You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 103.


__ADS_3

Happy Reading.


"Auw...." pekik Adelia saat menggeliat.


Sungguh perih bekas pergumulan semalam. Adelia mendudukan tubuhnya dengan pelan bersandar ke sandaran ranjang, dan meraih selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih polos.


Rasya mengerjapkan matanya saat ada pergerakan dari selimut. Rasya terbangun dan tersenyum, lalu ikut duduk bersandar di dekat istrinya.


"Sudah pagi?." tanya Rasya seraya mengecup kening istrinya.


Adelia lalu melihat ke arah jam yang menempel di dinding menunjukan jam 6 pagi.


"Iya Mas, sudah pagi" kata Adelia kemudian.


"Masih sakit?," tanya Rasya melihat istrinya sedikit meringis.


Adelia mengangguk.


"Kamu mau mandi sekarang?," tanya Rasya kembali.


"Iya Mas, aku mau mandi tapi--"


"Tunggu!! aku siapkan air mandinya dulu," kata Rasya seraya berjalan ke dalam kamar mandi dengan tidak memakai penutup apapun di tubuhnya, hingga Adelia merasa malu saat melihatnya Ia pun memilih menatap ke arah lain agar tidak melihat tubuh sempurna milik suaminya itu.


"Ayo sayang, biar aku gendong," kata Rasya setelah keluar dari kamar mandi dengan masih berbadan polos tanpa penutup.


"Tapi Mas--"


"Tapi apa? sudah gak apa-apa. Hanya kita di rumah ini," Rasya tahu istrinya itu protes karena dirinya tidak memakai dulu pakaian nya.


Adelia pun diam, dan Rasya mulai mengangkat tubuh sang istri yang polos tanpa selimut. Ia menggendong sang istri untuk menuju kamar mandi. Rasya menelan salivanya melihat tubuh indah yang kini berada di dalam pegangan tangan nya. Bahkan Rasya kecil sudah mulai on kembali. Tapi Rasya tidak mau melakukan lagi saat sekarang karena kenyamanan sang istri yang Rasya khawatirkan saat ini toh nanti malam juga bisa melakukan kembali pikir Rasya.


"Kamu boleh berendam lama, agar rasa perih nya hilang. Aku mau mandi di kamar mandi yang lain," ucap Rasya dengan mengecup bibir sang istri, kemudian menurunkan tubuh sang istri secara pelan-pelan.

__ADS_1


Adelia hanya mengangguk, dan Rasya keluar dari kamar mandi bergegas mandi di kamar mandi yang lain.


Seperginya Rasya, Adelia tersenyum penuh arti Ia seakan menjadi seorang wanita yang begitu sangat di cintai oleh suaminya itu. Lalu Adelia mengelus perut ratanya berharap rahimnya akan cepat mendapatkan janin di dalamnya, sungguh Adelia sangat ingin cepat mendapatkan momongan karena Adelia pikir Ia sangat kesepian ingin ada teman berceloteh di dalam rumahnya.


Cukup lama Adelia berendam dalam air hangat, secara perlahan rasa perih tidak terlalu terasa, Adelia berdiri di bawah shower untuk membersihkan tubuhnya. Setelah merasa cukup Adelia pun meraih handuk dan melilitkan ke tubuhnya.


Adelia pun keluar dari kamar mandi lalu melihat jam dinding sudah menunjukan jam 8 lebih, Adelia cepat-cepat melangkah menuju lemari, tapi sudut matanya melihat ada sepasang pakaian di atas meja rias beserta pakaian da*amnya. Ternyata Rasya sudah menyiapkan baju ganti untuk sang istri, Adelia dengan tersenyum mengambil pakaian itu lalu memakainya.


Tidak butuh lama Adelia selesai dengan merias wajahnya dan melangkah menuju dapur. Tapi di meja sudah ada dua piring nasi goreng yang baru saja di buat terlihat dari kepulan asapnya.


"Pasti Mas Rasya yang membuatnya? tapi kemana dia?," gumam Adelia dengan melihat-lihat ke setiap sudut ruangan dapur.


Dan Rasya datang dari arah depan dengan tangan nya memegang sapu, sepertinya baru saja selesai menyapu. Adelia pun merasa tidak enak hati melihat suaminya menggantikan setiap kegiatan yang harus ia lakukan pagi ini.


"Mas, kenapa lakukan ini? ini semua tugas ku," pekik Adelia.


Rasya malah tersenyum dengan tangan nya santai menaruh sapu di sudut ruangan lalu melangkah menarik kursi untuk istrinya duduk.


"Terima kasih Mas, dan Mas tidak perlu meminta maaf. Ya sudah kita makan yuk, aku gak sabar ingin mencicipi nasi goreng buatan Mas," kata Adelia dengan antusias.


Rasya tersenyum dan merasa senang lalu mengangguk.


Mereka menikmati sarapan. Adelia merasa bahagia dengan perlakuan Suaminya yang lembut bahkan Suaminya itu melayani dengan sepenuh hati seakan Adelia merasa di manja.


...****************...


Di tempat lain.


Martin sudah sadar dari pingsan nya yang memakan waktu berhari-hari. Kini Ia bersandar di sandaran ranjang Pasien, Ia sudah di pindahkan di ruang rawat VIP. Dengan infus yang masih terpasang, dan dada-nya terlihat naik turun merasakan laju nafas yang tidak beraturan akibat sakit jantung nya.


Tante Meli setiap hari menunggu Martin, dan merawat Martin. Tante Meli merasa sedih melihat keadaan Martin yang menjadi seperti ini. Martin enggan berbicara, hanya anggukan dan gelengan kepala yang ia lakukan saat merespon. Tante Meli sekarang bahkan sudah tahu penyebab Martin seperti ini, Martin melampiaskan kekecewaan nya terhadap gadis yang sangat di cintainya melalui minuman yang terus ia minum, hingga Tante Meli ikut merasa sakit dan kecewa terhadap Adelia gadis yang membuat Martin menderita sakit seperti sekarang.


Tante Meli menatap Martin yang sedang melamun dengan rasa iba, sungguh Tante Meli sangat sedih melihatnya. Saat Tante Meli asyik menatap keponakan nya itu, tiba-tiba Dokter yang menangani Martin selama ini datang ke dalam ruangan.

__ADS_1


"Bu, saya ada sedikit usul. Bagaimana kalau Ibu dan Martin melakukan pengobatan di Luar Negeri. Karena di sini peralatan nya masih terbatas, dan belum canggih seperti di luar negeri sana. Terus Martin bisa mendapatkan suasana baru ketika nanti sembuh, agar tidak terbayang-bayang kenangan yang membuatnya kecewa selama ini."


Tutur Dokter itu memberi saran agar Tante Meli dan Martin pergi ke luar negeri, dab memberi saran lagi agar keadaan Martin mendapat suasana baru agar tidak terbayang kenangan yang tercipta di kota ini.


Tante Meli terdiam, lalu menatap keponakan nya. "Martin, apa kamu setuju, Nak?" tanya Tante Meli meminta persetujuan keponakan nya itu.


Seketika Martin mengangguk memberikan respon jawaban bahwa dirinya setuju untuk melakukan pengobatan ke Luar Negeri. Tante Meli pun tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Bahkan di dalam hatinya tercurah do'a kebaikan untuk kesembuhan keponakan nya itu.


Ya Tuhan berikanlah jalan dan Karunia-Mu. Sembuhkanlah Keponakan ku ini, dia cukup menderita dari sejak kecil telah kehilangan kedua orang tuanya. Dan jangan sampai dia merasa penderitaan untuk kedua kalinya karena kehilangan kekasih yang di cintainya.


Batin Tante Meli serah berdo'a untuk kesembuhan keponakan nya itu.


Tante Meli mengusap lengan Martin dengan lembut, dan berbicara dengan lirih yang masih ada Dokter memperhatikan nya.


"Tante Yakin kamu pasti sembuh, Nak"


Martin mengangguk.


Sungguh Tante Meli tidak bisa membendung rasa sedihnya hingga air mata yang tadi ia tahan seketika keluar melihat Martin yang menjadi tidak mau berbicara.


"Tenang Bu, Martin pasti akan kembali seperti biasanya. Percayalah!!" kata Dokter itu menenangkan Tante Meli.


"Semoga Dokter," lirih Tante Meli.


"Saya permisi, jika ada sesuatu cepat panggil saya," kata Dokter itu berpamitan dan mulai keluar dari ruang rawat Martin.


Kini Tante Meli menatap kembali ke arah Keponakan nya itu.


Penyebab nya adalah dari diri saya, yang tak bisa mendidik dan menjaga Rima putri satu-satunya. Jika Rima tidak melakukan kejahatan kepada Adelia. Mungkin Martin tidak akan menjadi seperti ini. Maafkan Tante, Martin...


Tante Meli berbicara di dalam hatinya, yang menyalahkan dirinya sendiri akan perlakuan Rima yang membuat Martin menjadi lemah seperti ini.


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2