
Di Kantor Argadinata Group...
Aldi asisten Rasya, melaporkan bahwa akan ada pertemuan bersama Perwakilan dari Albian Company. Rasya belum tahu bahwa kerjasama Perusahaan miliknya yang kini ia pegang, sudah menjalin kerja sama sudah lama dengan Perusahaan Albian Company.
"Mereka ingin mengadakan Pertemuan dimana, Al?" Rasya bertanya seraya membaca dokumen-dokumen yang sudah ia persiapkan untuk nanti.
Aldi membaca dari layar Macbook miliknya. "Pertemuannya di kota B. Seperti yang sudah-sudah. Dengan meninjau proyek yang sudah lama terjalin dari tahun-tahun sebelumnya," tutur Aldi setelah membaca.
Rasya sekarang mendongak menatap Aldi, "Di kota B?" Rasya bertanya memastikan kembali.
"Benar Pak. Tadi Pagi, Pak Anton asisten Pak Hadi sudah memberitahukan kepada Saya, agar Pak Rasya tidak sampai melewati pertemuan ini. Pertemuan yang sudah rutin di lakukan. Dan Pak Hadi juga menyuruh Saya beserta Ariyanti untuk menemani pertemuan di luar kota ini," Aldi menjelaskan dan menegaskan kepada Rasya.
"Ariyanti?" pekik Rasya.
"Benar Pak," sahut Aldi.
Kenapa Papa menyuruh Ariyanti untuk mendampingiku. batin Rasya bertanya.
"Kita berangkat kapan?" tanya Rasya.
"Setelah jadwal makan siang. Kita akan berangkat," sahut Aldi.
Rasya tercengang, "Kenapa mendadak sekali sih. Bahkan saya belum memberitahukan, kepada istri saya." Rasya menatap tajam.
"Mohon maaf. Saya semalam sudah ngechat ke nomor Bapak. Tapi, belum bapak read sampai sekarang," Aldi dengan hati-hati menyampaikan.
Rasya langsung merogoh ponsel miliknya dari balik saku jas. Ia langsung membuka aplikasi hijau, dan benar saja ada chat yang Aldi kirimkan dari sore, dan malam yang belum Rasya baca.
"Sorry Al ... saya kalau di rumah suka lupa dengan ponsel ini," tuturnya.
Tentulah Rasya lupa. Karena jika sudah berada di rumah ia selalu menggoda istrinya.
"Tidak apa-apa Pak, kalau begitu saya akan kembali ke ruangan saya," ucap Aldi.
"Kembalilah," sahut Rasya.
Aldi pun keluar dari ruangan Rasya. Rasya kini memanggil nomor istrinya. Ingin memberitahukan bahwa dirinya akan pergi keluar kota hari ini juga.
Sementara itu Adelia yang masih duduk di sofa kamar Albi. Terdiam. Entah harus bagaimana. Ia ingin sekali pulang saat ini juga.
"Mas Rasya," gumam Adelia saat melihat layar ponselnya menyala.
Albi yang sama-sama terdiam. Memperhatikan Adelia yang bergumam.
"Suami kamu? angkat saja! aku akan diam," titahnya.
Adelia akhirnya mengangkat penggilan dari suaminya itu, dengan menghela nafas sebelumnya.
"Hallo, Mas" sapa Adelia.
"Sayang ... apa kamu sudah pulang dari makamnya?" sahut Rasya dari sebrang telepon.
"Be-belum Mas. Ada apa emang?" jawab Adelia dengan bertanya. Ia merasa was-was.
"Kenapa lama sekali? oh iya, Sayang ... hari ini aku ada pertemuan dengan Klien. Dan pertemuannya di luar kota. Maaf ya Sayang, aku mungkin tidak bisa pulang sore. Aku akan pulang setelah pertemuan itu selesai."
Adelia terdiam. Namun, ia akan berusaha biasa saja. Walau dalam hatinya merasa tidak ingin di tinggalkan.
"Ya Mas, silahkan saja. Hati-hati ya, jaga kesehatannya," Adelia berpesan.
"Tentu Sayang ... kamu juga di rumah hati-hati. Jaga baby kita! dan kalau ada apa-apa, minta bantuan Mama atau Rara," Rasya berpesan juga.
"Iya Mas," Adelia seraya tersenyum.
"Ya sudah. Jangan lupa makan siang ya cantik. I Love you," Rasya di sebrang telepon dengan tersenyum.
__ADS_1
"Iya Mas," Adelia sengaja tidak membalas kata manis dari suaminya itu. Merasa malu karena ada Albi yang sedari tadi memperhatikannya.
"Kalau begitu, aku tutup ya ... bye sayang,"
"Iya Mas, bye ...,"
Sambungan telepon pun terputus. Adelia kini terdiam, berpikir. Rasya tiba-tiba pergi keluar kota, bertepatan dengan dirinya yang ada di kediaman Albi, yang tidak tahu hari ini juga ia bisa pulang atau tidak. Mengingat Hera Mamanya Albi yang baru saja datang.
"Apa kamu mau pulang?" Albi membuat Adelia yang terdiam, menjadi menatap dirinya.
"Apa bisa aku pulang sekarang?" tanya Adelia memastikan.
Albi seperti tengah berpikir, "Bisa. Hanya ada syaratnya," ucap Albi dengan tersenyum tipis.
"Kenapa aku bisa pulang, tapi harus ada syaratnya?" Adelia bertanya dan mencebik.
"Kenapa? ya, itu juga kalau kamu mau pulang," Albi kini melipat tangannya di dada.
"Terus kalau aku pulang, Mama bagaimana? apa beliau tidak akan mencariku?" Adelia memastikan kembali.
Albi menggeleng, "Entahlah, pasti Mama akan menanyakan kamu,"
Adelia mendesah, " Terus aku bagaimana? aku tidak mungkin terus di sini. Aku punya suami. Kamu harus tahu itu?! harusnya kamu tidak lakukan hal yang membahayakan kamu sendiri. Kamu tidak perlu berbohong seperti itu. Jujur lebih baik, Mas" Adelia mendadak mencerca Albi. Seakan Adelia melampiaskan uneg-unegnya.
Dan di saat Adelia berkata seperti itu. Di saat akhir kalimatnya, Alina mendengar. Karena ia hendak turun dari tangga. Namun, penasaran dengan suara Adelia dan Albi yang sedang bertengkar pikir Alina. Namun, ternyata Alina di buat tercengang dengan perkataan Adelia. Darahnya seakan naik begitu saja. Ia langsung membuka pintu kamar Albi dengan luas, karena pintu sedari tadi terbuka sedikit, hingga Alina bisa mendengar dengan jelas.
Brakkkk ...
Suara pintu yang Alina buka dengan kasar. Membuat Albi dan Adelia menoleh dengan tercengang.
"Albi, Arumi ... ayo jelaskan sekarang juga, sebenarnya apa yang sudah kalian lakukan?" pekik Alina.
Albi berusaha santai, "Ada apa sih kak, kami tidak melakukan apa-apa,"
"Aku dengar dengan jelas. Bahwa kamu sedang melakukan kebohongan besar. Aku dengar tadi. Arumi yang mengatakannya," Alina menatap tajam kearah Albi.
Sedangkan Adelia menjadi gelagapan. Karena merasa bersalah telah berucap dan Alina bisa mendengar semuanya.
"Kak, kakak ... em tadi a-aku meminta Mas Albi jalan-jalan. Tapi Mas Albi sudah bilang ke Mama, bahwa aku sedang bedres. Nah, itu yang aku katakan Mas Albi sedang melakukan kebohongan besar," kilah Adelia membela Albi.
Alina kini tatapannya melembut, "Benarkah?"
"Iya Kak, benar," sahut Albi.
Alina memicing matanya, seperti meragukan kata-kata Adelia barusan. "Kenapa kalian tak semesra saat waktu pertama kita ke sini. Sebenarnya ada apa? apa rumah tangga kalian baik-baik saja?. Jangan sampai ada kebohongan yang berkaitan dengan keluarga mu, Albian ... jika kamu punya masalah. Jangan sampai masalah itu berlarut-larut. Diskusikan dengan istrimu," Alina setelah berkata panjang ia bergegas pergi dari kamar Albi.
Albi langsung menghirup nafas dengan perlahan, setelah kepergian Alina seakan ruangan itu serasa luas. Albi berdiri, dan mengunci pintu kamarnya. Lalu mendekati Adelia.
"Terima kasih, Arumi kamu telah menyelamatkanku," ucapnya dengan tulus.
"Iya. Tapi, sampai kapan kamu akan terus membohongi keluargamu?"
"Sampai aku tidak lagi mencintaimu," Albi menatap Adelia dengan dalam. Tersirat ada rasa rindu dan cinta di dalam tatapan Albi.
"Cinta?" Adelia melotot.
"Ya, aku mencintaimu. Kamu wanita yang telah berhasil membuat aku merasakan apa itu cinta. Tapi cintaku salah tempat. Aku telah mencintai wanita yang sudah bersuami,"
Adelia terdiam. Ada rasa kasihan kepada Albi yang ternyata mempunyai perasaan kepada dirinya. Walau Adelia sudah tahu waktu Albi saat itu mengatakannya, dan kini Adelia mendengarnya lagi. Tapi tetap di hatinya tidak merasa ada getaran cinta di diri Adelia.
"Maaf," ucap Adelia karena merasa bersalah telah membuat Albi jatuh cinta kepada dirinya.
Albi mengangguk dengan tersenyum. Ia kini berjongkok seraya mensejajarkan tubuhnya dengan perut Adelia yang sudah terlihat menyembul.
"Apa aku boleh mengusap perutmu?" tanya Albi meminta ijin.
__ADS_1
Adelia terdiam lebih dahulu, setelah itu ia mengangguk dengan perlahan. Albi dengan tersenyum, langsung mengusap perut Adelia. Ia seperti bahagia seakan bayi dalam perut Adelia adalah bayinya sendiri.
"Em ... Mas, apa menurut mu, Rara temanku itu, cantik tidak?" Adelia entah mengapa ingin menjodohkan Albi dengan Rara.
Albi mendongak, tanpa tahu tujuan dari pertanyaan Adelia. "Cantik. Tomboy juga," jawabnya.
"Kalau begitu, Mas suka?"
Albi masih belum tahu dari maksud Adelia, "Tidak." sahutnya.
"Kok tidak?" Adelia merasa tidak mengerti kenapa Albi mengatakan tidak suka kepada Rara.
"Ya Tidak. Karena aku suka gadis yang peminim seperti kamu," Albi kembali menatap Adelia dengan dalam.
"Apa kamu benar-benar mencintai aku?" Adelia ingin memancing betapa besar cinta Albi kepada dirinya.
"Tentu benar. Aku benar-benar mencintai kamu," Albi menegaskan.
"Kamu tahu kan, kalau kamu dan aku tidak akan bersatu?"
"Akan," sahut Albi asal.
"Ih, aku gak mau bersatu sama kamu. Karena aku mencintai suamiku,"
Pernyataan Adelia membuat Albi terdiam. Ia sadar posisi wanita yang di cintainya, tentu wanitanya itu mencintai suaminya.
"Kamu benar, aku tidak akan mungkin bersatu denganmu, Arumi ... hanya satu kemungkinan. Itu juga kalau kamu mau bercerai dengan suamimu, dan menikah denganku, Tapi itu tidak mungkin terjadi. Karena aku bisa merasakan kalian sama-sama saling mencintai,"
"Sekarang kamu sadar?" Adelia merasa puas dengan pernyataan Albi.
"Ya aku sadar. Sadar sekali,"
"Kalau begitu, cobalah mencintai wanita lain," usul Adelia.
Albi menghela nafas, "Akan aku coba. Namun saat ini tidak ada wanita yang menyukaiku dan mencintaiku dengan tulus. Mereka mendekati hanya karena ingin uang dan kekayaanku saja,"
"Masih ada. Kamu harus yakin. Rara orangnya. Kamu bisa menjalin hubungan dengannya, dan kamu akan tahu seberapa tulus dirinya," Adelia meyakinkan Albi. Dan langsung mengungkapkan keinginannya.
"What? wanita tomboy itu?" pekik Albi.
"Iya. Kenapa? dia wanita baik-baik. Tidak suka memamerkan auratnya. Dan dia apa adanya. Please, cobalah dulu ...," Adelia memohon.
"Kenapa kamu memohon seperti itu? bagaimana jika aku tidak bisa mencintainya?" Albi ingin tahu alasan Adelia yang memohon.
"Aku sangat menyayangi Rara. Dia sudah ku anggap seperti keluarga ku sendiri. Dan aku tahu, kamu adalah pria baik. Jadi aku mohon, cobalah dekati dia. Rasa cinta akan tumbuh dengan sendirinya, seiring berjalannya waktu. Seperti cinta mu padaku, yang tumbuh tanpa kamu duga," tutur Adelia.
"Apa kamu bahagia, jika aku yang mendampingi wanita tomboy itu?"
"Tentu aku akan bahagia. Dan tentunya kita akan selalu terjalin silaturahmi," Adelia dengan tersenyum merasa yakin bahwa Albi akan menuruti kemauannya.
"Ok. Aku akan mencoba dekat dengan wanita tomboy itu. Tapi aku ingin menghabiskan waktu sehari saja denganmu, apa kamu bersedia?" Albi seakan memberikan syarat agar bisa memenuhi kemauan Adelia.
"Namanya Rara. Jangan panggil-panggil wanita tomboy." Adelia membenarkan, karena Albi berulangkali memanggil Rara dengan sebutan wanita tomboy, "Kenapa harus ada syarat sih?" lanjut Adelia dengan menautkan kedua alisnya.
"Bukan syarat. Tapi permintaan,"
"Ya sama saja." Adelia dengan berpikir.
"Bagaimana?" Albi tersenyum ingin memastikan Adelia bersedia.
"Em ... apakah jika aku bersedia menghabiskan waktu sehari denganmu. Di jamin tidak, kalau kamu akan mendekati Rara?" Adelia memastikan dan meyakinkan bahwa Albi tidak mengingkari.
"Di jamin. Gimana deal gak?" Albi dengan menaikan satu alisnya.
"Ok Deal," tegas Adelia.
__ADS_1
...***...
...Bersambung....