
Dengan jantung yang masih berdegup kencang Serly akhirnya turun dari motor yang di kendarai Dido. Serly merasa heran, dengan Dido yang malah mengajaknya ke salah satu Cafe mewah di tengah kota. Dan itu jauh dari area Kampus.
"Kak, kenapa harus di Cafe ini? dari sini jauh loh, jika harus kembali lagi ke Kampus," Serly dengan menatap bingung kepada Dido.
Dido hanya terlihat tersenyum, seraya mulai membuka helm yang menutupi kepalanya, lalu menaruh helm-nya itu di atas stang motor. Kemudian tangannya terulur untuk membukakan helm yang masih di kenakan Serly.
Sehingga kedua mata Serly bisa melihat jelas pahatan sempurna dari Maha Karya Tuhan yang tepat di hadapannya. Wangi maskulin dari tubuh Dido menyeruak masuk pada indra penciuman Serly. Begitupun dengan Dido, ia bisa menatap wajah Serly yang cantik. Dengan wangi khas tubuh Serly yang di timbulkan dari parfum, yang Serly gunakan.
Lalu saat helm itu terlepas, kini wangi shampo dari rambut Serly menyeruak menusuk indra penciuman Dido.
"Berantakan," kata Dido sembari tangannya merapihkan rambut Serly. Rambut Serly berantakan karena habis memakai helm. Walau rambut Serly berantakan, tapi tidak mengurangi kecantikan dari wajah Serly di pandangan seorang Dido.
Serly sudah tidak bisa menahan degup jantungnya. Serly takut, Dido menyadari suara detak jantungnya karena jarak dirinya yang terlalu dekat.
"Makasih, kak" ucap Serly seraya memundurkan tubuhnya selangkah.
Dido dengan tersenyum mengajak Serly untuk memasuki area Cafe tersebut. Dengan tangannya meraih tangan Serly.
"Ayo, kita makan siang!" ajaknya.
Serly ingin melepaskan tangan Dido yang menggenggamnya secara pelan. Namun, tautan tangan Dido begitu kuat. Akhirnya Serly pasrah saja.
Dido tersenyum senang, kala Serly setelah berusaha melepaskan tautan tangannya dari tangan Dido, berakhir pasrah.
Dido membawa Serly ke sebuah tangga yang berada di dalam Cafe tersebut. Membuat Serly kembali bingung. Serly merasa aneh terhadap Dido, yang melewati meja, yang terlihat masih banyak yang kosong.
"Kak, kenapa kita ke atas?" tanya Serly yang ingin tahu maksud dari Dido.
"Kita makan di atas," sahut Dido dengan tangannya masih menggenggam tangan Serly.
Setibanya di atas yakni rooftop Cafe tersebut. Serly terperangah. Menatap sebuah meja yang hanya ada satu di lantai tersebut. Dan Serly yakin Dido telah mempersiapkan semuanya ini.
"Ayo!" ajak Dido untuk melangkah ke sebuah meja yang sudah tertata rapih dengan makanan dan minumannya.
Serly menurut, ia tidak ingin mengecewakan Dido yang sudah berusaha mempersiapkannya.
Dido menarik salah satu kursi untuk Serly duduki, kemudian setelah itu baru ia duduk. Dido dan Serly duduk berhadapan.
"Bagaimana dengan makanannya, apa kamu menyukainya? kalau tidak. Akan Aku ganti," Dido menanyakan tentang makanan yang sudah di sediakan sesuai Dido pesankan kepada Serly. Dido takutnya Serly tidak menyukai dengan makanan yang ia siapkan itu.
"Aku suka, kak" jawab Serly dengan tersenyum. Tidak suka bagaimana, bahwa makanan yang ada di hadapannya adalah makanan kesukaannya. Makanan yang sudah tersaji di atas meja tersebut yaitu makanan khas Korea. Yaitu, Kimchi, Kimbab, Jjajangmyeon, Bibimbap, dan Bulgogi. Dengan minumannya Jus Strawbery dan jus Alpukat, serta tidak lupa beberapa botol air mineral.
"Ayo, kamu mau pilih yang mana?"
Serly dengan antusias ia mendekatkan satu porsi Kimchi di depannya. "Ini saja kak," katanya mulai meraih alat makan sumpit.
Dido memilih Jjajangmyeon, dan kimbab.
"Kamu cobain deh, kimbab ini! bentuknya menyerupai sushi," Dido seraya ingin menyuapkan satu potong kimbab tersebut pada mulut Serly. Serly dengan malu-malu serta ragu menerima suapan itu, Serly takut Dido kecewa.
"Bagaimana?" Dido ingin memastikan.
"Enak," Serly dengan mengunyah kimbab tersebut.
__ADS_1
Kemudian keduanya makan dalam diam. Hingga selesai dengan meminum air mineral, lalu di tambah jus yang tersedia. Serly mulai menatap ke sekeliling rooftop tersebut. Sepi. Satu kata itu yang Serly rasakan.
"Kak, em ... kenapa sepi ya?" Serly bertanya karena penasaran.
"Kenapa memang?" Dido malah balik bertanya.
Serly menggeleng, "Aku hanya bertanya saja," sahutnya.
Dido terlihat menatap Serly dengan serius.
"Ser--"
"Maaf, bentar kak. Ada telpon masuk dari teman aku," potong Serly cepat saat Dido akan berbicara kepadanya. Dido mengangguk walau Serly sudah menjawab panggilan tersebut di depannya.
"Masa?" jawab Serly tanpa sapaan sebelumnya. Mungkin yang menelpon to the point langsung tanpa bertele-tele, pikir Dido yang mendengarkan.
"Oh, ya udah. Aku lega deh."
"Em, iya-iya. Nanti aku sore mau lihat materi apa saja yang aku lewati kemarin."
"Tunggu saja di rumah mu!"
"Iya, bye" Serly menutup panggilannya. Dan menaruh ponsel dibalik saku celananya kembali.
Dido yang penasaran dengan siapa Serly berbicara, langsung bertanya.
"Siapa yang nelpon?"
Dido manggut-manggut.
"Apa kakak ada jadwal setelah ini?" Serly ingin memastikan agar Dido tidak terlambat.
"Gak ada," Dido bohong. Padahal dirinya sengaja ingin bolos agar bisa bersama Serly.
"Jadi free dong?"
"Iya," Dido dengan mulai menatap Serly serius.
Dido menghela nafas dengan pelan, kemudian ia mengutarakan isi pembicaraannya yang sempat tadi tertunda.
"Serly, aku ingin berbicara serius sama kamu," ucapnya membuat Serly menatap bingung. Memang dari kemarin Dido bercanda, enggak 'kan? begitu pikir Serly.
"Bicara apa kak?" Serly yang tidak tahu apa maksud kata serius yang sesuai Dido bicarakan, malah bertanya.
"Aku mau tanya apa di kampus, ada cowok yang suka dekatin kamu? maksudnya cowok yang suka sama kamu?"
Serly tersenyum tipis, "Ada. Tapi, tidak pernah aku tanggapi."
"Sekelas? atau Senior?" Dido mulai penasaran perihal cowok yang pernah Serly tolak.
"Sekelas ada, kakak senior ada," jawab Serly dengan ekspresi biasa saja.
"Siapa mereka?"
__ADS_1
"Ngapain sih kakak jadi kepo gitu?" Serly seraya terkekeh.
Dido tersenyum menanggapi. "Bukan sekedar hanya ingin tahu. Namun, kakak penasaran saja," imbuhnya.
"Ya sama saja, kak" timpal Serly dengan menyunggingkan senyumannya.
Dido kini meraih tangan Serly. Dengan tatapan Dido yang tertuju pada mata bulat milik Serly. Serly membalas tatapan Dido tersebut dengan jantung yang mulai sudah dag-dig-dug, karena kaget Dido kembali menyentuh tangannya.
"Serly, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta sebelumnya. Dengan seharian bersama mu waktu kemarin. Entah mengapa, hatiku merasa nyaman dan bahagia. Hingga sampai rumah, aku selalu membayangkan dirimu, sampai aku tertidurpun memimpikan kamu." Dido mulai mengeluarkan rasa aneh serta membahagiakan kepada Serly.
Serly menyimak dengan benar. Lalu menelaah apa yang baru Dido katakan.
"Serly, aku sadar ternyata ...."
Serly mengerutkan dahinya, menunggu kata selanjutnya yang akan Dido katakan kepada dirinya.
Dido menghela nafas, kemudian membuangnya secara perlahan.
"Aku mencintaimu, Serly. Maukah, kamu menjadi pacarku?" akhirnya Dido bisa mengungkapkan kata-kata itu di hadapan Serly dalam waktu yang sudah Dido rencanakan.
Serly melongo, mulutnya sedikit terbuka, dengan degupan jantung yang masih tidak teratur, menurutnya.
"Serly?" panggil Dido yang melihat Serly menjadi terdiam, tanpa menjawab pertanyaannya.
Dido kemudian melambai-lambaikan tangan tepat di hadapan Serly.
"Are you okey?" tanyanya.
Kemudian Serly terkesiap. Serly mengangguk serta tersenyum tipis, merasa malu karena sudah melamun di saat Dido berbicara serius.
Serly melamunkan seandainya Aldi yang mengungkapkan kata-kata seperti Dido, maka ia akan bersorak senang dan menjawabnya dengan senang.
"Serly apa kamu marah, karena aku sudah lancang mengungkapkan isi hatiku?" Dido dengan berwajah sendu merasa bersalah karena Serly tiba-tiba menjadi diam tanpa kata.
"Ti-tidak kak. Itu hak kakak," sahut Serly dengan cepat dan suara terbata.
"Lalu, apa kamu mau menjadi kekasih aku?" Dido kembali menanyakan.
Serly melepaskan tangannya yang sedari tadi Dido genggam.
"Maaf ya, kak. Aku sebelumnya tidak pernah pacaran. Aku tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan kakak barusan. Jujur aku merasa syok mendengar kakak mencintai aku, lalu mengajak aku untuk berpacaran." Serly menolak secara halus.
"Tidak perlu syok seperti itu. Aku hanya ingin jawaban darimu. Apa kamu mau menjadi kekasihku. Jawab Yes or No. Itu saja. Tapi, aku berharap kamu mau menjawab Yes. Agar aku menjadi pria yang beruntung mendapatkan kamu,"
Serly memikirkan dengan perasaan yang selama ia pendam kepada Aldi. Serly sudah mengukir nama Aldi di dalam hatinya. Namun, Serly belum tahu jika Aldi merasakan yang sama terhadapnya.
Lalu menilai Dido pria yang ada di hadapannya seakan Serly bersyukur. Karena Dido dari wajah sangatlah sempurna. Namun, hatinya tidak tertarik sedikitpun.
"Beri aku waktu kak," pinta Serly. Ia ingin melihat dahulu dengan ekspresi Aldi saat nanti Serly katakan kalau dirinya di tembak Dido. Serly ingin menyerah jika Aldi tidak sedikitpun tertarik atau menyukai dirinya. Setelah itu. Ia akan menerima dan menjalin hubungan dengan Dido, walau hatinya belum tumbuh sedikitpun rasa cinta.
"Baiklah, aku akan memberikan waktu untukmu menjawab. Yes or No. Aku akan membuat jarak terlebih dahulu, agar kamu bisa konsen untuk berpikir," Dido menyarankan seperti itu.
...***...
__ADS_1