
Esok paginya. Serly terbangun. Dan menatap Dido yang tertidur di atas sofa. Tubuh Serly saat ini mulai segar, tidak selesu saat semalam. Dan bahkan area pribadinyapun tidak terlalu perih.
Serly menatap ke arah tas miliknya yang tergeletak di atas nakas. Mengambil, dan mengeluarkan ponsel miliknya yang sehari dan semalam tadi tidak ia cek. Banyak panggilan yang tidak terjawab dari Kikan sahabatnya saat hari kemarin, dan Serly menatap nanar pada beberapa pesan yang di kirimkan oleh Aldi. Dada Serly sesak rasanya. Mengingat mencintai pria tersebut diam-diam dalam waktu lama, dan setelah menggapainya, justru kini dirinya sendiri melukainya.
Ingin menyalahkan pria yang sudah merenggut kesuciannya, tapi Serly tidak bisa. Karena di sini kesalahan besarnya ada pada dirinya sendiri. Jelas-jelas pria itu sudah menolak dan menahan. Tapi paksaan dari dirinya yang menyulut gairah pada pria tersebut, sehingga hilanglah hal yang selama ini ia jaga. Lalu Serly tidak akan lupa, pada pemeran utama yang membuat dirinya kehilangan kehormatannya sesuai keinginan pemeran utamanya itu, Serly marah bahkan ingin mencaci sepuas-puasnya. Tapi. Serly berpikir kembali. Ia akan menyerahkan semuanya kepada Sang Khaliq. Bahwasanya pasti ada ganjaran yang setimpal bagi makhluk yang berbuat dzolim.
Serly mengetik pesan untuk Kikan.
[Kikan ... maaf hari ini aku gak bisa ngampus. Aku lagi gak enak badan]
Serly menaruh ponselnya dan berniat untuk berbaring kembali. Hari ini ia tidak ingin pergi ke Kampus. Ingin menenangkan pikiran dan tubuhnya yang pasti akan terlihat begitu pucat dan juga sembab.
"Sudah bangun?" suara Dido membuat Serly menoleh ke arah sofa. Terlihat Dido yang sudah duduk dan bersandar pada sandaran sofa.
"Iya. Baru saja," sahutnya.
"Jangan dulu ngampus ya!" Dido memberikan larangan.
"Ya. Aku juga sudah berniat untuk tidak ke kampus," balas Serly.
Dido tersenyum seperti biasanya, "Jangan dulu kemana-mana ya, kakak keluar kamar dulu," katanya seraya beranjak bangkit dari duduknya.
"Kakak mau kemana?" pertanyaan dari Serly membuat langkah Dido terhenti yang akan menuju pintu.
"Kakak akan menyiapkan sarapan dulu."
Serly pun mengangguk.
Dido lalu meneruskan langkahnya untuk keluar kamar. Seperginya Dido. Serly memejamkan kedua matanya, berusaha untuk menenangkan pikirannya lewat tidur kembali.
"Do, gadis itu bagaimana keadaannya?" suara sang Ayah menanyakan keadaan gadis yang di bawa putranya saat melihat Dido berada di ruang dapur. Dido baru saja membasuh wajah serta menggosok gigi di washtafell yang berada di sudut ruang dapur.
Dido menoleh, "Baik, Yah. Hanya, menjadi murung,"
__ADS_1
Malik menggeleng samar, "Tentu. Perasaan gadis itu pasti hancur, Nak. Maka, kamu harus selalu di dekatnya. Hibur, dan kuatkan hatinya."
"Iya Yah. Aku saja merasakannya. Namun, bagaimana lagi. Sekuatnya aku untuk menghindar dan menolaknya. Tetap terjadi," kata Dido seraya kini menuangkan susu murni ke dalam panci. Kemudian ia panaskan sebentar di atas kompor menyala. Setelah itu ia meraih roti, serta bahan lainnya untuk membuat sandwich.
"Pemuda Ayahnya saja yang tak kuat imannya," ledek sang ayah.
Dido tersenyum membenarkan di dalam hati. "Iya imanku tak kuat. Melihat tubuh gadis yang aku cintai dalam keadaan tanpa pakaian, dan menggodaku. Tentu, aku tak bisa menolaknya,"
"Oh iya, ayah bagaimana menyampaikannya pada Om Hadi kalau Serly ada di rumah kita?" tanya Dido yang ingin tahu. Tangannya kini seraya membuat sandwich, setelah mematikan api kompor.
"Ya Ayah bilang. Kamu ajak Serly ke puncak saat siang kemarin. Tapi, di sana sedang hujan besar, jadi kamu tidak bisa pulang dan memilih menginap di situ, karena kendaraan yang kamu bawa kendaraan roda dua," Malik dengan menatap gerak-gerik putranya.
"Syukurlah kalau begitu. Aku takut, ayah mengatakan perihal yang sesungguhnya," Dido menghela nafas lega. Ketakutannya tidak terjadi.
"Wah, kalau ayah mengatakan yang sebenarnya. Pak Hadi pasti murka, karena anak gadisnya telah di rusak oleh putra tunggal ayah sendiri,"
"Yah, itu bukan keinginanku." Dido membantah saat Malik mengatakan bahwa putranya telah merusak seorang gadis.
"Terus ayah harus berkata apa?"
"Khilaf terindah, begitu?" Malik terkekeh. "Cepat, berikan sarapan untuk gadis mu itu. Ayah sebentar lagi akan ke kantor," selanjutnya Malik memberikan perintah.
"Iya Yah, sebentar lagi juga selesai. Memang, Ayah tidak mau sandwich buatanku?" Dido sengaja menggoda sang ayah yang sangat menyukai sandwich buatan tangan putranya.
"Tidak pagi ini! Ayah sengaja tidak ingin menampakan wajah ayah di rumah ini. Ayah mengerti sangat, pasti gadis itu akan malu dan bersedih saat dirinya di ketahui berada di dalam kamar seorang pria," Malik mengerti dengan keadaan Serly. Sehingga ia memutuskan untuk tidak menyantap sandwich buatan putranya yang sangat ia sukai.
"Aku buatkan juga kok untuk ayah. Takut ayah menyesal atau menggerutu akhirnya," Dido berucap seperti itu dengan di akhiri gelakan tawa. Kini enam potong sandwich sudah tersaji. Dua potongnya, Dido pisahkan untuk ayahnya.
"Ah, memang kau putra yang baik," pujinya lalu langsung menggigit sandwich tersebut saat Dido menaruhnya di hadapan dirinya.
"Memang aku putra terbaik ayah. Karena, hanya akulah satu-satunya putra ayah," katanya membanggakan diri. "Aku ke kamar dulu ya, yah" Dido dengan menata dua gelas susu di atas nampan serta empat potong sandwich untuk ia bawa ke dalam kamar.
Malik hanya mengangguk merespon ucapan putranya, dengan mulut yang penuh sandwich.
__ADS_1
Ceklek!
Dido masuk ke dalam kamarnya. Menaruh nampan di atas meja sofa, lalu melangkah mendekati gadis yang terbaring di atas ranjang besarnya.
"Serly, sayang bangun!" ucapnya dengan mengusap-usap kepala gadis yang terlelap itu.
"Ayo sarapan dulu! setelah itu, kamu boleh tidur kembali," lanjut Dido yang merasa tidak ada tanda-tanda pergerakan gadis tersebut untuk bangun.
Dido terus mengusap-usap kepala Serly serta memandangi wajah cantiknya yang dalam keadaan terlelap. Begitu manis terlihatnya. Dido bisa menyaksikan saat gadis yang di cintainya dalam keadaan terlelap. Dido sudah tidak sabar membayangkan jika ia berumah tangga. Maka wajah gadis ini yang akan pertama kali ia lihat saat bangun dari tidurnya.
Mata gadis itu terbuka. Merasakan ada gerakan-gerakan yang membuatnya ia terbangun.
"Kak," katanya setelah tahu bahwa ada tangan kokoh yang sedang mengusap-usap kepalanya.
"Sarapan dulu yuk!" ajak Dido.
Serly mengangguk. Kemudian ia bangun dan mencoba berdiri. Namun, tubuhnya langsung terasa melayang saat Dido kembali menggendong tubuhnya seperti semalam.
"Kak, aku bisa jalan" protes Serly.
"Jangan dulu jalan! kakak tahu, pasti masih tidak nyaman dengan itunya,"
Serly langsung memerah wajahnya. Merasa malu serta ada rasa sakit menghujam dadanya, saat menyadari kembali bahwa hal terpentingnya kini telah hilang.
"Diminum susunya, dan di makan ya sandwich nya!" suara Dido membuyarkan keterdiaman Serly.
Serly mengangguk patuh, dengan langsung meneguk susu yang sudah Dido serahkan. Dan melahap habis dua potong sandwich yang Dido buat.
"Bagaimana enak?" tanya Dido dengan penuh harap dapat pujian dari gadisnya itu seperti pujian yang selalu ia dapatkan dari sang ayah.
Serly mengangguk. "Iya enak, kak. Apa ini buatan kakak?" balas Serly dengan bertanya.
Dan Dido tersenyum lebar serta mengangguk. Merasa senang ia setidaknya, tidak mengecewakan gadisnya tersebut saat sarapan pertama bersama dirinya.
__ADS_1
...***...