You Are My Mine

You Are My Mine
Extra Part 47.


__ADS_3

"Kak, kita mau kemana?" tanya Serly saat di perjalanan. Sebab Serly merasa bingung, sebelumnya dirinya antara Dido tidak ada rencana untuk keluar saat sore ini.


Dido yang sedang menyetir menoleh kepada Serly, dengan mengulas senyum Dido menjawab. "Ke rumah kakak dulu. Setelah itu kita dinner di luar. Bagaimana?"


Serly menautkan alisnya, "Untuk apa ke rumah kakak dulu?" ada sedikit rasa was-was jika mengingat rumah Dido bagi Serly. Teringat kejadian yang tidak pernah ia duga saat itu.


"Mau mandi dulu. Masa, kakak dinner sama gadis cantik dengan penampilan lusuh begini?"


Sontak wajah Serly merona, dengan kepala mengangguk merespon apa yang di ucapkan Dido.


Tidak berselang lama. Mobil yang Dido kendarai masuk ke dalam gerbang pagar yang kebetulan terbuka lebar.


"Tumben pagarnya gak di buka?" tanya Dido sendiri. Namun, matanya menatap ke arah mobil yang merasa asing.


Serly bisa mendengar ketika Dido berbicara sendiri. Namun, Serly tidak mau bertanya memilih untuk diam saja.


"Ayo!" Dido keluar terlebih dahulu dari dalam mobil.


Serly menyusul dengan langkah yang merasa was-was. Entah mengapa, seperti ada rasa trauma tersendiri mengingat hal yang tak pernah ia inginkan saat itu.


"Assalamualaikum," salam Dido saat masuk ke dalam rumah yang kebetulan pintu utamanya terbuka lebar.


"Wa'alaikum salam," jawab Tuan Malik yang duduk di sofa single ruang tamu.


"Wa'alaikum salam," jawab dari Tamu Tuan Malik.


Serly menyapa dengan mengangguk dan tersenyum.


"Eh, nak Serly. Ayo masuk!" Tuan Malik menyapa Serly dengan ramah. Ada rasa senang saat melihat calon menantunya datang bersama Dido.


"Oh ini calon mantu anda Tuan?" tanya tamu Tuan Malik.


"Iya. Serly ini putrinya Pak Hadi Argadinata," sahut Tuan Malik lebih menjelaskan.


Dido merasa tidak senang saat Tamu Ayahnya menatap Serly dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dido merangkul bahu Serly, dan berpamitan kepada Ayahnya.


"Yah, aku ke dalam dulu ya," kata Dido.


Tuan Malik mengangguk dengan tersenyum.


Saat sudah berada di ruang tengah Dido melepaskan rangkulannya.


"Tunggu di sini atau mau di dalam kamar?" Dido menatap Serly dengan hati yang bergejolak. Sungguh di jarak yang dekat jantung Dido seakan berdetak lebih kencang.

__ADS_1


"Di sini saja kak," jawab Serly dengan langsung duduk di sofa ruangan itu.


"Ya sudah. Kakak, mau mandi dulu. Kalau mau minum tinggal ambil aja ya! Bi Sumi sepertinya sudah pulang di jam sekarang," kata Dido.


Serly mengangguk dengan tersenyum tipis. Dido pun melenggang masuk ke dalam kamarnya.


Serly menatap ruangan tersebut. Dan merasa penasaran, mengapa Dido memilih kamar yang berada di lantai bawah tidak seperti dirinya yang memang ingin di lantai atas. Kemudian Serly menatap sebuah foto yang berbingkai kayu berwarna gold. Terlihat Dido masih anak-anak berdiri di tengah-tengah sepasang suami istri. Serly sudah mengira jika wanita yang berada di sebelahnya itu adalah Ibunya Dido. Mendadak Serly menjadi sedih, saat mengingat cerita Dido jika ibunya sudah tiada.


Beruntung dirinya yang masih mempunyai orang tua lengkap. Di tambah seorang Kakak seperti Rasya yang benar-benar sangat menyayanginya. Serly menghela nafas, teringat kedua orang tuanya serta kakaknya yang sangat antusias senang saat Dido beserta Ayahnya datang untuk membicarakan perihal hubungannya yang akan di bawa ke jenjang lebih serius.


'Maaf, Ma ... Pa ... Kak, sebenarnya aku terpaksa. Jika peristiwa itu tidak pernah terjadi. Tentu, aku akan mempertahankan hubunganku bersama kak Aldi,' batin Serly berbicara.


'Dan mulai dari saat ini ... aku akan menerima semua yang terjadi. Semoga pilihan ini yang terbaik untuk hidupku dan untuk kedua orang tuaku,' Serly kembali membatin. Menerima adalah langkah yang paling utama Serly lakukan saat ini.


Serly terus merenung dengan pikirannya sendiri. Sampai tidak sadar bahwa Dido sudah keluar dari dalam kamarnya dengan penampilan yang rapih, menambah kesan ketampanannya.


Dido mengernyit menatap Serly yang memandang ke arah foto. Namun, pandangan Serly terlihat kosong. Dido melangkah dan duduk di samping Serly.


"Foto itu saat kakak berumur Sepuluh tahun. Dan sebulan kemudian ibu kecelakaan dan meninggal dunia," kata Dido menjelaskan foto yang sedang Serly pandang.


Serly menoleh, dan hidung mancungnya bersentuhan dengan hidung mancung milik Dido. Di karenakan jarak duduk Dido dengannya begitu dekat dan rapat. Sontak kedua matanya repleks saling bertemu. Dido menatap mata Serly dengan tatapan intens penuh cinta. Sedangkan Serly menatap Dido dengan penuh debaran di dalam dadanya. Mungkin saat ini Serly sudah merasakan getaran cinta terhadap Dido, namun Serly belum menyadarinya.


Tangan Dido terangkat menyentuh rahang Serly. Serly terdiam dengan tubuhnya yang langsung meremang. Dido memiringkan wajahnya, sedikit lagi bibir mereka akan bertemu. Serly repleks menutup kedua matanya menerima apa yang akan Dido lakukan.


Dido dengan cepat menoleh ke arah ayahnya dan menjawab.


"Iya Yah. Aku sama Serly mau makan di luar," dengan wajah yang di buat santai.


Namun, tidak dengan Serly. Serly begitu ingin sekali menyembunyikan wajahnya saat itu juga. Sehingga Serly memilih untuk menunduk dan merutuki dirinya sendiri yang mengapa tidak menolak saat Dido ingin mencium bibirnya.


"Ya sudah. Kebetulan Ayah juga akan pergi. Kalau gitu ayah duluan, jangan lupa kunci pintu! Serly, om tinggal ya," Tuan Malik berpesan kepada Dido seraya berpamitan kepada Serly.


Serly menjawab dengan mengangguk, "Iya Om," sahutnya.


Tuan Malik pun langsung keluar. Dan terdengar suara mesin mobilnya meninggalkan halaman rumah.


Kini Dido jadi salah tingkah mengingat dirinya yang hampir akan mencium bibir Serly. Suasana menjadi canggung. Serly sendiri pun tidak berani menatap Dido. Ia menunduk dengan jari-jemarinya saling bertaut.


"Ehem," Dido berdehem menetralkan suaranya yang tiba-tiba susah keluar.


"Ayo kita dinner!" Dido berdiri dengan menyambar kunci mobil yang berada di atas meja.


Serly mendongak. Lalu ikut berdiri. Langkahnya mengikuti Dido yang berjalan lebih dulu dari dirinya.

__ADS_1


Di Tempat Lain...


Aldi baru saja sampai di Apartemen. Dengan langsung membersihkan badan, dan berpakaian santai.


Tring! suara notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel miliknya. Aldi membuka dan membaca pesan tersebut.


[Aku tunggu di Cafe Mentari! by. Maharani]


Aldi menghela nafas. Teringat akan kejadian saat pagi tadi, yang hampir ia lupakan. Pertemuan dengan Serly mendominan pikirannya saat ini.


Sejenak Aldi terdiam. Lalu tangannya mengetik pesan balasan untu Maharani.


[Baik. Saya akan ke sana]


Ya. Aldi memenuhi janjinya. Ia akan makan malam bersama Maharani malam ini. Bukan, tanpa alasan ia memenuhi permintaan Maharani. Yang Aldi takutkan Maharani memutuskan kerja sama sepihak kepada perusahaan. Dan Perusahaan akan rugi banyak di buatnya.


Aldi meraih hoodie berwarna hitam dan memakainya. Menyambar kunci mobil beserta dompet. Lalu melangkah keluar Apartemen untuk menuju basement.


Aldi melajukan mobilnya dengan santai. Menyetir dengan fokus. Dan tak lupa dengan wajah yang datar nan Dingin tanpa ekspresi. Itulah Aldi. Tentang ketampanannya jangan di tanyakan lagi. Namun, sayang ... baru saja merasakan apa itu cinta? ia harus terluka dengan alasan yang belum ia dengar dengan jelas dari gadis yang di cintainya.


Aldi menghela nafas, "Bu ... maafkan saya yang belum bisa membawa gadis yang akan menjadi menantu ibu," ada rasa bersalah terhadap ibunya. Aldi sudah mengatakan bahwa dirinya sudah mempunyai pacar kepada ibunya. Ibunya yang terkejut tentu ingin bukti. Ibu Aldi menyuruh agar Aldi membawa gadis yang menjadi pacarnya bertemu dengan dirinya.


Rasa takut ada kelainan pada Aldi membuat sang Ibu bertanya-tanya kepada Aldi, meyakinkan bahwa Aldi menyukai wanita atau tidak. Sebab Ibu Aldi tidak pernah mendengar atau melihat putranya berdekatan atau pun berpacaran.


Dan kini, Aldi merasa bersalah terhadap ibunya. Yang pasti akan kecewa jika Aldi tidak memenuhi permintaan ibunya tersebut.


Tanpa terasa Aldi kini sudah berada di depan Cafe Mentari yang di janjikan Maharani. Dengan cepat Aldi keluar dari dalam mobil, dan memeriksa pesan dari Maharani.


Aldi berjalan dengan terus menatap ponsel tanpa melihat sekitarnya.


Bruk!!


"Auw ...," pekik seorang wanita yang tersenggol bahu Aldi.


Sontak Aldi meminta maaf, "Maaf. Nona saya tidak sengaja!" Aldi meminta maaf dengan rasa bersalah kepada wanita yang bahunya tak sengaja ia senggol.


"Ya tidak apa-apa," jawab gadis yang di tersenggol Aldi.


Tunggu. Aldi menatap lebih jelas gadis yang di depannya kini. Suaranya ... Aldi sangat hafal.


Deg!


"Kak, Aldi?!"

__ADS_1


...***...


__ADS_2