
Ariyanti mengetuk pintu ruangan Rasya. Dan masuk setelah mendengar suara Rasya menyuruhnya masuk. Ariyanti melangkah dengan anggun. Tangannya membawa nampan yang berisikan secangkir kopi untuk Rasya.
"Silahkan di minum kopinya!" ucap Ariyanti. Membuat Rasya yang sedari tadi fokus pada layar komputer, mendongak.
"Kenapa kamu yang buatkan?" tanya Rasya datar.
Ariyanti dengan tersenyum. "Bukankah, membuatkan kopi adalah tugas Mita. Dan aku membantu tugas Mita," ujar Ariyanti dengan menatap Rasya.
"Wanita ini. Di kasih hati minta jantung. Ok. Aku hampir lupa pada tujuanku!" batin Rasya.
Rasya merasa kalau Ariyanti di dekati, makin melunjak.
"Wah ... sepertinya kopinya bakal enak?" Rasya memuji Ariyanti. Membuat kedua pipi gadis itu seketika merona. Padahal Rasya tahu kalau kopi yang biasa di buat untuk dirinya adalah kopi instan yang tentu sudah sesuai takarannya.
"Saya minum dulu, ya!" Rasya lalu meraih cangkir itu dan meminumnya di hadapan Ariyanti. "Benar-benar enak kopinya. Beda dengan buatan Mita," celetuk Rasya setelah meminum kopi itu membuat Ariyanti salah tingkah karena kembali di puji Rasya.
Rasya terus menatap Ariyanti. "Lihat dia jadi salah tingkah?" gumam Rasya di dalam hati mengejek.
Ariyanti yang merasa di tatap oleh Rasya, sedikit menunduk. "Oh Tuhan. Rasya natap aku terus. Buat aku jadi salting," pekik Ariyanti di dalam hati.
"Kamu mau duduk di situ?" tunjuk Rasya pada kursi yang berada di hadapannya.
"Hah?" Ariyanti gelagapan. Karena benar-benar merasa kaget. Hari ini ia benar-benar di buat senang.
"Boleh?" tanya Ariyanti memastikan.
Rasya mengangguk, "Tentu boleh. Sekalian ada yang harus aku bicarakan sama kamu," tutur Rasya.
Ariyanti perlahan duduk di kursi itu, tentu dengan hati yang berbunga-bunga. Merasa ada angin segar menerpa tubuhnya.
__ADS_1
Rasya menatap Ariyanti. "Boleh aku berbicara sesuatu padamu?" Rasya dengan serius menatap Ariyanti. Rasya akan memulai aksinya.
"Tentu boleh. Apa yang akan kamu bicarakan?" Ariyanti dengan antusias ingin mendengar apa yang akan Rasya bicarakan.
"Maaf. Saat aku menikahi kamu. Saya benar-benar tidak menghargai perasaanmu. Jujur saya ingin mengatakan hal ini dari kemarin-kemarin. Namun, baru hari ini kesampaian. Maaf, Saya tidak pernah menatapmu. Maaf, Saya tidak pernah memberikan ruang untuk saling menyapa. Bahkan memberi hak sebagai suamipun saya tidak. Sungguh, selama ini saya di liputi rasa bersalah. Makanya saya malu jika bertemu denganmu kala di rumah," Rasya saat ini berbicara jujur. Rasya memang merasa bersalah terhadap Ariyanti karena telah mengabaikannya saat dulu menjadi suaminya. Tapi di balik itu semua karena Rasya tidak mencintai Ariyanti, di tambah Rasya tertekan menjalani pernikahan itu karena paksaan kedua orang tuanya.
Ariyanti tertegun. Ia mendengar Rasya berbicara dengan kalimat demi kalimat ia dalami.
"Rasya memang pria baik. Ah ... aku jadi benar-benar gak sabar untuk mendapatkannya." Ariyanti berbicara di dalam hatinya sebelum menyahuti ucapan Rasya..
"Aku mengerti Sya ... saat kamu menikah denganku. Karena di jodohkan. Jadi kamu mungkin tidak terima atau bagaimananya, karena hanya kamu yang tahu. Tapi, aku tidak mempermasalahkannya kok." Ariyanti menjeda ucapannya. Kemudian kembali berucap.
"Jujur aku sangat terpukul harus kehilangan pria sebaik kamu. Padahal aku sudah mulai jatuh cinta saat awal pertunangan. Bahkan sampai sekarang. Lalu aku suka berandai-andai. Jika aku menikah denganmu lagi walau jadi istri kedua pun aku tidak masalah. Dan aku berpikir kembali. Pasti itu tidak akan pernah terjadi. Karena aku bukan wanita yang kamu cintai,"
Ucapan Ariyanti membuat Rasya merasa mendapat jalan atau cela. Untuk memperdalam perannya.
Rasya tersenyum tipis. "Itu tak akan pernah. Tak akan! karena aku sangat mencintai istriku," batin Rasya menyahuti. Kemudian berucap pada Ariyanti dengan tatapan yang seperti berharap.
Ariyanti terbelalak, "Bagaimana Rasya maksud, kamu?" sepertinya Ariyanti sangat terkejut. Sehingga ia tidak bisa mencerna dengan baik. Atau mungkin Ariyanti ingin kejelasan dari Rasya.
"Istriku. Maafkan aku. Aku hanya sedang menjalankan siasat kita," batin Rasya sebelum berucap pada Ariyanti. Di dalam hatinya ia sungguh merasa berdosa karena merasa sedang berselingkuh di belakang Adelia.
"Jika pernikahan itu terjadi. Apakah kamu mau menjadi yang kedua? seperti khayalanmu," jelas Rasya dengan menatap penuh harap.
Ariyanti di buat menganga. Ia tersenyum lebar. Kemudian ia mengangguk dengan cepat.
"Aku mau, Sya ... tidak masalah jika aku menjadi istri kedua mu. Asalkan kamu, bersikap adil kepadaku," ujar Ariyanti senang. Matanya sungguh berbinar kebahagiaan.
Rasya tersenyum tipis, "Jadi kamu mau?" tanya Rasya memastikan. Ariyanti kembali mengangguk.
__ADS_1
"Terima kasih. Tapi. Saya ingin mengenali kamu dulu. Tidak apa-apa, kan? bilanglah, kalau kita pacaran dulu," Rasya sengaja ingin mendekati Ariyanti. Untuk mengundur waktu pernikahan itu. Tentu Rasya akan mencari bukti terlebih dahulu. Hingga pernikahan itu tidak akan sama sekali terjadi.
Ariyanti tersenyum lebar, ia mengangguk cepat. "Aku mau, Sya. Aku mau" katanya dengan tidak hentinya tersenyum. "Tapi, bagaimana dengan istrimu?" tanya Ariyanti ingin tahu dengan Adelia.
"Masalah itu. Nanti akan saya bicarakan. Tapi tidak sekarang. Karena sekarang ia sedang hamil. Takut ia banyak pikiran. Dan tolong bersikap biasa saja, ya. Kalau sedang di rumah!" Rasya sengaja mengatakan itu agar berkesan bahwa dirinya kini tertarik pada Ariyanti. Padahal Adelia sudah tahu semuanya. Tidak ada yang Rasya tutup-tutupi.
Ariyanti berdiri, "Boleh aku memelukmu?" tanyanya.
Rasya terdiam. "Bagaimana ini? dia ingin memelukku, ah ... wanita ini agresif sekali sih?. Jika di tolak takut dia curiga. Tapi jika di bolehkan. Aku merasa berdosa kepada istriku," umpat Rasya di dalam hati.
Ariyanti kembali berbicara karena belum mendapat respon dari Rasya. "Sya, boleh aku memelukmu?" tanya Ariyanti kembali.
Rasya akhirnya mengangguk pelan. Dan Ariyanti berhambur memeluk Rasya yang sedang terduduk di kursi kerjanya.
"Sudah, ya. Takut ada yang lain," ucap Rasya. Padahal ia tidak mau di peluk Ariyanti lama-lama.
Ariyanti dengan tersenyum, lalu melerai pelukannya, "Aku mencintai kamu, Sya" ujarnya. Membuat Rasya terdiam. Kemudian mengangguk merespon.
"Lebih baik kamu sekarang kembali. Mita akan memberikanmu tugas," Rasya menyuruh agar Ariyanti cepat keluar.
"Baiklah, aku keruanganku dulu ya. Kalau ada apa-apa. Panggil saja aku!" ucapnya Lalu melenggang keluar ruangan Rasya.
Seperginya Ariyanti. Rasya meraup wajahnya dengan kasar, lalu menelungkupkan wajahnya pada tangan yang Rasya tumpuk di meja.
"Maaf. Istriku. Aku sedang melakukan peranku." gumam Rasya dengan lirih penuh rasa bersalah.
Bayang-bayang wajah cantik Adelia selalu terbayang. Rasya mengepal tangannya seketika. Merasa yakin. Bahwa Rony papanya Ariyanti adalah pelaku yang sebenarnya. Tapi. Rasya tidak boleh gegabah. Ia harus mempunyai bukti yang kuat.
"Lihat. Jika benar anda yang sudah membunuh Om Bara, dan yang membuat Ayah Adelia kecelakaan. Maka aku tidak akan mengampunimu!" Rasya di dalam hati seraya membayangkan wajah Rony.
__ADS_1
...***...
...Bersambung....