
Adelia sungguh tercengang. Adelia tidak menyangka akan kedatangan Keluarga Albian bersama kedua temannya yaitu Arman dan Dirga.
Hari ini benar-benar hari yang membuat Adelia terkejut. Satu tentang mengetahui keadaan Martin dan kedua kini kedatangan keluarga Albian.
"Arumi," Hera menghambur memeluk Adelia yang sedari tadi masih terdiam mematung karena saking terkejut.
Adelia gelagapan. Kemudian ia membalas pelukan Hera Mamanya Albi itu. Setelah Hera mengurai pelukannya. Adelia mencoba tersenyum dengan ramah. Walau di dalam benaknya banyak pertanyaan tentang apa kedatangan keluarga Albi tersebut. Apa akan menjemputnya?.
"Apa kami boleh masuk?" Lucky kakak ipar Albi membuka suara.
"Oh, iya. Silahkan!" Adelia membuka pintu itu lebar-lebar, mempersilahkan keluarga Albi serta kedua temannya itu masuk.
Adelia masih mematung di tempat. Sedangkan tamunya sudah duduk di sofa ruang tamu. Kemudian Adelia menyadari bahwa kini ia sedang kedatangan tamu.
"Saya tinggal dulu. Mau membawa minum," ucap Adelia seraya melangkah meninggalkan ruang tamu. Albi langsung mengikuti kaki Adelia melangkah.
"Adelia ...," suara Albi menghentikan langkah Adelia. Membuat Adelia membalikkan tubuhnya menghadap Albi.
Adelia langsung menarik tangan Albi ke arah dapur. Setelah berada di dapur Adelia langsung mencerca Albi dengan pertanyaannya.
"Ini maksudnya ada apa? kenapa kalian datang kesini, Mas?" Adelia menatap tajam kepada Albi, membuat Albi tersenyum karena merasa gemas.
"Tenang dulu. Aku akan menjelaskan semuanya. Makanya aku mengikutimu," ujarnya dengan santai.
Adelia mendengus. Bisa-bisanya Albi berujar dengan begitu santai. Sedangkan Adelia merasa sangat gusar dan mencemaskan suaminya yang bisa saja datang, karena hari sudah menjelang sore.
"Ayo cepat katakan!" Adelia sangat tidak sabar dan tidak mau menunggu lebih lama.
Albi tersenyum seraya menatap dalam pada manik mata Adelia, "Mereka sudah tahu semuanya tentang kebohonganku Del ... Mama sempat syok dan di bawa ke rumah sakit," Albi menjeda dengan menghela nafas. "Untungnya Mama dalam keadaan baik kesehatannya. Dan bisa menerima kejujuranku. Lalu Mama meminta aku untuk menemui kamu," tukasnya.
Adelia terbelalak. Dan bisa bernafas lega. Akhirnya semuanya berakhir. Adelia salut kepada Albi yang benar-benar membuktikan akan mengungkapkan kebenaran itu dengan cepat.
"Syukurlah ... aku bisa bernafas dengan lega. Akhirnya aku akan merasa tenang, sambil menunggu kelahiran bayiku," ucap Adelia dengan tersenyum senang.
"Terima kasih ya, Mas. Kamu mau melakukan itu semua. Dan jangan pernah mengulangi kesalahan itu lagi," lanjut Adelia dengan menepuk bahu Albi.
Albi tidak bisa mengalihkan tatapannya dari wajah Adelia.
"Tapi sepertinya aku akan susah melupakanmu, Arumi ... aku tidak janji tentang kesepakatan kita," batin Albi berbicara seraya menatap Adelia dengan penuh makna.
"Ya sudah. Sekarang kamu bantu aku, bawain air minum dan cemilannya ke depan, ya!"
Adelia melenggang menuju lemari pendingin. Mengambil beberapa botol air mineral kemasan dan mengeluarkan cemilan-cemilan ringan. Albi dengan sigap mengambil alih botol-botol itu dari tangan Adelia. Sehingga tanpa di sadari Albi telah menyentuh tangan Adelia. Membuat Albi merasakan sesuatu degupan kencang pada dadanya.
"Tuh 'kan, jantungku saja masih berdetak dengan sama?" gumam Albi di dalam hati merasakan getaran cinta itu masih terasa ada.
Adelia melangkah meninggalkan Albi yang masih terdiam dengan mendalami perasaannya.
"Silahkan di cicipi!" ucap Adelia saat setelah meletakkan beberapa cemilan di atas meja.
__ADS_1
"Iya, Nak." Hera dengan tersenyum menyahut.
Albi datang dengan membawa beberapa botol mineral, lalu ia taruh di atas meja.
"Di minum, semuanya!" titahnya.
Alina mendelik, "Gak ada malu kamu. Ini rumah Arumi, Albi ...!" cibirnya.
Albi hanya bersikap santai dan menatap ke arah Adelia yang terlihat sedang gelisah.
"Assalamualaikum ...," ucap salam dari Rara yang masuk ke dalam rumah. Ia dari luar mengernyit heran saat menatap ada dua mobil mewah di halaman rumah Rasya.
"Wa'alaikum salam, " seru kompak dari yang duduk di sofa menjawab salam.
Rara tersenyum, dengan penuh tanda tanya saat melihat ada keluarga Albi dan kedua temannya.
"Ra, sini!" Adelia memanggil dan menyuruhnya untuk duduk di sebelahnya.
Rarapun menurut. Ia duduk di sebelah Adelia dengan menggenggam satu kantong plastik putih di tangannya.
"Itu pesanan yang aku minta, kan?" tanya Adelia dengan mata berbinar.
"Iya ini," kata Rara dengan menyerahkan kantong plastik tersebut.
Perbincangan antara Adelia dan Rara tidak luput dari perhatian semua tamu di ruang itu. Apalagi Albi yang sedari tadi menatap Adelia. Kini ia sangat penasaran tentang pesanan apa yang membuat Adelia matanya berbinar senang.
"Apaan itu?" tanya Albi ingin tahu.
Albi malah tersenyum, "Ya gak apa-apa dong. Aku hanya ingin tahu saja. Emang gak boleh?"
Alina dan Lucky saling menyikut. Mereka berdua paham. Bahwa Albi benar-benar menaruh perhatian dan pastinya terlihat ada cinta di matanya.
"Apa mungkin putra ku sudah jatuh cinta kepada Arumi? bagaimana ini?" gumam Hera kini di dalam hati. Ia memperhatikan putranya yang terus menatap Adelia sedari tadi.
Sementara Arman dan Dirga, mereka berdua menatap ke arah Rara. Gadis tomboy namun berwajah ayu.
"Gadis tomboy itu, target gue!" bisik Dirga tepat pada telinga Arman.
Arman mengernyit, dan terkekeh pelan. "Sejak kapan Lu suka gadis tomboy?" tanyanya dengan kembali berbisik.
"Sejak kemarin dan sekarang," jawab Dirga masih dengan berbisik.
"Ok. Gue juga punya target gadis di rumah ini. Yang gue ceritain malam tadi. Awas saja kalau Lu berubah pikiran," Arman berbisik. Target yang di maksud Arman adalah Ariyanti.
Sedang asyik saling berbisik antara Arman dan Dirga. Albi dengan penasarannya. Mendekati Adelia dan mengambil alih kantong plastik yang Adelia genggam.
Saat Albi membuka kantong plastik tersebut, Albi mengernyitkan dahinya. Tentu karena tidak tahu makanan apa yang ia lihat. Dan dari aroma baunya saja Albi tidak mengenali.
"Itu makanan yang lagi di ngidamin bumil," ujar Rara yang tahu Albi seakan ingin bertanya.
__ADS_1
"Kamu lagi ngidam ini?" tanyanya dengan menunjuk makanan tersebut.
"Iya ih, siniin! aku akan memakannya," Adelia dengan cemberut meminta kembali kantong plastik yang Albi rebut.
Albi mengembalikan kantong plastik itu tepat pada tangan Adelia. "Makanan apa itu?" tanyanya yang ingin lebih tahu nama dari makanan yang tengah Adelia idamkan.
"Seblak," sahut Adelia. "Kamu, mau?" lanjutnya bertanya.
Albi menggeleng, "Enggak. Lagian cuma satu bungkus. Mana mau kamu, berbagi" ledeknya.
Adelia menyengir.
"Sudah. Albi kamu jangan terus goda Arumi. Biarkan dia makan makanannya dulu, ibu hamil kalau lagi ngidam harus cepat mendapat makanannya," Hera kini bersuara.
Albi tersenyum canggung kepada Mamanya.
"Iya udah cepetan makan!" ucapnya.
"Saya tinggal dulu, ya Ma ... kak Alina, kak Lucky" ucap Adelia sebelum ia beranjak pergi ke arah dapur. Semua tamu mengangguk menjawab ucapan Adelia.
Kini di ruang itu semuanya menatap ke arah Rara. Membuat Rara merasa malu dan gugup.
"Suami Arumi, masih bekerja?" tanya Hera kepada Rara.
"Bentar ... Mama Albi sudah tahu kalau Adelia bukan istri Albi?" batin Rara.
"I-iya tante ... sepertinya sebentar lagi," sahut Rara.
Dan tepat sekali baru saja Rasya di bicarakan. Ia datang. Memarkirkan mobil miliknya di samping mobil tamu di depan halaman rumahnya. Lalu keluar dari mobil tersebut dan menatap pada dua mobil mewah yang terparkir di depan rumahnya.
"Mobil siapa itu?" Rasya bertanya seraya mulai melangkah menuju pintu utama.
"Assalamualaikum," salam Rasya dengan matanya menatap ke arah tamu yang sedang terduduk.
"Pebinor?" pekik Rasya di dalam hati dengan menatap tajam ke arah Albi.
"Wa'alaikum salam," jawab semua dari yang duduk di ruangan itu.
Sementara Alina melotot kaget. Ia begitu terkejut. Saat melihat ke arah Rasya. Pria yang datang adalah penyanyi pria yang sempat viral di instagram.
"Ya Tuhan ...," pekik Alina dengan tersenyum bak gadis remaja jika bertemu sang idola.
Lucky sama halnya dengan Alina. Ia jadi terdiam saat melihat Rasya yang berdiri dengan sorotan mata yang tajam.
"Aku bakal di cuekin pasti," keluhnya dalam hati. Lucky sudah tahu pasti jika Alina bila sudah bertemu dengan idolanya. Ia seakan berubah menjadi gadis remaja, yang lagi masa puber.
"Ada apa ini?" tanya Rasya menatap ke arah Albi dengan sorot mata yang tajam.
...***...
__ADS_1
...Bersambung....