You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 234.


__ADS_3

"Sayang ... aku berangkat sekarang ya!?" Rasya yang baru saja selesai bercumbu dengan sang istri berpamitan. Sebelumnya ia menyuapi sang istri dengan bubur yang ia belikan. Walau berat untuk meninggalkan sang istri. Tapi Rasya harus bertanggung jawab pada pekerjaannya.


"Sebentar, Mas!" Adelia masih menahan kepergian sang suami. Ia berjinjit menyes*p leher Rasya, dan menciptakan tanda merah di lehernya itu. Sedangkan Rasya yang di ses*p menahan gejolak yang sudah menderanya dengan memejamkan matanya, menerima perlakuan dari sang istri yang saat ini menurutnya sungguh menggemaskan.


Adelia tersenyum saat menatap tanda merah hasil maha karyanya. "Mas, boleh pergi!" katanya. Sementara Rasya mengerutkan kening tanda tidak terima.


"Sayang ... kamu sudah membangunkan singa lapar!" celetuknya. Namun, orang yang di protesnya cuek dengan melenggang menuju ke arah pintu kamar mandi.


"Sudah pergi sana! bukannya, tadi Mas mau berangkat!" elaknya dengan wajah tanpa dosa.


Rasya menggeleng serta tersenyum menyeringai. "Sekarang, kamu menunjukan keagresifan mu sayang ...," tangannya sudah melingkar sempurna di pinggang sang istri dari arah belakang.


"Mas, geli!" pekik Adelia yang mendapat gelitikan dari tangan Rasya. Dan Rasya merasa puas dengan melihat wajah Adelia yang merona merah karena menahan geli.


Rasya lalu mengulurkan tangannya. Dan Adelia dengan cepat meraihnya mencium tangan itu dengan takzim. "Mas berangkat, ya! kamu di rumah hati-hati! dan jaga debay kita ini," dengan tangan Rasya mengelus perut Adelia.


Adelia mengangguk, "Mas juga hati-hati. Semangat bekerjanya ya!"


Rasya tersenyum lalu melenggang pergi menuju pintu kamar. Bersamaan dengan Adelia yang masuk ke dalam kamar mandi. Baru saja Rasya menutup pintu kamarnya dengan rapat, Rasya di kejutkan dengan tepukan pada bahunya.


"Kamu?" Rasya menatap Ariyanti yang telah menepuk bahunya.


"Iya. Ayo Sya ... aku sudah lama nungguin kamu," ucapnya. Memang benar setelah ia menyelesaikan sarapannya dengan yang lain. Ariyanti menunggu Rasya untuk berangkat ke kantor bersama. Namun, yang di tunggu masih anteng di dalam kamarnya. Sempat Ariyanti mengumpat. Tentu karena rasa cemburu, dengan menerka-nerka apa saja yang Rasya lakukan sehingga sudah jam kerja masuk pun Rasya belum saja keluar dari kamarnya.


"Oh," Rasya menyahut dengan ber-oh saja. Ia melangkah begitu saja dari hadapan Ariyanti. Sehingga Ariyanti menggelengkan kepala, dengan menyusul langkah Rasya dari belakangnya.


"Kenapa kamu gak berangkat sendiri saja? mobilmu kasihan, terabaikan!" Rasya yang sudah duduk di dalam mobil bertanya kepada Ariyanti yang sudah terduduk manis di jok sampingnya.


"Aku ingin berangkat sama kamu. Dan Om Hadi sudah mengatakannya sama aku, bahwa aku harus berangkat sama kamu," alasan Ariyanti. Tentu dirinya tidak mau membuang kesempatan. Setelah Rasya hari kemarin mengajaknya untuk menjadi kekasihnya, maka Ariyanti tidak akan membuang kesempatan itu selama ia bisa berdekatan dengan Rasya.


Rasya tidak menanggapi lagi. Ia fokus melajukan mobilnya. Sementara Ariyanti yang duduk menyamping menatap selidik wajah Rasya. Dan ia melotot saat melihat tanda merah yang beberapa menit Adelia ciptakan.


"Sialan! wanita itu sungguh membuat mood ku buruk," umpat Ariyanti di dalam hati. Tentu saja ia merasa keki melihat tanda merah di leher Rasya, dan ia tahu siapa yang telah menciptakannya.

__ADS_1


Rasya yang merasa di tatap Ariyanti sedari tadi, baru melayangkan protesnya sekarang, "Ada apa? kenapa kamu menatapku dari tadi?" dengan fokus matanya ke arah depan.


"Tidak ada apa-apa. Memang apa salahnya jika aku menatap wajah kekasihku?"


Sungguh Rasya ingin muntah begitu saja saat mendengar Ariyanti mengatakan kata 'kekasih'. Tapi tentu Rasya tidak menunjukkan.


"Bagaimana dengan wajah kekasihmu? apa dia tampan?" Rasya menimpali dengan candaan. Entah Rasya narsis atau percaya diri. Padahal masih sama saat dirinya mengatakan kata 'kekasih' ia ingin muntah saat itu juga.


"Iya. Dia sungguh tampan." Ariyanti melayani. Kini kepalanya sengaja ia rebahkan pada bahu Rasya.


Rasya merasa risih, "Aku lagi nyetir. Jangan seperti itu!" protesnya.


"Aku tidak akan menyianyiakan waktu bersamamu. Maka kamu janganlah protes," ujar Ariyanti dengan kepalanya tetap bersandar di bahu Rasya.


Rasya akhirnya mendengus dan membiarkan Ariyanti. Tiba-tiba ada ide gila di pikiran Rasya. Rasya menepikan mobilnya di bahu jalan terlebih dahulu. Dan mengundang tanya bagi Ariyanti.


"Kenapa berhenti?" tanyanya.


"Sebentar, aku mau mengetik pesan kepada Aldi," katanya. Sehingga Ariyanti menegakkan duduknya kembali.


"Loh, ini bukan jalan kantor?"


"Emang," sahut Rasya datar.


"Terus kita mau kemana Sya?" tanya Ariyanti penasaran. Walaupun dari lubuk hatinya di ajak kemanapun oleh Rasya ia akan selalu senang. Asal berduaan dengan Rasya.


Rasya hanya mengulas senyum tipisnya. Tidak menimpali pertanyaan Ariyanti. Sehingga Ariyanti terdiam saja. Tidak berselang lama. Ariyanti melotot kaget kala Rasya membawa mobil melaju ke arah komplek perumahan orang tuanya.


"Gak usah melotot gitu?" Rasya dengan santai menatap raut wajah keterkejutan Ariyanti.


"Maksud kamu ada apa ini? kenapa kamu bawa aku ke rumah?" Ariyanti di buat bingung atas apa yang Rasya lakukan.


Dan Rasya hanya mengembangkan senyuman dengan mengedikkan bahu acuh tanpa menjawab.

__ADS_1


Ariyanti merasa gemas kepada Rasya yang sedari tadi tidak menjawab ketika dirinya bertanya. Ariyanti dengan senyum menyeringai melepaskan seatbelt lalu mendekati Rasya. Sehingga kini jaraknya begitu dekat. Saat Ariyanti baru saja akan mendekatkan bibirnya pada bibir Rasya. Rasya langsung mendadak mengerem mobilnya dengan tubuhnya sengaja ia jauhkan dari Ariyanti. sehingga Ariyanti terhuyung ke arah depan yaitu keningnya terbentur pada sandaran jok milik Rasya.


Ariyanti memegang keningnya yang merasa sedikit sakit.


"Sorry, tadi ada kucing lewat!" kata Rasya berbohong. "Iya kucingnya yang mau nyosor-nyosor," lanjut Rasya di dalam hati.


Ariyanti tidak menimpali. Ia menegakkan duduknya kembali. Rasya mulai melajukan mobilnya. Hingga kini mobil itu masuk kedalam gerbang rumah milik orang tua Ariyanti.


"Ayo, turun! aku sengaja loh bolos, agar bisa berduaan sama kamu!" celetuk Rasya membuat Ariyanti mengembangkan senyumnya.


"Benarkah?" Ariyanti seperti ingin meyakinkan.


Rasya tanpa menjawab ia langsung keluar. Membiarkan Ariyanti yang masih di dalam dengan senyum-senyum sendiri.


"Apakah dia terlalu senang sampai senyum-senyum sendiri gak jelas?" Rasya berbicara di dalam hatinya. Seraya tangannya mengetuk kaca jendela samping Ariyanti.


Ariyanti berharap Rasya akan membukakan pintu untuknya. Namun, ternyata nihil malah mendapat ketukan kaca dari Rasya.


"Kenapa kamu gak bukain pintunya sih, Sya?" Ariyanti seperti merajuk.


"Sudah ku duga," batin Rasya. Seraya melangkah ke arah depan rumah Ariyanti tanpa menjawab.


Lagi-lagi Ariyanti merasa kesal. Namun ia masih tetap merasa senang walaupun begitu Rasya ingin menghabiskan waktunya berdua dengan dirinya.


Ariyanti terlonjak kaget. Saat Rasya sudah berhasil masuk ke dalam rumah. Ariyanti tahu bahwa kedua orang tuanya sudah lama pulang dari Thailand. Dan Ariyanti tidak mau sampai Rasya tahu, karena kehadirannya di rumah Rasya pasti akan terancam.


"Sya tunggu!" Ariyanti melangkah cepat. Namun, dirinya sia-sia. Rasya sudah terlihat duduk berhadapan dengan Alin ibunya Ariyanti.


"Mama sudah pulang?" pekik Ariyanti berpura-pura tidak tahu ia bertanya seolah terkejut. Dan Alin tahu bahwa putrinya sedang berpura-pura.


"Iya Sayang. Maaf mama tidak ngabarin kamu. Karena baru tadi subuh Mama dan Papa sampai," Alin dengan merentangkan kedua tangannya ingin memeluk Ariyanti. Dan Ariyanti berhambur memeluk Alin.


Rasya tersenyum menyeringai. Ia sudah mempunyai feel bahwa kedua orang tua Ariyanti. Tidak lama pergi ke Thailand nya. Bahkan Rasya berpikir bahwa ini sudah di rencanakan oleh mereka. "Baiklah. Aku akan memainkan peranku. Seolah aku yang masuk dalam jebakan kalian," Rasya di dalam hatinya menantang akan permainan apa yang, akan di lakukan sekeluarga itu.

__ADS_1


...***...


...Bersambung....


__ADS_2