
"Mas ... aku ke toilet dulu, ya" ucap Adelia meminta ijin kepada Rasya. Keduanya kini tengah makan siang di sebuah Cafe, yang terdapat di Mall besar pusat kota.
Rasya melihat ke sekelilingnya, "Aku, antar ya ...," ujarnya.
Adelia menggeleng, "Tidak perlu, Mas. Lagian sekarang itu masih siang, terus lihat banyak orang kok di sekelilingnya, jadi Mas jangan khawatir, aku hanya ke toilet saja" tutur Adelia seraya menolak Rasya untuk mengantar. Adelia tidak mau seperti hal semalam, yang saat berada di kedai Sate, Rasya mengantar hingga menunggunya di depan toilet.
"Tapi aku takut, kamu kenapa-napa Sayang ...," Rasya terlihat dari wajahnya yang sangat mengkhawatirkan Adelia.
Adelia tersenyum, "Mas, kalau aku terus berdebat sama kamu. Aku bisa ngompol di sini tahu. Sudah ya, aku ke toilet sekarang. Mas, habiskan saja makanannya" Adelia langsung berdiri tanpa mau mendengarkan Rasya yang akan berkata lagi.
Rasya dengan berat hati, akhirnya membiarkan Adelia beranjak pergi ke arah toilet. Dan saat itu juga, Serly, Rara, dan Ariyanti memasuki area Cafe tersebut.
"Itu kan, Kak Rasya" tunjuk Serly pada Rasya yang terduduk sendiri.
Rara, dan Ariyanti sontak menatap ke arah tempat yang Serly tunjuk.
"Iya itu Rasya, tapi Adel nya mana, ya?" sahut Rara. Sedangkan Ariyanti hanya terdiam.
"Kalau gitu, kita duduk di meja sebelah kak Rasya yuk!" ajak Serly seraya langsung berjalan melangkah mendekati meja yang berada di sebelah meja Rasya.
Rara dan Ariyanti pun langsung mengikuti langkah Serly.
"Kak ... kak Adel nya, mana?"
Rasya langsung mendongak saat Serly bertanya. "Lagi ke toilet," sahut Rasya datar. Ia kembali menikmati makanannya.
Serly langsung duduk di meja yang bersebelahan dengan meja Rasya, dan di ikuti Rara dan Ariyanti. Ketiganya langsung memesan makanan saat pelayan Cafe itu bertanya.
Sementara Adelia yang baru saja keluar dari toilet. Kini di hadang oleh Arman.
"Hai Arumi," sapa Arman. Membuat Adelia menatap tajam ke arah Arman. Tanpa menjawab sapaan Arman.
"Gila ... Arumi semakin cantik. Pantas saja si Bos sampai tergila-gila. Orang wajah si Arumi glowing begini," gumam Arman di dalam hati. Ia baru kali ini menatap Adelia dari ujung kaki hingga ujung kepala secara dekat, dengan waktu yang lama. Karena saat bersama Albi, ia tidak berani menatap Adelia seperti itu. Yang ada hanya dapat tatapan tajam dari Albi sebagai peringatan, agar tidak memandang Adelia.
Adelia mencoba tidak menggubris sapaan Arman. Ia mencoba meninggalkan Arman begitu saja. Tapi, dengan cepat Arman meraih pergelangan tangan Adelia agar tidak meninggalkannya.
__ADS_1
"Arumi ... please tunggu sebentar! aku hanya ingin meminta waktumu sebentar. Ini demi kesehatan dan kehidupan Tante Hera, Mamanya Albian. Beliau besok akan datang ke kota ini, dan ingin bertemu dengan kamu. Tapi itu hal yang tak mungkin. Karena kamu sudah kembali tinggal bersama suamimu."
Adelia mencerna ucapan panjang yang Arman katakan. Adelia terperanjat saat mendengar nama Hera, yang merupakan Mamanya Albi akan datang ke kota ini, untuk menemui dirinya.
Adelia mencoba melepaskan tangannya yang di raih Arman, "Terus apa yang harus aku lakukan? itu masalah kalian, aku tidak mau ikut campur bersama pembohong seperti kalian," tegas Adelia.
Arman terkejut. Ia harus mencari cara agar Adelia mau ia ajak walau hanya sebentar saja.
"Ya kami akui, kami salah. Kami pembohong. Tapi, aku mohon sekali ini saja. Aku butuh bantuan kamu." Arman memelas wajahnya. Sehingga membuat Adelia tidak tega.
"Bantuan apa?" ketus Adelia.
"Kamu ikut aku sebentar saja." Arman meminta Adelia agar ikut.
"Ikut kemana?" Adelia menatap dengan bingung. "Aku tidak mau harus tinggal lagi bersama kalian," lanjut Adelia.
"Ayo ikuti aku!" Arman langsung melangkah agar Adelia mengikutinya. Tapi Adelia masih terdiam. Ia bingung harus mengikuti Arman kemana. Dan Adelia takut Rasya menunggunya karena lama.
Arman yang merasa tidak mendengar suara langkah di belakangnya, menoleh ke arah belakang. Dan benar saja. Adelia masih berdiri di tempatnya. Arman kembali lagi, kini dengan cepat meraih tangan Adelia agar ikut bersamanya.
"Diam. Kalau kamu tidak aku genggam seperti ini. Kamu mana mau mengikuti aku," ujar Arman. Kini dengan cepat Arman membawa Adelia ke outlet pengrajin topeng. Dan langsung menerobos masuk tanpa mengetuk.
Adelia terperangah saat masuk ke outlet itu. Melihat banyak jenis topeng yang berwajah mirip dengan manusia. Adelia menjadi bingung.
"Bos, Dirga ...," sapa Arman. Membuat Albi dan Dirga yang berdiri membelakanginya menoleh. Albi langsung menatap tajam kepada Arman. Karena tangan Arman menggenggam tangan Adelia. Sedangkan Arman lupa tidak melepaskannya.
Adelia menatap ke arah Albi. Ia menjadi ketakutan dan salah tingkah. Adelia tidak mau sampai hal yang saat berada di Sanggar senam terjadi lagi. Adelia dengan cepat melepaskan tangannya yang di genggam Arman, dan ingin keluar dari outlet itu.
"Tunggu!" seru Albi saat melihat Adelia akan membuka handle pintu. Albi langsung mendekati Adelia. Dan bersimpuh di lantai tepat Adelia berdiri. Adelia melotot kaget dengan apa yang Albi lakukan di hadapannya. Adelia berdiri mematung.
Arman dan Dirga saling tatap, mereka tidak menyangka terhadap seorang Albian yang angkuh, dan dingin bersimpuh di lantai kepada wanita yang sudah membuat dirinya jatuh cinta. Cinta memang buta. Merubah seseorang dengan perlahan. Albian kini menjadi budak cinta karena Adelia.
"Arumi ... tolong maafkan aku!" Albi menghela nafas, "Aku mohon bantuan kamu. Aku di sini sedang berusaha membuat topeng wajah yang berwajah dirimu. Aku akan kembali membohongi Mamaku. Dengan cara ini."
Adelia terdiam. Ia mencoba memegang kedua bahu Albi, agar terbangun dan berdiri.
__ADS_1
"Biarkan aku seperti ini. Aku tidak mau berdiri sebelum kamu mau memaafkan aku, dan membantuku" ucap Albi menolak, saat Adelia membantu Albi agar terbangun dan berdiri.
Adelia pun kembali berdiri tegak. "Aku sudah memaafkanmu, dan apa yang harus aku bantu di sini?" akhirnya Adelia berucap. Karena Adelia tidak mau Albi terus bersimpuh di lantai seperti itu.
"Tapi kamu masih membenci aku, kan?" tutur Albi bertanya. Ia teringat akan kata-kata Adelia saat dirinya telah memaksa mencium Adelia di toilet waktu itu. Adelia mengatakan benci kepada Albi.
Adelia tidak menggubris ucapan Albi, ia langsung mendekati Arman dan Dirga.
"Apa yang harus aku lakukan di sini?"
Membuat Albi menatap sendu ke arah Adelia yang berdiri berhadapan dengan Arman dan Dirga.
"Kamu duduk dulu, kami hanya ingin minta photo kamu. Untuk pengrajin di sini. Agar bisa membuat wajah yang percis seperti kamu." Arman menyerahkan satu kursi kepada Adelia agar Adelia terduduk.
Adelia pun duduk. Ia sebenarnya ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu, "Ayo photo aku. Aku tidak mau lama-lama disini," ujarnya.
Dirga langsung mengarahkan ponselnya kepada Adelia. Satu jepretan Dirga dapatkan. Dengan wajah Adelia yang menatap datar ke arahnya.
"Arumi, sekarang aku minta senyum sedikit!" pinta Dirga. Dan Adelia pun menurut. Senyuman tipis yang ia berikan.
"Bisa sedikit lagi!"
Adelia langsung tersenyum lebar, sehingga kedua lesung pipinya terlihat. Membuat Dirga yang menatap ke arah kamera ponsel, ikut tersenyum juga.
"Sudah. Kalau begitu aku pulang," Adelia langsung beranjak dari duduknya. Namun, ia langsung menatap ke arah Albi dengan tatapan yang merasa bersalah. Karena Albi masih saja bersimpuh di lantai.
"Mas ...," Adelia mencoba menyapa Albi dengan rasa bersalahnya.
Ada rasa senang di hati Albi, saat Adelia memanggil dirinya dengan kata 'Mas' seperti saat Adelia menjadi istri pura-pura nya. Tapi Albi tetap tidak ingin berdiri begitu saja. Ia ingin mendengar langsung, bahwa Adelia sudah tidak membencinya lagi, "Apa kamu masih membenci aku?" tanya Albi kini.
Adelia menggeleng, ia tidak tega bila harus melihat Albi teru-terusan bersimpuh. Adelia menatap ke arah Dirga dan Arman, "Tolong bantu ia berdiri!" titahnya. Dan Adelia langsung membuka pintu, dan keluar dari tempat itu.
...***...
...Bersambung....
__ADS_1