
Dokter yang Yuda telepon telah datang mengecek dan memeriksa keadaan Adelia. Wajah Dokter tersebut terlihat serius seperti menemukan hal sesuatu yang aneh. Setelah selesai memeriksa Adelia, Dokter beralih menatap Yuda dan Rasya yang berdiri tak jauh dari Dokter ketika memeriksa.
"Mohon Maaf, Apa kalian telah berkelahi?." Tanya Dokter itu karena melihat luka lebam di kedua wajah yang di lihatnya.
Yuda dan Rasya mengangguk bersamaan.
"Apakah Nona ini tidak makan dalam beberapa hari ini?." Dokter beralih menatap Adelia dengan menanyakan kepada Yuda.
"Memang kenapa Dok, bagaimana kondisi nya?. Apa dia baik-baik saja?." Raut wajah Yuda terlihat begitu cemas. Sehingga Rasya melihat itu semua yang di tunjukkan wajah Yuda.
"Seharusnya Nona ini di infus, karena Nona ini dehidrasi, dan asam lambungnya sedang naik. Bagaimana kalau Nona ini kita pindahkan ke Klinik milik saya?. Terutama Kesehatan Nona ini harus cepat di tangani, dan situasi tidak memungkinkan jika harus pergi ke Rumah Sakit karena Jaraknya yang begitu jauh dari sini." Tutur Dokter itu mengatakan Adelia harus di tangani secepatnya.
"Baik Dokter sekarang saja." Rasya dengan mulai mendekati tubuh Adelia yang terbaring.
Rasya mulai menggendong Adelia. Yuda melihatnya begitu marah karena Rasya berani menyentuh Adelia. Tapi Saat ini amarahnya ia pendam. Karena Adelia harus secepatnya di tangani.
Rasya memasukkan Adelia di jok belakang dengan di bantu Rara. Dan Yuda ikut masuk ke dalam mobil Rasya, ia duduk di depan di sebelah Rasya.
"Tunjukkan Klinik itu!." Perintah Rasya kepada Yuda.
"Kamu Lurus saja dari sini. Nanti ada pertigaan, Kamu ngambil jalur kiri." Ketus Yuda.
Rasya mulai melajukan mobilnya. Dalam mobil tak ada yang bersuara sedikit pun.
Yuda di penuhi pikiran khawatir dan Cemburu. Sedangkan Rasya fokus pada setir nya, karena tempat ini begitu asing bagi dirinya.
Sementara Rara, diam dengan sesekali mengusap-usap rambut Adelia.
Setelah sampai sesuai petunjuk Yuda tadi.
Rasya mulai menghentikan mobilnya. Terlihat Dokter yang tadi sudah berada di ambang pintu Klinik, dengan sebuah brangkar Pasien menyambut kedatangan Adelia.
Rasya dan Yuda mulai keluar. Rasya dengan cepat membuka pintu belakang mobilnya. Rasya langsung meraih tubuh Adelia lalu menggendong nya. Setelah dekat di ambang pintu Klinik, Rasya membaringkan Adelia dengan di Bantu Yuda. Rara hanya bisa melihat memperhatikan mereka berdua.
Setelah Adelia terbaring, Brangkar itu langsung di dorong oleh para Perawat.
Rasya, Yuda, dan Rara pun mengikuti arah Brangkar itu di dorong. Dan berhenti kala Brangkar itu di masukkan ke salah satu ruangan, dan di tutup pintunya.
Mereka pun duduk di Sebuah Bangku yang memanjang. Mereka menunggu Adelia yang sedang di tangani di dalam ruangan itu.
Dokter datang bersama kedua perawat, menghampiri mereka yang sedang terduduk.
"Permisi, Luka di wajah kalian harus cepat di bersihkan. Kalian ikuti para perawat ini." Dokter itu menyuruh Yuda dan Rasya agar luka di wajahnya di bersihkan.
Rasya dan Yuda pun mengangguk. Mereka berdua menurut dengan mengikuti langkah kedua perawat itu.
Setelah selesai mereka pun keluar. Dengan berjalan beriringan.
"Sepertinya kamu sudah tidak canggung lagi ya untuk menyentuh Adelia?." Celetuk Yuda yang dengan berjalan di samping Rasya.
Rasya menghentikan langkahnya, begitupun Yuda. Mereka berdua kini bertatapan seolah-olah telah memiliki Adelia.
"Maksud kamu apa?." Rasya yang tidak mengerti akan celetukan Yuda.
Yuda yang di liputi rasa cemburu begitu geram melihat Rasya yang sungguh tidak mengerti akan ucapannya.
"Kamu sebenarnya menyukai Adelia kan?." Tanya Yuda kini.
Rasya sekarang mengerti Pria yang di hadapan nya sedang merasa cemburu. Rasya pun hanya menyunggingkan sedikit bibirnya untuk menanggapi pertanyaan Yuda, dan cepat melangkah kembali.
__ADS_1
Yuda geram akan sikap Rasya yang tidak menanggapi pertanyaannya.
"Sekarang kamu bisa pergi. Adelia sudah kembali dengan baik-baik saja. Di sini sudah ada aku dan Rara." Ucapan Yuda seketika menghentikan langkah Rasya.
Rasya pun membalikkan badan nya, dan kini menatap Yuda dengan tajam.
"Siapa Anda, dengan seenak nya mengatur saya?. Anda hanya orang asing yang sengaja mendekati, dan menolongnya. Sedangkan Aku, telah bertahun-tahun bersama nya?." Rasya dengan menatap Tajam ke arah Yuda.
Yuda tak kalah tajam menatap Rasya, apalagi di tambah akan ucapan Rasya yang sedikit menyinggung perasaan nya.
"Lalu selama ini kamu dimana. Di saat Adelia nyawanya terancam?. Bahkan kamu tahu nya Adelia telah meninggal."
Rasya seakan tidak terima yang di anggap dirinya seakan-akan tidak perduli akan Adelia. Rahang Rasya mengeras, dengan giginya menggeretak, Amarah nya ia tahan. Bisa saja Rasya menonjok Yuda. Tapi ia tahan karena tidak mau membuat keributan.
"Adelia mengetahui itu, selama ini aku dimana." Rasya dengan tajam menatap Yuda.
Tiba-tiba Rara mendekat, karena dari kejauhan tadi Rara menyaksikan Yuda dan Rasya yang bersitegang.
"Kalian jangan membuat keadaan semakin rumit. Ingat Rencana kita untuk melindungi Adelia." Ujar Rara setelah mendekat.
Yuda dan Rasya pun terdiam. Kini mereka duduk kembali di bangku yang tadi.
Terlihat Dokter keluar dari ruangan Adelia. Dan menghampiri mereka yang sedang terduduk.
"Pasien sudah siuman. Sekarang ia sedang tertidur." Ucap Dokter.
"Lalu bagaimana keadaan nya Dok?." Yuda menanyakan akan keadaan Adelia.
"Pasien kini sudah di infus, dan sudah di beri makan oleh perawat kami. Jadi tidak perlu khawatir, Dia sudah baik-baik saja." Tutur Dokter.
Mereka pun seakan bernafas lega. Mendengar penuturan sang Dokter.
"Kalau begitu saya permisi." Pamit Sang Dokter.
Setelah Dokter itu pergi, kini mereka duduk kembali. Ada rasa penasaran mengganjal sejak tadi di benak Rasya.
Rasya mulai menoleh menatap Rara, sepertinya akan ada yang Rasya ingin tanyakan kepada nya.
"Ehm... Ra. Martin dimana?." Pertanyaan itu lolos Rasya tanyakan.
Rara langsung menoleh kepada Rasya.
"Martin tidak tahu bahwa Adelia masih hidup."
Rasya mengerutkan dahinya.
"Kenapa kamu sembunyikan?."
"Rasya.... Kebakaran itu bukan terjadi dengan sendirinya. Melainkan ada rencana seseorang untuk menghancurkan kita, terutama kepada Adelia." Rara menyampaikan kepada Rasya yang belum tahu apa-apa.
"Rencana seseorang?." Rasya dengan berwajah serius.
"Iya Benar. Sudahlah kamu tak perlu urusi kita lagi. Lebih baik kamu urusi rumah tangga mu." Rara merasa Rasya tidak perlu ikut campur.
"Rumah Tangga?." Kini Yuda terperangah mendengar Rara yang mengatakan Rasya untuk mengurusi rumah tangga nya. Yuda kini tahu selama ini Rasya tidak tahu apa-apa karena sudah berumah tangga.
"Aku sudah cerai." Rasya dengan cepat menanggapi pertanyaan Yuda.
"Ooh... Jadi kamu mendekati Adelia lagi?." Rara merasa tidak terima.
__ADS_1
"Ra. Kamu belum tahu perasaan ku selama ini dengan Adelia. Kita sama-sama tertekan." Rasya mulai mengatakan apa yang selama ia alami.
Yuda hanya mendengarkan dengan membuat kesimpulan bahwa Adelia dan Rasya pernah bersama. Dan Kini Rasya sedang mendekati Adelia kembali. Sungguh Yuda tidak akan membiarkan itu. Yuda yang kini berjuang meyakinkan perasaan Adelia untuk menjawab nya. Tidak mau hancur akan kehadiran Rasya yang dengan tiba-tiba mendekati Adelia.
"Rara benar. Lebih baik kamu tidak perlu urus campur tentang Adelia lagi. Kita bisa melindungi Adelia tanpa kamu bantu." Yuda menyetujui apa yang Rara tadi katakan.
"Aku ingin melindungi Adelia. Adelia akan nyaman bersama ku. Aku yakin, dia selama ini merasakan punya banyak hutang budi kepada mu. Jadi biarkanlah dia bersama ku." Rasya kekeh ingin melindungi Adelia.
"Tidak. Dia lebih nyaman bersama ku. Adelia pasti akan merasa canggung bila harus bersama bekas atau mantan nya." Yuda dengan penuh penekanan.
"Sudah... Sudah... aku tidak mau mendengar keributan di sini. Sekarang aku putuskan kalian diam. Dan Tunggu Adelia yang menentukan semua, setelah ia bertemu kamu Rasya." Rara menyudahi perdebatan antara Rasya dan Yuda.
Mereka pun terdiam dengan pikiran masing-masing.
Tanpa mereka ketahui Adelia telah mendengarkan semua nya. Karena suara mereka yang keras saat berdebat tadi. Membuat Adelia bisa jelas mendengarnya.
Adelia kini tertegun. Jadi benar-benar ada Rasya saat ini di dekatnya. Ia tadi sebelum pingsan merasa Ia sedang berhalusinasi melihat Rasya yang sedang menyetir di sampingnya lalu menatap dengan tersenyum.
"Jadi Rasya ada. Aku ingin bertemu dan memeluknya. Aku... huuuu....." Adelia berbicara sendiri dan menangis akan cinta nya yang begitu masih ada di dirinya kepada Rasya.
"Rasya bercerai?. Apa karena aku. Aku.... aku... tidak mau itu semua karena diriku... huuuu.... huuu...." Adelia kembali berbicara sendiri dan menangis.
Adelia merasa bersalah. Jika Rasya memutuskan bercerai dengan Ariyanti itu karena dirinya. Adelia terhanyut dalam lamunan memikirkan semua yang sudah terjadi tanpa Rasya saat ini. Dan Kini Rasya kembali, Adelia sangat senang.
Adelia masih terhanyut dalam lamunan nya. Hingga Ia tak menyadari mereka yang di luar telah masuk kedalam ruangan nya. Mereka bertiga saling tatap satu sama lain, melihat Adelia yang sedang berurai air mata dan kini tengah melamun.
Rara dengan cepat menghampiri.
"Del, kamu habis menangis?." Tanya Rara, yang membuat Adelia terperangah kaget.
"Ra...." Adelia dengan menatap Rara. Dan menoleh ke arah Depan Pintu Yuda dan Rasya yang masih berdiri.
Aduuuh.... Apa mereka tahu aku tadi berbicara sendiri?.
Adelia bergumam di dalam hatinya.
"Sejak kapan kamu masuk?." Adelia sungguh gugup.
"Baru saja. Pas masuk eh kamu lagi ngelamun dan udah basah ni pipinya." Rara dengan mengelap air mata di pipi Adelia menggunakan jari tangan nya.
Rasya melangkah mendekat, dengan di susul Yuda di belakangnya.
"Hai Del. Apa sudah baikan?." Tanya Rasya mendekat di samping kiri ranjang pasien.
Adelia mengangguk dengan matanya lekat menatap Rasya. Jika Adelia tidak punya Rasa malu, ingin sekali saat ini ia berhambur memeluk Rasya. Orang yang selama ini ia rindukan dalam diam. Begitupun dengan Rasya ia ingin memeluk dan mengecup Adelia yang kini tengah menatap nya. Tapi itu hanya keinginan saja. Tanpa bisa Rasya lakukan karena keberadaan Yuda dan Rara.
"Del. Kenapa kamu tidak memberitahu aku. Kamu mengantar pesanan ke tempat itu?." Yuda memecahkan Adelia yang saling menatap dengan Rasya.
Adelia kini menoleh menatap Yuda.
"Aku tidak tahu bahwa aku akan di jebak. Jadi aku tidak perlu memberitahu kamu. Karena Aku pikir Aku akan baik-baik saja. Maaf aku telah membuat kalian khawatir." Adelia merasa bersalah.
"Kamu tahu aku begitu cemas. Aku takut kamu di apa-apakan oleh mereka. Untung saja Tukang Ojek yang pernah kamu tumpangi dia menemui kita. Jadi kita bisa tahu kamu berada." Yuda dengan mencoba menggenggam tangan Adelia seperti menunjukkan rasa khawatirnya selama Adelia tidak ada.
Rasya menatap tangan Adelia yang di genggam Yuda dengan mata tajam, dan perasaan geram. Ia menatap ke Arah Adelia, yang seakan membiarkan Yuda menyentuhnya. Rasya mengepalkan tangan nya untuk menahan amarah emosi di dadanya.
Rara melihat raut wajah Rasya yang seperti itu. Dan menatap ke arah Tangan Yuda yang masih menggenggam tangan Adelia.
Wah... Si Rasya cemburu kaya nya.
__ADS_1
*Gumam Rara di dalam hatinya.
... Bersambung....