
Aldi baru saja memarkirkan mobilnya di depan gerbang kampus Serly. Ia menatap ke arah segerombolan mahasiswi namun tidak terlihat Serly keluar. Kemudian tatapannya berbinar saat melihat sepupunya Kikan yang baru saja keluar gerbang sendirian.
"Bang, Aldi" sapa Kikan saat melihat Aldi keluar dari mobil.
Aldi clingak-clinguk, dan Kikan mengerti ada yang di cari oleh Aldi saat ini.
"Bang, Serly sejak makul pertama dia pergi bareng Kak Dido. Mungkin mau nyelesaikan masalah kemaren," ujar Kikan memberitahu kembali setelah memberitahu Aldi lewat pesan.
Aldi menatap jam tangan di pergelangan tangannya, sudah menunjukkan setengah lima sore.
"Ya sudah. Abang cari dulu," Aldi langsung bergegas masuk ke dalam mobilnya. Kemudian ia membuka kaca jendela, dan berteriak kepada Kikan. "Mau ikut?" ajaknya.
"Boleh?" tanya Kikan memastikan.
Aldi mengangguk. Kikan pun langsung masuk ke arah pintu samping kemudi. Dan setelah memastikan Kikan memakai Seat belt, Aldi langsung menancapkan gas mobilnya meninggalkan pelataran Kampus.
"Ada gak, tempat yang biasa kalian datangi?" tanya Aldi mulai bertanya tempat yang sering di datangi Kikan bersama Serly.
"Cafe, Mall, paling taman. Tapi, sedari tadi hujan. Atau mungkin ke bengkel, ya?" Kikan mengingat-ingat tempat yang sering ia datangi ketika bersama Serly. Dan ia teringat tempat yang mungkin saat ini Serly datangi yaitu sebuah bengkel. Karena Serly sudah mengatakan kalau Serly akan mempetanggung jawabkan kesalahannya kemarin.
Aldi manggut-manggut. Namun, bengkel yang berdekatan dengan area Kampus tidak menampakkan adanya Serly.
"Eh, Bang. Coba cek GPS kontak Serly. Karena aku pernah dengar, bahwa ponselnya itu sudah di pasang pelacak oleh Kakaknya," saran Kikan membuat Aldi menghentikan laju mobilnya.
Dengan cepat ia merogoh ponsel dan mengecek keberadaan Serly lewat GPS. Dan benar saja. Keberadaan Serly langsung Aldi ketahui. Aldi mengerutkan keningnya dalam, saat membaca lokasi yang Serly singgahi kini.
"Sudah ketemu, Bang?" tanya Kikan saat melihat Aldi menatap serius ponselnya.
"Iya," sahut Aldi singkat.
Aldi sengaja ingin mengantarkan Kikan terlebih dahulu. Baru setelah itu ia mendatangi lokasi dimana Serly berada.
"Makasih, Bang" kata Kikan setelah di antar Aldi tepat di depan gerbang rumahnya.
Aldi hanya mengangguk. Lalu menancapkan gas mobilnya. Meninggalkan Kikan yang masih memperhatikannya.
"Bang Aldi benar-benar Es. Dingin banget," gumam Kikan seraya melangkah ke arah pintu utama.
Di sisi lain Aldi mengikuti lajur jalan, yang terdapat di GPS.
"Tempat apa sih? di sini terlihat pencil banget," Aldi bermonolog menatap ponselnya. Aldi heran dengan keberadaan Serly seperti di sebuah tempat pencil terlihat jelas dari GPS.
Hingga tidak lama Aldi melihat mobil Serly yang tadi siang di parkirkan Dido di parkiran khusus. Aldi pun memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil Serly.
Aldi menatap kembali ponselnya. Melihat titik keberadaan Serly. Hujan masih mengguyur tempat itu. Aldi dengan berdecak, ia meraih sebuah payung. Kemudian keluar dari mobil. Membuka payung lalu ia pakai. Aldi mulai melangkah berjalan menyusuri jalan setapak.
__ADS_1
Hingga tidak lama, Aldi berhenti sesuai titik keberadaan Serly.
Terlihat Serly berada di sebuah rumah kecil tengah Danau sedang mengobrol dengan seorang pemuda. Setelah Aldi berusaha mengedarkan pandangannya ke setiap sudut tempat.
Hati Aldi tiba-tiba merasa bergemuruh melihat pemandangan Serly yang terlihat tersenyum di sela-sela obrolannya. Aldi dengan langkah lebar mendekati pinggir Danau.
"Non Serly!" teriak Aldi.
Serly yang merasa di panggil. Mengedarkan pandangannya. Lalu tatapannya berserobok dengan tatapan Aldi yang tajam.
"Kak, Aldi" seru Serly. Serly tercengang melihat keberadaan Aldi di danau tersebut.
Dido pun memperhatikan ke arah Aldi. Dan Dido langsung melayangkan pertanyaannya kepada Serly.
"Siapa dia?"
"Oh, em i-itu--" belum juga Serly menjawab pertanyaan Dido. Aldi kembali berseru.
"Ayo pulang!" serunya. Membuat Serly menatap heran dengan tatapan Aldi yang seolah sedang marah kepadanya.
Serly mengangguk, "Iya, kak" jawab Serly berteriak.
"Maaf, kak Dido. Aku pulang ya, sudah di jemput itu!" Serly dengan meraih tas kuliahnya yang sengaja ia taruh di atas kursi kayu.
"Kamu belum jawab, dia siapa?" tanya Dido yang belum mendapat jawaban dari Serly saat tadi.
"Kak Aldi. Teman sekaligus asisten kakak Aku," sahut Serly seraya melepaskan cekalan tangan Dido.
Dido merasa tenang. Ia pikir Pria yang kini menjemputnya itu adalah kekasih Serly.
"Ya sudah. Ayo, aku juga mau turun!" ajak Dido. Kemudian ia lebih dulu turun sekaligus naik ke atas perahu sampan. Lalu di susul oleh Serly.
Dido mendayung perahu sampan itu ke arah daratan. Serly lebih dulu turun dari perahu sampan tersebut, lalu di sambut oleh Aldi dengan payung ia pegang.
"Terima kasih, Kak." Serly berucap karena mendapat tumpangan payung yang Aldi berikan.
Dido mengikuti langkah Serly dan Aldi dari belakang.
"Kak Dido, aku duluan ya!" kata Serly berpamitan.
Saat Serly akan melangkah, tangan Aldi mencekal tangan Serly. Kemudian tatapan Aldi mengarah kepada Dido.
"Kenapa kalian membolos?" tanya Aldi yang ingin tahu alasan Serly dan Dido.
Dido mencoba tersenyum ramah, "Maaf, Kak. Tadi kita kejebak hujan sangat besar di rumah tengah danau itu," ujar Dido mengatakan alasannya dengan jujur.
__ADS_1
Aldi kini menatap Serly, tangannya masih Aldi pegang.
"Bagaimana urusan kemarin apa sudah selesai?" tanya Aldi kepada Serly.
Serly terperangah ia belum menyelesaikan masalah tersebut. Namun, dengan cepat Dido menjawab.
"Belum, Bang. Karena saat tadi mau ke bengkel malah hujan besar," jawab Dido beralasan.
Serly menatap Dido dengan tatapan tidak mengerti. Saat tadi Serly ajak. Dido malah menolak. Bahkan Dido malah meminta tanggung jawabnya itu di ganti dengan waktu yang Serly luangkan untuk bisa bersama Dido. Aneh memang. Namun, Serly sanggupi. Karena menurut Serly pertanggung jawabannya memang seperti itu.
"Motornya dimana? biar saya yang servis motor itu, hingga tidak mengganggu waktu Nona Serly belajar," pinta Aldi. Aldi memang ahli dalam permesinan makanya bisa menjadi anak buah Rasya.
Dido gelagapan. Karena motor itu sudah ia simpan rapih di dalam gudang. Motor tersebut menjadi alasannya untuk tetap bisa menemui Serly.
"Ada di bengkel," sahut Dido.
"Ya kalau sudah di bengkel. Tinggal sebut saja berapa biayanya?" kata Aldi kini.
Dido terdiam. Bila sudah seperti ini. Dido akan susah untuk menemui Serly. Dido yang sudah menaruh hati terhadap Serly ia sengaja menemui Serly dengan alasan untuk meminta pertanggung jawabannya.
"Lima juta? sepuluh juta?" kata Aldi kembali menyebutkan nominal biaya yang harus di keluarkan.
"Tidak usah kak," tolak Dido. Sebenarnya dirinya juga sudah mempunyai banyak uang. Karena Dido anak dari seorang pengusaha sukses di kota itu.
"Sepuluh juta saja, ya! bagaimana?" Aldi masih tetap membahas masalah Serly.
Dido merasa tidak nyaman. Apalagi melihat tangan Serly masih di pegang sama Aldi.
"Bisa, gak bang tangannya jangan sampai pegang-pegang gitu?" Dido membatin seraya menatap tangan Serly yang masih Aldi pegang.
Sementara Aldi menatap tajam kepada Dido.
"Aku tahu, kamu pasti modus dengan alasan motor rusak mu itu. Agar bisa dekat sama Nona Serly," batin Aldi. Seraya matanya tidak teralihkan dari wajah Dido.
"Kok jadi saling tatap begini sih?" gumam Serly. Dari lubuk hatinya ia senang karena tangannya terus di pegang Aldi sedari tadi.
Duarrrr...
Suara petir menyambar. Membuat Serly repleks memeluk Aldi. Seketika Aldi membeku mendapat pelukan yang tiba-tiba seperti itu. Sedangkan Dido melotot tajam.
"Maaf," ucap Serly saat sadar ia telah lancang memeluk seorang pria selain kakaknya dan ayahnya.
Aldi hanya diam saja.
...***...
__ADS_1