You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 210.


__ADS_3

Selesai makan malam. Semuanya kumpul di ruang keluarga. Ruang paforit bagi Lia, dan Rara. Karena keduanya sangat suka menonton televisi di tempat itu. Apalagi keduanya menyukai acara yang sama.


Namun, Rasya hanya duduk dengan tangannya terus mengelus perut buncit istrinya. Dengan sesekali menatap televisi, yang acaranya sedang di tonton Lia, dan Rara.


"Oh ya Ampun ... Mira kamu itu, seperti gak ada lelaki lain saja, mau rebut suami temanmu sendiri!!" celetuk Lia di tengah-tengah perkumpulan itu. Lia sedang menggerutu kesal pada pemeran yang bernama Mira. Mira di sinetron tersebut, berperan sebagai pencuri laki orang.


"Iya. Ih ... gak jijik apa ya, maunya laki orang?!" timpal Rara dengan serius.


Membuat Hadi, Rasya, dan Adelia tersenyum geli menanggapi. Namun, tidak dengan Ariyanti. Ia yang sedang bermain ponsel merasa tersindir akan celetukan dari Lia dan Rara. Hingga Ariyanti terus menunduk berpura-pura fokus pada layar ponselnya.


"Wah ... ini aku sudah tahu. Pasti ujung-ujungnya si pelakor itu, menyesal dan taubat. Lalu meminta maaf pada istri sah-nya," seloroh Rasya di tengah-tengah celetukan Lia dan Rara.


Membuat Lia dan Rara. Tersenyum senang karena merasa ada teman menonton.


"Kenapa sih, di film itu suaminya yang terus membuat masalah. Padahal 'kan banyak seorang istri juga yang berbuat salah?!" Hadi menerobos masuk dalam percakapan. Hadi merasa kenapa harus selalu suami saja yang pembuat masalah dalam sinetron itu. Sehingga Hadi tidak bisa terima. Padahal masih banyak suami yang merasakan sakit karena ulah istrinya.


"Ih, Papa. Judulnya juga 'kan, Suara Hati Istri. Jadi di film ini yang selalu menderita ya, sang istrinya," sahut Lia menjelaskan.


Hadi menggeleng-gelengkan kepala, "Ah ribet bagi Papa nonton acara wanita. Lebih baik Papa, ngopi di balkon. Kamu, mau ikut Sya?" seraya mengajak Rasya untuk ngobar, alias ngopi bareng.


Rasya menggeleng, "Papa saja deh," tolaknya.


Hadi tersenyum sinis, "Bilang saja kalau kamu, tidak mau jauh dari istrimu?!" ledek Hadi.


"Itu Papa tahu," sahut Rasya cuek.


Serly yang memang tidak suka menonton acara tersebut. Mendadak bangkit dari duduknya.


"Mau kemana, kamu bocil?!" tanya Rasya.


"Aku mau nonton Drakor di kamar. Ribet nonton acara ibu-ibu, yang ada hati panas dan ngedumel," tukasnya lalu pergi meninggalkan ruang tengah tersebut.


Kini tinggal Lia, dan Rara yang masih saja antusias menonton acara tersebut.


Adelia yang sesekali menyimakpun, merasa kesal pada peran antagonisnya.


"Mas, lebih baik ke kamar yuk!" ajak Adelia membuat wajah sang suami sumringah.


"Ayo, sayang!" Rasya semangat langsung berdiri dari duduknya. Dan membantu Adelia berdiri.


"Tapi, aku inginnya ke kamar Mas yang di atas," pinta Adelia.


Rasya menautkan kedua alisnya. "Mau apa, Sayang?" tanyanya ingin tahu.


"Aku ingin, lihat Mas bermain musik," sahut Adelia dengan tersenyum manja.


Rasya pun manggut-manggut, "Ya sudah, ayo!" ajak Rasya akhirnya.


Adelia berpamitan terlebih dahulu kepada penghuni rumah yang masih asyik menonton itu. Lalu keduanya melenggang pergi, dan menaiki anak tangga untuk menghampiri kamar Rasya yang berada di lantai atas.


"Sayang ... pelan-pelan, ya!" pesan Rasya saat berjalan beriringan menaiki anak tangga.


"Iya Mas," ucapnya. "Merasa sesak ya, sekarang pas naik tangga," keluh Adelia saat sudah di ujung anak tangga.


"Mungkin, karena perut kamu sekarang sudah besar. Makanya, terasa sesak" Rasya seraya membuka pintu kamarnya, yang hampir seminggu ini tidak ia pakai. Adelia pun mengikuti masuk ke dalam kamar tersebut, dengan langsung menghampiri alat-alat musik Rasya yang sudah bertengger.


"Ya Tuhan ... aku senang ingatanku telah pulih. Aku bisa bernyanyi dan di iringi Mas Rasya bermain musik," Adelia di dalam hatinya berbicara. Ia begitu senang saat ingatannya kembali.


"Mas, aku ingin nyanyi," ucap Adelia.


Membuat Rasya mendekat dengan perasaan heran, "Apa kamu sekarang sudah ingat, Sayang?!" tanyanya memastikan.


"Em ... belum. Hanya aku ingin nyanyi saja, Mas. Gak apa-apa, kan?"


Rasya mengangguk, dengan tersenyum.


Kemudian ia duduk di depan alat musik paforitnya itu.

__ADS_1


"Sayang ... kamu ingin tahu. Kamu juga bisa main gitar, loh" seloroh Rasya menceritakan.


"Oh, ya?" tanya Adelia seperti tidak percaya. Padahal di dalam hatinya mengakui.


"Iya memang aku bisa main gitar. Tapi, aku tidak akan lakukan sekarang. Nanti saja, kalau aku sudah menceritakan semua atas ingatanku yang kembali," gumam Adelia di dalam hati.


"Benar, Sayang ... dan aku selalu terpana, saat melihat kamu bermain gitar," Rasya dengan mulai menekan not-not pada Keyboard.


"Kamu mau nyanyi lagu apa, Sayang?" tanya Rasya. "Lagu kesukaan mu saja ya, bagaimana?" lanjut Rasya bertanya.


"Emang, apa lagu kesukaan ku, Mas?" tanya Adelia kini dengan menopang dagunya di atas meja, yang di atasnya alat musik keyboard.


Rasya seperti berpikir, "Sebujur bangkai," jawabnya dengan mengulum senyum.


Adelia tergelak, "Masa iya, itu lagu kesukaan ku?" Adelia mencoba berpura-pura tidak mengingat.


"Mas, kamu ada-ada saja. Selalu punya cara buat aku terus tersenyum dan tertawa. Terima kasih. Kamu telah menjadi bagian dari hidupku, Mas" gumam Adelia dengan terus menatap Rasya yang kini sedang tertawa.


"Maaf, sayang bukan itu. Ada lagunya ... kamu ingin tahu?" kini Rasya mencondongkan tubuhnya menatap sang istri lebih dekat.


"Iya aku ingin tahu, Mas" jawab Adelia dengan tersenyum.


Rasya menunjuk bibirnya, "Kiss dulu," ucapnya.


Adelia menggeleng, "Aku gak mau," sahutnya.


"Ya sudah. Kalau kamu gak mau kiss, berarti kamu gak mau tahu," Rasya dengan menaikkan sebelah alisnya menggoda.


"Gak apa-apa, kok" ucap Adelia acuh.


Rasya kembali duduk tegak, lalu tangannya kembali memainkan not-not pada Keyboard-nya.


Mulai terdengar intro musik yang Rasya mainkan. Dan Adelia sangat tahu. Bahwa Rasya kini sedang memainkan nada lagu kesukaannya. Yaitu lagu Terang dalam gelap yang di bawakan oleh band Ungu.


Rasya tersenyum, dan mulai mengeluarkan suara merdunya seraya menatap sang istri yang sedang menatapnya pula.


Hitam terangnya cinta


Bersamamu kan kujelang hari bahagia


Tanpamu ku gelap tanpamu gelap


Simpan saja semua cerita


Tentang hitamnya cinta


Bersamamu kan kujelang hari bahagia


Tanpamu ku gelap engkaulah terang


Dan aku


Tlah yakinkan hatiku bahagiakan


Kujelang bersamamu


Dan aku


Yang tak bisa tanpamu karna


Engkaulah terang dalam gelapku


Bulan bintang yang slalu datang


Setia terangi malam


Tak seterang hatimu tak seterang cinta

__ADS_1


Yang kau berikan yang kau berikan


Dan aku


Tlah yakinkan hatiku bahagiakan


Kujelang bersamamu


Dan aku


Yang tak bisa tanpamu karna


Engkaulah terang dalam gelapku


Dan aku tlah yakinkan hatiku bahagiakan


Kujelang bersamamu


Dan aku


Yang tak bisa tanpamu karna


Engkaulah terang dalam gelapku


Dan aku


Dan aku


Dan aku tlah yakinkan hatiku bahagiakan kujelang bersamamu


Adelia menitikkan air matanya setelah Rasya mengakhiri lirik lagu tersebut. Entah kenapa Adelia merasa haru, mendengar Rasya bernyanyi dengan sangat menjiwai dan seakan Adelia masuk ke dalam lagu tersebut.


Rasya yang telah menghentikan suara alat musiknya, kini menatap Adelia yang berurai air mata. Namun, bibirnya tersenyum.


"Sayang, kamu kenapa?" tanyanya dengan perasaan bingung serta bercampur heran.


Adelia menggeleng, dan bangkit dari duduknya. Ia menghampiri Rasya dan duduk di pangkuan Rasya. Lalu bibirnya memagut bibir sang suami dengan penuh gairah dan cinta. Bahkan Rasya masih terdiam tanpa membalas ciuman gairah dari istrinya tersebut. Masih termangu dengan rasa bingung.


Adelia terus melu*at dan mence*ap bibir suaminya. Dengan mata terpejam, dan dengan tangan yang ia lingkarkan pada leher kokoh sang suami. Sementara Rasya kini membalas ciuman yang menggairahkan itu, dengan tangannya melingkar di pinggul sang istri. Walau ia belum paham apa yang telah di rasakan istrinya. Rasya tentu tidak mau kehilangan kesempatan.


Hingga berselang lama. Adelia menghentikan pagutannya itu, lalu menempelkan keningnya dengan kening sang suami.


"Aku mencintaimu, Mas" ucapnya. "Terima kasih, masih mengingat lagu kesukaanku," lanjutnya.


"Kamu ingat, Sayang?" tanya Rasya kini.


Adelia mengangguk dengan tersenyum.


"Kamu berhasil menyanyikan lagu itu, Mas. Membuat aku terhanyut dan tersentuh. Sehingga aku sekarang berpikir. Aku tidak mau sampai orang lain melihat kamu bernyanyi,"


"Loh, kok gitu Sayang?"


"Iya. Aku gak mau, sampai orang lain terkesima dan tergoda akan ketampanan serta kemerduan suaramu, Mas,"


Rasya tergelak. Kini istrinya berpikiran seposesif itu. "Sayang ... kamu telat. Bahkan dari dulu, semua orang yang melihat aku bernyanyi sudah menggilai ketampanan dan kemerduan suara suamimu," ucap Rasya narsis.


Tanpa Rasya dan Adelia ketahui. Ariyanti menguping dan bahkan tadi sempat menyaksikan adegan cumbuan sepasang kekasih tersebut. Karena Pintu kamar yang terbuka, tadi Rasya lupa tidak menutup pintu kamarnya. Dan kamar Rasya itu terlewati saat Ariyanti ingin hendak ke kamarnya.


Ariyanti menahan gejolak amarah. Dengan wajah yang terasa panas, ia menyumpahi.


"Sekarang kalian bisa hidup bahagia. Tapi, lihat sebentar lagi. Kebahagiaan itu akan luntur serta pudar," gumamnya.


Lalu Ariyanti melangkah pergi dari depan kamar Rasya, dan berlalu masuk ke dalam kamarnya.


...***...


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2