
Arman tercengang. Saat turun dari mobil. Mendapati Rasya ada di hadapannya. Begitupun Rasya. Ia sama-sama terkejut. Rasya belum tahu pertemuannya dengan perusahaan Albian. Rasya kira pertemuannya saat ini dengan perusahaan lainnya.
"Selamat sore," sapa Arman beserta orang yang menemani dirinya.
"Selamat sore, Pak Arman, Pak Rio ...," sapa Aldi mewakili Rasya. Rasya hanya mengangguk dengan seulas senyum. Begitupula dengan Ariyanti, ia hanya menyapa dengan senyum manisnya.
"Bagaimana. Apa bisa di mulai untuk melihat perkembangan proyeknya?" Rasya kini bertanya. Ia sebenarnya ingin cepat selesai hari ini juga.
Perusahaan Albian Company, yang bergerak di bidang Kontruksi, Batu bara, dan Tekstil. Kini sedang bekerja sama dengan perusahaan Argadinata Group yang bergerak di bidang fashion, food, dan furniture. Kerjasama antara perusahaan tersebut sudah terjalin bertahun-tahun.
"Silahkan. Tuan bisa lihat. Bagaimana hasil kerja dari bawahan-bawahan kami!" sahut Rio rekan Arman yang kini menemani pertemuan itu.
Arman dan Rio pun berjalan lebih dulu. Dan di susul oleh Rasya, Aldi, dan Ariyanti. Mereka Masuk ke dalam Gedung tinggi yang terlihat sudah beberapa persen selesai. Gedung tersebut adalah hasil kerja dari pekerja kontruksi perusahaan Albian Company. Dan Gedung tersebut akan di jadikan pabrik makanan oleh Perusahaan Argadinata Group.
"Bagaimana Tuan? anda bisa lihat hasil kerja kami?" Rio bertanya saat kini mereka berhenti di suatu lantai yang terlihat para pekerja sedang melakukan tugasnya masing-masing.
"Ya Ampun ... Papa ada-ada saja. Hanya melihat hasil kerja mereka harus melibatkan aku," gumam Rasya yang merasa tidak mengerti tentang pertemuan tersebut.
Rasya hanya mengangguk saja. Tapi, Ariyanti yang sudah terbiasa melakukan pertemuan-pertemuan, ia mulai membuka suara.
"Mohon maaf, Pak Rio. Saya mewakilkan dari Tuan Rasya. Bagaimana target lamanya, pembangunan ini? bukannya, dana yang sudah tertera mengalir hampir dua milyar. Apa dana tersebut akan sampai, atau masih kurang?" ucap Ariyanti dengan bahasa yang luwes. Hingga Rasya tertegun. Ia tidak sampai berpikir ke arah sana.
Rio tersenyum, "Terima kasih atas pertanyaannya Nona. Soal biaya, saya bisa memastikan belum kurang atau pas. Karena tahap pembangunan ini memang kami sudah menerima jumlah uang yang nominalnya sesuai yang anda sebutkan tadi. Namun, anda jangan takut, atau ragu. Karena kami sudah bertahun-tahun bekerja sama dengan perusahaan anda." Rio berujar dengan panjang meyakinkan Ariyanti agar tidak meragukan hasil dan pendanaan yang sudah masuk.
Ariyanti terlihat sedang mencatat yang Rio ujarkan barusan, sebelum menyahut ucapan Rio. "Baiklah. Kalau begitu, kami akan melihat sebagian hasil kerja dari perusahaan anda," ucap Ariyanti.
"Silahkan, Nona," sahut Rio.
Ariyanti menatap Rasya, dan Aldi. "Ayo Pak, Al ... kita lihat hasil kerja mereka," ajak Ariyanti. Rasya pun berjalan, dan di ikuti oleh Aldi juga Ariyanti. Begitupun Arman dan Rio, mereka mengikuti dari belakang.
Rasya melihat-lihat ke lantai dua, dengan menaiki tangga yang sudah jadi, dan di susul oleh Aldi dan Ariyanti.
"Al ... bagaimana menurutmu?" tanya Rasya tentang hasil kerja yang berada di lantai dua.
__ADS_1
"Sudah sangat Rapih, menurut saya" sahut Aldi.
"Coba, bapak lihat lebih detail lagi ke arah dalam," timpal Ariyanti.
Rasya menurut, ia pun melangkah lebih ke arah dalam. Namun, Aldi dan Ariyanti masih di tempat. Ariyanti memotret Bangunan yang sedang ia lihat kini. Sedangkan Aldi menyusul ke arah Rasya.
Sementara Arman dan Rio mendekati ke arah Ariyanti.
"Mohon maaf, Nona. Saya ingin tahu, Pak Hadi kemana?" tanya Arman kepada Ariyanti.
"Pak Hadi sedang mengurus perusahaan lain miliknya," sahut Ariyanti dengan masih mengambil beberapa potret bangunan.
"Pak Rasya, adalah penerus perusahaan Argadinata Group yang sekarang," tambah Ariyanti.
Arman terdiam. Ia jadi teringat kepada Albian yang sangat mencintai Adelia istrinya Rasya. Arman mundur selangkah. Ia meraih ponsel yang ada dalam saku jasnya, dan membuka layar ponselnya mengetik pesan kepada Albi.
*Ar**man*: Bos ... pertemuan kali ini ada kejutan.
Arman mengetik pesan kepada Albi. Lalu menunggu balasannya. Dan tak lama Albi membalas.
Arman mengetik kembali. Ia membalas balasan pesan yang Albi berikan.
Arman: Kejutannya adalah gue bertemu suami Arumi. Dan yang sangat mengejutkan dia adalah anak dari Pak Hadi. Masalah pekerjaan, jangan di ragukan lagi. Pekerja kita sangat handal.
Arman menatap ke arah Rasya, sembari menunggu balasan dari Albi. Rasya seperti menghindar dekat dari Ariyanti. Menjadi pertanyaan di benak Arman.
"Kenapa dia seperti selalu menghindar, untuk tidak dekat wanita itu?" Arman bertanya di dalam hati. Lalu ia menatap kembali pada ponsel yang ia pegang, ada balasan dari Albi.
Albian: What? Suami Arumi adalah anak dari Pak Hadi. Sungguh mengejutkan sekali. Ya thanks informasinya. Semoga dia suka dengan para kinerja pekerja kita.
Arman menaruh kembali ponsel ke dalam saku jasnya. Ia kini mendekat ke arah Aldi, Rasya dan Ariyanti. Ia melangkah di susul oleh Rio.
"Bagaimana apa pertemuan kali ini, Tuan merasa puas?" Arman bertanya dengan tersenyum.
__ADS_1
Rasya mengangguk. "Apa sore malam ini kita bisa kembali ke kota J?" tanya Rasya kepada Aldi.
"Mohon maaf Pak. Apa bapak mau pulang langsung? atau mau menginap terlebih dahulu?" Aldi menjawab dengan memberikan pertanyaan.
"Saya ingin pulang, kalau bisa sekarang juga" sahut Rasya.
"Baiklah, kalau begitu," Aldi menurut saja. Sebenarnya ia masih lelah jika harus menyetir kembali. Tapi bagaimana lagi. Ia harus mematuhi permintaan Rasya.
"Sayang, kamu sedang apa di sana?" batin Rasya dengan menatap jam mahal yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Mari. Tuan jika ingin pulang segera. Kami juga sepertinya akan seperti itu," Arman menimpali.
"Mari," sahut Rasya. Ia berjalan.
Namun, saat baru satu langkah. Ariyanti yang kini di depannya tersandung. Sepatu higheels yang di pakainya patah. Sehingga ia terjatuh, tersungkur ke lantai yang belum di lapisi marmer. Rasya tercekat. Ia tidak mau menyentuh Ariyanti. Sehingga ia memberi kode kepada Aldi.
Aldi mengerti. Ia langsung menghampiri Ariyanti.
"Mbak Yant, apa Mbak Yanti terluka?" Aldi dengan hati-hati menyentuh bahu Ariyanti, untuk membantu Ariyanti bangun dan berdiri.
"Kenapa malah Aldi sih yang bantu bangunin aku? bukannya Rasya." Ariyanti membatin. Sebenarnya ia merencanakan hal terjatuh tersebut. Agar Rasya yang di dekatnya maju, dan membantu dirinya bangun dan berdiri. Bahkan Ariyanti sudah membayangkan Rasya akan menggendongnya seperti ala bridestyle. Namun, bayangannya pupus.
Aldi melihat lutut Ariyanti berdarah. "Mbak Yanti, bagaimana ini apa bisa berdiri?" tanya Aldi.
Arman dan Rio menatap ke arah mereka. Rasya pun sama. Seolah ia tidak ingin memberikan kesempatan untuk Ariyanti mendekatinya.
"Aku bisa berdiri kok, Al" tolak Ariyanti saat Aldi ingin memapahnya.
"Seandainya kamu Sya ... yang ingin membopongku. Maka aku akan senang hati menerima," Ariyanti bergumam dengan mencoba berjalan. Namun ia meringis kesakitan.
Tak di sangka dan tak di duga. Arman maju, dan langsung meraih tubuh Ariyanti. Ia langsung menggendong Ariyanti. Melangkah menuruni anak tangga. Lalu di susul oleh Aldi, Rasya, dan Rio.
...***...
__ADS_1
...Bersambung....