
Di Kota M Hadi melakukan pertemuan dengan koleganya. Dan pertemuan itu adalah membahas tentang kerja sama dengan perusahaan miliknya yang kini sudah di serah terima kepada Rasya. Namun, belum secara resmi. Setelah mendapat kesepakatan kerja sama. Hadi undur pamit dan meninggalkan tempat itu.
Hadi yang di temani Anton asistennya. Ia kini sedang melakukan perjalanan pulang menuju Kota J.
"Anton, apa ada kabar dari Bowo?" tanya Hadi kepada Anton yang duduk di sebelah Pak Sukri. Pak Sukri supir pribadi Hadi.
"Belum Pak ... sepertinya kasus itu begitu pelik. Karena sudah terjadi belasan tahun," sahut Anton.
Hadi menghembuskan nafas secara kasar. Ia merasa janggal dengan penelitian Bowo yang sudah memakan waktu hingga berbulan-bulan.
"Aku menaruh curiga sejak lama kepada salah satu sahabatku. Tapi, aku tidak mau gegabah," tutur Hadi.
"Bapak tenang saja. Pembunuh dan dalang pembunuhan adik bapak, akan segera terungkap. Saya sangat yakin," ujar Anton menenangkan Hadi.
"Semoga saja," pungkas Hadi.
Perjalanan yang menghabiskan beberapa jam. Akhirnya sampai. Hadi dan Anton langsung menuju perusahaan pusat. Ia melenggang masuk ke dalam ruangan putranya.
"Papa ...," Rasya mendongak menatap Hadi yang sudah duduk di kursi depan meja kerjanya. Sedangkan Anton berdiri di belakang Hadi.
"Rasya bagaimana pekerjaan mu?" tanya Hadi.
"Lancar,"
Hadi meminta tas kerjanya yang sedari tadi di pegang Anton. Kemudian ia membuka tas itu. Dan mengeluarkan sebuah Map. Lalu Map itu Hadi serahkan kepada Rasya.
"Kamu pelajari berkas-berkas itu. Dan atur pertemuan kalian bersama Presedir-nya. Papa sudah jauh-jauh membuat pertemuan bersama induk perusahaannya di kota M. Dan anak perusahaannya ada di Kota J. Papa serahkan semuanya padamu,"
Rasya meraih Map yang Hadi serahkan. Lalu Rasya menaruhnya di atas Laptop yang terlipat.
"Baik Pah ... aku harap Papa tidak meragukan kinerjaku," sahut Rasya meyakinkan Hadi.
"Papa suka dengan keyakinanmu. Ngomong-ngomong bagaimana kabar istrimu?"
"Baik Pah ... hanya saja masih belum mengingat semuanya."
Hadi manggut-manggut. "Sabarlah ... nanti setelah lahiran. Kita lakukan berbagai macam terapi agar ia cepat pulih," ucap Hadi menyemangati Rasya.
"Iya Pah ...,"
"Ya sudah. Papa sekarang lebih baik pulang dulu ke rumah."
Rasya tercengang. "Papa dari kota M, langsung ke sini?"
"Iya. Papa tidak mau membicarakan pekerjaan jika sedang berada di rumah."
Hadi langsung melenggang pergi. Rasya kini menatap Map yang tadi Hadi serahkan kepadanya. Rasya mulai membuka Map itu, dan membaca satu persatu berkasnya.
"Oh tidak. Kenapa Papa malah menghubungkan aku dengan Tuan Albian. Hah ... tapi, kita lihat saja. Apa dia profesional dalam bekerja, atau malah mencampurkan hal pribadi dalam pekerjaan?," Rasya mendesah saat setelah membaca penegasan nama perusahaan yang akan bekerja sama dengannya. Nama Albian Company membuat Rasya yakin bahwa nama tersebut adalah nama Albi yang kini Rasya di anggap musuh.
"Al ... ke ruangan saya sekarang juga!" ucap Rasya pada intercom. Ia memanggil Aldi selaku Asisten-nya.
"Ada apa Pak?" tanya Aldi saat sudah berhadapan dengan Rasya.
"Ini berkas-berkas kerja sama antara Perusahaan. Tolong kamu atur dan diskusikan terlebih dahulu dengan asisten Presedir perusahaan itu!" Rasya dengan menyerahkan Map yang sudah ia baca.
"Baik Pak," sahut Aldi patuh.
__ADS_1
"Kembalilah," titah Rasya setelah tidak ada lagi yang harus ia bahas.
Aldi mengangguk, dan membungkukkan setengah badannya memberikan hormat kepada Rasya. Setelah itu Aldi baru keluar ruangan.
***
Adelia sedang merapihkan kamar tamu yang berada di lantai bawah. Sesuai keinginan Lia. Ia meminta Adelia dan Rasya agar pindah kamar. Karena kehamilan Adelia yang semakin membesar. Membuat Lia mengkhawatirkan kandungan menantunya.
Tepat Adelia baru saja selesai. Lia masuk ke dalam kamar itu, dan tersenyum menatap kamar Adelia yang sudah tertata rapih.
"Del ... kamu pasti capek, ya?" tanya Lia seraya mengusap bahu Adelia.
Adelia tersenyum, "Tidak Ma ... Adel, senang kok beraktivitas."
"Beneran? perutnya bagaimana, ada yang aneh gak?" tanya Lia ingin memastikan perut Adelia baik-baik saja.
Adelia mengelus perutnya dengan tersenyum kepada mertuanya, "Baik-baik saja Ma ... oh iya, apa Adel boleh membuat kue buat Mas Rasya, Ma?" tanya Adelia. Ia hari ini ingin sekali membuat kue spesial untuk suaminya.
"Tentu saja boleh Nak, tapi bahan-bahannya sepertinya kurang lengkap," tutur Lia seraya mengingat-ingat stok bahan-bahan untuk membuat kue.
Adelia tersenyum, "Apa boleh, Adel berbelanja Ma?" Adelia ingin sekali menghirup udara luar. Apalagi ia ingin membeli sesuatu.
"Boleh ... tapi gak boleh sendiri. Nanti pergi sama Rara, ya!"
Adelia mengangguk senang, "Adel siap-siap dulu ya, Ma ...," katanya antusias.
"Iya. Mama mau kasih tahu Rara agar dia juga siap-siap," ucap Lia. Kemudian ia pergi keluar dari kamar Adelia.
Adelia langsung mengganti pakaiannya. Karena pakaian yang baru saja ia pakai merasa penuh keringat, sebab Adelia yang sudah banyak bergerak membersihkan kamar serta merapihkan nya.
Setelah merasa puas dengan penampilan. Adelia langsung keluar kamar. Dan menghampiri Lia yang sudah terduduk di sofa bersama Hadi.
"Papa, kapan pulang?" tanya Adelia seraya ia meraih tangan Hadi lalu ia cium.
Hadi tersenyum hangat, "Baru saja. Nak ... sepertinya mau pergi?" jawab Hadi dengan bertanya. Karena Hadi melihat penampilan Adelia yang seraya membawa tas di tangannya.
"Iya Pah ... Adelia mau belanja dulu. Mama biarkan dia pergi bersama Rara. Kasihan bumil juga butuh hiburan," ucap Lia menjawab pertanyaan Hadi.
"Ya. Tapi hati-hati ya, Nak. Jaga baik-baik kandungan mu." Hadi berpesan.
Adelia tersenyum, "Iya Pah tentu. Kalau begitu Adel pergi dulu ya, Ma ... Pah ...," pamit Adelia.
"Rara sepertinya sudah di luar, Nak." Lia memberitahukan keberadaan Rara.
Adelia mengangguk seraya berjalan melangkah. Dan benar saja Rara sudah menunggu Adelia di teras depan rumah.
"Ra ayo!" kata Adelia seraya merentangkan tangan, meraih lengan Rara untuk ia gandeng.
"Ayo! em ... bumil sepertinya senang sekali ya pergi keluar," tutur Rara. Ia melihat pancaran kesenangan di wajah Adelia.
Adelia mengangguk dengan tersenyum. Kini keduanya sedang berdiri di pinggir jalan menunggu sebuah Taksi melintas.
"Ra ... aku bosan kalau di rumah terus, apalagi suamiku sedang bekerja. Aku ingin menghirup udara bebas," celoteh Adelia.
Rara menyetop Taksi yang lewat. Kemudian keduanya masuk. Dengan Adelia di suruh masuk lebih dulu oleh Rara.
"Tapi kamu tetap harus patuhi suamimu Del ... ia mengkhawatirkanmu kalau kamu pergi jauh. Sepertinya suamimu trauma. Ia takut kehilanganmu," ujar Rara memberi sedikit nasehat kepada Adelia.
__ADS_1
"Mall Xm ya, Pak!," lanjut Rara memberitahukan tempat yang di tuju kepada supir Taksi.
Supir Taksipun mengangguk, "Baik Non," sahutnya.
Sedangkan Adelia manggut-manggut, mengerti. "Iya sepertinya begitu, tapi aku juga tidak mau kalau harus terus di rumah, Ra"
"Iya ... yang penting kita bisa jaga diri saja ketika di luar," kata Rara.
Seketika di dalam mobil hening. Hingga tidak berselang lama. Taksi terhenti di pelataran Mall yang ramai. Rara membayar kepada supir Taksi. Kemudian keluar bersamaan dengan Adelia.
"Kita kemana dulu?" tanya Rara.
"Em ... aku ingin beli pakaian dulu deh. Rasanya baju ku susah di pakai, karena perutku yang membesar,"
Rara terkekeh, "Iya Ayo! kamu itu terlihat gemas loh Del, dengan perut kamu yang mulai buncit. Tapi tetap kamu terlihat cantik," puji Rara.
"Ah kamu bisa aja sih Ra ...," Adelia dengan terkekeh.
"Tapi aku gendutan ya?" tanya Adelia. Keduanya terus berbincang seraya melangkah berjalan menuju sebuah Toko Pakaian.
"Ya emang ibu hamil gendutlah, masa kurus ...," ledek Rara.
Adelia tergelak di susul oleh Rara. Keduanya kini memasuki toko pakaian. Adelia mulai memilah-memilih berbagai macam Dress hamil. Dengan berbagai motif dan model Adelia pilih.
Adelia yang selagi asyik memilih pakaian. Tiba-tiba ke senggol orang yang melewatinya. Rara melotot kepada orang yang telah menyenggol Adelia.
"Hei kamu, kalau jalan hati-hati!" pekik Rara.
Orang yang menyenggol Adelia clingak-clinguk. "Aku?" tanyanya dengan menunjuk dirinya sendiri.
"Iya kamu!"
Adelia menghampiri Rara, "Sudahlah, mungkin dia gak sengaja Ra ...," ucap Adelia menenangkan Rara.
Orang yang menyenggol bahu Adelia tadi. Kini melotot tajam menatapnya. "Adel?" pekiknya. Kemudian tersenyum hangat.
"Bukankah kamu Dokter Syaraf?" tanya Adelia dengan mengingat saat berada di Rumah sakit waktu dirinya cemburu karena Desi.
Desi mendekat, "Adel ... jangan khawatir. Aku teman kamu selagi kuliah dulu. Kamu tidak perlu cemburu saat aku berbincang dengan Rasya suamimu. Kamu temanku, dan Rasya juga temanku," Desi menjelaskan kepada Adelia. Ia tahu betul saat kala itu Adelia pergi dengan tiba-tiba pasti karena cemburu kepada dirinya.
Adelia mengangguk mengerti, "Iya Maaf. Waktu itu mood ku kurang baik. Kadang baik kadang buruk,"
"Aku mengerti. Kamu sedang belanja?" tanya Desi.
"Iya. Oh ya, kenalkan ini Rara teman aku. Ra ... kenalkan dia Desi," Adelia memperkenalkan Rara kepada Desi, begitupun sebaliknya.
"Rara ...,"
"Desi ...,"
"Maaf ya, Del ... aku tadi gak sengaja," ucap Desi mengingat tadi dirinya telah menyenggol bahu Adelia.
"Tidak apa-apa," sahut Adelia tidak mempermasalahkan.
...***...
...Bersambung....
__ADS_1