
Rasya yang merasa kehausan ia keluar kamar. Melangkah menuju dapur, dan dengan bersamaan itu Ariyanti sedang menuruni anak tangga.
Seketika Rasya dan Ariyanti bersitatap. Kemudian Ariyanti melangkahkan kakinya lebih cepat sehingga ia dapat menatap Rasya dengan lebih dekat. Sementara Rasya merasa enggan untuk menatapnya, tapi ia selalu tersadar pada tujuan rencananya.
"Kamu mau kemana?" tanya Ariyanti.
"Aku haus, mau minum. Kamu mau kemana?" Rasya menjawab dengan melontarkan pertanyaan sama kepada Ariyanti.
"Sama aku juga," ucapnya dengan tersenyum lalu lebih mendekati Rasya.
Ariyanti bergelayut pada lengan Rasya. Membuat Rasya repleks melepaskan tangan Ariyanti.
"Jangan begitu, ini di rumah" tolak Rasya secara halus. Padahal dirinya tidak ingin sama sekali untuk bersentuhan dengan wanita itu.
"Tidak ada siapa-siapa kok, disni" ujar Ariyanti. Dan kembali bergelayut pada lengan Rasya. "Bukannya kamu mau ke dapur?" Ariyanti seraya merebahkan kepalanya pada bahu Rasya.
Rasya hanya menghela nafas dengan kasar. "Iya aku mau ke dapur," jawabnya datar.
Dan Rasya melangkah dengan tangannya yang terus di gelayuti Ariyanti. Kini keduanya berdiri di depan kulkas.
"Ini buat kamu" Rasya menyerahkan satu botol air mineral kepada Ariyanti. Membuat Ariyanti semakin berbunga-bunga saja hatinya. Karena merasa di perhatikan Rasya.
"Terima kasih," dengan senyuman yang sensual.
Tapi Rasya tidak melihatnya. Ia meneguk air dengan menatap ke arah lain. Beda dengan Ariyanti yang terus memperhatikan Rasya. Bahkan gerakan minum Rasya ia perhatikan, dari menatap leher Rasya yang sedang menenggak air minum itu dengan jakun yang terlihat bergerak-gerak membuat Ariyanti semakin mengagumi Rasya. Dan Ariyanti akui bahwa ketampanan Rasya membuat dirinya tidak berdaya.
Ariyanti meminum air yang tadi botolnya di serahkan Rasya. Dengan matanya terus tertuju kepada Rasya.
"Mau kemana?" tanya Ariyanti saat melihat Rasya yang akan melangkah keluar dari area dapur.
"Tidur lagi," sahut Rasya dengan tidak menoleh. Ia terus melangkah dengan tangannya memegang dua botol air mineral di tangannya.
Ariyanti menyusul. Lalu memeluk tubuh Rasya dari belakang. Membuat Rasya terperanjat kaget, dan meronta.
"Ariyanti apa yang kamu lakukan?" Rasya bertanya dengan menahan geram. Jujur ia tidak mau di sentuh oleh wanita manapun selain di sentuh oleh istrinya.
"Rasya, bukannya kita sekarang sedang menjalin kasih? dan kenapa kamu acuh di saat kita berdua saja. Aku maklumi jika kamu acuh saat di depan yang lain. Tapi tidak jika kita sedang berduaan," Ariyanti dengan mengeratkan pelukannya dari balik punggung Rasya.
__ADS_1
"Ah ... gila wanita ini. Mau aja di jadikan kekasih oleh lelaki yang beristri. Aku yakin dalam jiwanya ada bibit pelakor," Rasya menggeram di dalam hatinya.
Rasya mulai memerankan kembali perannya. Rasya membiarkan Ariyanti memeluknya. Dengan berkata seolah apa yang Ariyanti katakan adalah benar.
"Ya aku tahu. Tapi aku belum siap jika orang rumah ada yang melihat kita," ujar Rasya membuat Ariyanti tersenyum di balik punggungnya.
Ariyanti melepaskan pelukannya. Kemudian ia menghadap ke depan Rasya. Sehingga Ariyanti berpandangan dengan Rasya.
"Ya sudah kalau kamu mau tidur. Selamat mimpi indah ya!" ucap Ariyanti dan berjinjit ingin mencium bibir Rasya. Namun, dengan cepat Rasya mundur dan menahan bibir Ariyanti dengan botol air yang sedari tadi ia genggam. Sehingga Ariyanti malah berhasil mencium botol air tersebut.
Rasya menggeleng, "Lebih baik sekarang kamu tidur!. Aku hanya belum siap," Rasya langsung melenggang dari hadapan Ariyanti. Membuat Ariyanti terdiam. Mencerna ucapan yang baru Rasya ucapkan kepadanya.
"Belum siap?" Ariyanti bertanya pada dirinya sendiri mengulangi akhir kata yang tadi Rasya ucapkan. Kemudian Ariyanti tersenyum dengan senang. Beranggapan bahwa Rasya belum siap berciuman dengan dirinya saat ini.
"Ok akan aku tunggu kesiapan mu, Rasya sayang ...," Ariyanti bermonolog.
Ariyanti akhirnya menaiki anak tangga, dengan terus menyunggingkan senyumannya. Hati Ariyanti serasa melayang, dan berbunga-bunga. Merasa ada perubahan dari sikap Rasya kepada dirinya. Dan Ariyanti meyakini sikap dingin Rasya saat itu adalah karena rasa bersalah yang sesuai dengan Rasya ucapkan.
Di sisi lain Rasya terus menggeleng-gelengkan kepalanya ia tidak bisa bersikap lebih jauh kepada Ariyanti. Tapi rencananya baru saja di mulai. Dan Ariyanti baru saja terperangkap. Tidak mungkin Rasya menyerah begitu saja tanpa ada hasil sedikitpun.
Rasya merebahkan dirinya di samping Adelia, lalu mengecup kening Adelia dengan lama.
"Maafkan aku sayang," lirih Rasya. Kemudian ia memejamkan kedua matanya dan terlelap dengan cepat.
***
Pagi telah menyapa. Membangunkan Adelia yang semalaman tidur dengan lelap. Adelia mengerjapkan mata. Dan menatap tempat Rasya yang selalu berbaring di sampingnya. Kosong? dan dimana Rasya. Adelia mendudukan tubuhnya. Lalu menatap jam dinding yang sudah menunjukan jam tujuh pagi. Adelia gelagapan. Ia benar-benar telah kesiangan.
Adelia dengan terburu-buru bangkit dari ranjang. Dan bersamaan dengan itu Rasya datang dengan menenteng bungkusan bubur pada tangannya. Dan penampilan Rasya sudah rapih dengan setelan jas kerjanya. Sepertinya Rasya sudah keluar dan membelikan bubur untuk istrinya.
"Sayang, kamu sudah bangun?" Rasya mendekati Adelia setelah menaruh bungkusan bubur itu di atas meja.
Adelia tersenyum lega. Ia berpikir bahwa Rasya sudah berangkat bekerja tanpa membangunkannya.
"Mas kamu dari mana?" Adelia langsung memeluk Rasya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Rasya membalas pelukan Adelia seraya tangannya mengusap-usap punggung Adelia yang terlihat bergetar.
__ADS_1
"Maaf sayang, aku tidak membangunkanmu!" ucap Rasya dengan lembut. "Sayang, kamu menangis?" Rasya melerai pelukannya dan menatap Adelia yang sudah berderai air mata.
"Kamu kenapa?" tanya Rasya lagi yang tidak ada jawaban dari Adelia.
Adelia dengan terisak menjawab, "Aku tadi sempat berpikr, kalau Mas sudah berangkat kerja, dan tidak membangunkan aku" Adelia dengan lirih menatap Rasya dengan air mata yang berderai.
"Oh ya Tuhan," Rasya menggeleng menepis apa yang sempat Adelia pikirkan. "Maaf sayang. Aku hanya tidak ingin mengganggu. Kamu tidur sangat lelap. Mungkin karena kamu telah kelelahan hari kemarin yang sudah menyiapkan kejutan ulang tahunku, membuat tenagamu terkuras. Ingat sayang aku hanya tidak mau tidur mu terganggu," jelas Rasya menjelaskan apa alasannya ia tidak membangunkan Adelia.
Adelia tersenyum mengerti. Memang dirinya yang benar-benar merasa kelelahan. Karena kemarin ia benar-benar menyiapkan kejutan untuk suaminya itu. Memberi arahan-arahan dan menentukan pendapat tentang kerja sama antara Bima, Sakti, dan Rara. Bisa di bilang Adelia-lah yang banyak berperan.
"Jangan berpikiran yang aneh-aneh," Rasya berpesan. Kemudian ia melabuhkan ciuman hangat di kening Adelia.
"Makan buburnya ya!, maaf aku gak bisa nemenin kamu makan. Karena aku sudah terlambat," Rasya dengan tersenyum. Membuat Adelia merasa bersalah.
"Mas maaf," lirih Adelia.
Rasya mengernyit heran, "Maaf? karena apa?"
"Maaf karena aku, Mas jadi kesiangan," Adelia dengan menunduk merasa bersalah.
Rasya menggeleng, lalu tangannya memegang dagu Adelia, lalu Rasya arahkan tatapan Adelia sehingga Adelia bertatapan dengan dirinya.
"Jangan sampai buat aku memakanmu pagi ini. Dan membuat aku lebih terlambat," Rasya tersenyum menyeringai. Ia merasa gemas kepada Adelia yang menyalahkan dirinya sendiri karena keterlambatan Rasya ke kantor.
Adelia menggeleng, dengan wajah yang sudah merona. "Nanti saja, saat kamu pulang" sahutnya membuat Rasya tersenyum lebar.
"Ok. Aku mau minta jatah dari sebelumnya. Lima kali," Rasya dengan memamerkan lima jarinya di depan Adelia. Yang sudah melotot tajam kepada dirinya.
Lima kali yang Rasya inginkan adalah lima kali pelepasan. Oh Gila Rasya ini.
"Tidak, Mas!" pekik Adelia yang menolak.
"Itu termasuk hadiah ulang tahun darimu," Rasya dengan mengedipkan mata sebelah menggoda Adelia.
...***...
...Bersambung....
__ADS_1