
Flashback on.
Saat Rasya baru saja pulang dari tempat penyekapan. Terlebih dahulu Rasya mengantarkan Yuda dan bergegas untuk mengantarkan Rara ke rumahnya.
Sesampainya di rumah Rasya di sambut tangisan pilu sang Mama. Mama nya yang sangat merindukan anak pertamanya. Ia enggan melepaskan Rasya pergi. Rasya juga tak tega melihat sang Mama yang terus menangisi nya. Lalu Rasya terbesit ide untuk mengajak sang Mama pergi ke Kota B yang di tinggali sang kekasih. Mama Rasya pun sangat antusias senang dan ingin ikut. Namun saat mengemasi barang-barang Lia Mama Rasya, ada seseorang datang yaitu Asisten Papa nya yang bernama Pak Anton. Dia mengatakan bahwa Pak Hadi berada di Rumah Sakit karena terkena serangan Jantung. Rasya panik beserta Mamanya.
Dan cepat-cepat mereka bergegas ke Rumah Sakit untuk menemui Hadi.
Sehingga keberangkatan Rasya untuk ke Kota B harus di tunda terlebih dahulu, untuk memastikan kesehatan Papa nya saat ini.
Walaupun Rasya masih memendam rasa sakit akan perilaku Papanya yang selalu mengatur hidupnya, namun Rasya sangat menyayangi Papa nya.
Sementara itu Rasya sengaja tidak mengatakan yang sebenarnya kepada Adelia sang kekasih, karena Rasya tidak mau sampai Adelia bertambah khawatir jadi Rasya mengatakan bahwa dirinya akan mengunjungi bengkel miliknya yang lain yaitu di Kota D.
Flashback off.
***
Rasya yang kini sedang duduk di kursi tunggu Rumah Sakit mengernyitkan dahinya kala melihat Mantan Mertua beserta Mantan Istrinya datang menghampiri.
"Rasya, Maaf Papa baru saja bisa datang. Bagaimana keadaan Papa mu?." Rony setelah sampai didekat Rasya langsung bertanya.
"Lumayan membaik Om." Kata Rasa datar.
Ada rasa kecewa dari wajah Rony saat mendengar Rasya sudah memanggilnya dengan kata semula.
Sedangkan Ariyanti tersenyum hangat Ia begitu senang bisa melihat wajah Rasya yang sangat di cintainya.
"Kalau begitu Om dan Tante ingin masuk untuk melihatnya." Pamit Rony kepada Rasya.
Dan Rasya hanya mengangguk memberi jawaban.
Ariyanti sengaja tidak ikut masuk, Ia sengaja ingin berbicara terlebih dahulu dengan Rasya.
"Bagaimana kabar mu Rasya?." Tanya Ariyanti.
"Seperti yang kamu lihat saya baik-baik saja." Sahut Rasya dengan dingin.
"Tapi tidak dengan diriku. Keputusan yang kita ambil membuat aku terus memikirkan mu Rasya." Ariyanti mengatakan keadaan dirinya langsung dengan wajah sendu.
Rasya melirik sekilas dan menatap ke arah depan Ia tidak bisa berbicara saat ini, karena Rasya takut lidahnya mengatakan yang dapat Ariyanti tersinggung, jadi Rasya memilih diam saja.
"Rasya... apa kamu bisa kembali lagi menjadi suami ku?. Berilah kesempatan untuk ku, untuk membuat dirimu mencintaiku." Ariyanti Memohon.
"Maaf. Tidak bisa Ariyanti." Rasya dengan datar.
"Kenapa?. Bukan kah wanita yang sangat kamu cintai itu telah meninggal?. Dan aku akan berusaha untuk menggantikan gadis itu yang sangat kamu cintai." Desak Ariyanti ia tidak berpikir akan harga dirinya yang mengemis kepada Rasya. Ia yang pikirkan rasa cinta yang begitu dalam kepada Rasya.
Rasya seakan darahnya mendidih, mendengar Ariyanti mengatakan gadisnya telah meninggal.
"Tidak. Saya tidak akan mencari penggantinya. Permisi."
Ketus Rasya dan segera masuk kedalam ruangan dimana Hadi di rawat.
Ariyanti berwajah sendu, Ia merasa sesak akan perkataan Rasya yang ketus kepada dirinya. Ariyanti pun menyusul masuk kedalam ruangan itu.
"Om... Tante..." Sapa Ariyanti kepada Lia dan Hadi. Kebetulan Lia sedang menyuapi Hadi suaminya itu.
"Ariyanti apa kabar?." Sapa Lia kepada Ariyanti.
"Yanti baik Tante... Oh iya Om cepat sembuh ya..."
Hadi pun hanya bisa menjawab dengan mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
Tiba-tiba Rasya mendekati Mama nya.
"Ma... Rasya pamit ya, karena Papa sudah terlihat lebih baik." Rasya tanpa melirik sang Papa.
Dan membuat Mantan Mertua begitupun Mantan Istri Rasya menatapnya dengan heran.
"Tapi Sya, kamu jangan pergi lama-lama. Mama kangen kamu." Lia dengan memegang tangan Rasya.
"Iya Ma. Secepatnya Rasya akan pulang lagi. Kalau begitu Rasya pamit ya... Permisi Om Tante."
Rasya pun pergi berlalu meninggalkan ruang rawat Papanya. Tanpa berpamitan kepada Papanya dan Ariyanti.
Hadi bersikap Acuh terhadap Rasya yang mengacuhkan nya meskipun dalam hati yang terdalam ia merasa bersalah.
Rasya memastikan Barang Adelia yang sempat tertinggal di rumah nya dan Rasanya mengambil barang tersebut lalu pergi melajukan mobilnya ke Kota B.
Selang beberapa jam Mobil Rasya sampai di depan Bengkel miliknya.
Rasya tersenyum kala melihat rumah yang sedang di bangun hampir 85% selesai.
Ia sangat senang sebentar lagi niat untuk menikahi Adelia akan terwujud.
Terlihat para pekerja Bengkelnya sedang berkumpul, dan ternyata sedang melakukan makan siang bersama. Namun Rasya tidak melihat Aldi.
"Aldi dimana?" Rasya langsung menanyakan keberadaan Aldi kepada Mereka.
"Eh Bos. Baru datang?. Em... Aldi tadi pulang dulu." Sahut Ivan yang menjawab.
Rasya pun tak berniat untuk ke rumah Aldi. Ia sengaja ingin beristirahat terlebih dahulu di dalam kamarnya.
Aldi yang pulang ke rumahnya berniat mengambil peralatan yang baru kemarin di beli. Ia melihat Adelia yang tertidur pulas di atas sofa. Sepertinya Adelia ketiduran saat sedang menonton televisi, karena Televisi dalam keadaan menyala.
Aldi melanjutkan langkahnya menuju kamar. Tak lama Aldi pun keluar dengan menenteng sebuah Kotak besar yang di dalam nya merupakan kunci-kunci peralatan Bengkel.
Adelia dibaringkan di atas kasur oleh Aldi, dan Aldi tak lupa menyelimuti Adelia hingga batas dada. Setelah itu Aldi keluar dan menutup pintu kamar Adelia dengan pelan.
Lalu Aldi keluar rumah dengan langsung menancapkan gas pada motornya untuk kembali ke Bengkel.
Tak lama Aldi sampai, dan matanya memandang arah mobil Rasya yang terparkir.
Pak Rasya sudah datang?.
Aldi bergumam di dalam hati.
Aldi pun melangkah dengan menenteng Kotak peralatan yang kemarin baru saja Ia beli.
"Eh Al... Tadi Pak Bos nanyain kamu." Kata Beni.
"Sekarang Pak Rasya di mana?." Tanya Aldi.
"Di Kamarnya. Kelihatan nya Pak Rasya sangat lelah." Sahut Beni.
"Oh ya udah biarkan dulu beliau istirahat." Ucap Aldi.
Mereka pun bekerja kembali dengan tugas masing-masing. Kebetulan hari ini banyak pengunjung yang membawa kendaraan nya untuk memperbaiki Mobilnya, ada yang sekedar ganti oli, dan ada pula yang mencuci Mobil dan motor.
Damar bertugas menjadi pencuci mobil dan motor. Jika Ada pengunjung yang berbarengan kadang Aldi membantu Damar.
Sedangkan Ivan bertugas untuk pengganti oli mesin pelanggan, jika tidak Ada Ivan kadang membantu Beni yang merupakan tugasnya memperbaiki Mesin Motor atau mobil pelanggan.
Begitulah pekerjaan mereka yang terkadang saling membantu jika pekerjaan nya sedang agak lenggang. Kalau Aldi sebagai Pemantau tugasnya atau bisa di katakan sebagai Pengawas. Di samping itu Aldi terkadang turun tangan mengerjakan tugas teman nya jika urgent.
Sementara itu Adelia yang tertidur pulas di dalam kamar menggeliat, mengerjapkan mata nya, dan tersadar. Adelia bingung saat bangun dirinya berada di dalam kamar dan berselimut.
__ADS_1
"Aku rasa tadi aku di ruang tengah. Kenapa aku bisa ada di sini. Siapa yang memindahkan ku?." Gumam Adelia.
Adelia pun bergegas bangun dan melangkah keluar kamar, terlihat keadaan rumah masih dalam keadaan sepi. Adelia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan jam dua siang. Adelia memutuskan keluar rumah dan duduk di kursi teras.
Terlihat ada tukang bakso yang sedang mendorong gerobak bakso nya melewati pagar rumah Aldi. Mata Adelia berbinar, Ia sudah lama tidak merasakan rasa Bakso yang merupakan makanan Favorit para kaum wanita tersebut.
"Pak Bakso...." Teriak Adelia memanggil tukang Bakso.
Tukang Bakso itu pun berhenti karena merasa ada yang memanggilnya.
Adelia berjalan melangkah mendekati tukang Bakso tersebut.
"Pak Baksonya satu di mangkok saja." Kata Adelia memesan Bakso.
"Baik Neng." Sahut Tukang Bakso dengan tangan nya mulai menuangkan bumbu kedalam mangkok.
"Neng Campur?." Tanya tukang Bakso.
"Iya Pak. Yang pedas ya..." Sahut Adelia dengan senang.
Tukang Bakso itupun tersenyum.
Lalu dengan tangan nya yang cekatan memasukan berbagai sayuran, mie, dan Bakso tak lupa juga Kuahnya. Ia juga memasukan Saus, Sambal, dan Kecap.
"Ini Neng..." Kata Tukang Bakso itu menyerahkan Bakso dalam mangkok.
"Iya Pak. Bapak tunggu ya." Adelia dengan menerima mangkok Bakso tersebut.
"Iya Neng santai aja. Makan nya jangan sampai terburu-buru." Kata Tukang Bakso.
"Iya Pak." Jawab Adelia dan melangkah menuju kursi yang berada di teras lalu Adelia pun melahap Bakso nya itu dengan antusias.
Suapan demi suapan Adelia memuji rasa Bakso tersebut yang begitu enak di lidahnya, entah karena dirinya yang sudah lama tidak memakan Bakso atau memang rasa Bakso yang saat ini di makan nya beneran enak.
Beberapa menit kemudian Adelia telah menyelesaikan makan Bakso nya, dan melangkah mendekati Tukang Bakso untuk memberikan kembali Mangkoknya.
"Jadi berapa pak?." Adelia dengan mengambil uang yang berada di dalam saku celana nya.
"Lima belas ribu Neng." Sahut Tukang Bakso.
Adelia dengan perasaan heran, Bakso se-enak itu hanya lima belas ribu pikir Adelia.
"Ini Pak." Adelia menyerahkan uang dua puluh ribu.
Saat Tukang Bakso itu akan memberi kembalian Adelia dengan cepat berucap.
"Tak usah di kembalian Pak. Buat Bapak saja." Ucap Adelia.
"Wah Neng terima kasih. Oh iya neng baru di sini?. Saya baru lihat Neng deh... Apa Istrinya Aldi?. Karena Ini Rumah Aldi kan?." Tukang Bakso akhirnya menanyakan rasa penasaran nya.
"Iya saya baru di sini. Tapi saya bukan Istri Aldi Pak. Saya saudara jauh nya." Ucap Adelia ramah.
Dan memang itu pesan Aldi jika ada yang menanyakan siapa dirinya, Aldi menyuruh Adelia untuk mengaku menjadi saudara jauhnya.
"Oh saya kira Istri nya atau pacarnya gitu." Kata Tukang Bakso dengan manggut-manggut.
"Bukan Pak." Adelia dengan tersenyum.
Tukang Bakso itupun pergi meninggalkan halaman depan Rumah Aldi sebelumnya ia berpamitan terlebih dahulu kepada Adelia.
Adelia kembali masuk ke dalam rumah, Ia bergegas untuk mencuci wajah, karena merasa lengket akibat keringat yang tadi mengucur saat makan Bakso yang super pedas.
...Bersambung....
__ADS_1