
Adelia masih saja menatap Rasya tanpa berkedip. Ia mengagumi sosok pria yang kini ada di hadapannya.
"Lalu, bagaimana lagi?!" Adelia meminta Rasya kembali bercerita.
Rasya tersenyum, "Aku merasa telah kehilangan seluruh hidupku. Tapi, aku tidak mau sampai terus bersedih. Dan pada akhirnya ... aku menerima tawaran Bima dan Sakti ikut bernyanyi di salah satu Cafe. Agar aku tidak terus terpuruk dalam kesedihan. Dan sungguh tak ku sangka, aku bisa bertemu denganmu. Namun, sesuatu yang sangat mengecewakan, kamu tak mengenali suami mu sendiri, bahkan kamu malah mengatakan nama lain dan mengaku sebagai istri orang lain,"
Rasya menghela nafas dan melanjutkan kembali ucapannya. "Aku semenjak itu selalu berdo'a, meminta pertolongan Sang Kuasa, dan meminta Petunjuk-Nya. Dan Alhamdulillah Allah memberikan Pertolongan dan Petunjuk-Nya kepada ku dengan cepat, tanpa aku sangka. Aku bisa menemukan rumah ini. Rumah tempat tinggal kamu dan pria yang menjadikan mu istri palsunya. Aku mencari cara, bagaimana aku bisa masuk ke rumah ini tanpa di usir."
Rasya tergelak. "Aku seketika punya ide gila saat mendengar kedua penjaga gerbang rumah ini yang mengatakan sedang mencari pelayan. Dan ide gila itu akhirnya berjalan dengan lancar,"
Adelia tersenyum bahkan terkekeh saat sadar bahwa Alsa ternyata Rasya.
"Dan kamu menipu kita semua" ucapnya.
"Iya. Tapi aku menipu demi Kamu Sayang ...."
Rasya tersenyum nakal, dan mengerlingkan sebelah matanya.
Adelia pun tersenyum, walau belum bisa mengingat. Pada akhirnya ia bisa menerima semua ucapan dan penjelasan yang Rasya berikan.
"Jadi kamu adalah suami aku?" tanya Adelia kini.
"Iya. Aku suami mu. Kamu adalah istriku. Adeliaku. Ratu di hatiku. Dan Bidadari Syurga ku," ucap Rasya dengan tersenyum lalu mengecup kedua tangan Adelia bergantian yang sedari ia genggam.
Adelia tersenyum senang mendengar Rasya yang berucap seperti itu. Bahkan hatinya seakan di buat meleleh. Hingga pipinya seketika memanas menahan malu.
"Hei, kamu hanya tersenyum saja Sayang?," goda Rasya dengan mencolek lesung pipi Adelia.
Adelia ingin sekali memeluk Rasya. Namun, ia merasa malu. Dan kini ia hanya bisa menatap Rasya dengan penuh damba.
"Aku akan bawa kamu pergi dari rumah ini. Apa kamu mau? Harus lah! karena aku suami kamu yang sebenarnya," tanya Rasya, namun Rasya sendiri menjawabnya membuat Adelia tergelak.
"Hei, apa yang lucu?" tanya Rasya.
"Kamu lucu. Kamu bertanya. Kamu sendiri yang jawab" sahut Adelia.
__ADS_1
"Emang benar. Aku adalah suami kamu yang sesungguhnya. Kalau kamu selamanya berada di sini. Kamu, akan terjerat dosa , sayang ...."
"Terjerat Dosa?" tanya Adelia merasa heran.
"Iya. Dosa serumah bahkan seranjang dengan pria yang bukan Mahram mu,"
Adelia tersenyum, ia begitu senang dan nyaman berbincang dengan pria yang mengaku suaminya kini.
"Bawalah aku pergi!" titahnya.
"Nah, gitu dong!" sahut Rasya kemudian memeluk Adelia dengan rasa rindu.
Sungguh Adelia senang akhirnya di peluk Rasya. Entah kenapa ia ingin sekali di peluk oleh Rasya. Mungkin karena benar-benar pria di depannya itu adalah suaminya, hingga dari naluri secara alamiah menginginkan sentuhan pelukan dari Rasya.
"Aku akan perlahan membuat mu sembuh. Aku akan mengajakmu terapi. Perlahan saja. Yang penting sekarang kamu sudah menerima ku," ujar Rasya masih dengan tubuhnya memeluk Adelia.
"Iya," sahut Adelia.
"Iya apa?" tanya Rasya seraya menunduk ingin menatap wajah Adelia.
Adelia mendongak dan tersenyum, "Iya aku akan menuruti apa yang kamu suruh," ucapnya.
Hingga beberapa saat Adelia dan Rasya terdiam. Tak ada yang bersuara. Seakan di wakili oleh tubuhnya yang saling memeluk. Menumpahkan rasa rindu yang membelenggu yang Rasya rasakan. Bahkan Adelia seperti sangat merasakannya, ia tak kalah erat memeluk Rasya.
"Eh, Sayang ... Ada baby di sini! jangan kencang-kencang!" ucap Rasya dengan melerai pelukannya dan membelai perut Adelia dengan lembut.
Adelia seketika pipinya memerah merasa malu karena Rasya menggodanya.
"Aku bersiap-siap," ucap Adelia.
"Bersiap-siap untuk apa?"
"Untuk pergi dari rumah ini," sahut Adelia dengan tersenyum.
Rasya mengangguk. Dan Adelia pun keluar dari kamar Rasya. Ia melangkah menuju kamarnya. Adelia berkemas memasukkan baju-baju untuk pergi dari rumah Albi.
__ADS_1
Setelah itu Adelia kembali masuk ke dalam kamar Rasya. Sepertinya Rasya sedang mandi, terdengar ada suara gemercik air dari balik kamar mandi. Adelia pun memilih duduk di tepi ranjang, menunggu Rasya keluar dari kamar mandi. Selang beberapa menit Rasya keluar dengan hanya menggunakan handuk yang terlilit dari batas pinggang. Nampaklah Dada bidang dan kotak-kotak pada perutnya. Adelia terbelalak melihatnya, bahkan menelan ludahnya dengan susah.
Rasya berjalan cuek di hadapan Adelia yang sedang menganga. Bahkan Rasya dengan santai memakai sarung di depan Adelia.
"Berwudhulah, kita shalat berjamaah Dzuhur sekarang," ucap Rasya karena kebetulan waktu sudah masuk shalat dzuhur. Dan Adelia menurut masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu.
Rasya menyelesaikan memakai sarungnya, dan memakai kemeja panjang putih. Lalu kopiah ia pakaikan pada kepalanya. Ia membentangkan dua sejadah. Untuk dirinya dan juga untuk istrinya. Bahkan mukena sudah Rasya persiapkan.
Adelia pun keluar dari kamar mandi. Kemudian memakai mukena yang sudah Rasya siapkan. Sungguh hati Adelia tersentuh bahkan menghangat dengap perlakuan Rasya.
Rasya sudah berdiri di atas sejadah. Lalu ia melafalkan niat shalat dzuhur setelah melihat istrinya sudah bersiap. Rasya dan Adelia pun shalat dengan khusyu. Hingga salam mengakhiri rakaat shalat tersebut.
"Ya Allah terima kasih, Engkau telah memudahkan jalan Hamba-Mu ini. Sekarang Hamba akan membawa pulang istri hamba. Lindungilah segala urusan Hamba dan Berilah kesehatan untuk istri hamba. Pulihkan lah penyakitnya, berikanlah kesadaran akan semua kehidupannya kembali. Tiada daya dan Upaya. Hanya Pada-Mu-lah Hamba meminta, dan hanya kepada Mu-lah Hamba meminta pertolongan,"
Rasya berdo'a seraya menengadahkan kedua tangannya. Membuat Adelia tersentuh, dan ingin menangis haru saat itu juga. Adelia berhambur bersimpuh di pangkuan Rasya yang baru saja selesai berdo'a. Ia merasa bahagia mempunyai Suami yang begitu sangat mencintainya.
"Mas, maafkan aku!" ucap Adelia.
Rasya tersenyum mendengar Adelia memanggilnya dengan kata 'Mas'.
"Kamu tidak perlu meminta maaf Sayang ... ini semua sudah kehendak-Nya. Ini Ujian dan cobaan untuk rumah tangga kita. Dan bagaimana aku menyikapinya. Dan Alhamdulillah buah kesabaran ku, aku bisa bertemu denganmu kembali. Tinggal aku, harus lebih bersabar kembali untuk menunggu kesadaran ingatan mu," ucap Rasya lalu mengecup kening Adelia yang masih terbalut mukena.
Adelia tersenyum betapa bahagianya ia. Adelia kini berhambur memeluk Rasya. Membuat Rasya tersenyum senang.
"Mas, bagaimana cara kita keluar dari sini?" tanya Adelia khawatir.
"Tenang, Nanti Alsa akan membantu mu keluar dari sini. Sehingga Pak Tono dan Pak Budi tidak akan mencurigainya," sahut Rasya tergelak begitupula dengan Adelia, ia ikut tergelak juga.
...***...
...***Bersambung....
Senang ya ... Akhirnya Adelia dan Rasya kembali bersatu. Namun, Rasya harus terus bersabar menunggu ingatan Adelia pulih.
Salam Sayang dari* Adelia ❤Rasya**
__ADS_1
Jangan Lupa Like, Comment, dan Hadiah poinnya!!!
Terima kasih 😘😘