujaan hatinya masih hidup. Tapi di sisi lain Ia harus mencari tahu siapa dalang di balik semua yang tega menyelakai bahkan ingin membunuh gadis nya itu. Pikiran nya kini Ia tertuju kepada Gadis yang akan sebentar lagi Akan di nikahinya yaitu Rima. Tapi Ia tidak akan gegabah sebelum mempunyai bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Rima di balik semua ini.


Tok... Tok.... Tok.... terdengar suara Kamar Martin ada yang mengetuk.


Martin pun bangun berdiri dan membuka pintu kamarnya.


"Martin aku kangen sama kamu." Rima lansung berhambur memeluk Martin saat baru saja membuka pintu.


"Kamu dari mana saja?." Tanya Martin datar tanpa menjawab pelukan Rima.


"Aku habis dari tempat yang akan mempersiapkan Wedding kita." Kata Rima masih memeluk erat Martin.


"Benarkah?." Martin meyakinkan dirinya. Karena saat ini Martin tengah mencurigai setiap gerak-gerik Rima.


Rima melepas pelukan nya lalu kini berdiri menatap mata Martin. "Kamu tidak percaya padaku?. Harusnya kamu juga ikut andil dalam persiapan pernikahan kita Martin."


"Maaf aku sibuk." Martin mencoba untuk tidak membuat Rima marah.


"Sesibuk itukah tanpa mau tahu persiapan pernikahan kita sudah sampai mana begitu?." Rima kini marah kepada Martin memang yang seperti tidak ingin tahu tentang persiapan pernikahan nya.


"Ok. Besok aku akan menemani mu." Ucap Martin.


"Serius?." Kata Rima.


Martin pun mengangguk.


Lalu Rima mengecup Pipi Martin. "Terima kasih sayang." Katanya.


Martin menghela nafas karena Rima sudah berani mengecup pipinya.


"Aku mau tidur ya. Selamat tidur Sayang...." Rima pamit dan dengan melambaikan tangan nya kepada Martin.


Martin mengangguk dengan tersenyum tipis untuk menanggapi ucapan Rima.


Lalu Martin pun kembali masuk kedalam kamarnya setelah mengunci pintu kamar terlebih dahulu.


Martin pun kini berbaring di atas kasur king size nya, dengan mata ia pejamkan.

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2