You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 174.


__ADS_3

Pagi yang cerah menyambut kebahagiaan pasangan Rasya dan Adelia. Keduanya kini sedang menuruni anak tangga. Hendak akan menuju ruang makan untuk sarapan bersama keluarga.


Terlihat di ruang makan sudah ada Hadi, Serly, dan Rara. Sedangkan Lia masih menyajikan beberapa makanan untuk sarapan. Setelah semuanya tersaji Lia pun duduk dengan senyuman tersungging menyambut anak dan menantunya datang.


"Ayo, Sayang kita sarapan bersama!" ajak Lia, kepada Adelia dan Rasya.


"Iya Ma," jawab Adelia dengan duduk di kursi yang sudah Rasya tarik terlebih dahulu. "Maaf Ma. Aku gak bantuin Mama pagi ini," ucap selanjutnya.


Lia tersenyum, "Tidak apa-apa Sayang, seharusnya kamu jangan terlalu banyak aktivitas," sahutnya. Dan Rasya mengangguk menyetujui apa yang di ucapkan Mamanya.


"Ehem ...." Hadi berdehem akan membuka suara di antara mereka. Dan benar, semua yang duduk di kursi itu tertuju tatapannya kepada Hadi.


Hadi hanya menatap kepada Rasya, "Rasya ... Papa hanya akan menyarankan untukmu. Bekerjalah di Kantor Papa. Papa sudah lanjut usia. Dan satu-satunya harapan Papa hanya kamu. Walaupun kamu menolak dengan mentah-mentah. Tetap Perusahaan itu akan jatuh pada dirimu. Karena hanya kamulah generasi Papa," ucap Hadi membuka suaranya. Dan ucapan itu hanya tertuju khusus kepada Rasya.


Rasya terdiam mencerna ucapan Papanya.


"Lihat! istrimu sedang hamil. Dan sebentar lagi kamu akan menjadi seorang Bapak. Maka biaya kehidupan akan bertambah. Jangan turuti ego mu. Jangan bilang kamu tidak mau bergantung kepada Orang tua. Kami di sini tidak mempermasalahkannya. Namun, lihatlah kehidupan kedepan. Kamu tidak bisa terus-terusan mengandalkan usaha kecil milikmu itu. Papa tahu betul bagaimana perkembangan usaha bengkel mu itu," tambah Hadi berucap seraya meyakinkan agar Rasya ikut bergabung untuk mengelola di Perusahaannya.


"Rasya pikir-pikir dulu Pa ...," jawab Rasya singkat.


"Sampai kapan? Sampai anak kamu lahir? atau sampai Papa mu ini sudah tidak bisa bernafas lagi. Papa sudah sakit-sakitan Sya ... hanya kamu yang Papa harapkan. Dan hanya Kamu penerus Papa. Tolong jangan kamu ungkapkan kata ingin mandiri. Mandiri yang bagaimana?, kamu sedari dulu tidak pernah menyusahkan Papa. Semenjak sekolah sampai kuliah, kamu di belakang Papa sudah mempunyai tabungan banyak. Papa tahu itu!. Dan Ayolah bergabung bersama Papa!"


Rasya menghela nafas. Ia sebenarnya tidak ingin terikat banyak waktu di suatu ruangan. Rasya orangnya ingin kebebasan. Tapi. Mendengar Papa Hadi berucap terus menerus mengajak. Membuat Rasya tersentuh. Memang bagaimanapun ia adalah putra satu-satunya di keluarga Rasya. Siap atau gak siap. Rasya memang harus menjadi penerus Hadi.


"Bagaimana dengan istriku?. Aku pasti akan banyak meninggalkan dia,"


Membuat Hadi terkekeh. Dan sunggingan senyuman dari Lia.


"Nak, istrimu ada di sini bersama Mama dan Rara. Mama akan menjamin tidak akan terjadi apa-apa padanya. Selagi kami ada. Bekerjalah bersama Papa mu dengan tenang. Namun, jangan terpaksa seperti dulu. Niatkanlah di dalam hati untuk menafkahi anak dan istrimu. Dan Mama yakin istrimu tidak akan keberatan kamu tinggal. Lagian kamu tidak akan terus-terusan berada di dalam Kantor. Pasti ada pulangnya juga. Siang bekerja, sore pulang. Hanya meninggalkan beberapa jam saja," ujar Lia memberikan pendapat dan masukan untuk Rasya. Ia berujar dengan lembut dan jelas.


Adelia tersenyum, "Iya Mas. Aku gak keberatan kok. Bekerjalah bersama Papa!" pinta Adelia.


"Tapi. Aku takut. Aku trauma Kamu hilang lagi, Sayang ...," ucap Rasya dengan penuh rasa kekhawatiran.


Hadi tersenyum melihat putranya yang takut kehilangan istrinya itu. "Tenang Rasya. Adelia tidak akan pergi kemana-mana selagi kamu tidak ada. Maka tidak akan ada peristiwa itu terjadi lagi. Percayalah!" ucap Hadi menenangkan Rasya.

__ADS_1


Aku takut istriku di ambil orang.


Oh tidak aku malu sekali jika itu aku ungkapkan.


"Baiklah. Aku memberikan tugas penjagaan kepada Mama dan Rara. Jagalah istriku! Jangan Sampai dia kenapa-napa!!"


Lia hanya menggeleng-gelengkan kepala terhadap keposesifan putranya. Sedangkan Rara tersenyum dengan mengangguk.


"Dan untuk kamu Serly. Jangan lagi mengajak istriku pergi jauh ke tempat yang membahayakan. Oh tidak. Aku ralat. Kamu jangan membawa Istriku pergi. Aku tidak akan mengijinkannya,"


Serly memanyunkan bibirnya kepada Kakaknya itu. Ia merasa lucu dengan aturan yang Rasya buat untuk dirinya. "Oh gitu. Berarti kalau pergi sama Mama dan Kak Rara, Kak Adel di bolehin?, itu tidak Adil buat aku,"


"Tidak. Tidak boleh ada yang mengajak pergi. Awas saja kalau ada yang membawa pergi. Istriku boleh pergi hanya bersama ku, Suaminya."


Adelia menggeleng-gelengkan kepala. Merasa malu juga dengan semua ucapan Rasya yang terus mengarah pada dirinya. Bak anak kecil. Ia tidak di perbolehkan pergi kemana-mana.


"Sudah. Lebih baik kita sarapan. Papa tidak mau telat hanya karena mendengar aturan-aturan seorang suami yang posesif," cibir Hadi sengaja menyindir.


Membuat Lia, Serly, Rara tersenyum. Sedangkan Adelia melirik suaminya yang akan hendak berbicara lagi. Namun, dengan cepat ia cegah.


"Tapi Sayang, masih banyak lagi yang--"


"Ayo sarapan! tidak baik banyak berbicara di hadapan makanan!!" pekik Adelia memotong ucapan Rasya. Sehingga Rasya bungkam. Dan beralih menyuapkan makanan yang sudah terisi di atas piring sejak tadi oleh Adelia.


Akhirnya santapan sarapan terlaksana dengan hening. Sehingga Acara sarapan cepat terselesaikan.


"Jadi mulai kapan kamu akan kerja di kantor Papa?" tanya Hadi kini setelah semua selesai menghabiskan sarapannya.


"Dari hari ini. Tapi, aku tidak mau di beri jabatan langsung yang kedudukannya tinggi oleh Papa,"


"Sya ... Papa akan memberikan jabatan Papa untuk mu. Maka janganlah kamu menolaknya!."


Rasya terdiam. Sebenarnya berat sekali jika harus pergi meninggalkan istrinya itu.


"Papa berangkat," ucap Hadi pamit.

__ADS_1


"Serly juga," pamit Serly yang akan berangkat sekolah.


"Ayo Mas!, ganti dulu pakaian nya seperti Papa," ucap Adelia mengajak Rasya untuk berganti baju. Rasya pun menurut dan mengangguk.


"Ma, Ra ... kami ke kamar dulu," pamit Adelia. Ia langsung melangkah ke arah lantai atas di susul oleh Rasya dari belakangnya.


Lia tersenyum senang. Akhirnya putra satu-satunya mau bersedia mengelola perusahaan Suaminya yang sudah lama di kelola. Lia begitu bertambah bahagia dengan hadirnya seorang cucu nantinya. Di tambah sekarang Suaminya yang terkadang arogan kepada Anaknya sendiri, kini tidak terlihat lagi.


Membuat Lia membayangkan di akhir usia senjanya. Ia akan hanya duduk di rumah beserta suaminya, dengan mengasuh cucu-cucunya nanti.


Sementara itu Adelia dan Rasya kini sudah di dalam kamar. Adelia mencari jas untuk Rasya kenakan. Dan akhirnya Adelia menemukan jas yang senada dengan celana yang Rasya pakai.


"Ini Mas pakai!" Adelia menyerahkan jas berwarna navy senada dengan celana yang Rasya kenakan. Sedangkan atasan nya Rasya sudah memakai kaos oblong berwarna abu.


Rasya langsung mengambilnya dan memasangkan ke tubuhnya dengan cepat. Lalu ia mendekati Adelia, dan merengkuh tubuhnya untuk ia peluk.


"Sayang ... pasti aku akan merindukan mu," ucapnya seperti mau pergi lama saja.


"Mas, nanti sore juga kamu pulang. Dan kita akan bertemu lagi. Sudah Mas berangkatlah sekarang. Aku do'akan semoga pekerjaan Mas lancar tidak ada hambatan," ujar Adelia yang kini berada di dalam pelukan Rasya.


"Aamiin. Ya Mas akan berangkat. Em ... hati-hati ya di rumah." ucapnya melerai pelukannya. Kemudian Rasya kini berjongkok mensejajarkan tingginya dengan perut Adelia.


"Sayang, Ayah akan pergi kerja dulu. Jagain bunda ya, jangan nakal di dalam perut bunda," lanjutnya dengan mengelus dan mencium perut Adelia.


"Iya Ayah," sahut Adelia dengan menirukan suara anak-anak.


Rasya tersenyum. Kini ia sudah berdiri. "Aku berangkat," katanya seraya mengecup kening Adelia dengan lama. Kemudian tangan Rasya di ambil oleh Adelia, dan di salami, di ciumi tangannya dengan takzim. Membuat Rasya tersenyum senang dan merasa hatinya bergejolak hangat.


...***...


...Bersambung....



Rasya mau berangkat kerja Readers!! 😁

__ADS_1


__ADS_2