
Tidak terasa sudah satu bulan lamanya Rasya tinggal di kediaman Albi sebagai Alsa. Rasya berhasil dekat dengan Adelia, tanpa ada yang menaruh curiga kepadanya. Bahkan penjaga gerbang Tono dan Budi menyukai sosok Alsa yang cantik, dan kalem tersebut. Hingga Arman juga selalu mencari cara untuk bisa bertutur sapa kepada Alsa yang tak lain adalah Rasya.
Seperti sekarang, Rasya sedang menyiram tanaman bunga di taman samping rumah. Arman memperhatikan dari balik balkon kamarnya, Arman mengakui bahwa saat ini ia menyukai sosok Alsa. Busana yang selalu tertutup, tanpa mau di sentuh oleh lawan jenis membuat Arman tertantang untuk memiliki Alsa. Tentulah Alsa tidak mau di sentuh oleh pria. Malah Risih yang ada.
Rasya melirik ke arah Balkon, karena merasa ada yang memperhatikannya. Dan mata Rasya bertemu dengan mata Arman yang sedang menatapnya. Arman tersenyum kepada Rasya. Sedangkan Rasya malah merasa ngeri di beri senyuman manis dari Arman tersebut.
Oh tidak. Sepertinya dia benar-benar menyukai sosok penyamaran ku.
Rasya membatin dengan gerak cepat ia menyelesaikan menyiram tanaman bunga itu. Lalu langsung bergegas masuk ke dalam rumah. Rasya menatap setiap ruang yang ia lewati, takut ada yang belum Rasya rapihkan atau yang terlewati.
Saat Rasya mau melewati ruang tengah terlihat Adelia sedang duduk bersama Albi. Rasya pun memilih mundur kembali, karena dirinya ingin menguping serta memperhatikan apa yang di bicarakan Albi bersama Adelia istrinya. Rasya berpura-pura membersihkan pajangan-pajangan yang berada di ruangan itu dengan menggunakan kemoceng. Dan sengaja telinganya ia pasang untuk bisa mendengarkan apa yang di bicarakan Adelia dan Albi.
"Arumi ... besok aku bersama Dirga dan Arman akan pergi ke Pulau K untuk memantau lahan Batu bara. Apakah kamu mau ikut?" ucap Albi seraya merangkul Adelia dari samping.
"Mas mau pergi ke Pulau K?" tanya Adelia memastikan.
Albi tersenyum dan mengangguk.
"Sepertinya aku di rumah saja deh. Lagian di rumah Ada Alsa. Jadi aku tidak akan kesepian saat Mas pergi," ujar Adelia dengan menyentuh dada bidang Albi.
Apaan sih kamu kenapa kamu harus menyentuh dada pria itu? gerutu Rasya yang mengintip dari balik ruangan lain.
Albi menatap jari jemari Adelia yang sedang menyentuh dada bidangnya. Tentu sentuhan Adelia membuat sesuatu miliknya terbangun dan berdiri mengeras.
"Ya sudah lebih baik kamu di rumah saja. Dan aku lupa bahwa kamu sedang hamil," tutur Albi dengan menahan gejolak hasrat yang mulai melanda.
Adelia masih menyentuh dada bidang Albi. Bahkan jari jemarinya kini berpindah pada leher Albi. Adelia menyentuh dan mengelusnya dengan lembut. Membuat Albi memejamkan kedua matanya menikmati sentuhan yang Adelia berikan.
"Mas," panggil Adelia dengan menatap mata Albi yang terpejam.
"Hmm" sahut Albi dengan masih terpejam.
__ADS_1
Adelia kini tangannya ia kalungkan ke leher Albi, lalu menatap Albi dengan tatapan sendu, "Mas apa belum bisa memberikan sentuhan pada tubuhku?" ucapnya dengan pipi merah merona menahan malu.
Jujur Adelia membutuhkan sentuhan-sentuhan sebagai pasangan suami istri pada umumnya. Ya karena Adelia menganggap bahwa Albi adalah benar-benar suaminya, ia mengatakannya dengan menahan rasa malu. Bahkan Adelia berpikir masa bodo, jika apa yang di katakannya itu seperti wanita murahan, toh apa yang di katakan Adelia itu pada suaminya sendiri, begitu pemikiran Adelia. Di tambah bawaan hamil, rasa sensitif dan hasrat bergejolak pada tubuhnya selalu datang tiba-tiba.
Sontak Albi membuka matanya lalu menatap Adelia yang kini sedang menatapnya, "Tidak Arumi. Kamu baru saja sakit, dan--"
Adelia dengan cepat melepaskan kalungan tangannya pada leher Albi, "Dan apa Mas, apa penyakitku begitu parah? atau Mas sebenarnya tidak tertarik pada tubuhku yang perlahan akan menggendut?" Adelia langsung memotong ucapan Albi, dengan wajahnya memerah karena merasa kecewa lagi-lagi Albi tidak ingin menyentuh tubuhnya.
Albi memeluk Adelia, dengan mengusap-usap punggung Adelia. "Bukan begitu. Karena kamu sedang hamil. Aku tidak mau sampai terjadi sesuatu pada dirimu," tutur Albi dengan lembut.
Adelia tersenyum sinis, "Apa selama aku hamil kamu tidak akan menyentuhku?" pekik Adelia setengah berteriak.
Di ruangan lain, Rasya termangu dengan apa yang ia dengar. Istrinya menginginkan sentuhan dari pria yang mengaku suaminya. Namun, yang membuat Rasya semakin terkejut ialah kata-kata penolakan yang Albi berikan kepada Adelia. Sehingga Rasya mengambil kesimpulan, bahwa selama ini Adelia tidak pernah di sentuh oleh Albi.
Lihat sayang, Aku akan menyentuhmu dengan sesuka hatimu. Tunggulah!
Batin Rasya mempunyai rencana lain untuk Adelia istrinya.
Albi masih memeluk Adelia, ia tidak membuka suara lagi saat Adelia bertanya. Albi kini merasakan berkecamuk di dalam hatinya, jujur saja ia adalah pria normal. Apalagi selalu berdekatan dan tidur seranjang dengan wanita yang kini tengah di cintainya. Hasrat yang selalu datang bergejolak ia selalu tahan. Albi berpikir walaupun dirinya mencintai Adelia, ia tidak seberengsek itu untuk memanfaatkan status yang Albi berikan kepada Adelia yang amnesia.
Kini Albi melerai pelukannya, menatap wajah Adelia yang berubah menjadi sendu.
"Maafkan Aku. Ada sesuatu yang tidak bisa Aku katakan kepada mu, tentang aku tak bisa menyentuh tubuhmu. Maafkan aku," ucap Albi kemudian pergi meninggalkan Adelia.
Adelia tiba-tiba matanya berkaca-kaca menahan rasa sesak di dada dengan apa yang Albi katakan, yang tak bisa menyentuh tubuhnya. Adelia marah. Adelia kecewa.
Kini Adelia mengeluarkan air matanya, dan ia menangis terisak di ruangan itu. Sontak Rasya melangkah menghampiri. Walaupun ada rasa senang karena Albi menolak permintaan Adelia. Tapi kini ia tidak tega melihat wanitanya menangis terisak.
"Non. Nona kenapa?" tanya Rasya pura-pura tidak mengetahui.
Adelia langsung mengusap kasar air matanya, "Tidak. Aku tidak apa-apa," sahutnya.
__ADS_1
Rasya jemarinya mengusap air mata Adelia yang masih terlihat basah di pipinya, "Nona tidak perlu sungkan kalau ingin bercerita. Nona pasti sedang ada masalah, ya?"
Adelia langsung menatap kepada Mata Rasya. Dan seperti ada sekelebat bayangan tentang mata yang di miliki Rasya dalam ingatannya.
"Ceritaku sangat konyol Alsa," ucap Adelia dengan sedikit tersenyum.
Rasya menautkan alisnya berpura-pura bingung, padahal ia tahu apa maksud kata konyol yang Adelia maksud. Yakni meminta sentuhan kepada Albi.
"Konyol bagaimana maksudnya?" tanya Rasya.
"Sudahlah. Lain kali saya akan menceritakan nya," kata Adelia dengan tersenyum.
Tiba-tiba datang Arman dari lantai atas. Ia tersenyum saat melihat keberadaan Rasya yang sedang berbincang dengan Adelia di ruang tengah.
"Hai Alsa, apa kamu mau ikut aku keluar?" kata Arman seraya duduk di sofa hadapan Rasya.
"Maaf Tuan. Saya tidak berani harus jalan berdua dengan orang yang bukan Mahram-nya," jawab Rasya dengan lembut. Tentu demi peran sebagai wanita yang berhijab, ia akan menolak Arman.
Arman tersenyum akan penolakan yang Rasya berikan. "Kalau begitu, aku akan menikahimu, agar kita bisa pergi berduaan,"
"Uhukk uhukk,"
Sontak Rasya terbatuk mendengar ucapan yang Arman katakan.
Gila dia berani sekali?
Bagaimana ini?
Rasya prustasi terhadap orang yang berada di hadapannya. Arman berkata tanpa malu-malu, bahkan serius. Jikalau Rasya benar-benar wanita pasti ia akan senang mendengarnya, di ajak nikah oleh pria yang menyukainya. Tapi tidak dengan Rasya. Rasya risih, karena tentu dirinya adalah pria normal. Hanya Sekarang ia sedang melakukan penyamarannya saja.
Alsa elu gila bisa membuat pria jatuh cinta. Ucap Rasya tertawa di dalam hati.
__ADS_1
...Bersambung....