You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 201.


__ADS_3

Adelia Pov.


Hari ini aku di ajak Albi ke suatu tempat. Albi ingin menghabiskan waktu seharian denganku, saat aku meminta dia untuk mendekati Rara. Aku tidak mau, dia harus terus mencintai aku yang sudah bersuami. Sehingga aku ingin dia mendekati Rara. Dan aku meminta dia melakukan itu atas dasar mencintaiku. Dia bersedia. Tapi aku yakin, dengan seiring berjalannya waktu. Cinta itu akan tumbuh antara Albi dan Rara nanti.


Albi mengajak ku ke suatu tempat. Entah tempat apa ini, aku tidak tahu. Albi terus menggodaku. Bercanda. Bahkan sesekali tersenyum manis kepadaku. Aku sadar. Apa yang aku lakukan saat ini sangat salah. Aku juga sadar, aku seakan berkhianat kepada suamiku. Namun, aku lakukan ini agar semuanya berakhir antara aku dan Albi. Aku tidak ingin terlibat kebohongan antara dirinya dengan Keluarganya. Dia bilang, akan menyelesaikan seusai kebersamaan terakhir hari ini.


Aku dan Albi makan siang di sebuah Resto sebelum ke tempat ini.


"Adelia ... apa kamu suka tempat ini?" Albi bertanya padaku, dengan memanggil nama asliku. Tentang tempat yang kami datangi. Yaitu sebuah taman di dekat danau. Namun, jauh dari jangkauan orang lain.


"Aku suka," jawabku seraya tersenyum. Albi pun tersenyum seperti senang saat mendapat jawaban suka dari diriku.


Kami kini sedang duduk di rumput sintetis. Aku duduk dengan berselonjor. Dan Albi juga sama. Ia duduk di dekatku sehingga aku bisa merasakan wangi parfum yang ia kenakan.


Albi terlihat menatap dari samping ke arahku, aku bisa merasakan dari ekor mataku yang menatap lurus ke arah danau. Tatapan itu begitu lama. Sehingga aku penasaran. Apa yang ia tatap dari wajahku.


"Hei, apa yang kamu lihat dari wajahku?" Aku pun akhirnya menanyakan perihal kepenasaranku.


Albi tersenyum sangat rupawan, "Aku suka melihat wajah kamu Adelia ... kenapa?" dia menjawab dengan memberikan pertanyaan yang entah membuatku bingung.


"Aku risih," jawabku seolah-olah tidak suka. Memang benar. Siapa sih yang suka di tatap terus-terusan seperti itu.


Tiba-tiba ponsel milik Albi berdering. Ia seperti mendapat pesan dari seseorang. Aku juga tidak tahu entah dari siapa itu. Albi terlihat membalas pesan yang masuk ke ponselnya. Dan setelah selesai ia kembali menatapku.


"Adelia, jujur aku merasa berat. Jika hari ini adalah terakhir aku mencintaimu dan bersama denganmu. Aku harap. Kamu jangan keberatan ya, jika rasa cintaku padamu masih lekat di dalam hatiku," Albi mengutarakan isi hatinya. Dan kini aku paham. Dibalik Albi menatap terus kepadaku. Ternyata menyimpan gundah yang dalam.


Aku hanya bisa tersenyum saja. Aku tidak ingin memberikan respon yang membuat Albi kecewa. Walaupun Albi salah dalam menempatkan cintanya. Tapi setidaknya, aku tidak ingin membuat dia menjadi benci, karena aku memberikan respon berlebihan menolak atas apa rasa yang di milikinya.


"Aku akan berusaha. Namun, aku tidak akan berjanji. Cinta ini adalah cinta pertama bagi diriku yang baru aku rasa. Dan ternyata cinta itu indah ya," Albi berujar kembali. Kini Albi menatap ke arah Danau sepertiku. Tatapannya seperti membayangkan sesuatu yang sudah terjadi selama ini.


Aku pun hanya diam. Ingin mendengar semua apa yang ingin Albi sampaikan.


Albi meraih tanganku, dan ia genggam. Aku mencoba untuk membiarkan. "Aku pertama bercumbu. Aku pertama memeluk wanita. Aku pertama tidur bersama. Aku pertama merasakan cinta yang membuncah. Yaitu Dari dirimu. Wanita yang telah berhasil masuk ke dalam hatiku dengan secara langsung."

__ADS_1


Sontak aku mengingat tentang hal yang pernah aku lakukan antara aku bersama Albi. Membuat aku merasa wajah ini berubah panas. Untung saja Albi terus menatap ke arah Danau. Hingga dia tidak bisa melihat wajahku yang merah karena hal-hal yang sudah ku ingat antara aku dan Albi.


"Saat itu, aku menemukan mu mengambang di sungai. Dan saat itu aku, Arman, dan Dirga sedang mancing di sungai pinggir Vila. Kami bertiga sedang liburan bersama di kota B. Kamu bisa ingat, apa yang terjadi sampai kamu hanyut ke sungai?" Albi berucap kembali menanyakan perihal yang membuatku terhanyut ke sungai.


"Aku --" baru saja aku ingin menyahut. Albi langsung membaca pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Aku bisa melihat wajah Albi yang seketika berubah terkejut. Entah apa yang membuatnya terkejut. Aku tidak mau menanyakannya.


Setelah membalas pesan, ia kembali menatap ku. "Tadi kamu mau bicara apa?" tanya Albi.


"Aku lupa lagi," sahutku. Aku kembali menatap ke arah danau, dengan mencoba mengingat-ingat apa yang membuatku terjatuh ke sungai dan hanyut.


Seketika aku seperti melihat bayangan diriku yang berjalan mengikuti kupu-kupu yang terbang. Dan aku merasa terus berjalan. Namun, sekuat aku mencoba mengingat saat ini kepalaku merasa tidak begitu pusing seperti yang sudah-sudah. Apa artinya aku akan cepat dapat mengingat semuanya?. Tentu aku sangat senang.


"Adelia ... aku ingin mencium mu," seketika aku yang sedang mengingat-ingat buyar. Sungguh tidak enak di dengar permintaan Albi kini. Aku hanya bisa menatap tajam ke arahnya. Seolah tatapanku menjawab kata tidak.


Albi terkekeh, "Jangan menatapku seperti itu! bukannya aku takut. Tapi aku malah gemas," protes Albi. "Tenang. Aku tidak akan memaksamu. Aku tidak mau di benci seperti saat itu." Albi merangkul pundakku. Ternyata Albi memeluk ku dari samping. Membuat aku gugup dan ketakutan.


"Jangan takut. Aku hanya ingin memeluk saja. Tidak apa-apa, kan?" Albi berbisik di telingaku. Aku pun hanya mengangguk. Membiarkan Albi memelukku dari samping.


Kini ponselku berdering. Ada pesan dari suamiku Mas Rasya. Aku lepaskan tangan Albi yang melingkar, demi ingin membaca pesan dari suamiku.


Aku tersenyum saat membaca pesan dari suamiku. Namun, sontak aku melotot. Karena aku masih bersama Albi.


"Kenapa?" Albi bertanya.


"Aku harus pulang," kataku dengan mencoba ingin berdiri. Namun terlihat susah. Dan Albi membantu aku berdiri.


"Apa suamimu sedang di jalan, akan pulang?" tanya Albi kini seakan tahu suamiku pergi kemana.


Aku mengangguk. Dia tersenyum dengan berdiri tepat di hadapanku.


"Suamimu, masih dua jam lebih untuk sampai ke kota ini. Tenanglah jangan takut," Albi seperti tahu betul tentang kepergian suamiku. Tapi aku tidak mau menanyakannya.


Seketika aku melihat pedagang ice cincau di gerobak, yang penjualnya Seorang Bapak paruh baya. Aku menjadi ingin membeli dagangannya.

__ADS_1


"Aku ingin ke sana!" tunjuk ku ke arah gerobak ice cincau itu.


"Benarkah? apa kamu ingin membeli minuman itu?" Albi seperti ragu terhadapku yang akan membeli minuman pedagang kecil.


"Iya aku ingin sekali," ucapku seraya mengelus perutku yang sudah terlihat buncit.


"Tapi, aku tidak menjamin kesterilannya. Lebih baik kita beli di sebuah kedai, atau cafe saja ya," ternyata Albi tidak mau aku sampai membeli minuman ice cincau itu. Membuat aku merasa kesal. Karena Albi mempermasalahkan kesterilan dari minuman ice cincau itu.


"Aku ingin membeli ice cincau itu. Kalau kamu tidak mau membelikan, tidak masalah. Aku juga punya uang, pemberian suamiku," aku berkata dengan nada ketus. Aku pun lalu melangkah cepat ke arah gerobak ice cincau tersebut. Albi juga mengikutiku akhirnya.


"Pak ice cincaunya dua, ya" ucapku berpesan kepada penjual.


"Baik neng," sahut penjual ice cincau tersebut.


Aku lihat Albi terus memperhatikan aku yang kini sejajar berdiri dengannya. Tapi aku berpura-pura saja tidak tahu.


"Ini neng," penjual itu menyerahkan dua kantung plastik dengan beserta dua sedotan yang sudah di masukkan di dalam kantong plastik tersebut.


"Berapa semuanya, Pak?" tanya Albi. Yang aku sangka ia akan membiarkan aku yang membayarnya.


"Dua puluh ribu, Mas" sahut pedagang itu.


Aku lihat Albi seperti terkejut karena mungkin harganya yang murah. Albi merogoh dompet dari saku celananya. Kemudian Albi membuka dompetnya itu, dan meraih uang kertas yang berwarna merah. Aku tidak tahu berapa jumlahnya. Yang aku tahu Albi mengeluarkan banyak, sepertinya lebih dari sepuluh lembar.


"Pak, ini buat bapak. Semoga bapak sehat selalu ya," Albi dengan menyerahkan uang tersebut seraya mendoakan bapak penjual itu. Membuat aku bisa melihat sisi baik sosok Albi. Bagaimana tidak, dia juga sangat baik terhadapku yang berasal orang asing. Albi menolongku, dan merawatku. Hanya ada cara yang salah yang Albi lakukan. Yaitu menghindari perjodohan, dan memanfaatkan aku yang hilang sebagian ingatanku, lalu mengenalkan aku sebagai istrinya kepada keluarganya.


"Terima kasih, Mas ganteng. Saya doakan semoga Mas ganteng beserta istrinya selalu bahagia, di limpahkan rijkinya, dan dimudahkan segala urusannya," penjual itu berterima kasih serta mendoakan Albi.


"Aamiin ...," sahut Albi.


**Adelia Pov End.


...***...

__ADS_1


...Bersambung**....


__ADS_2