
Happy reading! ❤
Rasya dan Adelia kini sudah sampai di depan Vila milik Rasya. Vila itu mengingatkan Adelia saat memenuhi permintaan Rasya yang ingin menghabiskan waktu dalam sehari sebelum menikahi Ariyanti. Adelia mengingat betul. Bahwa Vila itu adalah tempat dimana Rasya mencumbui dirinya sampai kelelahan.
"Sayang, ayo masuk!" ajak Rasya saat melihat Adelia terus menatap ke depan Vila miliknya.
"Eh iya, Mas" jawab Adelia dengan tersenyum ia mengikuti langkah suaminya yang masuk ke dalam Vila itu.
Rasya mendudukan tubuhnya di atas sofa dan di susul oleh Adelia duduk di sampingnya.
"Main pasirnya nanti saja, ya! sekarang masih terik panas Matahari," Rasya seraya mengusap perut Adelia dengan lembut.
"Iya Mas. Nanti saja. Lagian aku masih capek," sahut Adelia dengan memejamkan kedua matanya merasakan usapan lembut dari tangan Rasya pada perutnya.
Rasya tersenyum kala melihat perut Adelia yang tiba-tiba bergerak, "Kalau aku ajak mendesah, capek gak?" Rasya bertanya nyeleneh.
"Ish, kamu itu Mas! mesum saja otaknya!" Adelia dengan masih memejamkan mata, memukul lengan Rasya yang duduk di sampingnya.
Rasya tergelak, "Gak apa-apa, aku mesumnya hanya sama kamu. Istriku sendiri," kilah Rasya dengan tersenyum sensual.
Adelia kini menatap Rasya dengan serius, "Mas boleh aku, tanya?"
"Apa yang akan kamu tanyakan, hmm?" Rasya kini menangkup kedua pipi Adelia, lalu menatapnya dengan tatapan dalam.
"Apa, saat kamu menikah dengan Ariyanti. Kamu melakukannya?" tanya Adelia dengan hati-hati.
"Melakukan apa, Sayang?" Rasya berpura-pura tidak mengerti.
"Melakukan, itu!" Adelia masih malu-malu mengatakan.
"Yang jelas Sayang!, melakukan apa, hmm?" Rasya kini mendekatkan wajahnya pada wajah Adelia. Yang kedua pipinya masih Rasya pegang.
"Itu loh, Mas. Ish ... mendesah kaya kata kamu!" Adelia akhirnya mengatakan perumpamaan yang selalu Rasya katakan.
Rasya terkekeh, merasa gemas kepada istrinya yang masih malu-malu mengatakan hal tentang yang selalu mereka lakukan.
__ADS_1
Seketika Rasya menggeleng. "Enggak," ucapnya.
"Masa sih, Mas?" Adelia merasa tidak percaya.
"Iya. Aku gak pernah kontak fisik sama dia. Lagian aku tak mau menyentuh sedikitpun. Aku gak berselera," jelas Rasya.
"Aku sengaja mencari alasan dan cari cara agar tidak bertatap muka. Aku minta tidur di sofa. Dan aku sengaja pergi pagi pulang malam, setelah dia tertidur. Ya walaupun masih tetap satu kamar. Setelah aku mempunyai modal banyak. Aku membangun usahaku sendiri. Membuat bengkel kecil-kecilan di kota D, dan di kota B. Setelah itu aku sengaja menghindarinya tinggal di kota B hingga tiga bulan lamanya. Setelah itu aku menceraikannya dengan baik-baik," lanjut Rasya menjelaskan dengan panjang.
Adelia terdiam mencerna apa yang Rasya ucapkan. Tidak ada kebohongan yang Adelia lihat dari sorot matanya. Namun, tetap bagi Adelia merasa tidak nyaman. Karena Rasya sangat berdosa tidak memberi haknya sebagai suami.
"Mas, bukankah itu sangat berdosa. Karena Mas tidak memberikan haknya kepada dia?" kata-kata Adelia seketika membuat wajah Rasya menjadi sendu.
Tangan Rasya perlahan lepas dari kedua pipi Adelia. Rasya memilih menatap lurus ke arah lain, namun tangannya ia pautkan pada jari jemari Adelia sehingga jadi menggenggam, "Aku tahu, Sayang. Aku akui. Aku sangat berdosa. Tapi, keterpaksaan itu dan tentunya tidak ada rasa cinta dari hatiku, aku merasa telah melakukan yang benar. Karena untuk apa menjamah. Kalau aku tidak mencintainya. Takut nantinya, pas aku nyentuh dia. Yang ada di bayangan ku adalah kamu. Nanti jatuhnya aku zina," tutur Rasya menjelaskan.
"Memang aku sampai sekarang pun. Masih merasa sangat berdosa dan bersalah kepada dia. Makanya aku tak mau bertatap muka. Atau sekedar menegur sapa. Aku selalu merasa sangat bersalah. Apalagi sekarang dia malah tinggal di rumah Papa. Membuat rasa bersalahku kembali timbul," Rasya kembali menjelaskan.
"Mas. Boleh gak aku nyaranin? tapi, itu juga kalau Mas mau. Aku gak maksa, ya!"
Rasya tersenyum, "Kamu mau nyaranin apa?, jangan bilang aku harus nikahin dia," tanyanya dengan sengaja menggoda Adelia.
"Boleh juga. Akan aku coba nanti." Rasya menyetujui saran Adelia.
"Terima kasih ya, Sayang. Kamu mau menyadarkan ku, atas semua kesalahanku," ucap Rasya seraya mengecup tangan Adelia yang sedari tadi ia genggam.
"Iya Mas. Aku tidak mau kamu sampai menyimpan rasa bersalah mu hingga larut, dan berlama-lama. Aku ingin kamu hidup tenang, tentram, dan damai. Apalagi sebentar lagi kita akan kehadiran bayi kita."
Adelia menginginkan Rasya untuk tidak banyak berpikir atau menaruh rasa bersalah di dalam hatinya. Hingga ia menyarankan agar Rasya meminta maaf kepada Ariyanti.
Sementara Rasya sangat merasa lega. Telah mencurahkan rasa sesak yang hampir satu tahun ini mendekam di hatinya. Bahkan Rasya merasa bangga terhadap istrinya yang mau memberikan saran untuk meminta maaf. Memang Rasya tidak salah pilih memilih Adelia menjadi pendamping hidupnya. Mempunyai paras yang cantik dan hatinya juga baik. Memberikan kesan sempurna bagi Rasya telah memiliki Adelia.
"Sayang ... gak kerasa udah jam satu lagi," Rasya yang menatap jam dinding dan memberitahukannya kepada Adelia.
"Eh iya Mas. Pantas saja aku sudah lapar lagi. Cari makan yuk!" ajak Adelia. Ia dengan bergelayut manja pada lengan Rasya.
"Boleh. Sayang ... nanti kamu makan yang banyak, ya! biar ada tenaganya buat nanti," sahut Rasya dengan mengelus pipi Adelia.
__ADS_1
Sontak saja Adelia mendelik, dan memanyunkan bibirnya menanggapi apa yang Rasya katakan.
"Aduuh ... apalagi manyun gitu, aku jadi gak sabar ingin memulainya sekarang," goda Rasya sengaja.
Adelia menjadi kesal, karena lagi-lagi Rasya menggodanya.
"Ayo, ah! kamu itu bawel banget sih, Mas. Aku sudah lapar juga," Adelia dengan cepat berdiri dengan menarik tangan Rasya ke arah pintu utama.
Rasya menghentikan langkah Adelia, "Tunggu Sayang. Kamu salah. Pintunya di sana!" tunjuk Rasya pada kamar yang pernah sempat menjadi saksi percintaannya setelah berhasil kabur dari rumah Albian.
"Ish ... kamu itu, Mas! aku lagi ngajak makan, bukan lagi ngajak tidur," Adelia dengan memolototkan matanya jengah, lagi-lagi suaminya kembali menggoda.
"Iya-iya. Bumyang galak banget sih," Rasya dengan mencubit hidung Adelia gemas.
Adelia melepaskan gandengan tangannya. Ia malas menyahuti Rasya yang terus-terusan menggoda. Adelia langsung keluar dari Vila itu, dan cepat berjalan menuju Pantai tanpa memperdulikan Rasya yang terus memanggilnya.
"Sayang ..., " Rasya dengan santai berjalan di belakang Adelia.
Tidak ada sahutan dari Adelia. Ia terus berjalan ke arah keramaian orang di pinggir pantai.
"Sayang, hei ... tunggu!" panggil Rasya kembali. Kini ia berjalan cepat untuk menyusul Adelia yang sudah jauh dari hadapannya.
Adelia yang terus berjalan tanpa menghiraukan panggilan dari suaminya. Ia terus melangkah sampai melewati orang-orang yang ber-voly pantai.
Hingga tanpa ada yang menduga, Adelia menubruk punggung seseorang yang berada di hadapannya.
"Auw ...," ringis Adelia. Seseorang yang Adelia tubruk membalikkan badan, dan menatap pada Adelia.
"Hei, kalau jalan hati-hati!" pekiknya. Namun seketika, tatapannya terbelalak. Ia sangat terkejut pada Adelia yang telah menabraknya.
"Adel?" panggil seseorang yang sudah Adelia tubruk.
"Hei, kamu?!" ucap Adelia dengan sama terkejut.
...***...
__ADS_1
...Bersambung....