
Adelia berdiri dan menghampiri Alsa yang baru saja keluar dari kamar mandi. Adelia menyerahkan ponsel yang baru saja ia pegang.
"Ini ponsel kamu Alsa?" tanyanya dengan menyerahkan ponsel tersebut ke genggaman Rasya.
Rasya menggenggam ponsel itu dengan perasaan tidak karuan saat ini. Ia menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Adelia barusan.
"Kamu masuk angin?"
Rasya menjawab dengan menggelengkan kepala.
"Kalau kamu tidak enak badan. Istirahatlah!"
Adelia membalikkan tubuhnya dan melenggang keluar dari kamar Rasya. Sementara Rasya menatap kepergian Adelia dengan masih berdiri di tempat. Ia merasa ada sesuatu yang Adelia ketahui. Terlihat dari cara bicaranya yang datar. Tapi Rasya belum bisa menebaknya.
Rasya memilih mengunci pintu kamar. Kemudian membuka hijab dan topengnya. Rasya bercermin menatap pantulan wajahnya. Terlihat rambut Rasya mulai tumbuh panjang, dan tumbuh bulu-bulu halus di rahang kokohnya. Sebulan lebih lamanya ia tidak mengurus penampilan, karena sibuk menjadi sosok Alsa. Ia biasanya seminggu sekali mencukur bulu-bulu halus itu, dan memotong rambut dengan sebulan sekali.
Sedangkan Adelia yang sudah keluar dari kamar Rasya. Melamun di ruang tengah. Ia merasa ada sesuatu yang di sembunyikan Alsa.
Kenapa walpaper pada ponsel Alsa, photo pria itu dan wanita yang begitu mirip denganku?. Adelia bertanya di dalam hatinya.
Adelia yang sedang melamun terkesiap kaget kala Albi mengecup bibirnya.
"Mas?" Adelia melotot kaget.
"Hmm, apa? lagian masih pagi kamu ngelamun. Ngelamunin apa?" tanya Albi yang tahu Adelia sedang melamun.
Adelia menggeleng kepala dengan pelan. "Mas mau sarapan sekarang?" tanyanya.
"Nanti barengan saja sama Arman dan Dirga," sahut Albi.
"Oh ya, ini kartu chek-up kandungan kamu. Takut kamu lupa, ternyata besok jadwal kamu periksa kandungan," ucap Albi seraya menyerahkan kartu formulir.
Adelia mengambilnya dan menjawab dengan mengangguk.
"Maafin aku ya, gak bisa ngantar! karena harus pergi ke Pulau K," ujarnya seraya merangkul bahu Adelia lalu tangan yang satunya lagi mengusap perut Adelia yang sudah terlihat menonjol.
"Iya Mas gak apa-apa. Lagian ada Alsa yang nemenin nanti," sahut Adelia dengan tersenyum.
Oh iya. Atau sekalian aku periksa Alsa. Dia mungkin saja hamil. batin Adelia.
Tak lama Arman dan Dirga datang dengan membawa koper masing-masing. Dan membuat Adelia mengingat koper Albi yang belum di bawa keluar dari dalam kamar.
"Aku bawakan koper Mas dulu, ya" ucap Adelia lalu berdiri dari duduknya.
"Tak perlu. Biar aku yang bawa nanti. Koper itu berat Arumi. Sekarang lebih baik kita sarapan dulu," ujar Albi dengan meraih tangan Adelia lalu ia genggam.
Adelia pun menurut. Dan kini mereka bergegas menuju dapur.
__ADS_1
Terlihat di atas meja menu masakan yang Adelia tadi sajikan. Mereka pun duduk di kursi meja makan tersebut. Namun, Arman mengedarkan pandangannya mencari sosok Alsa yang tidak berada di ruang dapur tersebut.
"Alsa mana?" tanya Arman menatap Adelia.
"Alsa di kamarnya, dia sepertinya sedang tidak enak badan. Aku suruh untuk istirahat dulu," jawab Adelia dengan menyidukkan nasi dan lauknya pada piring Albi.
"Alsa sakit?" Arman wajahnya berubah khawatir.
"Iya sepertinya," sahut Adelia.
Mereka pun akhirnya makan dalam keadaan hening. Arman terus menatap ke arah lorong kamar Rasya. Ia berharap Rasya datang menemuinya sebelum berangkat ke Pulau K.
Hingga acara makan selesai, Rasya tidak keluar dari kamarnya. Membuat Arman menjadi murung tak bersemangat untuk berangkat.
Akhirnya Dirga dan Arman memilih keluar menuju pintu utama terlebih dahulu. Sedangkan Albi masih betah duduk di kursi meja makan dengan menatap Adelia yang sedang membersihkan bekas makan mereka, mencuci piring di washtafel.
Adelia membalikkan badan, dan terkejut saat menatap Albi masih saja duduk di tempatnya, "Loh, Mas kok masih di sini?. Aku kira Mas, sudah ke depan," pekik Adelia menatap Albi yang masih saja duduk di kursi makan, sedang menatap dirinya.
Albi tersenyum. Lalu bangkit dari duduknya. Ia mendekat kepada Adelia dan mengikis jarak antara dirinya dan Adelia.
"Aku ingin meminta sesuatu dulu dari istriku, untuk bekal di Pulau K beberapa hari," ucap Albi seraya kedua tangannya memegang pinggang Adelia.
Adelia menjadi gugup. Karena jarak wajahnya dengan Albi hanya tinggal beberapa senti saja. "Sesuatu apa?, aku tak mempunyai apa-apa Mas," kata Adelia dengan menatap wajah Albi yang begitu dekat dengan wajahnya. Bahkan hembusan nafas Albi terasa hangat menerpa wajahnya.
Albi tersenyum, "Aku minta ini," tunjuk Albi pada bibir Adelia yang terpoles lipstik berwarna nude.
"Maksud Mas apa?" Adelia berpura-pura tidak mengerti.
Albi tersenyum kembali merasa gemas pada wanita yang telah membuat dirinya jatuh cinta. "Aku, ingin kamu mencium ku istriku!" ucap Albi dengan berbisik.
Adelia melotot tak percaya. Albi kini berani meminta ia untuk mencium dirinya.
"Tapi Mas," Adelia sengaja tidak meneruskan ucapannya. Ia menggigit bibir bawahnya merasa gugup.
"Tapi apa? hmm" Tanya Albi dengan menatap wajah Adelia dengan penuh cinta.
Adelia terdiam. Ia merasa ragu untuk melakukannya. Tapi, mengingat bahwa Albi adalah suaminya, Adelia merasa bersalah jika tidak menurutinya.
Adelia mengangguk, kini tubuhnya mulai berjinjit untuk meraih bibir tipis milik Albi. Dan bersamaan dengan Rasya yang keluar dari kamar. Ia berjalan menuju dapur. Dan betapa terkejutnya ia menatap Adelia yang sedang berjinjit ingin meraih bibir Albi. Dengan cepat Rasya berpura-pura terjatuh dan menjerit.
"Auw ...."
Suara jeritan Rasya terdengar jelas di telinga Adelia dan Albi. Sehingga Adelia mengurungkan niatnya. Ia lebih memilih menuju Rasya yang terjatuh.
Adelia setengah berlari menuju Rasya. Kemudian ia berjongkok, dan meraih tangan Rasya agar berdiri.
"Alsa, ada apa? kenapa kamu bisa terjatuh?" pekik Adelia merasa khawatir.
__ADS_1
Sialan sakit beneran.
Tapi gak apa-apa yang penting aku berhasil mengacaukan Istriku yang akan mencium pria lain.
"Kepala saya pusing Nona," Rasya seraya menyandarkan kepalanya pada bahu Adelia yang sudah membantu berdiri.
Sementara Albi merasa kesal karena telah di ganggu. Albi mendekati Adelia yang sedang bersama Rasya.
"Arumi, aku berangkat sekarang," ucapnya datar.
"Mas mau berangkat sekarang?" tanya Adelia dan dapat anggukan dari Albi.
Lalu Adelia meraih tangan Albi untuk mencium punggung tangannya. Kemudian Albi mencium kening Adelia dengan lama di hadapan Rasya.
"Hati-hati ya Mas, maaf aku tak bisa mengantar ke depan. Aku harus temanin Alsa yang baru saja terjatuh," ujar Adelia.
"Iya gak apa-apa. Nanti aku kabari kamu kalau udah sampai," kata Albi dan pergi berlalu dari hadapan Adelia dan Rasya.
Albi menghentikan langkahnya sejenak, "Tolong jaga istri saya, Alsa!" ucapnya berpesan kepada Rasya tanpa menoleh. Lalu meneruskan kembali langkahnya.
Rasya tidak menyahuti, bahkan Rasya sedang meradang menahan emosi. Ia marah, dan cemburu semenjak melihat Adelia yang akan mencium Albi. Di tambah dengan Albi yang sudah mencium kening Adelia di depannya.
"Alsa ayo ke dalam kamar, istirahatlah!"
Adelia memapah Rasya untuk masuk ke dalam kamar. Dan Rasya menurut dengan terdiam tanpa bersuara. Ia merasakan prustasi akan kerja kerasnya yang belum membuahkan hasil.
Apa aku bawa kabur saja istriku ini.
Hah lucu sekali, aku membawa kabur istriku sendiri?. Rasya berbicara di dalam hatinya dengan menahan tawa karena merasa lucu dengan ide-nya yang ingin membawa kabur istri sendiri.
"Alsa, berbaringlah. Aku akan bawakan makanan untuk sarapan mu,"
Rasya hanya mengangguk, dan Adelia pergi keluar kamar untuk membawa makanan. Tak lama kemudian Adelia datang dengan membawa nampan di tangannya.
"Alsa, diamlah biar aku suapin!"
Adelia menghentikan tangan Rasya yang akan mengambil alih piring dari tangan Adelia. Rasya pun menurut saja. Namun, ia terus terdiam tanpa mau bersuara. Ia masih merasa marah karena hal tadi.
Satu suapan sudah masuk ke dalam mulut Rasya, dari tangan Adelia. Rasya menikmati makanan tersebut.
"Alsa, lebih baik kamu periksa. Sepertinya kamu hamil," celetuk Adelia membuat Rasya menyemburkan makanan yang ada di mulutnya. Untung saja Rasya tidak menghadap Adelia. Jika berhadapan bisa saja Adelia terkena sembur.
Hah aku hamil? Ya Tuhan ...Yang jelas aku sudah menghamili kamu.
...***...
...Bersambung....
__ADS_1