
Setelah Adelia dan Martin selesai bernyanyi duet nya.
Martin pun turun, kembali duduk di samping Rara.
Mc pun memberikan Satu kesempatan untuk para undangan meminta lagu untuk di nyanyikan.
Para undangan pun riuh menyebutkan salah satu lagu yang mereka sukai, sampai Mc pun bingung untuk memilihnya. Tiba tiba Serly berdiri menunjukkan tangannya.
"Oh ya saudari Serly, apa yang ingin anda inginkan?" Mc lebih baik memilih Serly.
"Aku ingin Kakak Ku Rasya, yang bernyanyi bersama Kak Adelia." Permintaan Serly.
"Waah,,, Bagaimana Para Tamu Undangan.. dan Bagaimana Adelia dan Rasya?" Tanya sang Mc.
Rasya mengangguk dan melirik ke arah Adelia.
Adelia pun mengangguk, tidak mungkin Adelia menolak pikirnya.
"Ser, apa Rasya bisa bernyanyi?" Ariyanti memastikan kepada Serly.
"Tentu, kak Rasya pintar menyanyi. nanti kak Yanti lihat saja" Serly mengatakan kalau memang Rasya bisa bernyanyi.
"Baik, kita Sambut Rasya dan Adelia." Ucap Sang Mc.
Sudah Terlihat Adelia duduk di samping Rasya yang memainkan Keyboard, Rasya bernyanyi dengan bermain musik. Tambah keren saja terlihatnya bagi kaum hawa.
"Aku ingin bernyanyi Cinta Karena Cinta. Aku pilih lagu ini untuk seseorang." Ucap Rasya. dengan Melirik ke Adelia, Adelia pun mengangguk bisa bernyanyi lagu yang Rasya inginkan.
Musik mulai di mainkan...
Rasya terlebih dahulu bernyanyi
Rasya
Aku hanyalah manusia biasa
Bisa merasakan sakit dan bahagia
Izinkan ku bicara
Agar kau juga dapat mengerti
Kamu yang buat hatiku bergetar
Rasa yang telah kulupa kurasakan
Tanpa tahu mengapa
Yang kutahu inilah cinta
Adelia dan Rasya
Cinta karena cinta
Tak perlu kau tanyakan
Tanpa alasan cinta datang dan bertahta
Cinta karena cinta
Jangan tanyakan mengapa
Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara
Adelia
Kamu yang buat hatiku bergetar
Senyumanmu mengartikan semua
Tanpa aku sadari
Merasuk di dalam dada
Adelia dan Rasya
Cinta karena cinta
Tak perlu kau tanyakan
Tanpa alasan cinta datang dan bertahta
Cinta karena cinta
Jangan tanyakan mengapa
Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara
Cinta karena cinta
Tak perlu kau tanyakan
__ADS_1
Tanpa alasan cinta datang dan bertahta
Cinta karena cinta
Jangan tanyakan mengapa
Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara
Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara
Tepuk tangan kembali terdengar, kala Adelia dan Rasya telah sukses menyanyikan lagu itu dengan penuh penghayatan.
Tanpa para tamu undangan Sadari, seseorang sedari tadi menonton nya dengan sorot mata yang tajam, dengan menahan amarah cemburunya, melihat gadis pujaan bernyanyi bersama mantan pacarnya.
Mata Martin memerah, tangan nya terkepal, hingga sampai lagu usai dinyanyikan.
"Waah... Semakin seru yaa."
"Dan sekarang Waktu acara permainan, Bagaimana siapa yang mau ikut serta,?" Tanya sang Mc.
Tiba-tiba Adelia kebelet, ia meminta ijin kepada Bima.
"Bim, aku ke toilet dulu bentar.." Ijin Adelia.
"Ya udah sono.." Kata Bima.
Gerak gerik Adelia tak luput dari pandangan Martin, Martin pun kini melangkah mengikuti Adelia yang berlalu menuju dapur. Adelia pun masuk ke dalam toilet, sedangkan Martin berdiri di dekat pintu seperti penjaga.
Beberapa menit kemudian Adelia membuka pintu toilet untuk keluar, baru Adelia membuka seseorang sudah menarik tangan paksa Adelia, dan menarik untuk segera pergi.
"Martin, kamu buat aku kaget," Adelia tentu kaget dengan tiba tiba Martin seperti itu.
"Ayo kita pulang," Ajak Martin yang terus menarik tangan Adelia.
"Tapi acara nya belum selesai Martin." Jawab Adelia.
"Kenapa? apa kau tak ingin pulang? atau kau betah di sini?" Martin dengan menghentikan langkahnya, dan menatap Adelia dengan sorot mata yang masih menyisakan amarah.
"Ya ampun kamu ngaco, maksud aku gak enaklah aku belum pamit sama temen yang lain, dan bagaimana dengan Rara, dia sendirian nantinya" Alasan Adelia.
"Tentang itu tak usah di pikirkan, ayo cepat pulang" Martin masih kekeh mengajak Adelia untuk pulang.
Adelia pun menurut, Adelia masih belum paham atas sikap Martin yang berubah seperti itu.
Adelia dan Martin pun kini sudah ada di dalam mobil Martin.
Martin sebelum memegang kemudinya, menghela nafas dengan memejamkan matanya.
Adelia pun sontak di buat bingung, namun Adelia tak berani menanyakan.
"Mau apa dengan ponselku,?" Tanya Adelia.
"Sini saja," Jawab Martin.
Adelia pun mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, dan di serahkan kepada Martin.
Adelia masih bingung apa yang akan Martin lakukan dengan ponselnya.
Terlihat Martin sedang mengetik pesan, tapi entah untuk siapa. setelah selesai Martin memberikannya lagi ke Adelia.
Martin mulai menancapkan gas nya, keluar dari halaman Rumah Rasya dan membelah jalanan.
Adelia penasaran tentang apa yang Martin tadi lakukan dengan ponselnya seperti sedang mengetik pesan.
Adelia pun melotot melihat pesan yang sudah terkirim ke nomor Hp Rara.
Ra, Sorry aku pulang duluan.
aku sedang tidak enak badan.
nanti kamu pulang sendiri naik taksi aja.
Begitu kiranya pesan yang Martin kirim, Adelia pun hanya bisa diam kini Adelia mengerti, Martin tengah sedang marah.
Adelia pura-pura memejamkan matanya.
Namun Seketika Adelia membolakan Matanya, karena Martin berhenti bukan di depan Ruko Adelia, tapi di sebuah gedung Apartemen.
"Martin kamu ngajak aku ke sini, untuk apa?" Tanya Adelia heran.
"Aku ngajak kamu berkunjung ke apartemen ku, kenapa emang?" Jawab Martin sedikit ketus.
"Ya tapi kamu tadi tidak memberitahu ku dulu.." Ucap Adelia.
"Sekarang kamu sudah tahu. ayo turun" Ujar Martin dengan membuka pintu mobil untuk turun.
Adelia hanya bisa menurut saja.
Walau hatinya masih banyak pertanyaan, untuk apa Martin malam-malam mengajak ke apartemennya.
Martin dan Adelia kini Sudah masuk ke dalam Apartemen Martin.
__ADS_1
Adelia bingung ia harus apa, mau bertanya Adelia nya takut.
"Apa kamu mau berdiri saja di situ?" Tanya Martin yang sudah duduk di sofa melihat Adelia masih berdiri di ambang pintu.
"Ah i iya aku akan duduk.." Adelia pun duduk di sofa Sebrang Martin.
"Kenapa kamu duduk di situ? Apa kamu tak mau duduk berdekatan dengan ku?" Tanya Martin dengan Mata yang memerah.
Adelia pun bangkit dari duduknya, berniat ingin pindah duduk di sebelah Martin. Tapi dengan tiba tiba Martin menarik Badan Adelia hingga terjerembab ke badan Martin, kini posisi Adelia berada di atas badan Martin.
Detakan jantung masing-masing seakan bertalu bersahutan terdengar. Martin sudah mendekatkan wajahnya ke wajah Adelia, tangan Martin sudah menyusuri Tengkuk Leher Adelia, Adelia pun merinding di buatnya, dan Adelia sontak memejamkan matanya ketika Martin mulai mencium, dan ******* Bibir Adelia dengan dalam.
Adelia hanya bisa terdiam merasakan apa yang Martin saat ini lakukan.
Bibir Martin kini berpindah menyusuri Leher Adelia, Adelia pun menggelinjang di buatnya, dengan gerak cepat Martin kini sudah berpindah posisi, Martin sekarang yang berada di atas badan Adelia.
Martin memberikan sensasi yang baru seumur hidup Adelia Rasakan, dengan bibirnya terus menyusuri, dan mengecap leher Adelia, sesekali Martin memberikan tanda di leher Adelia.
"Ah... Martin.." Suara Adelia keluar tanpa ia sadari.
Martin pun tersenyum di sela-sela bibirnya yang terus aktif menyusuri Leher dan telinga Adelia.
Tangan Martin kini berpindah ke bawah leher, dengan Bibir yang mulai mencium kembali bibir Adelia.
Tangan Martin mulai merayap ke dada Adelia, tangannya ingin membuka kancing depan Dres yang Adelia kenakan.
Namun Seketika Martin cepat menghentikan gerakannya.
Dengan nafas yang masih berderu, Martin membuka Mata dan Melihat Adelia yang masih terpejam.
Adelia pun sontak membuka matanya, karena merasa tidak ada pergerakan sentuhan dari Martin.
Adelia pun mulai duduk tegak, dengan mata sayu dan rasa yang bergejolaknya.
Adelia hampir saja menginginkan Lebih dari Yang Martin berikan, Untung saja Martin bisa mengontrol rasa birahinya.
Kini Martin menundukan pandangan nya, mengambil nafas untuk meredam gejolak yang ada dalam dirinya.
"Maaf, aku telah berkata kasar dan memaksa untuk pulang" Martin membuka suara seraya meminta maaf.
"Kenapa kamu tiba-tiba seperti itu?" Tanya Adelia ingin memastikan lebih jelas.
"Aku Marah. Aku Cemburu Del, Lihat kamu bernyanyi bersama Dia, dengan Melihat kamu terus tersenyum bersama Dia, aku semakin Marah." Martin meluapkan yang sedari tadi ia pendam seakan segan mengatakan nama Rasya di depan Adelia.
"Ya ampun Martin, kamu cemburu dan marah karena itu?. itu bukan ke inginan ku sendiri bernyanyi dengan Rasya, kamu tahukan itu adalah permintaan Serly. ya misalkan kalau aku tersenyum, aku semata-mata menghibur, tidak mungkin aku bernyanyi dengan wajah datar," Ujar Adelia.
"Jangan sebut Namanya, aku tidak suka." Ucap Martin melarang Adelia menyebut Nama Rasya.
"Astaga,, Martin kenapa?" Adelia sungguh heran di buatnya.
"Aku tidak Suka titik. Oh ya atau apa Dia sudah pernah melakukan yang sama?" Martin dengan senyum menyeringai.
"Maksudnya? melakukan apa?" Adelia tidak mengerti.
Martin Langsung Mencium Adelia dengan buas.
"Melakukan Seperti itu." Ucap Martin dengan memberhentikan aksinya.
"Tidak. Aku tidak pernah. Bahkan kamu yang pertama mengambil Ciuman ku" Ucap Adelia dengan napas yang masih menderu sisa bekas ulah Martin.
"Benarkah?" Tanya Martin.
Adelia mengangguk menjawabnya.
Martin pun Menarik Adelia kedalam pelukan nya. di usap-usap Rambut Adelia dan di kecup kening Adelia dengan lembut.
"Maaf, aku telah terbakar api cemburu. sampai aku akan melakukan yang selama ini aku jaga, maafkan aku Adelia.." Martin yang masih memeluk Adelia.
Adelia langsung mencubit Martin.
seperti biasa jika Adelia kesal seakan menjadi kebiasaan ingin saja mencubit Martin dengan gemas.
"Eh Sayang, sakit..." Martin dengan cepat menghentikan tangan Adelia yang akan mencubitnya lagi.
"Kenapa harus mencubit sih?" Tanya Martin yang masih memegang tangan Adelia.
"Tau, aku gemas sama kamu. kamu marahnya kaya apa. aku takut Martin." Ujar Adelia yang kini menyenderkan kepalanya ke dada Martin.
"kenapa harus takut, jelas jelas aku marah itu, bikin enak kamu.." Martin dengan menaik-naikan alisnya seraya menggoda.
"iih...Mesum" Adelia dengan mencubit dada bidang Martin.
"Auw... tapi benar kan kamu enak?" Martin dengan mengusap dadanya masih menggoda Adelia.
Pipi Adelia pun memerah karena malu, Adelia memang merasakan apa yang Martin katakan.
Sementara di tempat lain, Rara sedang menunggu taksi setelah tadi berpamitan ke Tante Lia dan Serly, dan Rara pun memberi tahukan bahwa Adelia mendadak pulang karena tiba-tiba tidak enak badan.
Taksi pun datang, Rara pun langsung masuk dan meminta untuk diantarkan ke tempat yang Rara sebutkan.
Adelia pun kini sedang berada di mobil bersama Martin, Martin mengantarkan Adelia pulang.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Martin terus mengenggam tangan Adelia, dan sesekali tangannya ia kecup.
Bersambung..................