
Setelah ungkapan dan perlakuan Aldi yang membuat Serly serta Kevin syok. Pelayan datang menghidangkan makanan yang sudah mereka pesan. Lalu keadaan kembali hening.
Serly benar-benar merasakan detak jantungnya seakan terhenti. Mendengar pengakuan Aldi dan perlakuan Aldi saat tadi. Hingga Serly berharap jika Aldi serius tidak main-main, bukan hanya untuk membuat Kevin panas saja.
Sedangkan Kevin menjadi diam, ia tadi sempat mengucapkan kata selamat kepada Serly yang sudah menemukan tambatan hatinya, walau di dasar hatinya terasa perih.
*Flashback on*
Beberapa menit yang lalu...
"Kami baru jadian," pungkas Aldi dengan menatap penuh cinta pada wajah gadis yang di cintainya itu.
Kevin dengan hatinya yang terasa perih, memaksakan senyum kepada mereka berdua.
"Selamat Ser ... akhirnya kamu memiliki tambatan hati. Semoga hubungan kalian awet, hingga jenjang pernikahan, dan memiliki keturunan. Selamat!" Kevin tersenyum dengan getir. Menyadari perasaannya yang terlalu dalam kepada gadis tersebut. Kini perasaannya harus terpaksa ia buang, mengenai gadisnya sudah di miliki orang.
"Aamiin ... terima kasih," jawab Aldi dengan antusias. Sedangkan Serly terdiam ia masih tercengang dengan kejadian barusan yang tak pernah ia duga.
Lalu datanglah pelayan menghidangkan pesanan mereka.
*Flashback Off*
"Aku duluan ya, biar pesanan kalian aku yang bayar," kata Kevin seraya berdiri setelah usai menghabiskan makanannya.
"Eh jangan. Gak perlu di bayarkan,"tolak Aldi dengan ikut berdiri dan menatap Kevin.
Kevin tersenyum tipis, "Gak apa-apa, anggap saja ucapan selamat ku yang kesekian kalinya atas hubungan kalian," katanya tidak mau di tolak. "Aku pamit ya," Kevin menatap ke arah Serly. Dan Serly menjawab dengan mengangguk.
Lalu Kevin melenggang pergi meninggalkan Serly dan Aldi.
"Mau kemana lagi?" pertanyaan Aldi membuat Serly mendongak.
"Cari sepatu, sama pakaian" ujar Serly. Mencoba merasa tenang.
"Jangan katakan itu semua untuk adik, dan ibu ku?" Aldi memastikan apa yang Serly akan beli untuk adik dan ibunya. Maka ia akan menolak saat ini juga.
"Iya. Kak Rasya sendiri 'kan yang nyuruh aku untuk membeli buah tangan untuk Kak Aldi bawa pulang. Jadi aku memilih itu semua," tegas Serly.
Aldi menggeleng. "Tidak perlu."
"Jangan menolak. Lagian yang aku belikan buat adik dan Ibu kak Aldi," kata Serly tidak mau di tolak. Ia kemudian berdiri di susul dengan Aldi.
Aldi masih menenteng paper bag yang berisikan tas yang sudah Serly tadi beli. Kini ia mengikuti langkah Serly yang menuju stand pakaian.
"Adik kak Aldi usianya berapa?" Serly sebenarnya tahu, namun ia basa-basi saja ingin mendengar suara dingin pria yang di cintainya itu. Agar terlalu canggung.
"Seumuran sama kamu," jawabnya.
"Emang, kakak tahu umur aku berapa?" tanya Serly sengaja.
__ADS_1
"19 tahun," sahutnya.
"Kak Aldi benar," kata Serly dengan tatapannya mulai menatap sebuah butiq yang menurutnya lengkap.
Serly masuk, dan masih tetap di ikuti oleh Aldi. Serly mulai asyik memilih berbagai dress.
"Serly," panggil Aldi yang di belakangnya.
"Iya?" Serly menoleh kebelakang menatap wajah Aldi.
"Maaf soal tadi," ucap Aldi mengingat atas kejadian tadi saat di Cafe.
Serly terdiam. Ia berpikir Aldi minta maaf atas pengakuannya, atau tentang perlakuannya yang mengecup punggung tangannya.
"Apa kakak meminta maaf soal pengakuan kakak?" Serly akhirnya menanyakan perihal pikirannya.
Aldi mengangguk, "Iya soal pengakuan itu juga, saya minta maaf. Saya telah lancang mengakui kamu sebagai pacar. Padahal, semalam ungkapan saya belum jelas kamu terima,"
Serly tertegun mendengarnya.
"Terus soal tadi saya menyentuh tangan dan mengec--"
Serly cepat-cepat membekap mulut Aldi dengan mengedarkan pandangannya.
"Kak Aldi, jangan di ingatkan aku malu," katanya dengan pipinya sudah merah merona. Dengan mulut yang masih di bekap oleh tangan Serly. Aldi menyunggingkan senyumannya.
Serly baru sadar bahwa tangan kanannya membekap mulutnya Aldi. Setelah merasakan sentuhan tangannya dengan bibir Aldi yang lembut Serly cepat-cepat menjauhkan tangannya.
Aldi tersenyum merasakan gemas pada gadis yang di cintainya itu.
"Iya gak apa-apa," kata Aldi membuat Serly mendongak menatapnya.
"Lalu bagaimana? em ... soal semalam. Apa ada jawaban?" Aldi memberanikan untuk menanyakan perihal dirinya di terima atau tidak. Padahal ia ingat betul semalam ia berjingkrak setelah mendengar penuturan Serly.
"Apa kakak tidak mendengarkan saat aku mengatakannya saat semalam. Hingga aku menolak rencana perjodohan Papa," kata Serly mengingatkan kembali ucapannya yang mengatakan bahwa dirinya juga mencintai Aldi.
Aldi menatap Serly dengan diam. Mencari tatapan Serly yang memancarkan tatapan yang berbeda saat ini. Apa mungkin dirinya baru saat ini memperhatikan?
"Maaf, Mas sama Mbak nya kalau mau pacaran di tempat lain saja! di sini banyak pelanggan yang datang dan merasa terganggu dengan kehadiran kalian," Suara pelayan Butiq membuat keduanya terperanjat.
"Maaf Mbak," kata Serly dengan cepat mengambil Dress yang sudah ia pilih menuju kasir.
***
"Ya Tuhan memalukan," ucap Serly saat kini sudah berada di perjalanan pulang. Ia mengingat saat di butiq tadi yang di tegur oleh salah satu pelayannya.
Aldi hanya mengangguk saja.
"Kak, apa sudah cukup oleh-oleh untuk adik dan ibu kakak?" Serly menanyakan tentang barang-barang, serta makanan yang sudah di belinya kepada Aldi.
__ADS_1
"Cukup. Lagian kenapa harus banyak begitu. Saya gak enak jadinya," sahut Aldi dengan menatap ke arah jalanan.
"Di enak-enak aja kak ... gak usah seperti itu," kata Serly membuat Aldi menoleh sebentar ke arahnya.
Hampir tiga puluh menit. Akhirnya mobil yang Aldi bawa masuk ke pelataran halaman rumah keluarga Rasya.
Saat Serly akan melepaskan seat belt. Aldi mengajak berbicara serius perihal hubungannya.
"Ser, bagaimana?" tanya Aldi langsung tanpa menjelaskan apa yang ia tanyakan.
Serly menatap Aldi, "Bagaimana apanya, kak?"
Aldi menjadi gugup, ia menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
"Em ... tentang semalam itu. Apa kita resmi menjadi sepasang kekasih?"
Serly tertegun. Kemudian ia tersenyum mengangguk.
Begitupun dengan Aldi. Ia tersenyum lebar. Membuat Serly begitu terpesona melihatnya.
"Terima kasih. Kamu sudah mau menjadi kekasih saya. Mudah-mudahan kamu tidak menyesalinya," ucap Aldi begitu serius dari raut wajahnya.
Serly menggeleng, "Justru aku yang berterima kasih sama kakak. Kakak ternyata mencintai aku juga. Aku tidak akan pernah menyesalinya, sungguh aku bahagia tidak pernah menduganya,"
"Bentar, kamu bilang saya mencintaimu juga? berarti kamu selama ini ...," Aldi menebak kata-kata Serly dengan menyunggingkan senyuman.
Serly mengangguk dengan tersenyum malu-malu. "Aku mencintai kamu kak Al, aku diam-diam mencintai kamu ...," ujarnya dengan langsung menyembunyikan wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.
Aldi gemas melihatnya. Perlahan ia meraih tangan Serly, sehingga semburat merah di wajah gadis tersebut terlihat olehnya.
"Terima kasih," kata Aldi kembali berterima kasih.
Serly mengangguk.
Aldi menatap Serly dengan lama. Membuat Serly benar-benar merasa malu serta canggung.
"Kak, jangan natap aku seperti itu!" Serly dengan menundukkan wajahnya.
"Saya ingin menikmati keindahan yang diciptakan Tuhan. Besok saya akan pulang ke kota B. Dan saya takut tidak bisa melihat wajahmu yang cantik ini," dengan mata Aldi terus menatap wajah Serly.
Blush
Serly merasakan senang beserta malu. Mendengar pria yang di sampingnya, yang biasanya berucap datar dan dingin, kini memuji kecantikan wajahnya. Ah ... Serly benar-benar terasa terbang melayang di buatnya.
...***...
Terima kasih yang sudah setia baca cerita author.
Semoga sehat selalu.
__ADS_1
Jangan lupa Like, Comment, dan Vote-nya!!!