
Albi menghela nafas dengan panjang, ia dengan tertunduk akan mengatakan yang sebenarnya kepada Alina, Lucky, dan Hera.
"Maaf sebenarnya selama ini. Aku telah membohongi kalian," tutur Albi.
Alina dan Lucky saling tatap masih belum mengerti.
"Apa maksud kamu, Nak?" Hera bertanya dengan rasa tidak paham akan penuturan Albi.
Albi kembali menghela nafas, "Mah ... aku telah membohongi kalian tentang pernikahan ku dengan Arumi," jelas Albi.
Hera melotot kaget, tentu penuturan Albi mengagetkan antara Hera, Alina, dan Lucky. Hera menggeleng-gelengkan kepala, merasa sesak mendengar kenyataan bahwa Albi telah membohonginya.
"Tolong kamu perjelas! apa yang sebenarnya terjadi?, dan kenapa kamu harus membohongi kami?" pekik Alina yang mulai merasa marah karena telah di bohongi adiknya sendiri.
Hera masih membisu dengan rasa keterkejutannya. Ia berharap Albi akan meralat apa yang telah di ucapankannya.
"Mah, Kak ... Aku membuat strategi kebohongan. Agar Aku tidak Kalian jodohkan. Sehingga aku memanfaatkan amnesia Arumi. Mengatakan bahwa dia adalah istriku. Demi memuluskan rencana kebohongan ku, bahkan aku membuat buku nikah palsu untuk membuktikan bahwa aku dan Arumi benar-benar telah menikah," ucap Albi memperjelas semuanya.
"Mama tidak menyangka kamu akan melakukan ini Albi ...," teriak Hera. Ia bangkit dari duduknya dan mendekati Albi.
Plakkk....
Plakkk....
Hera menampar pipi kanan Albi, dan kembali menampar pipi kiri Albi. Albi meringis merasakan rasa kebas dan panas pada kedua pipinya. Sementara Hera setelah menampar Albi. Memegang dadanya, merasa sesak dan sakit pada dada bagian kirinya.
Sehingga Hera merosot, dengan rasa amarah dan kecewanya terhadap putra satu-satunya itu. Hera terduduk di lantai, kemudian ia tidak sadarkan diri.
"Mama ...," pekik Alina, Albi, dan Lucky.
"Tante ...," pekik Dirga dan Arman secara bersamaan.
Alina dan Albi meraih tubuh Hera yang sudah terkulai tak sadarkan diri.
"Albi ini semua karena kamu!, awas kalau Mama sampai kenapa-kenapa, aku tidak akan pernah memaafkanmu, Albian" seru Alina dengan mata memerah menahan rasa emosi terhadap adiknya.
Albi hanya diam saja. Ia mencoba menggendong tubuh Hera.
"Dirga, Arman cepat siapkan mobil, kita pergi ke Rumah Sakit!" teriak Albi memberikan perintah kepada kedua temannya.
Dirga dan Arman pun dengan cepat keluar rumah.
"Albi, Awas ya kamu!!" tunjuk Alina tepat pada wajah adiknya.
__ADS_1
"Sudah Alina. Redakan emosimu! bukan saatnya kita saling menyalahkan, yang jelas kita harus secepatnya membawa Mama ke Rumah Sakit," Lucky memeluk tubuh Alina, memberikan ketenangan kepada istrinya itu.
Alina menurut. "Ayo bantu Albi, Mas."
Akhirnya Albi dan Lucky, membopong tubuh Hera keluar rumah. Memasukkan Hera ke dalam mobil yang sudah Arman siapkan.
"Aku di belakang, ingin menjaga Mama" Alina langsung menerobos masuk ke dalam mobil, yang Arman kemudikan.
Sementara Albi dan Lucky masuk ke dalam mobil yang di kemudikan Dirga. Kedua mobil itupun beriringan melaju, menuju Rumah Sakit.
Di Kediaman Rasya...
Rasya keluar kamar seorang diri. Ia melangkah menghampiri meja makan. Di sana sudah ada kedua orang tua dan adiknya. Sementara Rara masih melakukan tugas di ruang Laundry.
"Sya, istrimu mana?" tanya Hadi yang melihat Rasya datang sendiri, dan duduk di kursi meja makan.
"Lagi gak mau keluar kamar Pah, lelah katanya" sahut Rasya dengan mengambil sandwich buatan Lia.
Lia menggelengkan kepala. Ia paham mungkin saja Adelia lelah karena ulah putranya.
"Rasya ... Mama bilang apa? Adel itu lagi hamil jangan kamu forsir dong tenaganya, kasihan!" ucap Lia.
Bersamaan datang Ariyanti dengan jalan tertatih, "Pagi, Om ... Tante, Syaa, Serly" sapa Ariyanti dan duduk di sebelah Lia.
"Sya, kamu dengar Mama bicara?"
"Iya, Ma. Rasya dengar ...," sahut Rasya kini. Ia berdiri mengambil piring kecil untuk dua potong sandwich. Lalu Rasya membuatkan susu hamil untuk istrinya. Semua pergerakan Rasya tak luput dari perhatian kedua orang tuanya, Serly dan juga Ariyanti.
"Aku sarapan di kamar saja. Sekalian sama istriku," Rasya langsung melenggang pergi dengan memegang piring, dan satu gelas susu buat Adelia.
Lia, dan Hadi hanya mengangguk.
"Emang Adel gak sarapan di sini, Tan?" Ariyanti mulai kepo.
"Iya. Rasya bilang. Adel lagi males keluar kamar," sahut Lia. "Oh iya, kaki kamu kenapa, Nak?" lanjut Lia.
"Oh, ini hanya kemarin Yanti kesandung, Tante," sahut Ariyanti.
"Mah, Pah ... Serly berangkat ya," Serly berpamitan ia menyalami kedua orang tuanya sebelum berangkat.
Kini di meja makan tinggal Ariyanti, dan kedua orang tua Rasya.
"Yanti, kalau kamu masih sakit. Tidak usah ke kantor. Di rumah saja," Hadi memberikan perhatiannya kepada anak sahabatnya itu.
__ADS_1
"Iya Yanti, kamu tak perlu ke kantor. Sudah di rumah saja," timpal Lia.
Ariyanti tersenyum, merasa senang dapat perhatian dari kedua orang tua Rasya, "Baik Om, Tante," katanya. "Eh iya tante, Om ... Yanti Rasa kenapa ya, Adelia seperti tidak mengenali Yanti sekarang ini?" Ariyanti mempertanyakan rasa penasarannya kepada kedua orang tua Rasya.
"Oh, kamu belum tahu? kalau Adel amnesia?" Lia menjawab dengan bertanya.
Ariyanti menggeleng, dengan paham. "Pantas saja," gumam Ariyanti di dalam hati.
"Tapi sudah di obati, Tan?" Ariyanti dengan mengunyah sandwich terus bertanya, menggali informasi tentang Adelia.
"Mau, hanya Adelia kan, sedang mengandung. Jadi akan di lakukan saja nanti setelah lahiran," sahut Hadi menjawab pertanyaan Ariyanti kini.
"Memang kalau di obati saat hamil, akan membahayakan kehamilannya, bukan?" Ariyanti terus bertanya.
"Kita hanya mengantisipasi saja. Dari pada terjadi sesuatu, lebih baik di tunda dulu. Terapinya kan, ada yang menggunakan alat. Jadi kita gak mau, sampai terjadi sesuatu pada calon cucu Om dan tante," tegas Hadi menjelaskan. Ia langsung berdiri dari duduknya.
"Mah, Papa berangkat dulu ya," pamit Hadi dan di salami tangannya oleh Lia.
"Iya Pah, hati-hati!" ucap Lia.
Hadi pun pergi melenggang meninggalkan area dapur.
"Oh iya Yanti, kamu di rumah ya. Jangan kemana-mana," Lia berpesan kepada Ariyanti agar tidak keluar rumah.
"Iya Tante," sahut Ariyanti dengan tersenyum senang karena lagi-lagi di perhatikan Lia.
"Seandainya saat ini aku yang menjadi istrinya Rasya, tentu aku akan bahagia. Mendapat suami yang tampan dan baik, dan begitupun mertua yang sangat baik," Ariyanti bergumam di dalam hati. Seraya meninggalkan meja makan.
Saat ingin menaiki anak tangga, Ariyanti berpapasan dengan Rasya yang baru saja keluar dari kamarnya. Ariyanti memulai aksinya, ia berpura-pura meringis kesakitan.
"Auw, sakit sekali," pekik Ariyanti agar terdengar Rasya yang akan melewatinya. Ariyanti sengaja menyender ke dinding mendramatisir keadaan, agar terlihat bahwa dirinya sedang kesakitan.
Rasya melihatnya, baru saja ia akan bersuara. Terlihat Rara datang ke arah Ariyanti.
"Yanti kamu kenapa?" tanya Rara dengan mencoba mendekati Ariyanti lebih dekat. Sementara itu Rasya langsung melenggang pergi, melangkah keluar pintu utama.
"Sialan. Kenapa Rara harus datang sih? baru saja Rasya akan menegur sapa, dan bertanya dengan keadaanku. Tapi malah gagal, karena Rara datang" gerutu Ariyanti di dalam hatinya.
"Kaki ku kram Ra, sakit sekali," bohong Ariyanti melanjutkan dramanya.
"Ayo aku bantu kamu berjalan," kata Rara menawarkan.
...***...
__ADS_1
...Bersambung....