You Are My Mine

You Are My Mine
Extra Part 5.


__ADS_3

Aldi yang bersikeras untuk memberikan biaya atas ganti rugi akibat kecerobohan Serly, tidak dapat sambutan baik dari Dido. Dido malah bersikeras menolak apa yang akan Aldi berikan. Namun, dengan tatapan Serly yang mengiba, serta ikut andil untuk membujuk Dido. Akhirnya Dido terpaksa menerima uang yang Aldi berikan.


Setelah perdebatan panjang antara Aldi dan Dido. Akhirnya kini Serly dan Aldi dalam perjalanan pulang. Dengan di ikuti oleh Dido di belakangnya menggunakan mobil Serly.


"Bagaimana caranya agar aku bisa dekat lagi dengan gadis itu?" Dido bermonolog seraya tangannya fokus pada setir. Dido seakan kehilangan akal, saat rencananya kini berhasil di gagalkan oleh Aldi.


Dido berpikir, dan tersenyum lebar saat mendapati ide yang cemerlang.


"Mungkin jujur lebih baik. Ya jujur lebih baik," Dido mendapatkan ide bagus. Ia akan mengungkapkan perasaannya saja besok saat di Kampus. Dido tidak mau kalah dengan Aldi. Karena dari tatapan Dido, bahwa Aldi mempunyai perasaan kepada Serly, terlihat dari cara menatap Serly dan memperlakukannya berbeda.


Hingga tidak berselang lama. Mobil Aldi masuk ke dalam halaman rumah keluarga Rasya, dan Dido mengikuti. Dido cepat turun dari mobil milik Serly itu dengan menghampiri Serly yang baru saja turun. Sementara Aldi langsung melajukan kembali mobilnya, dan meninggalkan kediaman Rasya.


"Serly," panggil Dido seraya mendekat.


"Iya, Kak" jawab Serly.


"Ini kunci mobil kamu," Dido seraya menyerahkan kunci mobil milik Serly ke dalam genggaman tangan Serly. Kemudian Dido menatap Serly dengan lama.


Serly hanya tersenyum, "Oh iya kak," sahutnya dengan cepat menatap ke arah lain.


"Serly, kamu sudah pulang?" tanya Rasya yang baru saja keluar rumah lewat pintu utama, dan menatap Serly yang berdiri dengan seorang pria.


Serly langsung menoleh ke arah Kakaknya, "Iya, kak" lalu menatap ke arah Dido yang masih berdiri di dekatnya.


Dido tersenyum ramah kepada Rasya. "Selamat malam, Kak" ucapnya membuat Rasya membalas senyuman dari Dido dengan anggukan kepala.


"Kamu pulang di jemput Aldi, kan?" Rasya ingin memastikan bahwa adiknya itu di jemput oleh Aldi sesuai keinginannya.


"Iya, Kak. Kak Aldi langsung pulang tadi," jawab Serly.


Rasya mengangguk, dan tatapannya kini mengarah kepada Dido. "Kamu, temannya Serly?"


Dido tersenyum seraya mengangguk.


"Temannya kenapa di suruh berdiri terus begitu, Ser?" Rasya kini menatap Serly.


Serly malah melongo, tidak mengerti apa maksud dari perkataan Kakaknya.

__ADS_1


"Sini, duduk di kursi!" ajak Rasya kepada Dido dengan Rasya seraya mendudukkan tubuhnya di kursi teras tersebut.


Dido tersenyum, dengan menurut mengikuti Rasya duduk. Serly yang baru saja paham, ia tersenyum tipis dan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


"Aku masuk dulu," pamit Serly kepada Dido dan kakaknya.


Dido mengangguk dengan tersenyum. Rasya malah memperhatikannya.


"Nama mu siapa?" tanya Rasya mulai mewawancarai pria yang mengaku teman adiknya itu.


"Nama saya, Dido Arlino" Dido dengan menyebutkan nama panjangnya.


"Seangkatan?" tanya Rasya kini.


"Beda Kak. Saya seniornya Serly,"


Rasya kini manggut-manggut. Ia paham bahwa pria muda di depannya itu seperti menyukai adiknya. Karena baru kali ini ada pria yang berani datang ke rumah, bahkan pria itu seperti akrab dengan adiknya.


"Kalian sudah berteman lama?" belum selesai juga pertanyaan Rasya.


Rasya menepuk bahu Dido dengan lembut. "Jujur sekali, kamu?" ucapnya.


Dido hanya tersenyum saja.


Rasya kini mengingat bahwa adiknya hari kemarin telah ceroboh. "Apa mungkin pengendara motor yang Serly tabrak itu, kamu?" tebaknya.


"Iya kak,"


"Bagaimana? apa adik saya sudah tanggung jawab?" Rasya yang ingin tahu adiknya itu tidak lari dari tanggung jawabnya.


"Sudah, Kak. Namun, saya sudah berusaha menolak uang dari Bang Aldi yang dia berikan. Tapi, saya di paksa. Dan saya tidak enak saat melihat Serly yang memohon," Dido dengan jujur mengatakan perihal tersebut.


Rasya mengerutkan keningnya saat mendengar apa yang Dido katakan. "Sudah terima saja!. Lagian tidak baik bila menolak rejeki," seloroh Rasya. Walau dalam hatinya ia terheran-heran kepada Aldi yang memberikan uang miliknya sendiri untuk menanggung jawabkan masalah Serly adiknya. Karena Rasya tidak memberikan uang untuk Aldi supaya membayarkan kerugian yang telah Serly perbuat.


"Iya, Kak. Terima kasih," ucap Dido. Meskipun uang tersebut tidak akan ia pakai. Namun, akan Dido simpan, dan suatu saat akan di kembalikan kepada Serly.


"Ngomong-ngomong, Aldi ngasih berapa uangnya? saya takut saja, uang yang Aldi berikan kepadamu tidak sesuai dengan jumlah yang saya berikan," tanya Rasya yang ingin tahu uang Aldi yang di berikan kepada Dido. Dengan tidak mengatakan langsung kepada Dido, namun dengan cara Rasya yang seolah-olah takut Aldi tidak amanah.

__ADS_1


"Sepuluh juta," jawab Dido. "Tapi, kak. Boleh saya kembalikan?" Dido dengan mulai meraih ponsel untuk membuka aplikasi Mobile Banking.


"Tidak usah. Itu hak kamu. Jadi jangan lagi untuk mengembalikannya, atau menolaknya,"


Hingga tidak terasa obrolan antara Dido dan Rasya sudah hampir satu jam lebih. Namun, Rasya lupa tidak menyuguhkan minuman.


"Ya, ampun. Maaf, saya sampai lupa tidak menyuguhi kamu, minuman" ucap Rasya yang baru menyadari tidak menjamu tamu adiknya itu.


"Tidak apa-apa, kak" sahut Dido dengan tersenyum. "Saya, lebih baik pulang sekarang. Terima kasih atas waktunya, kakak mau mengobrol dengan saya," ucap Dido seraya bangkit dari duduknya.


"Loh, kok buru-buru?" Rasya juga ikut berdiri.


"Tidak kak. Saya, lain kali boleh kan, datang kemari lagi?" harap Dido dirinya di sambut kembali kedatangannya.


"Bolehlah, selama teman adik saya baik, sopan dan tidak memberikan pengaruh buruk. Saya mengijinkan adik saya berteman dengan kamu,"


Dido tersenyum senang, "Di jamin saya baik kok, kak" seloroh Dido. "Kalau gitu, saya pamit pulang ya, kak" imbuh Dido. "Assalamualaikum,"


Rasya dengan mengangguk, "Wa'alaikum salam,"


Dido pun melenggang pergi ke arah gerbang, dan terlihat memberhentikan taksi untuk membawa dirinya pulang ke rumahnya.


Rasya yang sudah melihat kepergian Dido melenggang masuk ke dalam rumah. Dan langsung mendatangi kamarnya.


"Si kembar sudah tidur?" bisik Rasya dengan pelan-pelan menutup pintu dan menguncinya.


"Iya, Mas. Baru saja Baby Daffa dan Baby Saffa terlelap," jawab Adelia dengan menoleh ke arah kedatangan suaminya.


Rasya kini sudah duduk di samping istrinya, dengan tangannya sudah merangkul pinggang sang istri agar duduk menempel dengan tubuh dirinya.


"Sayang, bobo enak yuk!" ajaknya. Membuat Adelia mendelik tajam serat menggeleng-gelengkan kepalanya.


...***...


Terimakasih untuk Readers tercinta yang masih setia membaca karya saya, semoga sehat selalu!


jangan lupa like, dan Hadiah poinnya!

__ADS_1


__ADS_2