
"Kak Aldi?!" Serly dengan mata terbelalak merasa terkejut dengan apa yang ia lihat saat ini. Aldi berada di tempat yang sama dengan dirinya.
Aldi sama terkejutnya. Ia menatap Serly masih dengan tatapan yang sama. Tatapan mendamba dan penuh cinta.
Dido yang merasa Serly tidak ada di sampingnya, menoleh ke arah belakang. Ternyata langkahnya sudah berada jauh dari Serly. Dido terdiam sejenak menatap pemandangan dua insan yang saling memandang.
Hati Dido sudah merasa panas dengan menyaksikan pasangan yang pernah bersatu tersebut, dari tatapan keduanya Dido bisa tahu, keduanya memancarkan cahaya penuh cinta dan kerinduan.
Dido melangkah mendekati Serly. Dido langsung meraih tangan Serly di hadapan Aldi. Seolah-olah Dido tidak pernah tahu, jika Serly dan Aldi saling mencintai dan pernah bersatu.
"Oh ya Ampun. Pantas saja kamu tertinggal di sini," ucap Dido saat jarinya bertaut dengan jari jemari Serly.
Tatapan keduanya langsung terputus. Serly langsung merasa bersalah di hadapan Aldi saat ini, di kala tangannya di genggam oleh tangan Dido.
"Apa sekarang bisa anda jelaskan, Nona Serly?" Aldi dengan wajah datar nan dingin meminta penjelasan kepada gadis yang di cintainya. Aldi masih butuh penjelasan dari Serly mengenai hubungannya yang mengapa tiba-tiba Serly akan bertunangan dengan Dido.
Serly memandang Aldi dengan tatapan sayu. Ada rasa tersayat di dalam hati, mana kala Aldi memanggilnya dengan sebutan seperti pertama sebelum hubungan itu terjadi.
Dido ingin bersuara. Namun ia urungkan. Biarkanlah urusan ini Serly terlebih dahulu yang menangani. Jika dirinya di butuhkan, maka Dido akan membantu menjelaskannya.
"A-aku--"
"Aldi?!"
Serly yang baru saja akan mulai menjelaskan, ucapannya terhenti kala ada suara wanita yang memanggil nama Aldi.
Aldi menoleh ke arah sumber suara tersebut. Begitupun dengan Serly dan Dido.
"Ya Ampun ... sungguh aku takut salah. Tapi ternyata benar," ucap Maharani dengan wajah berseri berjalan semakin mendekat ke arah mereka bertiga.
Maharani menatap ke arah Dido dan Serly dengan senyuman yang manis. Aldi sendiri merasa tegang. Ada rasa takut jika Serly berpikir bahwa dirinya sudah berpaling.
Serly membalas senyuman Maharani, dengan matanya fokus memperhatikan penampilan Maharani yang modis serta fasionable. Dengan make up tipis, tubuh yang sangat ideal, membuat Serly menjadi minder.
Dido merasa sedikit lega di dalam hatinya. Jika wanita yang bersama Aldi tersebut merupakan wanita yang sangat menyukai Aldi. Dido berharap wanita tersebut bisa membuat Aldi melupakan Serly.
__ADS_1
"Aldi siapa mereka?" tanya Maharani yang ingin tahu. Keheningan yang tercipta membuat Maharani canggung sendiri.
Aldi menatap ke arah Serly, "Ini Nona Serly adiknya Pak Rasya," jawab Aldi. Kemudian tatapan Aldi mengarah kepada Dido, "Dan di sampingnya, Tuan Muda Dido Arlino putra dari Tuan Malik Arlino,"
Maharani terbelalak. Merasa baru kali ini ia bertemu langsung dengan pewaris tunggal Tuan Malik orang yang terkaya di kota J tersebut.
"Jadi, mereka yang akan bertunangan itu?" gumam Maharani.
"Hai, aku Maharani. Terimakasih, sudah mau mengundang ke acara pertunangannya," lanjutnya memperkenalkan diri.
"Oh ya anda mendapat undangan nya? ya Sama-sama," sahut Dido yang bersuara. Serly sendiri, merasa kelu untuk bersuara melihat wanita yang menurutnya begitu sempurna.
Dido merangkul bahu Serly, "Bang Aldi, kalau begitu kami duluan ya," pamit Dido kemudian mengangguk tersenyum kepada Maharani.
Serly terdiam menerima perlakuan Dido. Serly menurut berjalan meninggalkan Aldi dan Maharani dengan bahunya yang terus di rangkul Dido.
Dido memilih meja. Lalu menarik kursi untuk Serly duduk.
"Terima kasih kak," ucap Serly menerima perlakuan Dido.
"Sama-sama sayang ...," balas Dido dengan tersenyum.
Tak lama Aldi dan Maharani masuk ke dalam Cafe, mereka berdua melewati meja yang di tempati Dido dan Serly. Sontak Serly menatap nanar, memperhatikan Aldi yang berjalan berdampingan dengan Maharani.
'Siapa wanita itu? apa mungkin kak Aldi sudah berpaling dariku? jika iya. Syukurlah ... aku bisa tenang melepaskan nya. Semoga kalian berdua bahagia,' batin Serly.
Serly merasa bersyukur jika benar Aldi sudah membuka hatinya untuk wanita lain. Sehingga Serly akan merasa tenang, walaupun dalam hatinya merasa panas dan tak percaya jika sosok Aldi kini berani jalan dengan seorang wanita. Sebab menurut yang Serly tahu dari Kikan temannya, bahwa Aldi tidak pernah sama sekali jalan atau sengaja kencan bersama seorang wanita. Apalagi pacaran. Maka beruntunglah bagi Serly yang mendapatkan kata-kata cinta dari sosok Aldi.
Dido yang sudah mengatakan pesanan makanannya kepada pelayan kini menatap ke arah Serly.
"Sayang, kamu mau makan apa?" Dido bertanya dengan nada lembut. Membuat sang pelayan yang berdiri menunggu, merasa tersentuh.
Namun sayang, gadis yang di panggilnya kini sedang termenung. Melamun dengan pikirannya yang fokus kepada sosok Aldi.
Dido menghela nafas. Sudah Dido duga jika Serly kini sedang memikirkan pria yang baru saja bertemu dengannya, bahkan pria itu berada di ruangan yang sama.
__ADS_1
"Maaf mbak, samakan saja ya pesanannya," ucap Dido kepada sang pelayan cafe.
Pelayan tersebut tersenyum dengan mengangguk. "Baik Mas. Kalau begitu, harap menunggu!" kemudian melenggang pergi dari meja Dido.
Dido mengangguk. Kini Dido menatap Serly. Lalu meraih tangan Serly dengan lembut.
Cup!
Dido mengecup punggung tangan Serly. Membuat Serly tersentak. Dan menatap bingung pada Dido.
"Sudah melamun nya?" Dido menatap Serly dengan serius.
Serly menggigit bibir bawahnya, "Maaf," katanya.
Dido mengangguk, "Baiklah ... kali ini kamu maafkan. Namun, jika selama bersama kakak, kamu masih melamun. Maka jangan salahkan kakak, jika menciummu dimana saja!"
Serly terbelalak, "Loh, kok gitu? maaf, aku gak sengaja melamun kak!"
Tangan Dido masih memegang tangan Serly, "Sudah lupakan! besok lusa kita akan bertunangan. Maka fokuslah dengan kakak," Dido seraya menatap manik mata Serly yang indah.
Serly mengangguk. Lalu membalas tatapan Dido.
Dido menghela nafas dengan dalam, "Maaf. Jika kakak membuatmu harus berpisah dengan Bang Aldi. Namun, yang kakak lakukan adalah demi kebaikan kita berdua. Kakak gak mau atas semua perbuatan kakak, kamu terkena aib yang sangat memalukan terhadap keluarga. Dan jangan kamu berpikir, jika apa yang kakak lakukan hanya sekedar untuk bertanggung jawab saja. Tentu itu sangatlah salah. Di samping itu, kakak sangat mencintai kamu. Ingin melindungi kamu. Ingin menjadi pendamping hidupmu," panjang lebar Dido mengungkapkan kata maaf pada Serly, dan mengungkapkan perasaannya yang entah sudah keberapa kali Dido katakan kepada Serly.
Serly tersentuh hatinya. Serly bisa merasakan dari tatapan Dido yang memancarkan kejujuran dan perasaannya yang tulus. Serly tidak bisa menyangka, ternyata ada seorang pria yang mencintai dirinya dengan tulus dan besar seperti Dido. Walaupun Serly belum pernah berpengalaman berpacaran sebelumnya, namun ia tahu dari wawasannya pria mana yang serius, dan mana yang akan sekedar main-main.
"Iya kak. Sudahlah. Kakak tak perlu meminta maaf. Mungkin ini sudah takdir kita. Kita di satukan dengan cara yang unik. Aku pun sama-sama berperan dalam hal ini. Tolong Berikan waktu untuk aku perlahan melupakan tentang dia. Dan bantu aku untuk secepatnya mencintai kakak," Serly tidak akan ragu untuk mengambil langkah hidup bersama Dido. Hanya Serly butuh waktu untuk bisa melupakan tentang Aldi yang sudah melekat di hatinya.
Dido mengecup kembali punggung tangan Serly dengan lama.
"Terima kasih sudah bersedia untuk mencintai kakak. Maka kakak akan membuat rasa cinta itu secepatnya masuk, lalu tumbuh perlahan ke dalam hatimu. Kakak yakin, secepatnya hatimu akan sepenuhnya terisi semua tentang Dido Arlino," Dido yakin dirinya akan bisa membuat Serly jatuh cinta. Bahkan Dido yakin secepatnya Serly bisa melupakan tentang Aldi.
Serly tersenyum dengan hatinya tersentuh kembali akan ucapan Dido. Bahkan tubuhnya seakan tersetrum oleh aliran listrik kala bibir Dido kembali menyentuh permukaan kulitnya. Di tambah Dido terus mengecup punggung tangan Serly dengan lama.
'Astaga ... ada apa dengan tubuhku?' batin Serly bertanya saat ada rasa asing yang ia rasakan.
__ADS_1
"Permisi!" ucap Pelayan. Membuat Dido sontak menjauhkan bibirnya dari punggung tangan mulus milik Serly.
...***...