
Adelia terbangun dari tidur siangnya. Ia tersenyum saat suaminya memeluk tubuhnya dengan posesif. Adelia dengan berhati-hati mengangkat tangan Rasya yang melingkar di perutnya. Kemudian setelah terlepas, Adelia langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Suara gemercik air dari kran membangunkan Rasya. Ia mengerjap matanya dan tidak menemukan Adelia di sampingnya. Setelah mendengar air kran yang mengalir dari balik kamar mandi. Rasya pun menduga di dalam adalah istrinya.
Rasya bangkit dari ranjang. Dan saat ingin beranjak. Ia melihat pintu kamar mandi yang sedikit terbuka. Rasya geleng-geleng kepala. Merasa istrinya telah ceroboh sampai tidak menutup pintu kamar mandi tersebut dengan benar. Ia bergegas mendekati pintu kamar mandi yang sedikit terbuka itu. Namun, ia penasaran sedang apa istrinya di dalam. Dan Rasya melotot, bahkan mulut nya menganga menatap Adelia yang sedang berdiri mandi di bawah guyuran shower tanpa sehelai kain.
Rasya dengan menelan saliva. Ia mengendap masuk. Dan dengan gerak cepat membuka seluruh pakaiannya, yang ia kenakan. Setelah tubuhnya polos. Ia langsung berdiri di belakang Adelia yang kini sedang menyabuni tubuhnya. Rasya langsung memeluk Adelia dari belakang. Hingga Adelia menjerit karena kaget.
"Ahhhhhhh"
"Ini aku," bisik Rasya dengan tangannya kini sudah berselancar di tubuh sang istri.
"Mas, aku kaget tahu!, terus ngapain sih kok ikut mandi bareng?" pekik Adelia dengan nafas yang terengah-engah karena ulah tangan Rasya, ia menahan desiran di sekujur tubuhnya.
"Salah kamu sih, gak tutup pintu!, makanya aku jadi ingin ikut mandi," ucap Rasya seraya ia terus mengecup leher belakang Adelia.
Sehingga Adelia melenguh, dan menutup kedua matanya.
"Mas, kalau mau mandi jangan begini!"
"Aku ingin bermain dulu, Sayang ...," ucap Rasya dengan nafas memburu. Hasrat sudah menguasai seluruh tubuhnya.
Adelia sudah mengerti apa yang di maksud kata bermain yang Rasya ucapkan. Tapi, masa iya harus di dalam kamar mandi. Begitu pikiran Adelia.
"Mas, jangan di sini!" Adelia kini ingin melepaskan tubuhnya yang sedari tadi di gerayangi Rasya.
"Gak apa-apa Sayang, gaya baru! kita belum pernah melakukannya, di kamar mandi. Yang tepatnya kita Make love at bathroom," ucap Rasya dengan senyuman nakalnya.
"Ya sudah. Tapi jangan lama-lama," Adelia akhirnya pasrah.
Tentu Rasya langsung beraksi. Karena sudah mendapat persetujuan dari sang istri. Rasya langsung menautkan bibirnya dengan bibir Adelia di bawah guyuran shower tersebut. Tangannya pun beraksi. Sebelah di gundukan, dan sebelahnya lagi menggeryangi punggung Sang istri.
Sungguh ini adalah hal baru bagi keduanya. Guyuran air yang dingin pun tidak berasa. Karena gejolak hasrat dari keduanya membuat rasa dingin berubah menjadi hangat. Adelia yang mendapat sentuhan-sentuhan dari tangan nakal Rasya. Ia memejamkan kedua matanya. Menikmati setiap sentuhan-sentuhan tersebut. Hingga tangan Rasya kini bermain di area pribadi miliknya. Membuat tubuh Adelia menggelinjang, menahan desiran-desiran yang Rasya berikan.
"Mas," ucap Adelia dengan parau. Ia ingin sekali cepat menuntaskan hasratnya.
"Apa, Sayang?" sahut Rasya tidak kalah parau suaranya. Bahkan tatapan penuh hasrat menyelimuti netra manik matanya.
"Aku gak kuat,"
Rasya tersenyum. Kini ia menuntun istrinya untuk berdiri tepat washtafel. Membuat Adelia kebingungan.
__ADS_1
"Mas, apa kita akan melakukannya di sini?"
Rasya mengangguk. Dan tubuh Adelia kini ia hadapkan ke washtafel. Lalu Rasya melakukannya dari arah belakang. Membuat Adelia merasakan hal yang baru kembali. Tapi ia tidak menolak. Bahkan meresapi dan menikmati setiap apa yang Rasya lakukan. Gerakan Rasya yang lembut. Membuat Adelia semakin terbuai. Hingga beberapa saat pelepasan pun akhirnya terjadi. Rasya mendekap erat tubuh Adelia dari belakang. Dengan mengucapkan kata-kata.
"Terima kasih, Sayang" ucap Rasya dengan nafas terengah-engah.
Adelia hanya tersenyum saja. "Mas, aku mau bersihkan badan dulu," ucapnya seraya mengurai pelukan Rasya.
"Barengan," sela Rasya langsung mengikuti Adelia.
Adelia mendelik, seperti tidak percaya bahwa Rasya akan hendak mandi bareng saja.
"Tenang. Aku serius sekarang. Kita hanya mandi," ujar Rasya karena tahu arti mata Adelia mendelik.
Dan akhirnya Adelia mandi bersama Rasya. Dengan mandi yang sebenarnya. Dengan sesekali Rasya yang nakal ingin menyabuni tubuh istrinya. Namun, dengan cepat Adelia menolaknya.
***
Di Tempat lain...
Albi terbangun. Sedari pagi ia menangis hingga tertidur. Ia kini sadar bahwa semua yang di lakukannya adalah suatu kesalahan besar. Memanfaatkan Adelia yang amnesia. Dan di tambah membohongi seluruh keluarganya.
Parfum pria? batin Albi bertanya.
Albi mencari jejak Alsa. Tapi ia tidak menemukan apapun. Saat ke kamar mandi. Ia menemukan perlengkapan mandi pria yang tersusun di rak sabun.
Apa Alsa adalah seorang pria? lagi-lagi Albi bertanya dalam hatinya.
Albi kini keluar dari kamar yang di tempati Alsa. Dengan beragam pertanyaan memenuhi pikirannya. Dan ia beranjak ke dalam dapur. Ia membuka lemari pendingin. Mencari makanan instan untuk ia masak. Padahal bisa saja Albi memesan secara online. Namun, Albi tidak mau lama menunggu.
Dan akhirnya Albi menemukan makanan instan dari brand ternama, yaitu Chiken teriyaki with rice. Makanan tersebut Albi masukkan ke dalam microwave. Hingga beberapa menit makanan itu cepat tersaji.
Albi melahap makanan itu dengan menatap kursi yang selalu Adelia duduki. Bahkan mata Albi menelusuri ruang dapur tersebut. Ia melihat banyak stok susu hamil yang berjejer di atas kitchen set berpintu kaca. Membuat ia teringat akan dirinya yang selalu menyeduhkan susu tersebut untuk Adelia minum.
Ya Tuhan ... Sesak sekali rasanya. Semoga aku bisa bertemu kembali dengan mu, Arumi ...
Albi melahap makanan itu dengan cepat. Ia langsung bergegas keluar. Menghampiri mobil, dan masuk ke dalamnya. Ia akan bergegas ke Cafe Bondan. Albi ingin meminta informasi tentang Rasya.
Selang beberapa menit, mobil yang Albi kendarai terhenti tepat di depan halaman Cafe Bondan yang Albi tuju. Ia langsung masuk. Dan meminta pelayan untuk memanggil pemilik Cafe tersebut.
Sebelum menunggu kedatangan pemilik Cafe, Albi mencari tempat duduk terlebih dahulu. Tak harus menunggu lama. Pemilik Cafe kini sudah menghadap di depan Albi.
__ADS_1
"Selamat sore Tuan Albian," sapa pemilik Cafe, yang bernama Bondan. Pria mapan yang sudah berkepala tiga namun, belum berumah tangga.
"Selamat Sore, Pak Bondan," sahut Albi.
Kini Bondan sudah duduk di kursi yang berhadapan dengan Albi.
"Apa gerangan Tuan menemui, saya?" tanya Bondan dengan hati-hati karena tahu siapa orang yang berhadapan dengannya kini. Seorang Pengusaha Muda yang memiliki saham di berbagai perusahaan.
"Saya, langsung saja dengan maksud saya menemui Pak Bondan, Saya ingin tahu tentang penyanyi pria saat itu?"
"Rasya?"
Jadi Nama pria itu Rasya? batin Albi karena baru tahu namanya.
"Iya penyanyi yang waktu itu," sahut Albi mengingatkan.
"Rasya sudah sebulan lebih tidak nyanyi di sini Tuan. Semenjak kejadian itu. Dia tidak datang lagi ke Cafe ini," ucap Bondan.
Sebulan lebih?. Apa jangan-jangan Alsa adalah Rasya??. batin Albi.
"Anda tahu apa alasannya tidak bernyanyi lagi?" Albi kepo.
"Saya tidak tahu Tuan. Bahkan temannya juga tidak mengetahui. Padahal performa dia di sini, membuat pengaruh besar terhadap Cafe saya, dan semenjak Dia tidak ada. Cafe saya kembali sepi," ujar Bondan.
"Apa Pak Bondan tahu alamat rumahnya?"
Bondan menggeleng, "Tidak Tuan. Tapi keponakan saya yang tahu," sahutnya.
Albi mengeluarkan kartu nama dari dompetnya, kemudian ia taruh di hadapan Bondan. "Ini kartu nama saya. Kalau ada informasi tentang penyanyi itu. Tolong hubungi saya, dan tenang jika anda menginformasikan kepada saya. Saya akan memberikan jaminan yang setimpal," ucapnya.
Wah Tuan Albi akan memberikan reeward kalau aku sampai memberikan informasi tentang Rasya?. Ini kesempatan emas buat ku. Batin Bondan senang.
"Tentu Tuan. Akan saya hubungi Tuan. Jika saya mendapatkan informasi tentang Rasya," ucapnya.
"Baiklah. Semoga anda bisa saya ajak kerja sama. Dan terima kasih atas waktunya,"
Albi akhirnya pergi meninggalkan Cafe tersebut. Dengan perasaan yang mulai tenang. Ia akan menunggu informasi dari Bondan saja. Tanpa harus pergi ke sana ke mari mencari keberadaan Rasya.
...***...
...Bersambung....
__ADS_1