You Are My Mine

You Are My Mine
Keputusan Adelia.


__ADS_3

"Apa?." Teriak Rara di ambang pintu Dapur.


Dan membuat seketika Adelia dan Yuda menoleh.


"Lu, sejak kapan ada di sana?." Tanya Yuda kepada Rara.


"Sejak Lu, ngomongin ada yang membuntuti Lu, lalu mengintip di balik kaca luar." Ucap Rara, dengan melangkah mendekati meja makan.


Adelia terdiam, ia kini bingung akan perasaan Yuda yang mengatakan bahwa ia mencintainya.


"Aku, ke kamar dulu." Pamit Adelia dengan cepat melangkah menuju kamar.


"Wah... ternyata Lu itu ada Udang di balik rempeyek yaa...." Rara kini meledek Yuda.


"Huss... Apaan sih Lu. Gue tulus mencintai Adel tanpa ada maksud apa-apa." Sahut Yuda.


Rara mengangguk-anggukan kepala nya.


"Tapi biarkanlah dulu Adelia sendiri. Seperti nya dia syok mendengar kamu, mengatakan yang sebenar nya. Adelia mungkin sedang berpikir."


Yuda pun dengan cepat mengangguk.


"Gue hanya cemas. Takut Rima datang dengan tiba-tiba tanpa sepengetahuan gue." Ucap Yuda.


"Iya juga sih. Tapi kalau Hanya Rima sendirian gue bisa hadapi nya. Ya kecuali kalau ia datang dengan orang-orang suruhan nya. Gue pasti gak mampu." Yakin Rara.


"Ya sudah gue nyusul Adel dulu ke kamar." Ucap Rara yang bergegas pergi menuju kamar.


Setelah sampai ke dalam kamar. Terlihat Adelia sedang duduk di tepi ranjang, ia sedang bermain dengan pikiran nya sendiri.


"Del...."


Adelia pun mendongak ke arah Rara.


"Iya..."


"Apa yang kini Lu pikirin?. Tentang Yuda yang mencintai kamu?." Tanya Rara.


Adelia mengangguk.


"Gue kasih saran aja ya. Jika kamu sudah membuka hati mu untuk orang lain, ya gak salah nya kamu terima Yuda. Tapi jika kamu masih belum bisa. Tolak saja, namun secara halus agar Yuda tidak sakit hati." Saran Rara, seperti yang sudah berpengalaman saja. Padahal ia belum pernah berpacaran pun.


Adelia pun terdiam mencerna apa yang di saran kan Rara.


"Kamu Benar Ra. Aku belum bisa membuka hati ku saat ini. Aku ingin menikmati kesendirian ku, setelah banyak rintangan akan dalam hidup ku." Tutur Adelia.


"Ya Gue setuju. Apa yang Lu rasa. Gue ngerasain nya." Ucap Rara.


"Ya sudah. Gue duluan ke tepi pantai ya. Lu kelarin dulu masalah Lu sama Yuda." Rara dengan cepat keluar kamar dan bergegas ingin pergi ke pantai untuk berjualan minuman.


Adelia pun yang sekarang merasa tenang, ia pun keluar dari kamarnya. Dan menghampiri Yuda yang sedang duduk di ruang tengah.


Yuda yang melihat Adelia menghampiri nya, ia pun tersenyum. Adelia juga membalas tersenyum. Setelah duduk di sofa hadapan Yuda. Adelia menghirup nafasnya dalam, ia merasa nervous, karena Yuda tidak mengalihkan tatapan nya dari Adelia.


"Yuda... aku ingin menyampaikan sesuatu." Adelia memberanikan diri untuk menatap Yuda yang sedang menatap nya.


"Apa?."


"Ehm... Maaf aku tak bisa membalas Rasa cinta mu." Adelia dengan serius menatap Yuda.


Yuda yang mendengarkan apa yang Adelia sampaikan Ia hanya tersenyum.

__ADS_1


"Kamu jangan marah ya Yud... aku hanya saat ini belum bisa membuka hati ku untuk orang lain, aku ingin menikmati kesendirian ku." Adelia dengan lirih.


Yuda pun hanya mengangguk, tersirat rasa kecewa di wajahnya namun ia tutupi dengan terus tersenyum kepada Adelia.


"Iya gak apa-apa Del. Aku ngerti koq, aku hanya orang baru yang datang kepada mu. Jadi aku tahu kalau kamu pasti masih meragukan aku. Namun aku minta, kamu jangan pernah menjaga jarak dengan ku, setelah kamu tahu bahwa aku mencintai kamu. Cobalah untuk terbiasa dengan ku, agar hati mu akan terbuka dengan sendiri nya." Yuda dengan menatap lekat wajah Adelia, ia berucap dengan serius.


Adelia pun mengangguk dan tersenyum.


"Del..."


"Iya..." Jawab Adelia.


Yuda langsung berdiri, dan duduk di sebelah Adelia. Kini Yuda dari jarak dekat menatap manik mata indah milik Adelia. Adelia yang merasa di tatap seperti itu, mengalihkan tatapan nya. Namun dengan cepat Yuda meraih dagu Adelia, agar Adelia menatap dirinya.


"Biarkan lah sebentar saja aku menatap mu."


Adelia pun menurut, dan kini bertatapan dengan Yuda.


Yuda menyunggingkan senyum nya. Tangan nya mulai terangkat untuk membelai pipi Adelia.


"Jika Hati mu sudah terbuka untuk ku. Aku mohon katakan lah dengan cepat." Bisik Yuda, dengan seketika hembusan nafasnya terhembus di telinga Adelia.


Adelia yang merasakan nya, langsung merinding. Adelia pun dengan cepat mengangguk.


......................


Martin ternyata hari ini sudah bisa di perbolehkan pulang, ia mendesak kepada Dokter untuk mengijinkan nya untuk pulang.


Dan Kini Martin tengah duduk di sofa dalam kamarnya, ia memandangi cincin yang masih melingkar di jari manis nya. Ia teringat akan dirinya melamar Adelia, dan menyematkan sebuah cincin ke jari Adelia, begitupun dengan Adelia yang menyematkan cincin di jari manis nya.


Tok...tok... tok...


Ada yang mengetuk pintu kamar Martin.


Dan Rima lah yang mengetuk pintu kamar Martin tersebut. Ia masuk dan menghampiri Martin. Ia duduk di sebelah Martin dengan tersenyum.


"Kamu jangan dulu ke mana-mana ya. Istirahat lah dulu." Rima dengan menggenggam tangan Martin.


"He-em..." Jawab Martin.


Rima kini merebahkan kepala nya ke dada milik Martin, Martin pun tidak menolak nya.


"Martin... kapan acara pernikahan kita?." Tanya nya mendongak wajah Martin.


"Entahlah. Aku belum memikir kan nya..."


Raut wajah Rima pun mendadak masam akan jawaban Martin, namun buru-buru ia merubah nya dengan wajah semanis mungkin.


"Ya sudah. Aku beri waktu kamu untuk berpikir." Rima yang kini tangan nya bermain-main di dada milik Martin.


Sontak Martin pun merasa ada aliran sesuatu yang menyengat dirinya, bagaimana tidak Rima memang sedang memancing Martin, tangan nya kini meraba-raba leher Martin, Martin pun hanya bisa menelan saliva nya.


Ketika Rima mulai meraba-raba bibir Martin, Martin dengan cepat melepaskan tangan Rima dan beralasan ia ingin ke kamar mandi.


"Maaf aku mau ke kamar mandi dulu." Ucap nya.


Rima pun tersenyum akan sikap Martin yang seperti salah tingkah, ia kini tersenyum menyeringai.


Ok. Kamu hari ini bisa menghindari ku. Tapi suatu saat nanti, kamu akan jatuh kepelukan ku. Bahkan nanti kamu sendiri yang akan mencium ku.


*Bathin Rima.

__ADS_1


Rima pun masih terduduk di sofa kamar Martin. Kemudian Martin pun keluar dari kamar mandi nya. Dan melihat Rima yang masih terduduk. Martin pun menghentikan langkah nya, dan berdiri mematung sejenak.


Koq Risih ya, Lihat Rima terus di sini.


Martin bergumam di dalam hatinya. Dan melanjutkan langkah nya, ia keluar dari kamarnya tanpa menyapa Rima terlebih dahulu.


Rima yang tahu Martin keluar, buru-buru menyusul nya.


"Martin kamu mau kemana?." Teriak Rima yang melihat Martin sudah menuruni anak tangga.


Martin pun mendongak ke atas, untuk menoleh ke arah Rima.


"Aku haus..."


Rima pun tersenyum lega, ia takut Martin pergi keluar. Karena Rima sangat mengkhawatir kan Martin.


Martin sudah sampai di dapur ia meraih air minum yang berada di dalam kulkas, dan ia pun duduk di kursi meja makan, lalu Martin pun meneguk nya. Terdengar suara langkah kaki mendekati nya, Martin pun menoleh.


"Tante...."


Tante Meli yang mendekati Martin, dan ia pun duduk di kursi dekat Martin.


"Martin, Tante ingin berbicara sama kamu."


"Silahkan Tante." Ucap Martin.


"Ehm... Apa benar kamu mau menikahi Rima?." Tanya Tante Meli.


"Iya Tante. Apa Rima sudah mengatakan nya kepada Tante?."


Tante Meli pun mengangguk.


"Apa kamu tulus melakukan nya?."


Martin terdiam sejenak. Ia memang melakukan nya hanya untuk membalas budi kepada Rima. Namun tidak mungkin Martin katakan kepada Tante Meli. "Iya Tante. Martin tulus." Ujar Martin.


"Syukurlah kalau memang kamu tulus. Tante hanya tidak mau kamu menikahi anak Tante karena terpaksa." Tante Meli dengan tersenyum.


"Tante ingin kamu membuka hati mu untuk Rima, belajarlah untuk mencintai nya. Agar rumah tangga kalian kelak, mendapat kebahagiaan." Tante Meli berpesan kepada Martin.


Dan Martin pun menjawab dengan mengangguk.


...****************...


Di Tempat Rasya.


Rasya memaksakan dirinya untuk memulai kembali hidup nya. Setelah mendengar Adelia meninggal, Rasya seperti kehilangan separuh hidup nya. Sungguh cinta Rasya kepada Adelia sangatlah dalam.


Rasya kini duduk di kursi dengan mata nya menatap semua pekerja nya yang sedang sibuk, ada yang sedang mengganti oli Motor, ada yang sedang memperbaiki mesin Mobil, bahkan ada yang sedang mencuci Mobil dan Motor. Bengkel Rasya memang di lengkapi dengan Cuci Mobil dan Motor. Walaupun Bengkel Rasya sudah banyak cabang nya, tapi ia senang dan nyaman berada di tempat yang sekarang. Mungkin karena tempatnya masih asri, dan Adem. Rasya begitu tenang berada di sana, sehingga beban pikiran nya yang berat selama ini seakan menghilang, jika Rasya tidak mengingat dengan sendiri nya.


"Al... sepertinya itu kurang kuat memasang baut nya." Rasya mengatakan pendapat nya, kala melihat Aldi yang sedang memasang mesin mobil.


"Sebentar Pak, saya akan cek lagi."


Aldi pun kembali mengecek hasil kerja nya, dan ternyata memang benar, Aldi tadi kurang kuat memasang baut nya. Aldi pun menguatkan kembali baut itu yang sedikit longgar. Lalu ia mencoba menstater, Aldi pun tersenyum kala suara mesin mobil itu hidup terdengar.


Aldi pun menutup penutup mesin nya. Lalu menghampiri Rasya yang sedang memperhatikan nya.


"Pak. Seperti nya pekerjaan saya sudah selesai. Bisakah saya pulang terlebih dahulu?." Tanya Aldi yang sudah selesai akan pekerjaan nya.


Rasya pun mengangguk, memberi ijin Agar Aldi bisa pulang.

__ADS_1


Bengkel Rasya buka hingga jam 9 malam. Dan setelah itu, Karyawan nya bisa pulang walaupun masih ada yang belum selesai. Kecuali ketika Pelanggan meminta Urgent, baru para karyawan nya menyelesaikan hingga luar jam kerja nya.


...Bersambung....


__ADS_2