
Sesuai yang di janjikan Albi kepada Hadi. Hadi kini sudah memasuki area Rumah Sakit. Dengan perasaan bingung serta penasaran, ia terus berjalan melangkah hingga langkahnya terhenti di depan ruang UGD, dan terlihat Albi sedang duduk di kursi tunggu. Mata Hadi terbelalak saat menatap ada Rara teman dari istri anaknya berada di sana.
"Tuan Albian," sapa Hadi. Membuat Albi yang sedang menunduk menatap ponsel mendongak menatap Hadi.
"Pak, Hadi" sapa Albi kembali.
Hadi kini menoleh kepada Rara. "Ra, kenapa ada di sini? Adel, mana?" Hadi bertanya dengan menelisik wajah Rara, terlihat mata Rara yang sembab membuat Hadi semakin bingung.
Baru saja Rara mau menjawab, Albi sudah mendahului bersuara.
"Pak Hadi lebih baik duduk dulu," Albi mempersilahkan Hadi duduk di kursi sampingnya. Hadi pun menurut duduk dengan wajah yang masih belum mengerti.
Albi langsung memperlihatkan video rekaman cctv kepada Hadi. Lagi-lagi Hadi patuh, dan melihat video tersebut. Hadi tersentak kaget, saat melihat menantunya akan ada yang menabraknya.
"Ja-jadi yang di dalam ruangan itu, Adelia menantu saya?!" Hadi dengan gemetar menunjuk ruang UGD.
"Betul. Dan Pak Hadi ingin tahu, siapa pemilik mobil tersebut?" Albi mencoba bertanya kepada Hadi tentang rasa keingintahuannya.
"Tentu, saya ingin tahu Seseorang yang membawa Mobil itu, yang sungguh sengaja ingin melukai menantu saya," Hadi dengan antusias ingin tahu siapa di balik kemudi yang sengaja ingin menabrak Adelia.
"Saya sudah selidiki, dan berhasil mendapatkan nama pemilik mobil tersebut dari pihak kepolisian. Namanya, Alinda Sailandri istri dari Rony Darmawan," Albi memberitahukan dengan sengaja ingin melihat respon dari Hadi.
Hadi melotot, "Benarkah?"
"Iya sangat benar. Bukankah, Rony Darmawan adalah sahabat baik anda Pak Hadi?"
"Benar, tapi hanya bagi saya yang mengakui kami bersahabat baik. Tapi tidak dengan dirinya, yang merupakan musuh dalam selimut," Hadi dengan lirih mengatakannya.
Albi menautkan kedua alisnya tidak mengerti.
"Saya belum paham Pak Hadi. Maaf bukan saya ingin urus campur dalam masalah Pak Hadi. Tapi saya akan menawarkan bantuan, jika Pak Hadi berkenan," Albi menawarkan diri untuk membantu Hadi. Membuat Hadi mengulas senyum senang.
"Terima kasih sebelumnya juga, Tuan Albian. Tentu saya sangat senang mendengarnya. Namun, boleh saya bertanya? apa Tuan Albian teman Rasya anak saya?" Hadi ingin tahu lebih dahulu tentang keberadaan Albi di antara Adelia dan Rasya.
Albi menggelengkan kepala, "Saya bukan teman dari anak Pak Hadi, melainkan dari istri anak Pak Hadi yaitu Adelia," jawab Albi dengan mengakui Adelia sebagai teman.
Hadi mengangguk paham. "Jadi apakah Tuan yang tadi menolong menantu saya?" tebak Hadi.
"Iya. Untung saya tidak telat," ujar Albi. "Tolong Pak ceritakan ada masalah apa, sehingga Adelia menjadi sasaran sahabat Pak Hadi tersebut?" ucap Albi kembali dengan menyuruh Hadi untuk menceritakan masalah yang kini Hadi hadapi.
Hadi dengan menghirup nafas berat, mau tak mau ia harus menceritakan masalalu yang belum terungkap kepada Albi. Karena Hadi yakin bahwa Albi akan bisa membantunya. Hadipun menceritakan tentang pembunuhan adiknya yang belum terungkap, dan kecelakaan keluarga Adelia. Lalu perusahaan Wira ayah Adelia yang tiba-tiba bisa berada di tangan Rony. Sehingga membuat Hadi ingin mencari tahu kembali masa lalu yang tidak menemukan bukti-bukti, siapa yang bersalah.
Albi yang mendengarkan secara seksama, ia menghela nafas, "Ini sangat janggal ya, Pak. Apa Pak Hadi akan mempercayakan kepada saya, bahwa saya bisa membantu Pak Hadi?"
"Tentu saya percaya. Tapi, apa saya tidak merepotkan Tuan?"
Albi menggeleng, "Saya tidak merasa di repotkan. Apalagi masalah anda yang bersangkutan dengan Adelia, saya ingin cepat menuntaskannya, agar keluarga anda tenang, begitupun dengan Adelia" tutur Albi.
__ADS_1
Hadi terdiam mencerna apa yang barusan Albi katakan, Albi mengulang-ulang nama Adelia dalam ucapannya, membuat Hadi berasumsi lain tentang apa hubungan antara Albi dengan Adelia.
"Baik Tuan. Kalau begitu saya akan serahkan semuanya kepada Anda," ucap Hadi. "Dan rencana yang sudah di lakukan Rasya, akan di hentikan," lanjut Hadi di dalam hati.
Rara yang sedari tadi sengaja tidak menguping, berdiri di depan kaca ruang UGD, melihat keadaan Adelia yang belum juga sadar. Terdengar suara nada dering, dari ponsel Adelia yang berada di dalam tas, yang sedari tadi Rara genggam. Membuat Rara membuka tas Adelia, dan meraih ponsel Adelia. Namun, saat Rara mau menjawab Albi sudah merebutnya terlebih dahulu.
"Jangan di angkat!" titahnya, dengan mengenggam ponsel milik Adelia.
Hadi yang memperhatikanpun bertanya, "Ada apa Tuan?" tanyanya.
"Saya sengaja ingin agar anak anda tenang dulu saat di kota B. Jadi saya tidak ingin menceritakan kepada Rasya, kalau Adelia sedang berada di Rumah Sakit," tutur Albi menyampaikan.
"Ya saya setuju Tuan. Walau bagaimanapun saya takut terjadi sesuatu pada anak saya di sana, kalau dia mengetahui istrinya sedang di rumah sakit," sahut Hadi menyetujui.
Rara pun akhirnya bisa berpikiran tenang, sedari tadi ia berpikir kalau Albi sengaja, agar bisa membawa Adelia dari Rasya. Suara hembusan dari rongga pernafasan Rara seakan menandakan dirinya kini merasa tenang.
"Om, Tante Lia sudah di beritahu belum? kalau belum, Rara saja yang memberitahu," Rara bertanya kepada Hadi.
"Sudah Om chat, Ra. Mungkin sebentar lagi datang," sahut Hadi.
Albi kembali fokus pada ponselnya, ia memerintahkan Dirga untuk mengundang Rony Darmawan untuk makan malam bersama, sebagai tanda kerja sama yang akan Albi setujui, kebetulan perusahaan Rony memberikan proposal pengajuan kerja sama kepada perusahaan Albi.
Albi merenacakan makan malam, bukan makan malam yang sebenarnya. Ia akan melakukan sesuatu untuk menjebak Rony.
"Lihat, siapa saja yang menyakiti Adelia. Maka aku tidak akan diam. Akan aku buat sengsara dengan caraku sendiri," batin Albi.
Tidak di pungkiri, dari dalam lubuk hati Albi. Albi masih mencintai Adelia. Sehingga saat Hadi mengatakan bahwa masalah Hadi, ada kaitannya dengan keluarga Adelia, membuat Albi merasa sedih serta iba. Bahwa Adelia di tinggalkan keluarganya secara tragis.
"Ya boleh Tuan. Kebetulan, saya belum makan siang," sahut Hadi menerima ajakan Albi.
"Ayo, Ra! sudah jangan di tangisi terus Adel-nya, lebih baik kita doakan untuk kesembuhannya, dan jangan membiarkan perutmu kelaparan," ajak Hadi dengan memberikan perhatian agar Rara tenang.
Rara mengangguk. Dan kini Albi, Hadi, berjalan menuju kantin Rumah sakit, di ikuti Rara dari belakang. Sebelumnya, Albi menyuruh suster untuk menemani Adelia terlebih dahulu selama mereka pergi ke kantin.
***
Rasya yang baru saja sampai di kota B, merasa khawatir karena Rasya yang akan memberitahukan Adelia perihal perjalanannya sampai, Adelia tidak menjawab panggilan teleponnya.
"Semoga kamu baik-baik saja sayang ... aku berjanji setelah selesai, aku akan cepat pulang" gumam Rasya dengan menatap layar ponselnya. Rasya masih terduduk di dalam mobil. Padahal Aldi sudah membukakan pintu untuknya. Entah kenapa hati Rasya mendadak tidak tenang.
Ariyanti yang terduduk di jok belakang bersuara, "Pak Rasya, ayo sekarang kita survey bangunan itu!" ajak Ariyanti dengan tersenyum manis, tapi tidak mendapat respon dari Rasya.
Ariyanti tersenyum puas karena melihat wajah Rasya yang panik. Dan Ariyanti sudah mengira bahwa Adelia saat ini sudah kecelakaan, karena Alin berhasil menabraknya.
"Aku gak sabar untuk mendengar kabar dari Mama," gumam Ariyanti di dalam hati seraya turun dari mobil.
Rasya pun keluar melangkah dengan semangatnya yang seakan tiba-tiba menghilang. Rasya yang sedang berjalan ke arah Gedung berlantai lima yang sudah jadi 100%, membaca pesan yang masuk pada ponselnya. Dan pesan yang masuk adalah dari Hadi.
__ADS_1
["Fokuslah men-survey, dan jangan khawatirkan Adelia! dan satu lagi selidiki Ariyanti!"]
Rasya akhirnya merasa lega, jika ia tidak boleh mengkhawatirkan istrinya itu. Dan kini Rasya berjalan dengan langkah lebar, meneliti bangunan yang sudah di selesaikan oleh pekerja dari Albian Company.
"Bentar. Kenapa Papa seakan tahu kalau aku sedang mengkhawatirkan Adelia? atau Adelia sudah berada di rumah," Rasya berbicara di dalam hatinya.
Ariyanti yang melihat Rasya berjalan ke arahnya langsung tersenyum, "Sayang, bagaimana kalau kita menginap saja?" ajaknya dengan berbisik.
"Sorry, aku akan segera menyelesaikan semuanya. Maka tak perlu harus menginap," sahut Rasya datar. Rasya langsung melangkah untuk melihat-lihat bangunan itu.
Ariyanti yang sedari tadi di cuekin Rasya merasa geram. Dan Aldi yang melihatnya merasa curiga.
"Pak Hadi tadi memerintahkan aku, untuk memperhatikan gerak gerik Mbak Ariyanti," gumam Aldi dengan terus menatap Ariyanti dari arah belakang.
Dan saat Aldi akan ke sebuah ruangan. Langkahnya terhenti saat mendengar nada dering ponsel Ariyanti.
Aldi langsung mengeluarkan ponsel miliknya dan menyalakan fitur rekaman suara, untuk bukti laporan kepada Hadi.
Mulai terdengar oleh Aldi, Ariyanti sedang berbicara pada seseorang dari balik ponselnya.
Dan kebetulan posisi Ariyanti berada di balik dinding, tempat Aldi kini.
"Apa Mama gagal menabrak wanita itu?"
"...."
"Kok, bisa ada yang nolong sih?"
"...."
"Padahal aku sudah membayangkan bahwa wanita itu sudah terkulai tak berdaya, atau mati sekalian,"
"...."
"Coba, Mama cari cara lain untuk mencelakainya. Atau bunuh saja sekalian,"
"...."
Terdengar helaan nafas panjang dari Ariyanti setelah selesai berbicara dengan yang menelponnya.
"Lihat, Adelia kau akan segera enyah dari muka bumi ini. Dan tak akan ada penghalang bagi aku dan Rasya," gumam Ariyanti yang bisa terdengar jelas oleh Aldi, dan berhasil terekam.
Aldi melotot, dengan cepat-cepat menaruh hasil rekaman itu di pastikan telah berhasil terekam. Aldi dengan langkah pelan meninggalkan tempat itu, agar tidak di ketahui oleh Ariyanti.
"Mbak Ariyanti ternyata jahat, ingin mencelakai Mbak Adel," gumam Aldi seraya berjalan.
"Apa aku katakan saja kepada Pak Rasya?" gumam Aldi kembali.
__ADS_1
...***...
...Bersambung....