You Are My Mine

You Are My Mine
Perasaan nya Yuda.


__ADS_3

Mendengar ucapan Rasya, Yuda sungguh geram dengan terus mengepalkan kedua tangan nya yang masih di pegangi Rara.


Mata Yuda memerah. Sekarang rasa cemburunya bertambah rasa kecewa. Kecewa karena Adelia lebih memperdulikan Rasya di hadapan nya.


"Auw...." Adelia meringis kesakitan. Bekas Jarum infus terlihat mengeluarkan darah. Mungkin karena tadi Adelia melepaskan nya secara paksa.


"Del... Ayo kamu berbaring lagi. Ra... Panggil Suster cepat." Rasya dengan cepat membopong Adelia menuju ranjang pasien, dan Rasya pun menyuruh Rara untuk memanggil perawat.


Rara dengan cepat keluar untuk memanggil Perawat. Yuda mendekat dengan tetap berdiri.


Tak lama Rara pun datang dengan seorang perawat.


"Mohon maaf. Bisa tunggu dulu di luar. Saya ingin memeriksa pasien nya." Ucap Perawat itu.


Rasya pun keluar, dan di susul Rara juga Yuda. Mereka duduk di bangku dengan diam. Tak ada yang bersuara di antara mereka. Yuda masih mencoba meredam amarah nya. Sedangkan Rasya merasa cemas akan Adelia tadi yang sedang kesakitan.


Pintu ruangan Adelia terbuka, keluar Perawat tadi dengan tersenyum lalu mendekati mereka.


"Sekarang biarkan Pasien untuk beristirahat."


"Lalu bagaimana dengan luka bekas jarum tadi Sus?." Tanya Rasya dengan cemas.


"Mas Tak perlu khawatir, Luka itu sudah saya bersihkan. Dan akan cepat mengering." Jawab Suster itu dengan Ramah.


"Kalau begitu saya permisi kembali." Suster itu pamit kepada mereka.


Mereka pun mengangguk dengan bersamaan.


Yuda kini menatap Rasya dengan sengit. Benar-benar rasa cemburu sudah menguasai dirinya.


"Sekarang kamu tinggalkan Adelia."


Rasya langsung menoleh ke arah Yuda, dan matanya menatap dengan tajam.


"Apa hak mu melarang aku di sini?."


"Tentu aku punya hak. Karena selama ini Adelia selalu bersama ku." Yuda dengan tak kalah tajam matanya menatap Rasya.


"Kamu Cemburu?" Rasya dengan tersenyum menyeringai.

__ADS_1


"Tentu. Karena aku sangat mencintai Adelia." Akhirnya Yuda mengakui perasaan nya di hadapan Rasya dan Rara.


Rara hanya diam menyaksikan.


"Sudah ku duga." Ujar Rasya.


Yuda tangan nya kini bersedekap di dada, "Adelia akan bahagia bersama ku." Katanya.


Rasya mendekat ke arah Yuda, Lalu tangan nya terangkat mencengkram kerah baju Yuda. "Aku tidak akan menyerahkan nya pada mu. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Adelia adalah Milik ku." Bisik Rasya. Tangan nya lalu melepaskan cengkraman nya itu.


Yuda terdiam. Namun mata nya tetap menatap dengan tajam kepada Rasya.


Rasya dengan kembali duduk santai di dekat Rara. Rara sedari merasa tegang menyaksikan antara Yuda dan Rasya yang terus berdebat.


"Mending kita makan dulu Yuk. Gue laper ni makan siang udah kelewat." Rara mengajak untuk makan, dan menatap ke arah Rasya juga Yuda.


Yuda mengangguk. Rasya masih terdiam.


"Sya..." Sapa Rara.


"Iya. Ayuk...." Sahut Rasya dengan cepat berdiri, dan melangkah terlebih dahulu.


Kemudian di susul oleh Rara dan Yuda dari belakang.


"Apa?." Teriak Rima yang sedang menerima panggilan dari seseorang.


"Iya Sorry. Gua Gagal kali ini. Gua sama anak buah Gua kalah bertarung melawan kedua pria itu." Laporan Gank Juana.


"Aku tidak akan membayar mu kali ini. Karena kerja kalian gak becus." Hardik Rima dengan nada suara nya menggelegar memenuhi ruangan kamarnya.


Rima sungguh emosi ketika Juana menelpon dan mengatakan bahwa Adelia yang kemarin sempat ia tawan di gudang kembali berhasil di selamatkan oleh ke dua pria, yang salah satunya Juana menyebutkan ada Yuda di antara ke dua pria itu.


"Gua Janji satu langkah lagi Gua akan berhasil mampusin cewek itu sesuai apa yang Lu mau." Sahut Juana dalam sambungan telepon.


"Buktikan kalau kalian memang bisa gue andalkan." Ketus Rima seraya menutup sambungan telepon nya sepihak.


Rima dada nya naik turun. Amarahnya sungguh luar biasa. Ia ketakutan jika suatu saat Martin bisa bertemu Adelia, yang membuat pernikahan nya terancam.


Untung saja di rumahnya Rima lagi sendiri. Martin sudah seperti biasa pergi mengelolo Cafe-Cafe nya yang sempat beberapa bulan Martin tinggalkan. Sedangkan Tante Meli pergi mengurusi Butiq yang merupakan modal dari Martin.

__ADS_1


Rima terus mondar-mandir di dalam kamarnya, dengan terus berpikir memutar otaknya. Rima tersenyum menyeringai kala Ia mendapat sebuah Ide yang menurutnya akan berhasil.


Rima membuka layar ponselnya. Ia menekan salah satu nomor kontak, lalu Rima memanggilnya.


"Hallo Martin. Apa kamu sedang sibuk?." Ucap Rima setelah panggilan nya tersambung. Dan ternyata Martin yang hendak di telepon Rima.


" Iya Rim ada apa?. Kebetulan hari ini aku sibuk banyak yang harus di revisi ulang." Jawab Martin di seberang telepon. Nada suara Martin kini sedikit lembut kepada Rima. Mungkin karena Martin sudah menerima sebagai calon istrinya.


"Ya sudah. Tadinya aku ingin makan siang bersama mu. Tapi tidak apa-apa. Mungkin lain kali saja." Ucap Rima sedikit kecewa.


"Iya Rima Mohon maaf. Lain kali kita bisa makan bersama." Sahut Martin dalam telepon.


"Kalau begitu ya sudah. Aku tutup telepon nya ya... Bye, See you." Tutur Rima dengan lembut.


"See You...." Jawab Martin dan langsung menutup sambungan telepon nya.


Rima kemudian turun ke bawah. Bergegas mengendarai mobilnya. Entah apalagi yang Rima rencana kan saat ini. Hanya dirinya lah yang tahu.


Setelah sampai pada tempat yang di tuju nya. Rima turun dari mobil. Lalu melangkah menuju sebuah rumah yang tidak jauh dari mobil yang ia hentikan tadi. Kemudian Ia mengetuk pintu rumah itu. Dan Tak lama seseorang membuka kan pintu rumah tersebut. Seorang wanita paruh baya, yang masih terlihat cantik. Ia tersenyum kala melihat tamu nya yang sedang berdiri di depan nya.


"Rima...." Sapa Wanita paruh baya itu.


"Ah Iya tante. Apa kabar?." Sahut Rima serah menyapa kembali kepada wanita penghuni rumah tersebut.


"Tante Baik. Kamu sendiri bagaimana?. Kamu semakin cantik saja ya...." Jawab Wanita paruh baya tersebut dengan memuji Rima yang semakin cantik.


Rima terkekeh atas pujian wanita paruh baya tersebut. "Tante bisa saja. Oh iya tante Indri nya ada?." Tanya Rima kepada wanita paruh baya itu.


Ternyata Wanita paruh baya itu adalah Ibu nya Indri teman dekat Rima. Karena Indri sejak Pulang dari berlibur waktu bersama Adelia dan Rara. Indri pulang ke kediaman nya. Dan tidak tinggal lagi di Kos-an nya.


"Indri sedang bekerja Rim. Sudah mau ke empat bulan nya kalau tidak salah." Tukas Ibunya Indri.


Rima tersenyum kecut. Tanda Ia kecewa kepada Indri yang tidak memberitahu nya kalau Indri sudah bekerja. Rima merasa di khianati oleh teman dekatnya satu persatu, yang mulai dari Yuda. Dan sekarang Indri.


"Oh begitu ya tante. Kalau begitu Rima undur pamit. Lain kali Rima kesini lagi." Kata Rima. Dengan cepat melangkah pergi tanpa mau mendengar Ibu Indri yang mau menjawab nya saat itu.


Ibu Indri menatap Heran ke Arah Rima yang terus berjalan menuju mobilnya.


Sedangkan Rima masuk kedalam mobil dengan menutup pintu mobilnya dengan keras. Ia membanting pintu mobil itu untuk meluapkan emosinya.

__ADS_1


Setelah duduk di belakang kemudi. Rima dengan cepat menancapkan gas nya, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Rima sampai tidak sadar akan ia yang melajukan mobilnya dengan begitu sangat cepat. Hingga ketika di sebuah tikungan. Mobil Rima berpapasan dengan sebuah Truk yang mengangkut Banyak Batu bata. Truk itu dengan sangat hati-hati mungkin karena muatan nya yang sangat berat. Mobil Rima yang sedang dalam keadaan cepat menyenggol pinggiran mobil Truk tersebut. Sopir Mobil Truk itu mengerem mendadak. Dan mengumpat kepada Rima. Namun Rima tidak menggubris nya, bahkan Rima tidak mengucapkan kata Maaf sedikitpun. Rima acuh dengan terus melajukan mobilnya. Meninggalkan Sang Sopir yang masih menggerutu kepada dirinya.


...Bersambung....


__ADS_2