You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 207.


__ADS_3

Selang beberapa menit seorang Dokter keluar dari ruang UGD. Dan langsung di todong pertanyaan oleh Alina dan juga Albi.


"Dokter, bagaimana keadaan Mama saya?" tanya Alina dengan raut wajah yang cemas.


"Dokter apa Mama baik-baik saja?" kini tanya Albi dengan tidak kalah wajahnya begitu penuh khawatir.


Dokter itu, mencoba tersenyum mengerti akan kekhawatiran dari putra dan putrinya pasien tersebut.


"Tuan, dan Nona tidak perlu khawatir. Nyonya dalam keadaan baik-baik saja. Hanya tadi beliau merasa syok, hingga deru nafas dan detakan pada jantungnya menjadi tidak beraturan. Sekarang Nyonya masih belum sadarkan diri. Mungkin sebentar lagi, beliau akan terbangun," tutur Dokter yang bernama Hendra menenangkan Alina dan Albi.


Semua yang ada di sana bisa menghembuskan nafas lega. Setelah mendengar penuturan Dokter bahwa Hera dalam keadaan baik-baik saja.


"Bagaimana dengan jantungnya, Dok?" Albi ingin memastikan kembali keadaan Hera.


"Jantung beliau sangatlah baik. Apa beliau pernah di cangkok jantung sebelumnya?" Dokter itu bertanya.


Alina mengangguk, "Iya Dok. Sudah hampir enam bulan lamanya,"


Albi tercengang kaget, ia tidak mengetahui tentang Hera yang pernah di cangkok jantungnya.


"Ya sudah. Kalian tidak perlu khawatir. Kalau begitu saya undur pamit," kata Dokter Hendra berpamitan dan berlalu pergi.


Alina dan Albi mengangguk sebelum dokter itu meninggalkan mereka.


"Terima kasih, Dok" Lucky kini bersuara.


Setelah Dokter Hendra meninggalkan mereka. Kini Albi ingin mempertanyakan hal yang tidak pernah ia ketahui.


"Kakak, kenapa tidak memberitahu aku, kalau Mama sempat di cangkok jantungnya?" pekik Albi.


Alina menatap sinis kepada Adiknya, "Emang kamu pernah tanya, bagaimana keadaan Mama? enggak, kan?!"


Albi terdiam.


"Kamu di tanya kapan pulang? kapan datang? alasannya banyak kerjaan. Aku heran deh. Kamu itu yang punya perusahaan tapi sibuknya melebihi para karyawan. Aku tahu, kamu beralasan seperti itu pasti karena menghindari perjodohan, kan!?"


Albi masih terdiam. Ia merasa bersalah selalu menghindari pertemuan dengan keluarganya. Dan Albi semakin bersalah, saat keluarganya datang ke kota J demi memastikan ucapannya yang mengatakan telah menikah. Albi mengingat bagaimana raut wajah berseri, serta bahagia dari wajah Hera, Alina, dan Lucky saat itu. Dan kini mereka tahu itu semua bohong. Lalu terlihat raut wajah kekecewaan dari Alina, Lucky, dan yang pastinya Hera.


Lucky menatap ke arah kaca ruangan UGD, yang terlihat Hera terbaring lemah di sana. Lucky bisa melihat Hera telah terbangun dari pingsannya.


"Alina, Mama sudah sadar!" ucap Lucky antusias.


Alina langsung membuka handle pintu, di susul Lucky dan Albi dari belakang.


"Ma ...," Alina menghampiri Hera yang masih terbaring.


Hera tersenyum kepada Alina, dan Lucky. Namun saat menatap Albi senyumannya surut, dan mengalihkan tatapannya. Ia seperti enggan menatap Albi. Hingga memilih fokus menatap Alina.


"Mama ingin minum, Nak!" pinta Hera yang kerongkongannya merasa kering.


Alina langsung sigap menuangkan air putih ke dalam gelas yang sudah tersedia di ruangan itu. Kemudian Alina serahkan kepada Hera. Hera mendudukkan tubuhnya. Dan menerima gelas berisi air putih itu.


"Arman dan Dirga mana?" tanya Hera yang seakan tidak ingin menanyakan Albi putranya , yang jelas ada di hadapannya.


"Aku panggilkan, Ma" Lucky langsung beranjak melangkah keluar ruangan. Ia menemui Arman dan Dirga. Dan tak lama Lucky datang bersama Arman dan Dirga.

__ADS_1


"Kalian tahu, bahwa dia membohongi kami?!" Hera langsung mengajukan pertanyaan kepada kedua teman putranya itu.


Arman dan Dirga mengangguk.


Hera menggelengkan kepala, "Terus kalian mendukungnya juga?"


Arman dan Dirga pun mengangguk kembali.


"Maaf tante. Sebenarnya itu semua adalah ide saya," Arman mengakui.


"Kamu tahu ide itu mu, sangatlah salah?!"


"Iya, tentu saya tahu tante," sahut Arman.


Hera menghela nafas dengan kasar. "Wanita itu kamu tahu siapa, dia?"


Arman dan Dirga saling tatap. Kemudian Arman bersuara.


"Awalnya kami menemukan wanita itu di sungai, dengan tidak sadarkan diri. Identitas wanita itupun kami tidak tahu. Lalu setelah wanita itu sadar dari pingsannya. Wanita itu tidak mengenali dirinya sendiri. Hingga saya mendapatkan ide saat Tuan Albi prustasi akan desakan dari tante, untuk menjodohkan Tuan Albi kalau saja tidak membawa wanita pilihannya sendiri." Arman menuturkan dengan jelas.


"Lalu sekarang Arumi tinggal dimana?" Alina penasaran ia ikut bersuara.


"Arumi sudah tinggal kembali bersama suaminya." Dirga menimpali.


"Apa suaminya tahu, kalau istrinya itu di manfaatkan penyakitnya oleh, pria bodoh itu?!" Alina geram ia bahkan menyebut Albi bodoh.


Albi mendelik. Tapi masih tetap terdiam.


"Suaminya tahu, kak" sahut Arman.


"Nanti setelah saya keluar dari rumah sakit ini. Bawa saya, menemui Arumi!," pinta Hera.


Albi menelan ludahnya dengan kasar. Albi tidak mengerti apa yang akan Hera lakukan saat nanti bertemu Adelia.


"Baik, Tante" sahut Dirga dan Arman secara bersamaan.


Di Kediaman Rasya...


Adelia mengerjapkan matanya. Ia terbangun dari tidur siangnya. Adelia melihat ke arah jendela yang terlihat hari sudah sore.


"Jam berapa ini?" gumam Adelia seraya menyandarkan tubuhnya.


Adelia melihat jam dinding yang menempel di dinding kamar telah menunjukkan pukul tiga sore.


"Ya Tuhan, aku tidur lama sekali," pekik Adelia. Ia memilih turun dari ranjang. Dan keluar kamar.


Adelia merasa perutnya sangat lapar. Mungkin karena makan siang yang terlewatkan, hingga cacing yang berada di dalam perutnya meronta-ronta.


Adelia memasuki area dapur. Mencari makanan yang bisa ia lahap. Namun, di meja makan terlihat bersih, tidak ada hidangan makanan di sana. Memang hanya Adelia yang rajin memasak. Tapi karena tadi pagi moodnya kurang baik. Hingga Adelia tidak memasak.


"Lebih baik aku masak sekalian buat nanti malam," gumam Adelia. Ia mulai menghampiri kulkas dan membukanya. Terlihat sudah ada banyak bahan masakan tertata rapi di dalamnya. Mungkin Rara yang menatanya setelah habis belanja.


Adelia memilih daging sapi kemasan, dan sayurannya bayam. Adelia berniat akan membuat rendang sapi untuk ia masak. Dan bayam akan di buat sayur bening.


Adelia merebus daging sapi terlebih dahulu. Lalu selama daging sapi itu di rebus. Adelia memilih memotong sayuran bayam, dan setelah di potong ia mencucinya.

__ADS_1


Hingga hampir dua jam lebih Adelia merampungkan masaknya. Mungkin karena pergerakannya yang kini terbatas. Waktu tersebut merasa lama Adelia habiskan.


Sampai hampir pukul lima sore Adelia menyelesaikan masakannya. Ia menyusun rapi dan menghidangkan di meja.


"Ternyata, disini rupanya istri cantikku," pekik Rasya yang baru saja datang pulang bekerja. Ia terlebih dahulu masuk kamar setelah tidak menemukan Adelia di teras rumah seperti biasanya. Lalu Rasya mulai mencari kembali ke arah dapur. Dan ternyata benar. Istri cantiknya berada di dapur sedang menghidangkan hasil masakannya di atas meja.


"Eh, Mas sudah pulang? maaf, aku tidak menyambut kepulanganmu!"


Adelia menoleh ke arah sumber suara, dimana suaminya berdiri di belakang tubuhnya. Untung saja kedua tangan Rasya menenteng dua kantong kresek di tangannya. Kalau tidak, pasti ia sudah memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Gak apa-apa Sayang,"


Rasya lalu menaruh dua kantong kresek itu di atas meja.


"Apa itu, Mas?" tanya Adelia dengan menatap kedua kantong kresek tersebut.


"Buka saja!" Rasya seraya mendudukkan tubuhnya di atas kursi meja makan.


Adelia pun menurut. Ia membuka satu persatu kantong kresek tersebut.


"Ini martabak sama kebab, Mas" ucap Adelia dengan tersenyum.


"Iya, bukannya bumil cantik tadi pesan makanan itu, kan?" Rasya kini tangannya mengelus perut Adelia dengan lembut.


Adelia tersenyum dengan mengangguk. Kemudian Adelia mengambilkan air minum untuk suaminya dan dirinya sendiri. Lalu duduk di kursi samping suaminya.


Adelia yang perutnya lapar sedari tadi. Ia memilih mencicipi kebab yang di bawakan suaminya. Terlihat ada sepuluh biji kebab dalam bungkusan itu. Dan Adelia menyantapnya dengan perlahan.


"Kamu lapar, Sayang?" tanya Rasya. Karena melihat Adelia seperti belum makan saja.


"Iya Mas, aku tadi melewatkan makan siang, karena lama tidur siang," sahut Adelia dengan mulutnya penuh oleh kebab.


Rasya terkejut merasa gemas, "Jadi bumilku ini, tidur siangnya begitu lelap?" seraya tangannya mengelus rambut Adelia yang panjang.


Adelia mengangguk, karena mulutnya sedang mengunyah.


Tanpa Adelia dan Rasya sadari. Dari ambang pintu yang akan masuk ke arah Dapur, Ariyanti mengamati keduanya. Ia sangat cemburu melihat Rasya yang begitu perhatian kepada Adelia. Dengan rasa sesak di dada Ariyanti membalikkan badan, dan berlari menaiki anak tangga. Ariyanti memilih ingin di kamar saja, dari pada harus menyaksikan keromantisan antara Adelia dan Rasya.


Brakkk...


Ariyanti menutup pintu kamarnya dengan kasar. Ia berdiri dan bersandar di balik pintu.


"Lihat saja, Rasya kamu akan jatuh kedalam pelukanku! dan untuk kamu Adelia, kamu akan hancur sebentar lagi!"


Ariyanti bergumam dengan mata memerah menahan emosinya yang bergejolak. Entah cara apalagi yang akan Ariyanti lakukan. Dengan penuh keyakinan Ariyanti akan menghancurkan kebahagiaan Adelia dan Rasya.


...***...


...Bersambung....


Bantu dukung Author, dengan Like, Comment, dan Hadiah poinnya!!


Apalagi Vote-nya juga boleh 😉


Terima kasih Readers!!😍

__ADS_1


__ADS_2