You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 159.


__ADS_3

Happy Reading 😍😍


Beberapa jam kemudian...


Rasya kembali memakai alat penyamaran. Ia sengaja memakainya untuk mengelabui Pak Tono dan Pak Budi. Sementara Adelia sudah berhasil memasak makanan, ia sengaja akan mengajak makan Pak Tono dan Pak Budi. Agar Pos penjaga menjadi kosong.


Rasya keluar dari kamar dengan mendorong koper miliknya yang sudah di masukkan beberapa helai pakaian milik Adelia juga. Ia akan keluar dari rumah Albi tersebut, dengan membawa pergi Adelia.


Adelia pun sudah menata hasil masakannya. Lalu menyempatkan menulis surat untuk nanti Albi baca, dan ia taruh di atas meja sofa yang berada di dalam kamar. Ia menuliskan kata-kata ucapan terima kasih.


Bagaimanapun Albi dan kedua temannya telah menolong dirinya, dan bahkan Albi memperlakukan Adelia dengan baik. Sehingga Adelia merasa mempunyai banyak hutang budi pada Albi dan kedua temannya itu.


Sesuai rencana, Rasya yang sudah berpenampilan sebagai Alsa melangkah berjalan mendekati Pak Tono dan Pak Budi. Ia tersenyum ramah saat sudah berhadapan dengan keduanya.


"Selamat siang Pak Tono, dan Pak Budi," sapa Rasya.


Pak Tono dan Pak Budi pun tersenyum senang karena sudah di hampiri oleh sosok Alsa yang cantik, dan ramah.


"Siang Juga Neng Alsa," sahut Pak Tono sedangkan Pak Budi hanya tersenyum saja.


"Em ... Pak Tono dan Pak Budi di persilahkan makan siang di ruang makan oleh Non Arumi, sekarang juga!," ujar Rasya menyampaikan niat menghampiri keduanya.


Pak Tono dan Pak Budi saling pandang. Mungkin merasa heran, semenjak kerja sebagai Penjaga Gerbang. Baru kali ini di undang makan sama istri Tuan-nya.


"Gak salah ini, Neng?" tanya Pak Budi.


Rasya mencoba terus tetap tersenyum, "Enggak Pak Budi. Ini Perintah Nona Arumi. Katanya mumpung Tuan Albi gak ada. Non Arumi suka kasihan, kalau Bapak-bapak ini beli makan di luar," kata Rasya merangkai kata beralasan.


"Wah, benar dugaan kita kalau Nona Arumi itu benar-benar baik. Lebih baik kita makan bergantian saja," ucap Pak Tono dan di angguki Pak Budi.


"Tidak Pak!. Lebih baik barengan. Biar saya yang di sini menggantikan posisi Pak Tono dan Pak Budi, gak enak loh makan masing-masing," pekik Rasya mencegah untuk Pak Tono dan Pak Budi makan silih berganti.


"Beneran Neng. Neng mau di sini dulu?" tanya Pak Budi seperti tidak percaya.


"Iya Pak. Tenang saja saya akan di sini menjaga gerbang," ucap Rasya meyakinkan.


Dan Akhirnya dengan berbagai alasan dan bujukan, Pak Tono dan Pak Budi mau makan di ruang makan. Mereka berdua sudah berjalan menuju pintu rumah. Sementara itu Adelia tersenyum menyambut kedatangan mereka berdua. Lalu menyuruh mereka untuk segera masuk ke dalam rumah. Dan mempersilahkan untuk makan di ruang makan.


Sedangkan Rasya sudah memesan taksi online dan taksi itu sudah berhenti tepat di depan gerbang pagar rumah Albi. Rasya sudah menaruh koper yang tadi ia dorong di balik mobil milik Albi, sebelum menemui Pak Tono dan Pak Budi. Dan kini Adelia menghampiri Rasya setelah berhasil menyuruh Pak Tono dan Pak Budi masuk ke ruang makan.

__ADS_1


"Ayo Sayang, kamu cepat ke depan!," titah Rasya dengan mendorong koper miliknya.


"Iya Mas," sahut Adelia.


Rasya dan Adelia pun kini sudah berhasil keluar gerbang. Mereka berdua dengan cepat menghampiri taksi yang sudah menunggunya. Dan setelah koper milik Rasya di masukkan ke bagasi mobil. Sopir Taksi pun melajukan mobilnya.


Nafas Rasya dan Adelia terengah-engah. Saat Taksi itu sudah melaju jauh dari rumah Albi. Rasya dan Adelia saling pandang dan tergelak. Sungguh momen yang mendebarkan bagi Rasya. Seperti pencuri yang takut ketahuan.


"Hah ...." Rasya membuang nafas kasar. Lalu tangannya menarik Adelia untuk duduk lebih dekat.


Adelia tersenyum. Menatap Rasya yang berpenampilan sebagai Alsa.


"Capek?" tanya Adelia melihat Rasya yang masih terengah-engah nafasnya.


"Enggak," jawab Rasya dengan tersenyum.


Sopir Taksi dari balik spion tengah menatap Adelia dan Rasya. Mungkin merasa heran bahkan bingung. Menatap Adelia yang di rangkul Rasya yang berpenampilan wanita berhijab.


"Maaf, Nona-nona. Apa lokasinya sesuai titik?" tanya Sopir tersebut.


"Iya Pak," sahut Rasya. Karena Rasya yang memesan Taksi tersebut. Ia sengaja akan membawa Adelia ke Vila miliknya yang di berikan kepada Adelia yang di tepi Pantai.


Perjalanan ke Pantai pun memakan waktu dua jam lamanya, dari tempat Albi. Sehingga Adelia tertidur nyenyak dengan bersandar di dada Rasya.


"Sayang ... bangun! kita sudah sampai," ucap Rasya dengan berbisik.


Dan Adelia pun mengerjapkan kedua matanya. Ia terbangun, dan langsung menatap ke arah jendela mobil.


"Kita sudah sampai?" tanyanya.


"Iya. Ayo turun!" sahut Rasya dengan tersenyum.


Rasya keluar dari pintu kiri, dan Adelia keluar dari pintu kanan. Sopir mengeluarkan koper Rasya sedari tadi. Dan setelah Rasya keluar. Sopir itu pun melajukan mobilnya kembali, meninggalkan tempat itu.


Rasya mendorong koper, dan menuntun Adelia berjalan menghampiri pintu depan Vila. Rasya merogoh kunci dalam bawah pot bunga di depan pintu. Lalu setelah itu Rasya membuka kunci pintunya. Dan setelah berhasil Adelia dan Rasya pun masuk.


Adelia mengamati setiap ruangan. Ia mencoba mengingat apakah ia pernah singgah ke tempat ini atau tidak. Dan muncul-lah bayangan saat Adelia dan Rasya bercumbu di ruang dapur dalam ingatannya.


Adelia tersenyum senang saat mendapat ingatan itu, tapi ia merutuki ingatannya.

__ADS_1


"Kenapa, bayangannya selalu sedang begitu?" gumam Adelia merasa heran.


Sedangkan Rasya berusaha membuka setiap tirai di ruangan dan menyapu setiap ruangan itu. Setelah selesai ia mempersilahkan Adelia untuk beristirahat di kamar.


"Sayang ... istirahatlah!"


"Kalau Mas, mau kemana lagi?" sahut Adelia dengan bertanya karena Rasya seperti akan meninggalkan kamar yang Adelia masuki.


"Aku, di kamar sebelah" ucap Rasya.


Adelia menarik lengan Rasya. "Mas, kenapa di kamar lain? bukan kah, kita suami istri?" tanyanya dengan menatap wajah Rasya yang penuh dengan peluh. Adelia merasa iba, ia mengelap wajah Rasya menggunakan telapak tangannya.


"Aku mandi dulu di kamar sebelah. Setelah itu aku akan menemui mu," ujarnya lalu mengecup kening Adelia. Adelia pun mengangguk.


Sementara itu Rasya mandi di kamar mandi yang lain, dan Adelia pun akhirnya mandi juga di kamar mandi yang berada di dalam kamar itu.


Beberapa menit kemudian...


Adelia sudah terlihat cantik dengan dress yang ia kenakan. Ia sengaja menunggu Rasya di ruang tengah. Ia menatap ke arah pantai dari balik kaca jendela.


Rasya keluar dari kamar lain, ia tersenyum saat melihat istrinya tengah berdiri menatap ke arah luar.


"Mau ke pantai sekarang?" tanya Rasya seraya tangannya merangkul bahu Adelia dari samping.


Adelia menggeleng dan masih menatap lurus ke arah luar. "Kita di sini saja dulu. Aku tahu Mas masih capek," sahutnya.


"Darimana kamu tahu, kalau aku ini masih capek? hmm" goda Rasya dengan meraih dagu Adelia. Sehingga Adelia menatap wajah Rasya dari samping.


Adelia tersenyum, "Dari semenjak menjadi Alsa," ucapnya.


Rasya terkekeh, "Jujur saja, emang iya. Tapi itu terasa ringan loh, walaupun aku harus bangun pagi sekali, membersihkan rumah, mencuci, menyiram tanaman, bahkan ikut masak bersama mu. Itu membuat aku enjoy saja. Kamu tahu kenapa aku bisa begitu?" Rasya kini menghadapkan tubuh Adelia untuk menghadap dirinya.


Adelia menjawab dengan menggeleng. Karena ia merasa tidak tahu.


"Karena kamu ... Karena ada kamu ... Karena dekat kamu ...."


...***...


...Bersambung....

__ADS_1


Ada yang meleleh karena ucapan Rasya?


hehe maaf masih garing, mau coba Rasya menjadi sosok yang puitis tapi jangan di bully kalau belum pas 😁 kalau ada saran, tinggal komentar saja ok Readers!!!


__ADS_2