You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 150.


__ADS_3

Makan malam telah usai. Rasya kini sudah kembali masuk dalam kamarnya. Sebelumnya ia membersihkan piring-piring kotor dan peralatan masak bekas memasak terlebih dahulu.


Rasya mendesah merasakan kegerahan dengan penampilannya. Ia mengunci pintu kamarnya dulu, Lalu ia membuka pakaian wanita yang melekat di tubuhnya, dan juga membuka topeng yang berwajah wanita yang di kenakannya.


Rasya membersihkan tubuhnya hingga beberapa menit lamanya. Setelah selesai dengan ritual mandinya, ia berwudhu dan menunaikan shalat isya terlebih dahulu. Dibentangkan sejadah di atas lantai pojok ranjang, lalu ia mengenakan sarung.


Niat shalat ia lafalkan, dan takbiratul ikhram ia kumandangkan. Dengan tertib dan khusyu Rasya telah menyelesaikan shalat isya tersebut. Rasya menengadahkan kedua tangannya berdo'a memohon ampun kepada Sang Pencipta dan seraya meminta petunjuk keselamatan bagi kehidupannya.


Setelah semua selesai Rasya mulai membaringkan tubuhnya. Ia sengaja tidur tanpa alat penyamaran nya. Tiba-tiba Terdengar suara langkah kaki menuju dapur. Rasya langsung merasa tak tenang. Ia segera memakai alat penyamaran, takut majikan nya datang untuk menemuinya.


Setelah Rasya berhasil memakai perlengkapan, suara ketukan pada pintu kamar terdengar.


Tok ... Tok ... Tok...


Benarkan? Untung saja aku gercep!


Rasya melangkah untuk membukakan pintu kamarnya, terlihat Adelia berdiri di ambang pintu sedang tersenyum kepadanya. Tentu Rasya senang sekali, bahwa yang datang menemuinya adalah istrinya.


"Nona. Belum tidur?" tanya Rasya saat menatap jam di dinding sudah jam 11 malam.


"Belum Alsa. Kamu sendiri, apa kamu sudah tidur? Maaf kalau aku ganggu!" jawab Adelia.


"Saya sendiri juga belum Nona. Tidak kok, Nona tidak ganggu. Apa yang membuat Nona belum tidur?"


Adelia tersenyum, "Aku sedang haus, dan entah kenapa aku gak bisa tidur. Padahal Mas Albi sudah tertidur lelap. Apa kamu mau nemenin saya sebelum saya mengantuk?" ucapnya seraya meminta Rasya untuk meminta menemaninya sampai ia mengantuk.


"Tentu saya mau Non,"


Tentu aku mau menemani kamu sayang, apalagi sampai kamu mengajak tidur bersamaku. Aku tidak akan menolaknya, karena kamu adalah istriku. batin Rasya.


"Ayo temanin aku di meja makan, sekalian kita ngobrol," ajak Adelia menggandeng tangan Rasya.


Rasya tentu tidak menolaknya, bahkan sentuhan Adelia membuat senjatanya seakan mendapatkan sinyal, walaupun sentuhan Adelia terhalang baju yang ia kenakan.


Sial! kenapa harus bangun sih?! apa karena kamu merindukan sentuhan istriku? gerutu Rasya seraya menunduk mengarah pada senjatanya.


Kini Adelia dan Rasya sudah terduduk di kursi meja makan.


"Alsa. Maaf kenapa aku mencium bau parfum pria di tubuhmu?" selidik Adelia. Ia mencium bau maskulin dari tubuh Rasya, tentu membuat Adelia ingin mengetahuinya.


Aduuh ... bagaimana ini? gak mungkinkan kalau aku sampai memakai parfum wanita yang selalu membuatku mual?.


"Iya Nona ... saya memang memakai parfum pria. Saya suka mual kalau memakai parfum wanita," tutur Rasya jujur.

__ADS_1


"Apa kamu sedang hamil seperti saya?"


"Tidak Nona, saya tidak hamil" sahut Rasya dengan tersenyum.


Kamu yang hamilnya sayang. Aku yang ngidamnya. Tapi aku rela menerimanya. Asalkan kamu baik-baik saja bersama benih cinta kita yang ada di dalam rahim mu itu.


Batin Rasya berbicara seraya menatap ke arah perut Adelia.


Adelia dan Rasya duduk di kursi yang bersebelahan namun, keduanya menghadap menyamping. Hingga jelas Adelia yang duduk di kursinya, saat Rasya menatap perut Adelia yang masih rata.


"Saya kira kamu hamil," ucap Adelia dengan terkekeh.


"Tidak Nona. Saya belum menikah. Berapa usia kehamilan Nona sekarang?"


"Sudah enam minggu," ucap Adelia seraya mengusap perut ratanya.


Rasya tersenyum, "Boleh saya mengusap perutnya Nona?, siapa tahu saya kalau sudah menikah, saya cepat hamil seperti Nona," modus Rasya. Sebenarnya ia ingin sekali dari tadi mengusap perut istrinya itu. Baru sekarang ada cela untuk menyampaikan, tentu dengan alasan lain.


Adelia tersenyum, "Boleh Alsa," sahutnya.


Rasya menundukkan kepalanya, lalu tangannya terangkat untuk mengusap perut Adelia.


Ya Tuhan, sehatkanlah buah cinta kami di dalam sini! batin Rasya seraya berdo'a. Ia mengusap-usap perut Adelia dengan lembut bahkan lama.


Rasya tersenyum, "Nona kenapa seperti tegang begitu?" tanya nya polos. Padahal ia tahu apa penyebab istrinya menegang, tentu karena ulah usapan tangannya.


"Tidak Alsa. Saya tidak apa-apa. Kalau begitu, saya kembali ke kamar, takut suami saya men--"


"Arumi ternyata kamu disini?" pekik Albi seraya mendekat dan memotong ucapan Adelia.


Adelia dan Rasya menatap pada Albi yang kini sudah semakin dekat.


"Mas, mencariku?" tanya Adelia dengan berdiri.


"Iya. Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Albi dengan melirik kepada Rasya sebentar.


"Tadi aku susah tidur, dan aku meminta Alsa menemaniku di sini," sahut Adelia dengan menatap kepada Albi.


Albi yang di tatap, membelai pipi Adelia dengan lembut, "Kenapa kamu tak bangunkan aku?," kata Albi.


Berani sekali dia membelai wajah wanitaku. Batin Rasya meradang melihat Albi yang menyentuh wajah Adelia di depannya.


"Aku tak berani bangunkan kamu, kamu pasti lelah Mas, karena seharian sudah bekerja," sahut Adelia.

__ADS_1


"Ya sudah ayo kembali ke kamar!" ajak Albi dengan merangkul bahu Adelia.


Adelia melirik sejenak kepada Rasya. "Alsa, terima kasih ya, kamu sudah temanin aku. Sekarang kamu boleh istirahat," ucap Adelia kemudian berjalan dengan di rangkul Albi, meninggalkan dapur.


Rasya cemburu melihat Adelia di sentuh oleh pria lain. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa demi misi yang di lakukannya. Rasya melangkah gontai menuju kamarnya, kemudian mengunci pintu terlebih dahulu.


Rasya membuka hijab dan topeng wajahnya, lalu ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ia berbaring dengan menatap langit-langit kamar. Ia memikirkan apa yang sebenernya terjadi pada istrinya.


Sebenarnya apa yang terjadi padamu sayang?. Kenapa kamu lupa semuanya, bahkan kamu menganggap Tuan Aneh itu suamimu?. Apa mungkin kamu ... Amnesia?.


Rasya mendudukkan tubuhnya saat mendapat satu kata yang mungkin kini terjadi pada istrinya.


"Apa mungkin Adeliaku mengalami amnesia?" ucap Rasya bermonolog.


"Iya sepertinya begitu. Aku harus mulai mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada istriku. Huh ... Semoga kamu tidak di apa-apakan oleh Pria itu,"


Tentu Rasya merasa takut jika Adelia di apa-apakan oleh Albi. Rasya tidak terima jika Adelia sampai di sentuh tubuhnya. Rasya akan mencari tahu, dan menyelidiki tentang bagaimana Albi bisa menganggap Adelia istrinya, dan kenapa Adelia sampai tidak mengingat semuanya.


Tanpa terasa Rasya tertidur lelap setelah bergelut dengan pikirannya sendiri.


***


Waktu pagi adalah waktunya bangun seisi rumah. Adelia terbangun dengan waktu yang masih pagi. Ia langsung masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya.


Setelah selesai dengan ritual mandinya. Adelia langsung menghampiri lemari pakaian. Ia memilih mengenakan tangtop dan celana legging. Dan tak lupa blazer untuk menutupi tubuhnya.


Adelia bergegas menuju meja rias, seperti biasa ia akan memoleskan make-up tipis pada wajah cantiknya. Tiba-tiba Albi memeluk tubuh Adelia dari belakang. Sontak membuat Adelia terkejut, dan menghentikan pergerakan tangannya.


"Mas ...."


"Aku ingin seperti ini dulu," sahut Albi dengan menopangkan dagunya ke bahu Adelia.


Adelia bisa melihat jelas wajah Albi yang berada di belakangnya dari pantulan cermin.


Adelia tersenyum membiarkan Albi seperti itu.


"Hari ini kamu bisa mulai ikuti senam hamil," ucap Albi yang masih dalam posisi memeluk Adelia.


"Benarkah Mas?" tanya Adelia dengan menatap ke arah samping.


"Iya. Ajak Alsa untuk menemani. Dan pakai mobil yang warna merah," ujar Albi yang mulai melepaskan pelukannya.


Adelia tersenyum kemudian membelai bahu Albi, "Iya Mas, aku akan ajak Alsa," ucapnya.

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2