
Adelia pun bergegas ke Rumah Sakit dengan di antar Rasya.
Rasya terus menggenggam tangan Adelia ketika sampai sebagai cara untuk menguatkan Adelia yang terus menangis.
Ketika Di depan Ruangan inap ibunya.
Adelia langsung memeluk dan menangis Jasad sang ibu yang sudah terbujur kaku dengan di tutup kain putih Rumah Sakit.
"Adelia, ikhlaskan lah..." Dokter Bagas berucap seraya menyuruh Adelia untuk mengikhlaskan sang ibu yang telah meninggal.
"Iya Adel... mungkin ini jalan terbaik buat tante Moni" Rasya pun berucap, sambil sesekali mengusap punggung sang gadis.
"Rasya,, ini sungguh sakit rasanya bagi ku.."Adelia pun berdiri tegak masih dengan tangis nya.
"Tentu,, karena aku dapat merasakannya juga" Ujar Rasya.
"Maaf Adel... jenazah harus segera di mandikan." Dokter Bagas berucap.
dan hanya dengan anggukan Adelia menjawab.
Di doronglah Brangkar yang di atasnya jenazah sang ibu, menuju ruang pemandian.
Adelia pun ikut melangkah bersama Rasya untuk keluar ruangan.
Adelia mematung.
Tatapan nya begitu kosong.
Rasya mencoba mendekat, dan merangkul Adelia ke dalam pelukan nya.
"Sudah Del... Jangan terus bersedih. Di sini ada aku.." Ucap Rasya untuk menenangkan Adelia.
Adelia pun mengangguk.
Dan di tataplah Rasya. yang masih memeluknya.
"Terima Kasih." Adelia berucap
Di hapuslah air mata Adelia dengan lembut oleh Rasya. Dan Rasya pun hanya mengangguk, menarik kembali Adelia ke dalam pelukan nya.
Tak Jauh dari Tempat Adelia dan Rasya berada. Sepasang Mata memperhatikan dengan penuh tanda tanya. Karena melihat Adelia yang terus berderai air Mata. Dengan penuh rasa ingin tahu dia mencoba mendekat.
ia orang itu adalah Martin
Namun orang yang ingin di dekati pergi perlahan dari tempatnya.
Ternyata Adelia akan bergegas pergi ke kediaman nya, dengan Mobil Jenazah di belakang mengikutinya.
Sontak Martin pun kaget.
Adelia ternyata sedang Berduka.
Sebelum berangkat ke kediamannya.
Rasya menelpon Orang tuanya untuk memberi tahukan kabar bahwa ibu Adelia meninggal, dan menyuruh orang tuanya untuk mengurus pemakamannya.
Tibalah Adelia di kediamannya.
Di lihatnya Sudah banyak tetangga bahkan Ustadz setempat nya untuk menunggu.
Di peluk Adelia oleh Ibu nya Rasya.
"Sabar ya Del... yang kuat" Ucap Ibu Rasya bersedih memeluk Adelia.
"Iya tante, pasti Adelia kuat" Begitu ucap Adelia menguatkan dirinya.
Di angkatlah Jenazah sang ibu yang baru saja sudah di shalatkan, menuju pemakaman.
Dengan di iringi Lafadz tahlil dari orang yang mengantarkan.
Adelia terus menangis, sampai akhirnya proses pemakaman selesai.
Tetangga mulai sudah berpamitan.
Tinggal hanya Adelia, Rasya, dan ibu Rasya.
"Adel... Cukup sayang jangan terus menangis," Ibu Rasya menguatkan kembali Adelia.
"Iya tante, Adelia akan tegar dan mengikhlaskan." Ucap Adelia.
"Kamu wanita yang kuat selama ini aku kenal Del, " Rasya ikut menguatkan.
Mereka pun bergegas meninggalkan pemakaman.
__ADS_1
ketika Melangkah Adelia di kagetkan dengan keberadaan sosok Martin yang sedang Bersedih di depannya.
Sedari Rumah Sakit Martin mengikuti Adelia, bahkan ikut menshalatkan, sampai ikut dalam rombongan menuju pemakaman.
Sontak Rasya pun ikut memperhatikan.
Bahkan masih bertanya tanya di benaknya perihal kedekatan Adelia dengan Martin.
Deg....
"Dia..." Adelia bergumam di dalam hati.
Martin pun mendekat.
"Turut Berduka Cita, Adelia...." Martin mengucapkan bela sungkawanya kepada Adelia. Dengan menahan ingin memeluknya.
"Terima kasih,, " Ucap Adelia masih dengan berdirinya menatap Martin.
Hening seketika
"Ekhemmm... Ya sudah kita mau kembali" Ucap Rasya memecah keheningan. Dan merangkul Adelia untuk berjalan.
Namun Adelia menghentikan sejenak kembali langkahnya.
Mau bertanya merasa heran kenapa Martin ada disini, tapi ia urungkan mengingat Martin sebagai orang menyebalkan di matanya.
Adelia pun kini sudah berada di rumahnya, yang masih ditemani Rasya dan ibu Rasya.
"Adel,,, Mending nginep yuuk di Rumah tante.." Ajak ibu Rasya, yang tidak tega untuk meninggalkan Adelia seorang diri.
"Iya Del,,, Aku khawatir jika kamu di sini sendirian, bahkan kamu sedang berduka..." Rasya pun mengajak.
Adelia masih terdiam.
"Yuuk sayang, di rumah tante kan ada Serli Adik Rasya.." Ibu Rasya pun mengajak kembali.
"Tapi apa tidak apa-apa tante,,?" Adelia bersuara.
"Ya tentu tidak apa-apa sayang..." Ibu Rasya meyakinkan.
Adelia pun mengangguk, tanda mengiyakan ajakan ibu Rasya.
Rasya pun tersenyum karena senang bisa serumah dengan temannya, tepatnya teman hatinya.
"Nah ini kamar kamu sayang,,," Ibu Rasya menunjuk Kamar tamu untuk Adelia ketika sampai.
"Beristirahatlah sayang.." ucap ibu Rasya.
"Baik tante, terima kasih.. Adel masuk kamar dulu," Adelia pamit ingin beristirahat menuju kamar yang di tunjuk ibu Rasya tadi, sambil mendorong koper kecilnya.
Di tempat Lain.
"Kenapa ini, nomornya kok gak bisa di hubungi," Reyhan kesal dalam hatinya ketika mencoba menghubungi nomor Adelia.
"Daaarrr.... " Dimas datang dengan sengaja mengagetkan Reyhan. Tapi Reyhan tak bereaksi apa-apa. Wajahnya kini sedang menahan amarah, karena keinginannya menghubungi nomor Adelia tidak bisa terlaksana.
"Gue cabut,,!" Reyhan bergegas pergi meninggalkan Dimas.
"Eh bener-bener kampret nih,, baru aja gue datang. Lhu maen cabut aja," Dimas ngedumel sambil mengikuti langkah Reyhan.
"Tunggu Gue ikut Rey,," Dimas mensejajarkan langkahnya dengan Reyhan.
Tanpa di Jawab Oleh Reyhan, Dimas langsung ikut masuk ke dalam mobil Reyhan.
Dan Reyhan pun Menancapkan Gas mobilnya, seperti biasa.
....
Martin kini sedang memandangi Rumah Adelia yang gerbang pagarnya terkunci gembok.
"Kamu dimana,?"
"Kenapa kamu susah di hubungi?," Batin Martin.
Perlahan Waktu demi Waktu bergulir.
Martin ,Reyhan dan Dimas sudah lulus dari kuliahnya.
Begitupun Mita Desi dan Rasya. Merekapun sudah mempunyai gelar masing-masing.
Martin Cs sudah lupa akan perasaan nya kepada Adelia.
karena Saat ini Sudah selama dua tahun mereka tidak bertemu Adelia, waktu pun membuat mereka lupa.
__ADS_1
Tapi tidak dengan Adelia.
Dia ternyata pamit pergi setelah 100 Hari ibu nya meninggal, ia memutuskan pergi dari kota itu untuk mencari suasana baru dengan berbekal uang dari hasil penjualan rumah ibunya.
Jika terus berada di kota itu, Adelia merasa akan terus bersedih dan terbayang-bayang Akan wajah keluarga nya yang tiada.
Adelia kini tinggal di luar kota,bagian barat. jika kemarin nya bersama keluarga yang ia tinggali Adelia di bagian Pusatnya.
Awalnya Dia mengontrak Rumah Toko yang tepatnya sering di sebut Ruko. Ruko itu Dua lantai, Lantai pertama ia jadikan Toko kue, dengan bekal ilmu yang ia punya.
lantai kedua ia jadikan Tempat tidur untuknya.
Tapi kini Ruko itu menjadi milik sah nya, karena begilirnya waktu Usaha kue Adelia Ramai dengan pembeli.
Dia di temani seorang Wanita yang tak sengaja bertemu ketika Adelia ingin di jambret preman.
Wanita itu kesannya tomboy, namun ternyata dia anak jalanan berhati baik.
Adelia pun mengajak nya untuk tinggal bersama, karena sungguh Adelia kesepian tanpa adanya teman di tempat asing, mengingat Wanita itu ternyata juga sama-sama yatim piatu.
"Adel... Aku bersyukur deh bisa ketemu kamu, hidupku terasa normal, bisa merasakan tidur di atas kasur,, setiap hari ganti baju.. " Ujar Rara yang sedang memegang mikser untuk membuat adonan kue.
"Iya sama-sama Rara,,, Aku juga senang bisa punya teman sebaik kamu ," Ucap Adelia
"Ah kamu berlebihan Del... justru kamu yang sangat baik" Rara merasa Adelia yang memang orang baik.
"Ok,, ok kita sama-sama orang baik,," Adelia dengan canda nya. tidak ingin terlalu jauh mengungkit tentang kebaikan dirinya.
Tak lama datanglah Rasya. Ya Hanya Rasya yang selalu bertamu.
Karena Adelia tidak mau memutuskan silaturahmi dengannya, mengingat banyaknya jasa Rasya bersama keluarganya kepada Adelia. Tapi masih dengan status Teman.
"Nooh si Cogan datang,," Rara menunjuk ke arah Datangnya Rasya.
Adelia hanya geleng-geleng kepala. merasa kalau Rara selalu membuatnya tersenyum.
Adelia pun pamit untuk menemui Rasya.
"Rasya... Kamu baru datang?" Adelia basa basi.
"Iya baru aja nyampe,, kenapa? Kangen?" Rasya sengaja menggoda dengan menaik-naikan alisnya.
"iih Siapa juga yang kangen..." Adelia dengan mengerucutkan bibirnya.
Rasya tersenyum merasa gemas kepada gadis yang di depannya. Di acak-acaklah rambut sang gadis dengan gemas. Sontak Adelia pun kesel karena ulah Rasya rambut Adelia jadi berantakan.
"Tunggu di sini, aku bawakan minum,!" Ucap Adelia yang masih merapihkan rambutnya.
"Gak usah, Kita keluar yuuk...!" Rasya mencoba mengajak Adelia untuk pergi.
Adelia masih diam, sambil sedikit melirik ke arah dalam di mana Rara berada.
"Udah sana pergi,, kali kali kamu Refreshing Del..." Rara seakan tahu maksud Adelia.
"Ehmm.... apa kamu gak apa aku tinggal?" Adelia memastikan Rara.
"Gak apa apa cantik,,, lagian sekarang pembeli lagi sepi, terus pesanan cuma sedikit kan" ujar Rara.
"Ya udah aku siap-siap dulu..." Ucap Adelia kepada Rasya.
dan hanya Anggukan dari Rasya.
Adelia pun sudah Rapi dengan Dres santainya, di tambah sepatu sneakers. Rambut di gerai, dan make up yang natural membuat Rasya terus memandang kedatangan Adelia dari Tangga Ruko.
"Ekhemm... apa ada yang salah dengan penampilan aku?" Adelia bersuara sesampainya di depan Rasya.
"No... kamu cantik" Bisik Rasya di telinga Adelia.
Sontak saja Adelia sedikit gugup dengan hembusan Rasya di telinga nya.
"Ra... Aku pamit yaa... Hati-hati ya di rumah," Ucap Adelia pamit kepada Rara.
"iya cantik,,, kamu yang hati-hati," Rara memeluk Adelia sebentar.
"Hei,, titip Saudara gue yaa,, awas jangan kamu apa-apain. nyetirnya pelan pelan.." Pinta Rara kepada Rasya.
"its ok tenang saja..." Rasya sambil berlalu menuju mobil.
Terima kasih Tuhan, Engkau Mengirimkan orang orang baik di sekelilingku.
Sampai aku lupa, aku pernah berada di titik yang sangat menyedihkan.
Batin Adelia dengan wajah memandang orang yang sekarang di sampingnya, yang selalu ada. yaitu Rasya.
__ADS_1
Bersambung....