
Happy reading.
Adelia yang baru saja menemui ibu-ibu yang sudah lama menunggu nya tersenyum ramah.
"Maaf Bu, lama menunggu," kata Adelia meminta maaf kepada tiga ibu-ibu yang sudah duduk di kursi depan Toko Kue nya.
"Ya gak apa-apa Neng, untung Si Neng nya cantik. Jadi kita gak apa-apa nunggu lama juga," sahut salah satu dari tiga ibu-ibu itu.
Ya Ampun Ibu ini. Kalau aku gak cantik apa aku akan di marahi?. Duuh ada-ada saja. Gumam Adelia di dalam hati.
"Em... Ibu mau beli kue apa?," tanya Adelia mempercepat.
"Saya tadi sudah lihat-lihat red velvet, saya mau dua," kata ibu berbaju putih.
Adelia pun langsung membuka pintu ettalase kaca nya, dan mengeluarkan Kue Red Velvet itu dan di masukkan ke dalam Paper bag.
"Ini semua tiga ratus ribu," ujar Adelia.
Ibu itu pun menyerahkan uang yang sesuai Adelia sebut.
Sedangkan Ibu yang berbaju hitam menunjuk ke arah Kue yang lain.
"Saya ingin Kue itu Neng," tunjuk ibu berbaju hitam ke arah kue Brownies.
"Ini Seratus lima puluh ribu Bu," ucap Adelia.
Ibu berbaju hitam pun membayar sesuai apa yang di ucapkan Adelia.
Tinggal Ibu yang berbaju Merah. Terlihat sedang kebingungan untuk menentukan Kue yang mau di belinya.
"Ibu mau kue yang mana?," tanya Adelia.
"Ibu bingung Neng, semuanya terlihat begitu enak sepertinya. Tapi Saya tidak mungkin membeli semua."
Adelia hanya tersenyum menanggapi.
"Yang itu saja Neng," tunjuk Ibu berbaju merah tersebut ke arah Rainbow Cake.
"Berapa biji, Bu?," tanya Adelia.
"Satu saja Neng, besok saya mau ke sini lagi nyoba rasa yang lain," sahut ibu tersebut.
"Ya Bu, silahkan."
Adelia tersenyum bahagia kebanyakan yang membeli Ibu-ibu yang bersikap ramah tidak ada yang bersikap arogan. Seakan Adelia di akui sebagai warga di kampung itu.
Setelah Ibu yang berbaju merah membayar, mereka pun langsung meninggalkan toko kue Adelia.
__ADS_1
Adelia berniat duduk di kursi yang tersedia di depan toko itu, namun tiba-tiba Adelia melihat kedatangan tiga wanita yang seumuran dengan dirinya mendatangi bengkel. Adelia hanya bisa melihat nya saja dan fokus menatap ke arah tiga wanita tersebut yang langsung mendatangi Aldi.
Apa salah satu dari wanita itu pacarnya Aldi?. Syukurlah jika Aldi sudah punya pacar sekarang, setidaknya Aldi benar-benar normal. Batin Adelia membicarakan Aldi yang mengingat akan ucapan ibu Aldi waktu itu menyebutkan bahwa Aldi seperti tidak normal.
"Sayang...." sapa Rasya dengan memeluk pinggangnya dari belakang.
"Eh Mas, lihat deh ada tiga cewek nyamperin Aldi," kata Adelia dengan matanya masih menatap ke arah tiga wanita yang kini sudah berbicara kepada Aldi.
"Wah, berita bagus itu. Setidaknya asisten ku itu benar-benar pria," celetuk Rasya sehingga membuat Adelia menoleh ke arahnya.
"Apa Mas sependapat dengan aku, bahwa Aldi seperti tidak menyukai lawan jenis?," tanya Adelia.
Rasya mengangguk. "iya Sayang," Rasya dengan mulai mencium tengkuk sang istri. Sontak Adelia yang sensitif di buat merinding, dan merasakan desiran menjalar ketubuhnya.
"Mas, gak enak kalau di lihat orang," pekik Adelia.
"Di kamar yuk!" ajak Rasya.
"Nanti saja ya, takut ada yang mau beli seperti tadi," tolak Adelia.
Rasya pun langsung duduk di sebelah istrinya itu dengan merangkul bahu sang istri.
"Okay, no problem Sayang. Yang penting aku gak mau jauh dari kamu."
"Eh Mas lihat, Aldi kok biasa saja kelihatan nya, malah Beni yang ngobrol sama cewek itu," tunjuk Adelia ke arah Bengkel yang di sebelah Samping Toko Kue nya.
Sontak Adelia terkekeh dan mencubit hidung mancung Rasya, "Mas bisa saja. Tahan sebentar ya, kasihan sekali Suami ku ini," ledek Adelia.
"Kalau kasihan, kasih dong! gimana kek caranya," ujar Rasya dengan wajah memelas.
"Eitsss... Sabar dulu. Nanti malam aja ya," kata Adelia dengan wajah yang meyakinkan. Ya walaupun ada rasa takut di dalam pikirannya tapi tidak mungkin Adelia menolak keinginan suaminya itu.
"Iya-iya, nanti malam. Kamu harus layani aku," bisik Rasya dan berlalu ke arah Bengkel .
Layani?. Astaga. baru saja mendengarnya saja aku sudah deg-degan. Batin Adelia dengan memperhatikan suaminya itu yang sudah duduk di depan Ivan.
"Loh, kok salah satu dari cewek itu ada yang lihatin Mas Rasya?."
Memang benar terlihat dari salah satu tiga wanita yang sedang duduk di depan Beni ada yang melihat ke arah Rasya, bahkan seperti terpesona kepada Rasya.
"Ben, Lu tahu cowok yang kini sedang duduk di depan Ivan?," tanya Wanita yang bernama Lula.
Beni langsung melihat ke arah yang tadi Lula bilang. "Oh, itu Bos kita." Membuat tiga wanita tersebut saling pandang.
"Lu pada kenapa?, tertarik?. Jangan deh, Bos gue udah punya bini," pekik Beni.
"What? udah punya bini," kata Lula dengan suara sedikit keras.
__ADS_1
"Mending lu deketin kita-kita. Udah single terus gak kalah cakep sama si bos," ucap Beni narsis.
"Lu narsis amat Ben, kita ke sini hanya ingin menemui Aldi. Tapi Aldi nya cuek gitu," ucap yang bernama Tira.
Tira adalah seorang gadis cantik yang sedari dulu menyukai Aldi, Ia selalu mengejar Aldi, walaupun selalu di cuekin sama Aldi, Tira tidak menyerah.
"Kenapa Lu kejar terus?, udah tahu Aldi cuek plus dingin sama elu," tanya Beni penasaran.
"Aku sangat mencintainya, Ben."
Beni hanya bisa mendengus menanggapi Tira yang blak-blakkan atas perasaan nya kepada Aldi.
"Terus Elu pada suka juga?," tanya Beni kini ke Lula dan Siska.
"Enggak gue cuma nganter Tira aja," jawab Siska dan diangguki oleh Lula.
"Mending sekarang pulang deh, gak enak gue sama bos. Gue jadi gak konsen ni lihat Lu pada di sini," usir Beni secara halus.
"Iya kita pulang, ayo Lula, Siska!," ajak Tira.
"Bentar, Eh Ben. Titip salam ya sama bos Lu," ujar Lula dengan cengengesan. Dan langsung dapat toyoran di kepala dari Tira.
"Gila Lu, udah tahu dia udah punya bini," protes Tira dan langsung melangkah menarik tangan Lula meninggalkan bengkel. Dan di susul oleh Siska.
Beni hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya menanggapi kelakuan Lula khususnya yang secara terang-terangan kepada dirinya menyukai sang bos.
Beni kini kembali fokus kepada pekerjaan nya. Rasya yang sudah tahu kepergian tiga wanita tersebut kini menghampiri ke arah Beni.
"Ben, tadi pacarmu?," tanya Rasya dan dengan langsung Beni menggelengkan kepalanya.
"Terus?," tanya Rasya kembali.
"Salah satunya ngejar-ngejar Aldi, tapi Aldi cuek banget. Aneh Bos, kalau aku yang jadi Aldi udah aku embat aja tuh cewek."
Beni sengaja suaranya di keraskan agar Aldi yang tidak jauh darinya bisa mendengar.
Namun Aldi tak terusik seakan ucapan Beni tidak terdengar di pendengaran nya.
"Mungkin Aldi sudah punya cewek yang lain?," ucap Rasya melayani Beni.
Beni langsung tertawa merasa mustahil akan ucapan si bos nya yang mengatakan Aldi sudah mempunyai seorang pacar.
"Tidak Bos. Jangankan punya pacar. Dekat sama cewek saja seperti tidak tertarik," ledek Beni kembali.
Aldi kini mendengus merasa kesal terhadap Beni dan Bos nya yang terang-terangan mengumpatnya.
Ternyata Ben sama Si Bos gak kalah bigos nya sama emak-emak yang lagi beli sayur kalau di tempat tukang sayur. Bahkan Bigosnya bar-bar banget. Umpat Aldi di dalam hati.
__ADS_1
...Bersambung....