You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 197.


__ADS_3

Di Kantor Albian Company...


Albi terus menatap pesan dari Tono. Ia terus mencerna kata-kata yang di terima dari Tono tersebut.


"Ini gimana sih maksudnya Pak Tono?" gumam Albi dengan terus menatap layar ponselnya.


Tiba-tiba layar ponselnya menampilkan photo Hera. Hera tengah memanggilnya. Dengan hati-hati Albi menekan tanda panggilan hijau.


"Hallo Ma?" sapa Albi saat sudah menjawab panggilannya.


"Albi ... kamu dimana nak? Mama kangen ingin ketemu kamu. Mama sudah di rumah sama Arumi," tutur Hera.


Membuat Albi menelan ludahnya dengan kasar. "Mama sudah di rumah, sama Arumi?" tanya Albi memastikan.


"Iya. Ayo deh, mending kamu pulang. Ada yang ingin Mama tanyakan sama kamu!"


Deg ... Albi seketika merasa bahwa kebohongannya sudah terbongkar. Ia menjadi berkeringat dingin, dan gemeteran.


"Ba-baik Ma," sahut Albi.


Dan Hera langsung menutup panggilannya, setelah memastikan Albi akan pulang.


Albi kembali duduk di kursi kebesarannya. Ia bersandar. Dengan menghirup nafas dalam-dalam. Ia sudah berpikiran bahwa hari ini adalah akhir dari kebohongannya. Albi mengira, bahwa Dirga sudah menyewa orang yang akan memakai topeng berwajah Adelia. Dan di ketahui oleh Hera.


"Hai Bro, gue baru saja ngambil topeng ini," Dirga langsung nyelonong masuk ke dalam ruangan Albi dengan mengatakan dirinya baru saja mengambil pesanan topengnya.


Albi melotot. Kini pikirannya bertambah runyam.


"Terus yang sedang sama Mama, siapa?" tanya Albi dengan menatap tajam kepada Dirga.


Dirga melongo, "Ya, mana gue tahu bos. Gue baru saja datang dari Mall itu. Bahkan gue, lama nunggu. Karena tokonya belum juga buka," sahut Dirga kini dengan duduk di kursi menghadap meja Albi.


"Ayo antar gue pulang!" pekik Albi langsung menyambar Macbook dan ponsel miliknya.


"Loh, terus kerjaan gimana ini? bukannya, kita akan bertemu dengan Presedir Argadinata Group?" tanya Dirga seraya mengikuti Albi yang sudah keluar ruangan.


"Lu serahin dulu ke asisten Lu, sama si Arman. Gue lagi di ujung tanduk ini,"


"Di ujung tanduk bagaimana, maksudnya?"


"Mama sudah ada di rumah, dan katanya sedang sama Arumi. Gue kira elu udah nyewa orang buat pakai itu topeng, tapi nyatanya elu baru pulang ngambil topeng,"


Keduanya terus berbincang dengan berjalan menghampiri Lift. Dan setelah Lift terbuka keduanya masuk.


"Terus yang sama Mama elu siapa, dong? gak mungkin, kan kalau Arumi asli?!" tanya Dirga. Kini keduanya tengah berada di dalam Lift. Mengingat hari kemarin, Adelia yang seakan enggan menemui mereka, membuat Dirga tidak yakin bahwa Adelia tiba-tiba datang ke rumah Albi.


"Terus, siapa dong? Masa Arumi punya kembaran?" Albi terlihat prustasi.


Lift terbuka keduanya pun langsung keluar menghampiri mobil mewah milik Albi yang terparkir khusus. Dirga langsung masuk dan duduk di kursi kemudi. Sementara Albi seperti biasa ia akan duduk di kursi belakang.

__ADS_1


Dirga langsung melajukan mobil, menuju kediaman Albi. Hingga dua puluh menit lamanya. Mobil itu masuk ke gerbang pagar, dengan di bukakan Tono dan Budi.


Albi langsung keluar cepat ke arah pintu utama. Ia langsung melotot, dan terpaku di tempat saat melihat Adelia tengah duduk bersama Ibu dan Kakaknya. Dan di sofa lain Albi melihat gadis yang tempo hari waktu bersama Adelia saat di tolong ke rumah sakit.


"Itu Arumi. Ya Arumi. Benar-benar Arumi," Albi berbicara di dalam hati.


"Albi, kamu tidak mau bersalaman sama Mama, dan memeluk Mama, hah?!" pekik Hera membuat Albi yang mematung melangkah perlahan.


"Mama," sapa Albi dengan langsung memeluk Hera. Sementara Adelia yang berada di sebelah Hera, hanya ingin menunduk tidak ingin menatap Albi.


Rara terpaku. Melihat pemuda yang saat itu menolong Adelia ke Rumah Sakit, ternyata pria yang telah menolong Adelia saat terhanyut di sungai. Di tambah Dirga datang, dan duduk santai di hadapan mereka. Membuat Rara semakin tercengang saja.


"Albi, sini duduk!" titah Hera menepuk sebelahnya. Hera mengambil jarak antara Adelia, agar Albi duduk berdampingan, dengan Adelia.


Dengan canggung dan kikuk Albi menurut duduk.


"Tadi Mama ketemu Arumi di depan TPU. Katanya kamu bilang, kalau Arumi itu Bedres, jadi gak bisa kemana-mana. Tapi nyatanya Arumi baik-baik saja, sehat malahan?!"


Albi diam. Ia tidak menjawab. Ia bingung harus menjawab apa.


"Terus kamu biarkan Arumi keluar sendirian? Mana gak ada perasaan sekali kamu, jadi suami" hardik Hera. Membuat Albi diam tertunduk.


"Waduh si bos di marahin?" ucap Dirga di dalam hati dengan memperhatikan Albi.


"Jadi aku kira Arumi sudah mengatakan yang sebenarnya. Namun ternyata tidak," gumam Albi yang merasa lega karena kebohongannya belum terbongkar.


"Kalau ada masalah. Jangan berdiaman seperti itu, Albi ... Arumi ...," ujar Hera.


Adelia yang sedari tadi menunduk, mengerutkan dahinya. Dirinya yang diam di salah artikan oleh Hera.


"Ya Tuhan bagaimana, ini?" gumam Adelia di dalam hati.


"Iya Ma," sahut Albi singkat.


Alina kini tersenyum, "Albi, kalau kamu tidak mau ke kota M. Setidaknya jangan beralasan yang mengkhawatirkan. Lihat coba, istrimu baik-baik saja. Bilang saja, kalau kamu itu ingin berduaan terus," celetuk Alina.


"Iya tahu tidak. Mama sampai mengambil jam penerbangan begitu pagi. Saking khawatirnya sama keadaan istri kamu," timpal Lucky.


"Sudah. Ajak istrimu istirahat. Mama juga ingin istirahat," Hera dengan cepat melangkah menaiki anak tangga. Dan di susul oleh Alina dan Lucky.


Kini di ruangan itu tinggal mereka berempat yakni, Adelia, Albi, Rara, dan Dirga. Setelah memastikan keluarga Albi naik ke lantai atas. Albi berujar.


"Arumi, terima kasih kamu mau datang ke rumah ini," ucapnya dengan menatap Adelia yang masih tertunduk.


"Aku hanya tidak mau mengecewakan Mama kamu," sahut Adelia dengan datar. "Tadi beliau melihat aku, yang sedang duduk di pinggir jalan. Aku baru saja mengunjungi makam orang tuaku. Dan beliau mengajak ke rumah ini," lanjutnya.


Rara menatap sengit ke arah Albi dan Dirga.


"Kalian tega ya, bohongin Orang tua," hardik Rara.

__ADS_1


"Terpaksa. Kita berbohong," sahut Dirga.


Adelia berdiri dan akan melangkah, "Kamu mau kemana?" tanya Albi yang takut Adelia pulang begitu saja.


"Aku ingin istirahat. Ayo Ra!" jawab Adelia. Lalu mengajak Rara.


Rara pun menurut, ia menghampiri Adelia yang sudah berdiri.


"Arumi, kamar kamu bukan di sana," seru Albi saat melihat Adelia menggandeng Rara ke kamar bekas Rasya.


"Aku mau di kamar lain," kata Adelia. Namun, kemudian di cegah oleh Rara.


"Del, kalau kamu sekamar dengan aku. Nanti Mamanya dia curiga," ucap Rara dengan melirik sekilas ke arah Albi.


"Bodo ah. Ayo!"


Adelia tidak memperdulikan ucapan Rara. Ia terus melangkah ke arah kamar yang pernah di tempati Rasya.


Saat hendak ingin masuk ke dalam kamar itu. Tiba-tiba di kagetkan oleh suara Hera yang akan hendak masuk ke area dapur.


"Loh Arumi, jadi beneran kalian bertengkar? sampai pisah kamar?" pekik Hera.


Membuat Adelia terdiam. Dan mencari kata-kata.


"Maaf, Ma. A-aku ingin berdua sama Rara,"


"Gak boleh gitu Nak. Suamimu harus di nomor satukan. Temuilah, kalau ada masalah selesaikan segera," nasehat Hera.


"Ayo Del. Turuti saja dulu!" bisik Rara tanpa terlihat oleh Hera.


Adelia pun menurut, ia langsung meninggalkan Rara. Dan hendak menemui Albi. Tapi, di ruang tamu tadi Albi tidak ada. Membuat Adelia memilih menuju kamar.


Dan benar saja. Adelia masuk tanpa mengetuk, dan melihat Albi yang sedang terduduk di sofa dengan menunduk.


"Mas, " sapa Adelia. Membuat Albi mendongak dan menatap Adelia dengan penuh arti.


Albi masih terdiam. Ia hanya mengulas senyum tipis, dan menepuk sisi kanan agar Adelia terduduk. Namun Adelia memilih duduk di sofa single. Membuat Albi berwajah sendu dan kecewa.


"Terima kasih sekali lagi. Arumi ...," ucap Albi dengan menghiraukan rasa kecewanya.


"Tapi aku harus pulang hari ini juga. Aku tidak mau membuat suamiku khawatir,"


Albi seakan tertusuk dadanya, mendengar Adelia yang tidak mau sampai suaminya khawatir. Kata 'Suami' yang seakan sakit di ulu hatinya.


Albi sadar, bahwa cintanya berlabuh di tempat yang salah. Yaitu mencintai wanita yang sudah bersuami. Tapi, kalau sudah cinta. Albi tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya ingin terus berusaha dekat dengan cintanya, itupun sudah cukup. Tidak mungkin, dirinya harus merebut Adelia dari suaminya.


...***...


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2