You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 203.


__ADS_3

Esok Paginya...


Adelia merasa bahwa tubuhnya begitu lelah. Ia pagi ini seakan enggan untuk melakukan aktivitas seperti biasanya. Adelia pun hanya memilih membangunkan suaminya, karena suaminya harus tetap terbangun untuk pergi bekerja.


"Mas, bangun sudah jam enam," Adelia membangunkan Rasya, dengan mengusap-usap kepala Rasya yang masih menempel di bantal.


"Hmmm" Rasya hanya bergumam. Seperti menikmati elusan yang Adelia berikan di kepalanya.


Kemudian Rasya membuka mata. Dan menatap Adelia yang masih terbaring, dengan mata yang masih terpejam. Hanya tangannya yang terus bergerak-gerak mengusap kepala sang suami.


Rasya mengernyitkan dahi, menatap heran kepada sang istri, "Sayang, tumben kamu masih tiduran," tanya Rasya yang heran biasanya setiap pagi Adelia selalu sudah berada di area dapur.


"Aku lelah Mas, gak mau ngapa-ngapain," sahut Adelia, kini ia malah memeluk tubuh sang suami.


"Apa kamu lelah karena semalam?" Rasya dengan memeluk kembali tubuh sang istri. Sehingga di pagi itu, sepasang suami istri itu berpelukan.


"Mungkin juga," Adelia masih memejamkan kedua matanya.


Sontak Rasya merasa bersalah. Karena semalam ia menyuruh Adelia yang mengambil kendali semua pergerakan.


"Sayang, maaf ya! ini semua karena gara-gara aku. Apa baby kita baik-baik saja?" Rasya khawatir, ia kini mengelus perut sang istri.


"Enggak kok, Mas. Bukan karena semalam. Yang itu jangan di bahas ya," Adelia kini membuka mata. Dan menatap dalam ke arah wajah sang suami yang masih terlihat tampan, walaupun bangun tidur.


Rasya tersenyum, ia paham bahwa istrinya selalu malu jika membahas tentang pergulatan panas tersebut.


"Ok, aku gak akan bahas. Mending kita mandi. Mandinya pakai air hangat, agar otot-otot di tubuhmu kembali lentur dan rileks," Rasya bangun dan duduk bersandar.


Adelia mengangguk, "Tapi aku ingin di gendong, Mas" ucap Adelia manja.


"Dengan senang hati," Rasya langsung menggendong sang istri dengan lembut. Melangkah menuju kamar mandi.


"Sayang, tolong kamu bukain pintunya! aku kesusahan," titah Rasya. Ya tentu kesusahan karena kedua tangannya di pakai untuk memangku tubuh Adelia.


Adelia pun membukakan pintu kamar mandi tersebut. Setelah terbuka. Rasya langsung masuk melangkah, dan mendudukkan sang istri di bathup.


"Loh, kok kamu malah berdiri?" tanya Rasya saat Adelia berdiri.


"Aku mau buka baju dulu, Mas"


"Biar aku yang buka. Kamu diam saja!" cegah Rasya saat Adelia akan membuka bajunya.


"Mas mending isi dulu air di bathup nya, biar aku buka baju sendiri,"


Rasya pun tersenyum dan menurut. Ia mengisi bathup dengan air hangat. Lalu memasukkan aroma terapi ke dalam bathup tersebut. Setelah di pastikan semua siap. Adelia langsung masuk ke dalam bathup tersebut dengan tanpa sehelai benang.


Rasya menelan ludah dengan susah, saat melirik sang istri yang sudah bertelanjang masuk ke dalam bathup. Ia pun tak ambil pusing. Dengan cepat membuka pakaiannya. Hingga sama seperti sang istri. Ia masuk menyusul ke dalam bathup.


"Mas, jangan macam-macam!" cegah Adelia saat Rasya mulai menggerayangi tubuhnya.


"Ah, gak bisa sayang!" tolak Rasya.

__ADS_1


"Mas, aku ini sudah lelah. Masa Mas gak puas-puas sih?!" pekik Adelia seraya meraih sabun cair, dan ia tuangkan ke spons.


"Sayang, yang sekarang itu beda lagi," Rasya tidak mau penolakan.


Adelia menggeleng-gelengkan kepalanya. Merasa aneh terhadap suaminya yang masih terus menginginkan di pagi ini.


"Mas, semalam itu tiga kali loh, Mas ngajak terus" Adelia mengingatkan.


Rasya terkekeh, "Tapi--"


"Gak ada tapi-tapi. Sekarang Mas bersihkan badan cepat. Mas harus ke kantor!," potong Adelia. Ia langsung cepat membersihkan tubuhnya di bawah shower.


Dan Akhirnya Rasya pasrah tidak bisa mendapatkan olahraga, di kamar mandi di pagi itu. Rasya menurut dengan cepat membersihkan tubuhnya. Sementara Adelia sudah pergi meninggalkannya.


Tak lama ritual mandi yang penuh drama terlebih dahulu pun, selesai. Rasya keluar dari kamar mandi. Dan melihat sudah tersedia baju untuk ia kenakan ke kantor.


Namun, Adelia terlihat tidak ada di dalam kamar.


"Paling ke dapur," gumam Rasya saat tidak menemukan istrinya.


***


Di Kediaman Albian...


Sarapan pagi di ruang makan terlihat berbeda. Hera menatap Albi saat tidak mendapat jawaban. Tentang kemana perginya Adelia. Albi hanya diam dan menunduk. Mencari kata dan merangkai kata sebelum ia sampaikan kepada Hera.


"Albi, kamu dengar tidak? Mama nanyain Arumi, kenapa kamu tidak jawab dari tadi?" Alina bersuara. Karena merasa gemas Albi yang hanya diam terus.


"Tante, Kak Alina. Saya bukan urus campur. Namun, membantu menjawab. Bahwa Arumi sedang pergi--"


"Arumi sudah tidak ada lagi di rumah ini," potong Albi cepat. Ia tidak mau Arman kembali membohongi keluarganya.


Alina dan Lucky saling pandang. Merasa ada yang janggal antara adik beserta temannya itu. Sedangkan Hera menatap serius kepada Albi.


"Maksud kamu bagaimana, Albi?" pekik Hera dengan suara meninggi.


"Maafkan Albi, Mah. Maafkan Albi" Albi berwajah sendu. Menatap Hera yang menatap serius ke arahnya.


"Kamu minta maaf untuk apa, Nak? apa kamu bertengkar dengan istrimu?"


Albi menggeleng, "Albi akan mengatakan semuanya pada kalian. Semua yang tidak akan ada yang di tutupi lagi," ucap Albi.


Membuat Alina, Lucky, dan Hera merasa bingung. Sedangkan Arman dan Dirga menggeleng. Merasa tidak setuju akan apa yang Albi ingin ucapkan. Karena Arman dan Dirga sudah merasa yakin. Bahwa Albi saat ini akan jujur kepada keluarganya itu.


"Apa yang akan kamu katakan, Albi. Ayo cepat!" desak Alina. Yang merasa tidak sabar menunggu apa yang akan Albi katakan.


Albi menghela nafas dengan dalam. Bahkan ia memejamkan kedua matanya. Sebelum mulai mengungkapkan yang sebenarnya.


"Mah, Kak--"


Tiba-tiba dering ponsel Albi memekikan telinga.

__ADS_1


"Maaf, aku angkat dulu telepon," ucap Albi kemudian ia bangkit dari duduknya. Dan menjauh dari area dapur.


Tertera Pak Hadi calling di layar ponsel milik Albi. Tanpa menunggu lama. Albi langsung menjawab panggilan tersebut.


"Selamat pagi, Pak Hadi" sapa Albi saat sudah sambungan telepon tersambung.


"Pagi Tuan Albian. Maaf saya mengganggu pagi-pagi," ucap Hadi di seberang telepon.


"Tidak apa-apa Pak," sahut Albi.


"Maaf sekali. Saya hanya ingin menanyakan perihal pertemuan kemarin di kota B. Bagaimana atas respon putra saya tentang kerja sama yang sudah terikat bertahun-tahun?, Maaf jika respon dari putra saya terlalu datar,"


"Oh tentang itu. Tidak apa-apa Pak. Respon dari putra bapak. Sangatlah baik. Memang beliau hanya saja tidak terlalu banyak menilai. Namun, saya yakin beliau sangat positif menilai antara kerja sama kita,"


Untung saja semalam Arman sempat melaporkan tentang pertemuan antara dirinya dengan Rasya hari kemarin. Sehingga Albi mendapatkan jawaban untuk Hadi.


"Begitu ya. Terima kasih sekali Tuan Albian sudah bersedia menjawab panggilan saya. Dan terima kasih atas waktunya. Kalau begitu tentang kita masih terjalin baik kesimpulannya."


"Iya Pak Hadi sama-sama,"


"Kalau begitu mari Tuan, terima kasih atas waktunya. Saya permisi," Hadi mengakhiri percakapannya.


"Iya Pak Hadi silahkan," sahut Albi. Dan panggilan pun terputus saat Albi sudah menyahuti.


Albi menghela nafas. Ia kini akan menghadapi keluarganya di meja makan. Dengan berjalan gontai, seraya memasukkan ponsel ke dalam saku jasnya. Melangkah mendekati meja makan dan duduk di kursi semula.


"Ayo Albi, apa yang ingin kamu katakan!" Alina langsung menodongkan perintah saat Albi sudah duduk di kursinya.


Albi menatap Alina, Lucky, dan Hera. Terakhir Albi putuskan untuk menatap Mamanya.


"Em ... Mah, apa Mama masih memiliki riwayat penyakit jantung?," tanya Albi memastikan terlebih dahulu.


"Ada apa, kamu menanyakan tentang penyakit Mama?" pekik Alina yang sangat antusias.


"Ya, aku hanya ingin memastikan. Mama tidak akan serangan jantung saat aku mengatakan sesuatu kebenaran," sahut Albi serius.


"Mama sehat kok, kamu tidak perlu khawatirkan Mama," ucap Hera menenangkan sang putra.


"Benarkah?" Albi meyakinkan.


"Benar. Ayo kebenaran apa yang ingin kamu katakan!" titah Hera.


Albi menghela nafas dengan panjang, ia dengan tertunduk akan mengatakan yang sebenarnya kepada Alina, Lucky, dan Hera.


"Maaf sebenarnya selama ini. Aku telah--"


...***...


...Bersambung....


Jangan lupa Like, Comment, dan Hadiah poinnya readers!!

__ADS_1


__ADS_2